Bella's Script

Bella's Script
Tempat terbaik adalah rumah



“Mas,..” suara Bella menyadarkan Devan yang baru selesai menghubungi Ozi.


“Iya sayang.” Devan segera menaruh ponselnya dan fokus memperhatikan Bella. Lega rasanya karena Bella sudah membuka matanya. Sesuatu yang sudah ia tunggu-tunggu dari tadi.


“Apa yang kamu rasain sekarang, ada yang sakit, hem? Bagian mana?” Devan memandangi Bella dengan penuh kecemasan.


Bella hanya menggeleng, bersamaan dengan air mata yang meleleh di sudut matanya.


“Aku mau pulang ke rumah mamah, Mas..” Ucapnya lirih.


“Iya sayang… Iya… Kita akan pulang ke rumah mamah.” Dengan segera Devan memeluk Bella. Ia tahu istrinya pasti sangat ketakutan.


Di peluknya Bella dengan erat untuk menenangkan istrinya yang kini menangis sesegukan. Setelah kejadian tadi, baru kali ini Bella mengeluarkan air matanya, setelah ia sadar kalau mungkin saja ia tidak bisa bertemu lagi dengan suaminya.


Aakh.. Ia tidak bisa membayangkan jika semua itu benar-benar terjadi.


“Maafin aku ya sayang,, Harusnya aku lebih bisa jagain kamu. Aku bener-bener minta maaf…” Lirih Devan dengan tangis tertahan.


Ia mengusap kepala Bella lalu mengecupinya dengan lembut.


Devan melerai sejenak pelukannya, lalu menatap wajah sang istri dengan lekat. Di usapnya air mata di pipi Bella dengan teramat lembut. Ia menangkup kedua sisi wajah Bella dan menempatkan dahinya di dahi Bella. Sangat melegakan ketika ia masih bisa merasakan hangatnya hembusan nafas Bella di permukaan wajahnya.


“Kita pulang sekarang sayang?” Tawar Devan.


Bella menimpalinya dengan anggukan kecil.


Tanpa menunggu lama, Devan segera beranjak. Ia membawa Bella dalam gendongannya. Ia tidak membiarkan kaki Bella yang masih lemas berpijak di lantai. Sementara itu Bella membenamkan wajahnya di dada bidang Devan. Ia tidak lagi peduli jika kemudian orang-orang bertanya seperti apa hubungan mereka. Ia hanya tahu, kalau dada suaminya adalah tempat bersandar paling nyaman untuk dirinya.


“Kalian mau pulang?” Tanya Inka, menjeda langkah Devan di pintu.


“Iya, gue bawa Bella pulang dulu ke rumah mamah Saras.”


“Okey, nanti gue nyusul.”


“Hem..”


Hanya itu perbincangan singkat antara Devan dengan Inka sebelum mereka pulang.


Inka menatap Bella dengan khawatir, sahabatnya itu bahkan enggan untuk menunjukkan wajahnya pada Inka. Trauma masih menguasai dirinya.


Melewati Lorong untuk keluar dari kantor, banyak pasang mata yang melihat Devan dan Bella. Setelah tadi mereka melihat Amara yang ditarik paksa oleh Rangga, kali ini ada Bella yang di gendong mesra oleh Devan.


Gossip penyerangan Amara sudah menyebar luas di seisi PH dan mereka tidak berani lagi bertanya bagaimana kondisi Bella saat ini. Dengan mata kepala mereka sendiri, mereka melihat Bella yang digendong Devan menuju tempat parkir. Tentu saja gadis itu tidak baik-baik saja.


“Silakan Mas Devan.” Seorang security segera membukakan pintu mobil untuk Devan.


“Terima kasih pak.” Sambut Devan. Ia mendudukan Bella di kursi penumpang di sampingnya lalu memasangkan sabuk pengaman.


“Sama-sama… Hati-hati dijalan ya mas Devan.” security itu melirik Bella sedikit, namun ia tidak berani bertanya. Sungguh, ia ikut mengkhawatirkan kondisi Bella saat ini.


“Baik pak, saya permisi.” Pamit Devan sebelum masuk ke mobil.


Mobil itu melaju di lajur kanan dengan kecepatan cukup tinggi. Satu per satu mobil di salip Devan dan sesekali ia membagi fokusnya dengan melihat Bella yang duduk di sampingnya.


Bella tengah memejamkan matanya, sepertinya ia sedang berusaha menenangkan dirinya.


Sampai di rumah, Bella di sambut oleh Saras dan Ozi. Wanita itu segera berhambur memeluk Bella sesaat setelah Bella turun dari mobil. Tangisnya pecah tanpa bisa ia tahan saat melihat wajah pucat putrinya.


Melerai pelukannya sejenak, Saras memperhatikan putrinya dengan seksama.


Ia memperhatikan sekujur tubuh Bella dari ujung kaki hingga ujung kepala dan dadanya terasa sesak saat melihat jejak kuku tajam di leher Bella.


“Astagfirullah…” Saras membekap mulutnya sendiri dengan tangis sesegukan yang ditahannya. Tidak terbayang sekeras apa usaha Amara saat mencekik Bella.


Melihat ibunya yang berurai air mata, Bella hanya mematung dengan mata yang basah dan merah.


Jangan tanyakan bagaimana ekspresi Ozi saat ini. Sejak menerima telepon Devan kalau Bella di serang Amara, kemarahan Ozi sudah tidak terbendung lagi. Andai saja Amara bukan seorang wanita, ia pastikan akan menghajar pelaku penyerangan adiknya hingga habis.


“Mah, kita masuk dulu yaa… Kasian adek di luar gini.” Ozi masih bisa berpikir rasional. Baginya saat ini yang terpenting adalah kondisi Bella.


“Iya bang. Sayang, ayo kita masuk nak.” Saras membawa Bella masuk ke rumah.


“Mamah bawa adek ke kamar mamah ya…” Pintanya pada Devan.


“Silakan mah. Devan sama Ozi nunggu di sini kalau mamah atau Bella perlu sesuatu.”


“Terima kasih Nak.” Saras mengusap bahu Devan dengan lembut lantas membawa Bella masuk ke kamarnya. Ia merasa, ini tempat paling nyaman untuk putrinya.


Mendudukan Bella di tepi tempat tidur dan gadis itu menurut saja tanpa banyak protes.


“Minum sayang..” Saras menyodorkan segelas air putih yang selalu tersedia di samping tempat tidurnya.


Bella meminumnya, untuk meloloskan rasa berjogol di tenggorokannya yang tidak kunjung hilang.


Air dingin ini cukup melegakan. Saras menaruh kembali gelas di samping tempat tidur kemudian kembali memandangi wajah sang putri dan menyelipkan helaian rambut di telinga Bella. Hatinya kembali teriris saat membayangkan bagaimana tadi Amara menyerang Bella. Padahal dulu, Amara adalah sahabat Bella yang sangat ia sayangi.


“Maafin adek mah, adek masih selalu bikin mamah khawatir.” Ucap Bella perlahan. Suaranya rendah nyaris tidak terdengar. Sangat ketara kalau Bella sedang menahan tangisnya yang membuat sesak.


“Sayang….” Saras kembali memeluk putrinya dengan erat. Ia sampai tidak bisa berkata-kata saat ini.


“Badan adek lemes sampe gak bisa ngelawan Ara. Nafas adek kayak mau habis Mah. Adek pikir, mungkin adek gak akan bertemu lagi dengan mamah, Devan, abang dan Ibra lagi.” Ungkap Bella terbata-bata.


Saras hanya bisa menangis, ia tidak bisa membayangkan rasa takut yang dihadapi putrinya saat itu.


Sejak suaminya meninggal, Saras berusaha keras menjaga kedua anaknya. Meski kini Bella dan Ozi sudah sama-sama dewasa, tapi kekhawatiran seorang ibu tidak pernah berubah. Baginya, Bella dan Ozi tetaplah anak-anaknya yang harus ia lindungi.


“Adek di rumah dulu yaa, sama mamah. Kita bisa lakukan banyak hal di rumah seperti waktu adek kecil dulu. Ya sayang…” bujuk Saras.


Dan Bella hanya terangguk di tempatnya. Saat memejamkan matanya, bulir bening itu kembali menetes, dengan setia Saras mengusapnya. Ia setuju dengan tawaran Saras, saat ini ia hanya ingin berada di rumah bersama ibunya. Baginya, tidak ada tempat yang paling aman selain rumah.


Diluar sana, Devan dan Ozi masih sama-sama terdiam. Devan menunjukkan rekaman CCTV saat Amara menyerang Bella. Dada Ozi  serasa terbakar melihat sang adik yang kesulitan mengambil nafas. Matanya sampai melotot dan tubuhnya layu bersandar pada dinding sementara Amara meneruskan semuanya tanpa ragu.


“BRENGSEK!” dengus Ozi yang tidak kuasa melanjutkan melihat rekaman CCTV itu.


“Bisa-bisanya rubah itu nyerang Bella padahal Bella udah ngebelain dia di depan para netizen.” Ingatan Ozi berputar pada tayangan gossip pagi tadi.


Begitu bangga ia dan Saras melihat kelapangan dan bijaknya Bella menjelaskan semuanya tapi sepertinya Amara tidak tahu malu dan tidak punya rasa terima kasih.


“Menurut lo, apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa kita harus melaporkannya ke polisi?” Devan yang tidak kalah kesal mencoba berpikir. Ia tidak bisa memutuskan semuanya sendiri, ia perlu masukkan dari kakak iparnya.


“Ya, kita laporin dia ke polisi. Biar gue urus semuanya, lo jaga Bella baik-baik.” Timpal Ozi dengan penuh keyakinan.


Devan hanya mengangguk, jujur ia setuju dengan pilihan Ozi.


Ia dan Bella sudah melakukan usaha terbaiknya saat ini, jika kemudian kondisi sekarang membuat semua usaha panjangnya harus berakhir, mungkin memang meraka harus membiarkan semuanya berakhir.


*****