Bella's Script

Bella's Script
Perbincangan malam



Malam itu, Devan dan Bella belum sama-sama tertidur walau mereka sudah berada di atas tempat tidur. Keduanya sama-sama terbaring dengan pikiran yang tidak sedang di sini. Ada banyak hal yang mengisi pikiran mereka dan itu tentang satu sama lain.


Bella tidur menyamping dan memeluk tubuh suaminya yang bertelanjang dada. Tangannya perlahan mengusap dada Devan yang di tumbuhi rambut-rambut halus. Sementara Devan masih dengan kesenangannya mengusap-usap kepala Bella, membuat Bella merasa nyaman didekapan laki-laki itu.


“Mas,” panggil Bella seraya mendongakkan kepala untuk melihat wajah Devan yang berada di atasnya.


“Iya, kenapa sayang?” Timpal Devan.


Ia balas menatap mata Bella yang masih berbinar walau sudah selarut ini. Tangannya masih mengusap helaian rambut Bella dengan lembut.


“Kayaknya, aku setuju deh kalau kita punya rumah sendiri.” Ujar Bella tiba-tiba.


“Hem?” Devan semakin lekat menatap Bella.


Entah apa yang ada dipikiran istrinya sekarang sampai kemudian mengiyakan ajakan Devan untuk mempunyai rumah sendiri dan tinggal terpisah dari ibu dan kakaknya.


“Ya, mungkin ini kedengerannya mendadak sih. Tapi, aku rasa pilihan mas untuk kita punya rumah sendiri itu, perlu.” Lanjutnya, semakin meyakinkan saat menatap Devan.


Binar matanya lebih meyakinkan d banding saat ia mengatakan kalau ia masih ingin tinggal bersama ibu dan abangnya.


“Apa yang bikin kamu berpikir perlu sayang? Ada yang perlu aku tau?” Devan memiringkan tubuhnya agar bisa melihat wajah Bella dengan lebih jelas.


Mata bulat itu tampak semakin membulat, menandakan ia sedang berpikir.


“Karena aku sadar kalau dipernikahan kita itu, kita gak bisa hanya memikirkan kita berdua. Ada orang-orang yang harusnya tinggal di dekat kita dan mendapat perhatian lebih dari kita.” Terang Bella dengan sungguh-sungguh.


Gerak bibirnya yang menggemaskan membuat Devan tidak kuasa untuk tidak mengusap bibir merah muda itu dengan ibu jarinya lalu mengecupnya dengan lembut membuat gadis itu bungkam beberapa saat karena usaha tiba-tiba Devan.


“Maasss…. Iihhh… Aku lagi serius loh.” Protes Bella dengan bibir mengerucut. Kesal rupanya karena saat ia sedang serius, Devan malah menggodanya.


“Aku juga serius kok.” Sahutnya yang malah menyentuhkan hidungnya ke hidung Bella lalu menggesekkannya dengan gemas.


Ia terdiam beberapa saat lalu menatap Bella dengan tatapan yang mengunci.


“Kamu pasti kepikiran papah ya?” Tanya Devan dengan suara yang lebih terdengar sebagai bisikan yang menggoda.


“Kok mas tau?” Bella menarik kepalanya sejenak karena terkejut Devan bisa membaca pikirannya.


Sejak tadi ia memang memikirkan Amri yang tinggal sendirian di apartemen sementara ia dan Devan pulang ke rumah. Padahal Bella merasa kalau harusnya saat ini mereka tinggal di bangunan yang sama dan menghabiskan waktu lebih banyak dengan ayah mertuanya. Bukankah Devan pasti sangat merindukan kebersamaan mereka?


“Apa sih yang aku gak tau dari kamu?” Devan tersenyum kecil.


Ia menarik tubuh Bella semakin mendekat dan melingkarkan tangannya di pinggang Bella yang sengaja ia kunci agar Bella tidak menjauh.


“Mas, aku serius.” Bella memincingkan matanya kesal pada Devan.


Saat ia berpikir serius, suaminya malah asik mengusap-usap punggungnya di bawah selimut hingga membuat bulu kuduk Bella meremang.


“I know. I said, I know.” Suara Devan yang lembut namun mengandung ketegasan. Ia menarik kepala Bella agar bertumpuk pada lengan kokohnya untuk dijadikan bantalan.


“Aku juga masih ingin melihat papah dan berbicara banyak dengan papah. Tapi, papah perlu istirahat dan kita, perlu berolahraga.” Goda Devan yang sedikit menggeliat saat mengangkat kakinya untuk mengungkung tubuh Bella.


"Ihhh, kamu becanda mulu." Bella mencubit hidung bangir Devan dengan gemas. Laki-laki itu terkekeh di tempatnya. Ia suka dengan setiap perubahan ekspresi Bella yang menurutnya menggemaskan.


"Okey, aku gak becanda lagi. Kamu mau bicara apa sayang?" Devan menahan sebentar keisengannya untuk menggoda Bella.


“Maksud aku, jadi kita beneran bakal beli rumah sendiri Mas? Dimana? Gak jauh dari rumah ini kan?” Tanya Bella dengan antusias.


Di kepalanya ia sudah memikirkan saat rumah ia bersama Devan juga di tinggali bersama orang tua mereka. Pasti akan sangat menyenangkan. Tidak seperti sekarang, ia merasa cemas karena Amri tinggal sendirian di apartemen itu sementara ia dan Devan di rumah Saras.


“Akh…” Devan tersenyum seraya mengusap wajahnya. Padahal ia masih ingin menggoda istrinya tapi sepertinya pikiran Bella masih tentang kebersamaan mereka berdua dan Amri.


“Baiklah… sesuai janji aku, kita akan membeli rumah tidak jauh dari sini. Di kompleks sebelah, ada rumah dua lantai yang akan di jual.” Akhirnya Devan mengikuti kemauan Bella untuk membahas tempat tinggal.


“Apa rumahnya siap huni? Atau harus renovasi dulu?” Bella benar-benar antusias.


“Siap huni. Tapi aku pikir kita harus merenovasinya sedikit, memberi area terbuka di bagian tengah rumah.” Terang Devan.


“Kita? Merenovasi sedikit? Maksudnya mas udah ngeliat-liat rumah itu?” Bella menatap Devan penuh selidik.


Akh lupa, padahal Devan berniat memberikan kejutan pada Bella namun ia malah mengatakannya. Cepat-cepat ia menutup wajahnya dengan tangannya yang lebar.


“Nggak tau. Aku asal jawab.” Sahut Devan yang berusaha menahan tawanya.


Ia menarik tangan Devan dengan paksa. Ia ingin melihat wajah suaminya yang pura-pura bersembunyi.


Tarikan tangan Bella sangat kuat hingga Devan terpaksa membuka tangannya.


“Hahahaha… Iya ampun, ampun…” Ujarnya seraya terkekeh.


“Aku kan niatnya mau ngasih kamu kejutan, tapi malah gagal.” Sambung Devan dengan penuh sesal.


“Mass… Ih kamu mah. Kenapa gak bilang-bilang sih?” Bella mengerucutkan bibirnya kesal lalu kembali membaringkan tubuhnya.


“Iyaaa, aku minta maaf. Muach!” Devan mengecup sejenak bibir Bella yang mengerucut seperti menantangnya.


“Mamah sama Ozi bilang, kamu mungkin lagi di masa transisi. Gak mau ninggalin rumah ini tuh wajar banget, karena selama ini rumah ini tuh menjadi tempat tinggal ternyaman kamu."


"Tapi, bukan berarti kamu gak akan mau pindah. Hanya perlu pancingan supaya kamu yakin kalau kita bisa tinggal di rumah kita sendiri dan belajar mengatur semuanya berdua. Dan aku rasa, Ozi benar-benar mengenal kamu dengan baik. Tebakan dia benar, kalau kamu hanya perlu sedikit waktu untuk yakin.” Terang Devan yang tersenyum lega.


“Mas… kamu kok bisa sih kepikiran gitu? Pake libatin abang sama mamah segala tapi aku gak tau apa-apa.” Bella memukul pelan dada bidang suaminya yang begitu maskulin.


“Yakan, namanya juga kejutan. Kalau gak libatin mereka, gimana bisa aku bisa nyiapin semuanya dengan baik? Lagi pula, kamu selalu ada dalam setiap rencana aku. Sedikit demi sedikit aku belajar memahami pemikiran kamu yang unik itu. Dan perlahan aku mulai menyiapkan banyak hal untuk keluarga kecil kita termasuk soal rumah. Kan aku juga ada keinginan punya anak, masa pikiran punya anak ada tapi pikiran buat nyiapin rumah untuk kalian gak ada.” Terang Devan seraya mengusap pipi Bella dengan lembut.


“Semua tentang kamu, ada di rencana hidup aku Bell. Kamu harus percaya soal itu.” Tegas Devan seraya menatap Bella dengan lekat. Bibirnya pun tersenyum tipis saat ia melihat rona merah di pipi Bella yang membuatnya terlihat semakin cantik.


“Terima kasih Mas. Kamu selalu berusaha memahami aku lebih dari yang aku pikir.” Timpal Bella yang menyentuh tangan Devan yang ada di atas pipinya dan balas menggusapnya.


“Sama-sama sayang…” Devan menatap Bella penuh syukur.


“Jadi, apa yang kamu pikirkan setelah rencana aku ini ketauan.” Devan berusaha menahan senyumnya, senyum atas kejutannya yang gagal dan terbongkar.


“Ya, pertama kita akan tinggal di rumah itu bersama papah lah. Jadi kamu bisa lebih banyak waktu untuk ngobrol sama papah. Aku juga pengen ngenal papah lebih banyak lagi. Aku pengen tau, apa yang papah sukai, apa makanan favoritnya, apa hoby papah dan hal lainnya dari beliau.”


Devan tertegun mendengar ucapan Bella. Baru kali ini ia mendengar dengan gamblang keinginan Bella.


“Terima kasih karena berusaha begitu banyak untuk menerima aku dan keluargaku juga memberinya perhatian yang istimewa.” Ungkap Devan dengan penuh rasa haru.


“Sama-sama Mas. Mas juga begitu perhatian sama mamah, abang dan Ibra. Mana mungkin aku mengabaikan seseorang yang sangat penting buat mas?” Timpal Bella dengan penuh kesungguhan.


Devan tersenyum haru mendengar ucapan Bella. Ia mengecup kening sang istri dengan lembut dan dalam.


Di tatapnya mata Bella yang bening dan cantik, seolah menggambarkan isi hatinya.


“Ada satu hal sebenarnya yang papah minta dari aku. Kamu mau membantu mewujudkannya?” Tanya Devan dengan tatapan yang mengunci Bella.


“Tentu. Emang apa?” Bella terlihat sangat antusias.


Devan tidak lantas menjawab. Ia merapatkan tubuhnya pada Bella membuat gadis itu kebingungan. Dengan sengaja Devan menempatkan bibirnya di dekat telinga Bella lantas berbisik,


“Papah minta cucu. Apa mau di kasih?” Bisiknya dengan lembut.


Mendengar pertanyaan Devan dan hembusan nafasnya yang hangat di daun telinga Bella, membuat Bella tersenyum kecil. Saat Devan menarik tubuhnya dan menatap Bella, gadis itu mengangguk dengan malu-malu.


“Iya. Kita akan ngasih papah dan mamah cucu.” Ujarnya dengan wajah merona. Ia sampai menutup wajahnya sendiri karena malu.


Devan meraih tangan Bella untuk melihat wajah sang istri. Ia sangat suka melihat wajah Bella yang merona seperti ini. Sangat cantik menurutnya dan selalu membuat jantungnya berdebar dengan sangat kencang.


Di taruhnya tangan Bella di permukaan dadanya, lantas ia kecup kening Bella dengan lembut. Setelah itu berpindah ke kedua pipinya, hidungnya, dagunya dan berakhir dengan mengecup bibir merah muda itu.


Bella membalasnya saat merasakan hantaran listrik kecil yang mengaliri pembuluh darahnya membuat jantungnya berdebar kencang dengan gairah yang bertambah.


Ia merasakan benar saat Devan mengigit bibirnya dengan gemas lalu lidahnya menerobos mengabsen setiap titik di rongga mulutnya dengan sensual. Mereka bertukar saliva dan saling menyesap untuk waktu yang cukup lama sementara satu tangannya mengusap punggung Bella dengan sensual.


“Aahh… “ Bella melenguh tertahan membuat Devan semakin semangat melanjutkan serangannya untuk melumpuhkan Bella.


Ia mengecupi leher Bella yang jenjang, memberinya jejak-jejak kemerahan di sepanjang lehernya membuat gadis itu semakin melenguh tidak tertahan.


Dalam satu tarikan, ia menarik selimut yang semula menutupi setengah tubuhnya. Ia melanjutkan apa yang seharusnya ia teruskan di bawah selimut.


Setelah itu, hanya decapan dan lenguhan penuh gairah yang terdengar dari bibir keduanya.


****