
Di ruang rapat, Devan sedang berkumpul dengan teman-temannya. Mereka tengah membicarakan masalah promo yang sudah disepakati untuk dilanjutkan.
"Dua stasiun radio nasional udah siap nih masukin lagu Rangga ke dalam track list yang akan mereka putar sesuai kontrak tayang kita. Perusahaan rekaman juga akan membuat official video versi mereka dan akan di pasarkan minggu depan. Mereka udah setuju kalau kita promo dulu video clip yang kita buat sebelumnya. Katanya itu cocok untuk pengenalan film." Terang Hendrik selaku tim promotor.
"*Teaser-*nya udah gue finalisasi dan ready kalau mau lo publish di minggu ini." Rahmat sang editor pun ikut bersuara.
"Okey, semua tim udah bisa bergerak yaa minggu ini. Kita mulai di weekend." Adalah Inka yang menjadi komando di tim ini.
"Okey, ayo kita gass!" Hendrik terlihat begitu semangat.
“Wiihh, panjang umur.” Seru Indra saat melihat Bella yang muncul di pintu masuk.
“Haloo, gue ganggu gak nih?” Tanyanya sebelum masuk.
“Nggaklah. Sini masuk.” Ajak Devan, menepuk tempat di sampingnya.
"Ehm!" Indra berdehem untuk menggoda sahabatnya dan Devan hanya tersenyum kecil. Rupanya tatapannya yang penuh cinta pada sosok wanita cantik dihadapannya begitu ketara.
Bella segera duduk di samping Devan yang tersipu. Ia tersenyum manis pada sang suami yang sangat ia rindukan dalam beberapa jam ini.
“Ada apa nih? Kok jadi sepi gini?” Bella mengangkat alisnya ke arah Inka yang sedang menatapnya.
“Nggak, kita lagi bahas masalah promo film. Gue juga udah ngasih tau mereka, soal kondisi pemeran utama wanita kita saat ini.” Terang Inka singkat.
“Oh ya? Terus gimana?” Bella antusias menyimak.
“Tadi, mantan managernya, mba Lisa nelpon gue katanya dia resmi come back jadi managernya Amara. Dia bilang, dia minta bantuan PH supaya kondisi Amara saat ini di sembunyikan dulu dari publik. Emosinya masih belum stabil.” Jawab Inka dengan sesungguhnya.
“Terus, jawaban lo?”
“Ya gue jawab, kita akan berusaha menutupi kondisi Amara sekarang tapi kita gak bisa menjamin kalau kabar soal Amara ini nggak terendus media. Terus dia bilang, setelah Amara pulih, rencananya Mba Lisa mau bawa Amara ke luar negeri. Buat rehabilitasi mentalnya. Dia masih trauma berat, tiap malem nangis dan bla bla bla… Gitu lah.”
Bella mengangguk paham. Ia memang melihat wajah Amara yang putus asa saat mereka tadi bertemu.
“Tapi soal project kita, kita bisa terus lanjut. Mba Lisa memastikan kalau Amara akan hadir di tiga meet and great gala premiere utama aja. Cuma mungkin kita bakal butuh banyak bantuan lo juga Bell.”
“Gue? Gue bantuin apa?” Bella menunjuk batang hidungnya sendiri.
“Lo yang jelasin deh Van.” Inka memberikan tab di tangannya pada Devan, orang terdekat yang duduk di samping Bella.
“Emm… Jadi gini.” Devan mulai menyalakan tabletnya.
“Aku sama temen-temen berencana memulai promo di minggu ini. Kita mau minta izin sama kamu untuk menggunakan media social kamu sebagai salah satu media promo film.”
“Yang promonya gak harus kamu langsung, kita akan menyediakan admin untuk memposting dan membalas komentar sekaligus menyaring komentar yang mungkin buruk. Cuma jatohnya, akun kamu ini bakal jadi akun komersil, bukan akun pribadi lagi. Gimana?” Tawar Devan.
Bella mengangguk-angguk paham maksud yang disampaikan Devan.
“Tapi di beberapa postingan, masih ada hate comment nya loh Mas.” Bella menunjukkan ponselnya pada Devan. Tampak jelas pada layar ponsel, komentar yang cukup menohok tentang dirinya dan tidak dihapus oleh pemiliknya.
“Ya nggak apa-apa. Yang ngeramein media social kan gak selalu komentar positif. Kita gak perlu ngehapusnya. Cuma mulai sekarang, kalau ada komen yaang terlalu sarkas dan menyangkut hal pribadi masuk, kita akan mem-filternya. Itu tugasnya admin. Gimana menurut kamu?” Devan menatap Bella dengan sungguh.
Bagaimana pun ini akun pribadi Bella dan ia harus mendapat persetujuan dari sang pemilik akun.
“Boleh aja, silakan. Toh aku juga bikin akun itu buat promo kerjaan. Gak ada sangkut pautnya sama masalah pribadi.”
“Cakep kalo gitu!” Seru Hendrik seraya menjentikkan jarinya.
“Makasih Bell. Kita akan mulai promo besok. Brody Hendrik silakan atur strategi yang paling baik untuk memasarkan film kita.” Tegas Devan.
“Okeeyy, mari kita kerjaaa… Yok ngumpul dulu yok…” Hendrik lebih dulu mengulurkan tangan di tengah meja. Crew menghampiri dan ikut menumpukkan tangannya di atas tangan Hendrik.
“SUKSES!!!” seru mereka bersamaan.
Anggap saja ini semangat permulaan sebelum memulai semuanya.
Malam ini akan digelar pengajian untuk mendiang papah Inka. Rumah Saras sudah dirapikan dan orang-orang berdatangan satu per satu untuk mengikuti acara tahlilan.
“Inka mana, Mah?” Tanya Ozi, saat ia tidak melihat sosok Inka di manapun.
“Oh, Inka di kamarnya. Tadi lagi terima telepon.” Sahut Saras. Wanita itu terlihat sangat anggun dan cantik dengan gamis putih dan kerudung putih yang menutupi kepalanya.
“Kok di kamar, kan tahlilnya udah mau mulai.” Ujar Ozi, tidak habis pikir.
“Coba abang cek dulu. Soalnya tadi mamah liat mukanya Inka agak tegang pas nerima terlpon. Kayak ketakutan gitu.” Saras mengusap bahu Ozi untuk menenangkan putra sulungnya sebelum menemui Inka.
“Iya Mah, abang liat dulu ke atas.” Ozi bergegas menuju kamar Inka.
Saat tiba di depan kamar Inka, Ozi melihat kalau pintu kamar Inka tidak tertutup sepenuhnya. Ia memutuskan mendekat dan berdiam sejenak mengintip apa yang sedang dilakukan Inka di kamarnya.
“Aku gak pernah minta apapun sama papah Kak. Saham Om Eko aja aku gak pernah memintanya tapi papah ngasih sendiri itu sama aku.” Ujar Inka dengan tangis tertahan.
Mendengar suara Inka yang bergetar dan membahas masalah kekayaan, sudah pasti Inka sedang berbicara dengan salah satu kakaknya.
“Iya, aku memang menerima surat warisan itu dari papah. Karena papah bersikeras memaksaku. Surat-suratnya juga belum aku apa-apain. Masih di dalam amplop yang papah kasih ke aku.“
“Aku mohon, jangan hina aku dan mamahku lagi dengan mengatakan kalau kami adalah Wanita perayu kak. Karena aku gak pernah merayu papah agar memberikan hartanya buat aku.” Tegas Inka.
Entah apa jawaban dari sebrang sana tapi kemudian panggilan itu terhenti. Untuk beberapa saat Inka masih memegangi ponselnya seraya mengguyar rambutnya kasar. Hembusan nafas berat sangat jelas terdengar saat mengusap pipinya untuk menghilangkan sisa air mata di wajahnya.
Saat merasa sudah lebih baik, ia berniat turun dan mengikuti pengajian.
“Mas Bima?” Inka sampai terhenyak saat melihat Ozi yang berdiri bersandar di pintunya sambil menyilangkan tangannya di depan dada. Ia memang sengaja menunggu Inka berbalik menghadapnya.
“Kenapa masih di sini? Tahlilannya udah mau di mulai.” Ucap Ozi yang menegakkan tubuhnya lalu berjalan menghampiri Inka.
“I-Iya, tadi aku terima telepon dulu.” Inka tergagap di tempatnya.
Melihat sepasang mata Ozi yang penuh kecemasan membuat ia hanya bisa menunduk. Ia tidak mau usahanya untuk terlihat tegar harus kembali runtuh.
“Apa kakak-kakakmu masih mempermasalahkan harta warisan dari papahmu?” Ozi bertanya sambil melirik amplop coklat yang ada di atas Kasur.
“I-Iya Mas.” Inka ikut menoleh amplop coklat itu di belakangnya.
“Apa memegang surat warisan itu begitu menyiksa kamu sampai kamu ketakutan begini?” Ozi semakin mendekat dan menatap wajah Inka dengan lekat.
Inka terangguk kecil dengan wajahnya yang berubah sendu.
“Mereka mengira kalau aku merayu papah untuk mendapatkan semua warisan papah. Padahal aku gak ngelakuin apapun. Papah ngasih aku amplop itu begitu saja. Aku bahkan belum sepenuhnya memahami surat warisan itu.” terang Inka dengan jemari saling terpilin.
“Apa kamu akan sangat kesulitan kalau tidak memiliki warisan dari papahmu?” Ozi masih dengan pertanyaannya yang berderet di pikirannya.
Inka menggeleng.
“Nggak Mas. Aku gak gila harta. Sejak dulu, aku tidak mengharapkan apapun dari papah. Dengan bisa melihat papah bahagia saja, itu sudah lebih dari cukup buat aku. Dan sekarang, papah udah gak ada. Sekalipun aku mewarisi semua hartanya, aku tidak akan merasakan kebahagiaan yang sama seperti saat papah ada di depanku.” Ungkap Inka dengan sendu.
“Kalau begitu, kembalikan itu sama kakak-kakakmu. Aku akan menikahimu dan bertanggung jawab penuh atas kamu. Tidak mungkin aku membiarkan kamu mati kelaparan hanya karena tidak memiliki warisan dari papahmu.” Tegas Ozi dengan penuh rasa percaya diri.
Inka yang semula tertunduk sedih, kini memberanikan diri mengangkat kembali wajahnya. Kesungguhan yang ia dengar dari ucapan Ozi membuat hatinya bergetar.
Inka tidak lantas menimpali. Ia lebih memilih menghampiri Ozi lalu memeluk laki-laki itu dengan erat.
“Terima kasih Mas, terima kasih.” Ujarnya seraya terisak. Ia membenamkan kepalanya di dada Ozi yang bidang.
Baginya, Ozi adalah sandaran ternyamannya saat ini.
****