Bella's Script

Bella's Script
Sarapan buatan Bella



“Morniiingggg gaisss!!!!” Suara riang itu terdengar dari sebuah toa yang biasa Indra gunakan untuk take shooting dan mengarahkan pemain. Suara wanita yang beberapa lama ini jarang di dengar kembali menarik perhatian banyak orang.


“Morning Bells….” Sahut beberapa orang yang sudah tiba di lokasi dan tengah menyiapkan peralatan syuting.


“Gimana kabar kalian pagi ini? Tidurnya nyenyak kah?” Lanjut Bella, membuat banyak pasang mata menatapnya penuh atensi. Terlihat semangat Bella yang biasanya sudah kembali lagi.


“Nyenyaaakk!! Sampe mimpi ketemu Mawar De Jongh.” Sahut salah satu crew yang di balas tawa oleh orang-orang termasuk Bella.


"Semua berawal dari mimpi ya bang, jadi tetep semangat. Ganbate!!!" Seru Bella yang di balas acungan jempol oleh laki-laki tersebut.


" Btw, gue bawa sarapan nih... Yang belum sempet sarapan, yuk sini yuukk kita sarapan bareng." Ajaknya. Seperti guru TK yang memanggil anak-anak didiknya.


"Wah mantap tuh. Gass kawan-kawan!!!!" Timpal salah satu crew yang di sahuti serempak oleh crew lain. Mereka menghampiri Bella dan berkerumun menunggu giliran.


Dengan semangat Bella membagikan sarapan yang sudah ia siapkan.


"Selamat makan. Semoga hari kalian lancaaarrr..." Tidak lupa ia bergumam lirih sambil tersenyum.


"Thanks Bell!" Salah satu crew berujar dengan semangat.


"Yok bang, sama-sama." Timpal Bella tidak kalah semangat.


“Dia udah balik lagi Ka.” Lirih Roni yang melihat semangat berbeda dari Bella pagi ini. Ia bisa tersenyum lega karena Matahari PH mulai terbit kembali.


Baru menoleh Inka yang tadi ada di sampingnya, tapi ternyata gadis itu sudah lebih dulu berlari dan memeluk Bella.


“Miss you Bell!!!” Ungkapnya. Tiba-tiba ia memeluk Bella. Suaranya sayup terdengar di toa. Roni hanya menggeleng melihat kelakuan Inka. Ternyata tidak hanya ia yang terharu melihat Bella kembali.


“Hahhaaha.. Iya gue juga. Emang semalem lo gak mimpiin gue sampe sekangen itu?” Ledek Bella. Kaget juga anak ini tiba-tiba memeluknya.


Inka hanya menggeleng. Melepaskan pelukannya lantas menatap Bella dengan matanya yang basah.


“Jelek akh, pagi-pagi udah mewek.” Bella mengusap air mata di pipi Inka. Ia sadar, ia telah membuat Inka cemas beberapa hari ini.


“Sarapan yuk!” Ajaknya.


“Lo bawa apa?” Gadis itu memang mudah di alihkan.


“Roti lapis.” Sahut Bella seraya menarik tangan Inka menuju mejanya.


Lokasi syuting hari ini memang berbeda dengan lokasi syuting kemarin. Mereka akan menyelesaikan beberapa scenes dari 2 part di studio besar ini.


“Waaahh itu kesukaan gue.” Seru Inka yang mengikuti langkah Bella di belakang.


“Banyak banget Bell!!!” Mata Inka sampai membulat melihat banyaknya makanan yang di bawa Bella.


“Iyalah, udah lama kita gak sarapan bareng-bareng sama crew. Oh iya, itu gue juga udah bawa jus, boleh tolong di taro di situ?” tunjuk Bella pada beberapa botol minum besar yang ia isi dengan jus.


“Gue bantuin.” Ada Roni yang langsung mendekat.


“Thanks bang!” Bella tersenyum senang melihat gerak cepat Roni.


“Sama-sama Bell.”


“Ngomong-ngomong dari jam berapa lo nyiapin ini? Banyak bener.” Jujur Roni penasaran, begitupun Inka.


“Abis subuh, gue ikut nyokap ke pasar. Beli sayuran dan lain-lain terus gue rangkai dah ini makanan.” Celoteh Bella sambil menyiapkan makanan di piring kertas dan menuangkan jus di gelas kertas.


“Mantep anak perawan ikut ke pasar.” Roni mengacungkan jempolnya pada Bella dan membuat gadis itu tersenyum kecil.


“Wiihh Apaan nih? Enak bener kayaknya.” Indra datang bersamaan dengan Devan. mereka memang sama-sama tinggal di apartemen studio dekat PH, bertetangga.


“Sarapan buat kita. Ayok di ambil.” Bella menyodorkan makanan tersebut pada Indra.


Laki-laki itu langsung mengambilnya dengan ekspresi senang.


"Hay," Ia menyapa Devan yang terlihat rapi pagi ini.


"Hay." Sahut Devan salah tingkah. Ia menoleh Roni dan Inka yang tiba-tiba jadi sok sibuk.


"Gue bawa ini, lo bawa itu." Repotnya Inka mengatur Roni.


"Iyaakkk bawweelll!!" Protes Roni namun tetap menurut.


"Punya lo di sana." Suara Bella kembali menyadarkan Devan.


“Thanks.” Suaranya pelan dan Bella mengangguk saja. Entah mengapa Devan membuat suasana jadi kikuk.


“Wah perasaan yang lo kasih ke Devan lebih banyak gede di banding buat gue.” Indra memperhatikan roti lapis di tangannya.


“Udah, gak usah protes. Kurang ambil lagi. Ayok kita sambil duduk di sana.” Roni menepuk bahu Indra agar segera pergi.


Ia sengaja menjauh untuk memberi ruang bagi Devan dan Bella.


“Inkaaaa… Bagiin neng buat yang belum!!!!” Tidak lupa ia memanggil Inka yang tersenyum melihat interaksi Devan dan Bella, terutama saat melihat Devan menatap Bella.


“Ehh iyaaa… Gue bagiin dulu sama crew yaa..” Pamit Inka seraya membawa satu wadah besar roti lapis.


“Makasih Ka.” Sahut Bella.


Inka hanya mengangguk. Sekali lagi melirik Devan yang kikuk di hadapan Bella. Gemas menurutnya.


“Duduk. Jangan makan sambil berdiri.” Bella menunjuk kursi tempat Devan biasa duduk.


“Oh iiya.” Laki-laki itu menurut saja dan langsung duduk.


Perhatiannya kini tertuju pada meja lipat miliknya yang sudah terisi dengan segelas jus dan dua buah roti lapis. Yang membuat senyumnya semakin merekah adalah saat melihat ada bunga di atas mejanya.


"Bunga?" Devan penasaran, kenapa ada bunga di atas mejanya. Apa Bella sengaja bersikap semanis itu?


"Iya, namanya bunga marigold. Gue sering ngeliat bunga kayak gini, biasanya warnanya kuning. Tapi ternyata warna putih lebih cantik." Terang Bella yang asyik membahas bunga.


Devan mengangguk-angguk saja. Rasanya wajahnya mendadah hangat dan pasti memerah.


Keduanya mulai menikmati sarapan bersama-sama sampai tiba-tiba ada seorang crew yang menghampiri.


"Bell, bunganya yang ini?" Tanya salah satu anak properti.


"Iya. Cukup kan segitu?" Bella balik bertanya.


"Loh, bunganya mau di bawa kemana?" Devan langsung protes.


"Buat nata di sana bang. Biar kesannya lebih romantis." Sahut laki-laki bertubuh jangkung itu.


"Ohh..." Devan menahan tawa dalam hati. Ia sudah GR kalau bunga itu untuknya tapi ternyata di siapkan Bella untuk syuting.


Saking senangnya ia sampai lupa kalau saat ini ia ada dalam script Bella, di lokasi syuting.


"Ya udah, ambil aja." Dengan berat hati Devan merelakan. Meneruskan menikmati roti lapis sepertinya lebih baik.


Dari kejauhan Inka dan Indra termangu sambil menopang dagu memandangi Bella dan Devan. Sesekali Bella tertawa kecil dan Devan tersenyum sambil mengunyah makanan di mulutnya.  Mereka terlihat dekat.


“Kok gue baru sadar ya kalau mereka cocok.” Ucap Inka tiba-tiba. Ia begitu menikmati pemandangan di hadapannya sambil senyum-senyum.


"Udah lama gue gak liat Bella senyum dan ketawa lepas kayak gitu."


“Awas yaa, jangan di jodoh-jodohin, tar mereka jadi gak nyaman. Kita pura-pura bego aja.” Roni langsung mengulti.


“Emang menurut abang, Devan suka sama Bella?” Inka masih mengunyah makanan sambil memandangi dua orang yang asyik berbincang. Script menjadi sarana mereka untuk membuka obrolan lebih luas.


“Emang ada crew yang bisa bikin si Devan ngomong sebanyak itu sambil mesem-mesem?” Roni balik bertanya dan Inka hanya menggeleng.


“Lucu sih ngeliat mereka. Gue baru tau kalau kulkas 4 pintu bisa senyum kayak gitu. Eh lo nyadar gak kalau Devan rapi banget hari ini?” Jiwa Ghibah Inka langsung muncul.


“Emang kenapa Devan? Eh iya kok rapi ya?” Suara Rini yang menyahuti. Rupanya gadis ini baru tiba dan langsung ikut memandangi Devan.


Inka langsung menghentikan kunyahannya. Ia melirik Roni yang memberinya kode untuk tidak berbicara lagi.


“Sarapan Rin, Bella bawa roti isi.” Roni segera mengalihkan perhatian Rini. Jangan sampai Rini ikut menyadari apa yang ada di depan mereka.


“Wah makasih bang. Boleh dua gak?” Hahahaha, siasat Roni dan Inka berhasil. Mereka saling tersenyum satu sama lain seraya mengangkat-angkat alis memberi kode.


“Ambil dah mau berapa juga. Orang si Bella bawanya banyak banget. Noh crew yang lain juga pada makan.” Roni menoleh para crew yang masih asyik menikmati roti lapis dan jus di tangan masing-masing.


“Kalau yang itu, mau lo tawarin gak bang?” Tanya Inka saat melihat Rangga dan Amara tiba.


“Tawarin lah. Udah kurus begitu, pasti gak pernah nemu makan.” Ledek Roni saat melihat Amara.


Rini dan Inka jadi terkekeh mendengar ucapan Roni.


“Okey, gue tawarin.” Inka beranjak dengan semangat. Membawakan mereka dua buah roti lapis di atas sebuah piring.


“Mau sarapan?” Tawar Inka.


“Oh di sini suka ada sarapan gratis ya?” Amara yang langsung tertarik pada tampilan cantik roti di hadapannya. Ia sampai menelan salivanya sendiri karena tergiur.


“Nggak juga. Kebetulan Bella bawa banyak. Semua crew juga makan.” Inka sengaja menunjuk Bella yang sedang berbincang dengan Devan sambil tertawa-tawa.


Rangga dan Amara jadi mengikuti arah telunjuk Inka. Seketika terlihat jelas perubahan ekspresi di antara dua orang ini.


Rangga yang hanya melirik sebentar kemudian menunduk, entah apa yang di rasakannya. Tapi ia tetap mengambil roti lapis buatan Bella.


“Thanks.” Ujarnya pelan.


“Dimakan ya. Enak loh.” Hasut Inka.


“Gue nggak. Karbonya tinggi banget.” Dengan gengsinya Amara urung mengambil roti lapis yang membuat salivanya nyaris menetes.


“Gue gak maksa beb.” Sahut Inka acuh. Ia membawa kembali satu roti lapis yang tidak di ambil Amara. Secepat itu.


“Kamu kan belum sarapan Ra. Nanti gastritis kamu kambuh.” Tanya Rangga dengan cemas.


“Ya tapi gak harus sarapan roti lapis juga kali.” Gadis itu berdecik sebal dan segera pergi meninggalkan Rangga.


“Rangga!!!” Serunya saat ia tahu Rangga tidak mengikutinya.


“Iyaa..” Seperti sapi yang di cocok hidungnya, Rangga menurut saja. Padahal ia masih penasaran memperhatikan Bella.


*****


“SLATE IN!” Seru Indra saat syuting akan kembali di mulai.


Seorang Clapper segera mendekat dan menempatkan clapper board di depan kamera.


“Sound!”


“Roll!”


“Camera!”


“Roll!”


“Action!” Suara Devan menjadi perintah awal take syuting di mulai.


Rangga dan Amara kembali beracting. Berdialog sesuai script dan tanpa banyak arahan mereka memainkan perannya dengan baik.


Hari ini cukup lancar, sudah beberapa scene mereka dapat dengan hasil shoot yang semakin baik jika di banding scene-scene sebelumnya.


Crew fokus memperhatikan permainan peran yang dilakukan para akris dan actor. Dialog mereka sangat baik di lengkapi ekspresi yang terus berkembang.


“Jirrr udah ini kan scene mereka romantis-romantisan ya?” Tanya salah satu crew yang mengusik konsentrasi Devan, membuat telinganya semakin meruncing pada obrolan dua orang itu.


“Iyaaa, gimana rasanya ya jadi Bella yang ngeliat mantannya mesra-mesraan sama pelakor?” Timpal satu crew wanita lainnya.


“Dih kalau gue sih mending pulang.”


“Ya mungkin kalau di rumah si Bella juga nangis guling-guling. Kita mana tahu.” Keduanya tertawa sinis.


“CUT!!!” suara Devan terdengar jelas di tengah permainan acting para pemain.


“Kenapa?” Indra langsung bertanya, padahal adegan sedang sangat baik terrekam kamera.


“Kalian berdua!” Tunjuk Devan pada dua orang di belakangnya. Matanya menyalak marah.


Dua wanita itu langsung terhenyak kaget.


“Kenapa?” Indra bertanya dengan isyarat pada Bella yang dari tadi duduk di samping Devan.


Bella hanya mengendikkan bahunya tanda tidak mengerti. Ia bahkan tidak mendengar apapun karena headset-nya sangat kedap. Hanya suara pemain yang ia dengar.


“Bisa gak sih kalian berdua diam saat proses pengambilan adegan?!” Tanya Devan yang meradang. Matanya menatap tajam dua orang tersebut. Aura dingin langsung terasa.


Perhatian para crew pun langsung tertuju pada dua wanita yang gemetar mendapat tatapan tajam sang sutradara.


Mereka pikir Devan tidak mendengar obrolan mereka karena menggunakan headset. Tapi ternyata pendengarannya sangat tajam. Bahkan lebih sensitive saat yang di perbincangkan adalah soal wanita di sampingnya.


“Ma-maaf.. Kami gak sengaja.” Ujar salah satu wanita yang terlihat tegang. Suaranya sampai gemetaran.


“Udah Van, mereka gak sengaja.” Bella mencoba menenangkan.


“Jangan di sini kalian!” Timpal Devan yang meminta dua orang itu pergi. Ia berusaha menenangkan dirinya. Entah mengapa kalau tentang Bella ia jadi lebih emosional.


“Sorry yaa, kalian ke tempat lain dulu kalau mau ngobrol. Kami perlu fokus sama syutingnya.” Bella mencoba menengahi.


“I-Iya.” Timpal keduanya yang bergegas pergi.


Bella bisa melihat Devan yang menghembuskan nafasnya kasar karena kesal.


“Minum dulu.” Bella menyodorkan sebotol air mineral dan Devan langsung meneguknya.


“Lanjut?” Tanya indra.


Devan hanya mengangguk. Ia memasang kembali headsetnya dan fokus pada layar di hadapannya.


“Pemain wanita, maju satu langkah dari posisi sekarang.” Titah Devan sebelum memulai kembali syutingnya.


Amara menurut saja. Kedua pemain kembali pada adegan terakhir, saling bertatapan.


“SLATE IN!” suara Indra kembali terdengar.


Seorang Clapper kembali mendekat dan menempatkan clapper board di depan kamera.


“Sound!”


“Roll!”


“Camera!”


“Roll!”


“Action!”


Syuting berlanjut dan crew fokus pada permainan peran di hadapan mereka. Bella dan Rini sibuk menyimak kesesuaian dialog dengan script. Beberapa improvisasi di lakukan pemain tapi masih masuk ke dalam kriteria take yang berhasil. Mereka membiarkannya saja hingga satu scene lengkap berhasil di ambil untuk melengkapi scene lainnya.


“CUT!! Okey thanks you.” Devan mengacungkan ibu jarinya dan syuting hari ini selesai.


“AAhhh… pegel leher gue.” Bella memiringkan kepalanya ke kiri dan kanan.


Scene yang di ambil hari ini cukup banyak dan kemampuan menyimaknya benar-benar di uji.


Devan jadi memperhatikan Bella yang ada di hadapannya.


“You okey?” Tanyanya dengan cemas.


“Hem, I’m great! Syutingnya berjalan baik. Lo juga ngarahin pemain dengan baik Van.” Bella menepuk lengan Devan dengan lembut.


Devan hanya tersenyum. Melihat Bella yang baik-baik saja setelah melihat beberapa adegan mesra Rangga dan Amara memberi ketenangan tersendiri. Benarkah wanita ini sudah berdamai dengan perasaannya? Secepat ini kah?


“Gue nyamperin Inka dulu. Tadi katanya ada yang mau dia omongin.” Pamit Bella.


“Hem, take your time.” Devan mempersilakan.


“Thanks.” Senyuman tipis Kembali di lihat Devan sebelum gadis itu berlalu.


"Apa dia benar-benar baik-baik saja?" Batin Devan yang belum sepenuhnya tenang.


*****