Bella's Script

Bella's Script
NgeFans



Malam ini, sepertinya mereka tidak akan pernah beranjak dari depan ruang ICU. Saras tidur di kursi tunggu dengan paha Bella yang dijadikan bantalan. Sementara Bella belum bisa memejamkan matanya. Ia memilih bersandar pada bahu sang suami yang ada di sampingnya.


Sudah beberapa jam berlalu, seperti ini posisi mereka.


“Yang, lo mau minuman anget atau makanan?” Tawar Devan saat merasakan tangan Bella yang semakin dingin.


“Hem, boleh… Perut gue juga keroncongan.” Bella mengusap perutnya yang sejak siang belum di isi.


“Mau makanan apa?”


“Apa aja yang paling gampang lo dapet dan gak jauh dari sini.”


“Okey. Gue keluar sebentar. Lo tunggu ya.”


“Iyaaa…”


Devan beranjak dari tempatnya. Diusapnya kepala Bella lalu ia kecup, sebelum pergi. Dari tempatnya, Bella hanya bisa memandangi sosok Devan yang semakin lama melangkah semakin jauh meninggalkannya.


Bella bisa memperkirakan kalau laki-laki itu pasti sangat lelah tapi tidak sekalipun ia mengeluh.


“Abang bener, dia laki-laki yang baik.” Bella memuji Devan dalam hatinya.


Di luar rumah sakit, Devan melihat ternyata suasana tidak begitu sepi. Orang-orang masih beraktivitas seperti biasa, ada yang berbincang sambil menunggu keluarganya, makan malam dini hari ada juga yang sambil menonton pertandingan bola.


Benar adanya kalau rumah sakit itu tidak pernah sepi.


Tepat di sebrang jalan, Devan melihat sebuah gerobak penjual nasi goreng. Ada 2 pelanggan yang sedang menikmati makanannya dengan lahap.


Akhirnya ia menyebrang. Ikut memesan nasi goreng yang sering di sebut menu putus asa.


Ya, di saat seperti ini nasi goreng seperti sebuah harapan untuk mengisi perutnya yang kosong.


“Nasi goreng 3 ya bang.”


“Pedes apa nggak?”


“Nggak.”


Pedagang itu mulai meramu bahan makanannya. Di depannya ia menonton siaran pertadingan bola. Devan jadi ingat, ia pun sangat suka menonton sepak bola bersama Ozi. Mereka akan terjaga semalaman hanya untuk melihat miment-moment tim idolanya mengikuti laga.


Devan menunggu dengan sabar. Sambil menunggu, ia menyalakan ponselnya. Ternyata ada beberapa panggilan tidak terjawab dan salah satunya dari sang paman yaitu Alwi.


Devan tercenung melihat nomor omnya ada menghubunginya. Tapi melihat sudah jam 2 dini hari, tidak mungkin ia menghubunginya sekarang. Ia berniat menghubungi Alwi saat sudah siang.


Di ponsel Devan juga ada beberapa pesan masuk. Salah satunya dari Indra.


“Gimana kondisi Ozi?” Itu pesan pertama.


“Jangan biarin Bella liat tayangan televisi atau buka sosmed.” Ini pesan kedua.


Di bawahnya ada sebuah video yang di kirim Indra. Devan memutarnya karena penasaran.


“Kabar mengejutkan,” Devan terhenyak, ia langsung mematikan videonya saat tahu kalau volume media ponselnya maksimal.


Ia melihat ke kiri dan kanan dan orang-orang memandanginya. Ia mengangguk takjim sebagai permintaan maaf. Tidak ingin mengganggu, Ia memilih sedikit menjauh dari orang-orang. Mengecilkan volume ponselnya dan melanjutkan kembali memutar video yang di kirim Indra.


“Cantik! Tidak lantas menjadi alasan seorang pria bertahan di sampingnya. Hal itu yang kini di alami pesinetro muda Amara Prmeswari."


"Di duga di khianati oleh sang kekasih, kini foto kebersamaan sang kekasih dengan pacar barunya marak beredar di dunia maya.”


Deg!


Prolog host gossip itu cukup membuat Devan kaget.


Tidak hanya itu, Iapun melihat beberapa foto Bella dan Rangga berseliweran selama video di putar. Devan yakin ini foto lama namun entah dari mana orang-orang mendapatkan foto-foto Bella bersama Rangga.


“Wanita yang menjadi pasangan selingkuhan dari Rangga ini, disinyalir adalah teman SMA Amara yang terus mengganggu hubungan mereka sejak lama.”


"Bak gayung bersambut, kini mereka kembali bertemu dan menjalin hubunan diam-diam di belakang Amara."


Setelah kalimat itu, Devan memilih menghentikan tayangan video tersebut. Mimik wajah dan kata-kata host gossip yang menyudutkan Bella, terasa membuat dada Devan seperti terbakar. Ia tidak terima istrinya digunjing orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.


Devan memilih mengecek social media Bella. Follower-nya semakin bertambah banyak seolah bersaing dengan banyaknya hate comment yang membanjiri setiap postingan Bella. Devan terus men-scroll sampai bawah dan semua foto dan video di komentari dengan jahat. Padahal tidak ada satupun postingan pribadi yang Bella muat di social medianya.


“Sh*ttt!!” Devan mengeram kesal.


Semakin di diamkan bola panas gossip tentang Bella semakin menggila. Devan tidak bisa lagi membiarkan semua ini semakin berlarut-larut.


Ia mencoba menghubungi Eko, namun ponselnya tetap tidak aktif. Katanya, saat sedang cuti ia memang tidak pernah bisa di ganggu.


Devan jadi teringat sesuatu. Ia mengecek emailnya dan mencari email yang pernah di kirim Eko. Lalu mengirimkan pesan dari sana.


“Selamat malam pak, mohon maaf saya mengganggu.”


“Ada kondisi yang tidak terlalu baik saat ini di hadapi oleh crew film. Kapan kiranya bapak kembali ke Indonesia?”


Dua baris pesan itu langsung Devan kirim kepada Eko tanpa ba bi bu. Ia menunggu dengan gelisah pesan itu terkirim. Sayangnya ia tidak dapat memastikan kapan pesannya akan di baca Eko.


“Nasi gorengnya mas.” Penjual nasi goreng itu menghampiri Devan ke tempatnya.


“Oh, iya. Berapa?” Devan segera menyembunyikan ponselnya dan mengambil dompet dari dalam saku.


“Tujuh puluh lima ribu.” Sahut laki-laki- itu seraya memperhatikan Devan.


Devan memberikan selembar uang berwarna merah.


“Mas nya suka liat gossip juga ya? Pasti fans-nya queen Amara juga.” Ucap laki-laki itu penuh selidik.


Devan tidak menanggapi. “Ambil kembaliannya.” Ujarnya seraya berlalu pergi.


“Eh mas, makasih loh. Padahal gak usah gengsi ngefans sama artis lokal. Saya juga fans nya Queen.” Ucap laki-laki yang di abaikan Devan.


Terserah laki-laki itu mau bicara apa, yang jelas ia bukan fans Amara


******