
“Apa? Lo mau bikin laporan?” Tanya Bella di sela sarapannya.
Ia menatap Ozi penuh tanya sesaat setelah mendengar kalau Ozi akan pergi ke kantor polisi dan melaporkan Amara.
“Iya. Gue udah sepakat sama Devan dan Inka.” Sahut Ozi dengan mantap. Ia melirik dua orang yang tadi Ia sebutkan namanya.
“Abaaang, kok lo gak bilang dulu sama gue?” Bella menaruh sendoknya dengan kesal.
“Mas juga, kok gak ngomong apa-apa sih sama aku? Di sini kan aku korbannya.” Berganti Devan yang kini di tatap Bella dengan kecewa.
“Bell…” Inka mengusap lengan sahabatnya.
“Lo juga, sama aja!” Bella mengendikkan bahunya menghindari sentuhan Inka.
Tangan Inka menggantung di udara, sepertinya sahabatnya sangat kecewa.
“Dek, gue sama Devan dan Inka, bukan gak mau diskusiin ini sama lo. Kita cuma ngerasa kalau lo mungkin belum bisa di ajak diskusi masalah ini. Lo masih trauma dan gue pengen ngelindungin lo supaya hal kayak gini gak terjadi lagi di kemudian hari.” Terang Ozi.
“Iya gue paham. Tapi lo bisa bayangin gak apa yang bakal terjadi sama project gue dan temen-temen kalau Amara sampe di tahan? Usaha gue sama temen-temen bakal sia-sia Bang.”
“Apa lo lupa gimana susahnya kita nyelesein syuting film ini?” Kini Inka yang di tatap tajam oleh Bella.
“Dan berapa kerugian yang akan didapatkan sama PH kalau project ini berhenti gitu aja?” Devanpun tidak lepas dari tatapan penuh tanya Bella.
“Ya, gue paham dek. Gue udah diskusi ini sama Inka juga dan dia setuju buat laporin Amara ke polisi, apapun kerugian yang akan di tanggung sama PH.”
“Lo udah diskusi belum sama crew yang lain? Lo bisa bayangin kecewaan mereka kalau tahu film ini bakal gagal karena masalah gue? Udah lo bayangin gimana tatapan mereka sama gue?” Bella menimpali dengan cepat dan akhirnya membuat Ozi terdiam dan Inka tertunduk lesu.
Mereka menyadari, kalau Bella benar. Mereka akan mengorbankan banyak hal kalau sampai hal ini ditangani oleh kepolisian.
Bella menghembuskan nafasnya kasar, lalu menyandarkan bahunya ke kursi. Ia menatap bergantian orang-orang yang ada di hadapannya dan hanya tertunduk, entah sedang menyesal atau tengah berpikir.
Melihat suasana meja makan yang hening, membuat Saras sedih. Ia tahu Ozi, Inka dan Devan sangat mengkhawatirkan Bella namun ia juga tahu kalau ucapan Bella ada benarnya. Bella tidak ingin egois dengan mengorbankan banyak hal karena dirinya.
“Sayang,… Apa gak sebaiknya kita ajak ngobrol Amara? Kita kasih pengertian ke dia, kalau perlu kita bikin surat perjanjian sama dia. Mamah rasa, dia akan lebih berhati-hati kalau ada ancaman serius sama dia soal masa depannya.” Saras mencoba memberikan masukkan seraya mengusap bahu Ozi yang menegang. Ia tidak mau kondisi ini merusak keharmonisan keluarga kecil ini.
“Menurut abang gimana?” Sepertinya Bella setuju.
“Mas? Inka?” Berganti Devan dan Inka yang kini di tatap Bella.
Devan mengangguk kecil mendengar saran Saras.
“Amara bukan orang memiliki rasa takut kecuali ini berhubungan dengan karirnya. Dan kalau mau membuat perjanjian sama orang seperti Amara, perjanjian itu harus memiliki kekuatan hukum, buat mencegah dia gelap mata.” Ozi tampak serius berpikir, menopang dagunya dengan tangan terkepal di depan dada.
“Kita coba hadirkan pengacara, supaya apa yang kita inginkan dalam perjanjian itu di tuangkan secara resmi.” Devan ikut menambahkan.
“Gimana sayang?” Pertanyaan Devan untuk Bella. Ia ingin Bella merasa dilibatkan dalam pengambilan keputusan.
“Iya Mas, aku setuju.” Angguk Bella.
Akhirnya mereka menyepakati apa yang akan mereka lakukan sekarang.
*****
“Ting tong! Ting tong!” suara bell menjeda obrolan mereka di meja makan.
“Sebentar, biar aku bukain.” Inka segera beranjak untuk membuka pintu sementara yang lain melanjutkan sarapan mereka.
“Rangga?!” seru Inka yang terkejut saat melihat siapa yang ada di balik pintu.
“Bella mana?” Tanyanya dengan tergesa-gesa.
“Bella? Yaa ada, dia…” Belum selesai Inka menjawab, Rangga sudah menerobos masuk lebih dulu.
“Bell, Bella.” Panggil Rangga yang memilih masuk dan menghampiri Bella ke dalam rumah.
“Rangga,...." Orang-orang di meja makan itu sampai terkejut melihat kedatangan Rangga dengan wajahnya yang pucat pasi.
“Ada apa lo nyariin adek gue?” Ozi segera beranjak dan menghadang langkah Rangga. Pikirannya selalu negatif kalau sudah berhubungan dengan Rangga.
“Bella baik-baik aja kan Bang? Amara gak dateng ke sini buat nyerang Bella kan?” Rangga tetap dengan usahanya melihat Bella di balik badan Ozi.
“Adek gue baik-baik aja. Apa maksud lo Amara nyerang lagi Bella?” Ozi mendorong tubuh Rangga menjauh. Ia menunjuk sofa sebagai isyarat agar Rangga duduk tanpa perlu menemui Bella.
Rangga menurut saja. Ia duduk di sofa dengan gelisah.
“Amara kabur dari apartemennya. Saya takut dia ke sini dan nyerang Bella lagi.” Ucap Rangga dengan frustasi.
Keterkejutannya masih belum hilang setelah melihat apartemen Amara yang berantakan dan pintu yang tidak terkunci.
Ucapan Rangga menjadi kekagetan tersendiri bagi keluarga Fauzi. Inka segera menutup pintu khawatir wanita itu tiba-tiba datang dan menyerang Bella.
“Semalam Amara benar-benar di luar kendali. Saya dan mantan manager-nya memanggil dokter ke apartemen agar memberi Amara obat penenang. Tapi sepertinya pagi ini efek obat penenang itu sudah hilang, hingga Amara bisa melarikan diri dari apartemennya.” Rangga mendetailkan ceritanya semalam.
Saras yang mendengar cerita itu segera mendekat pada Bella dan memeluknya, ia khawatir kalau Amara benar-benar datang dan mengancam keselamatan putrinya.
Di tengah kecemasannya Ozi berusaha berpikir. Devan yang berada di samping Bella pun menghampiri Rangga yang tampak kalut.
“Lo gak usah khawatir, gue dan keluarga akan menjaga Bella dengan baik. Makasih lo udah ngasih tau ini tapi urusan Bella udah bukan menjadi urusan lo lagi. Cukup kasih tau gue kalau lo liat Amara kembali ke apartemen, gue dan Ozi akan nemuin dia.” Tegas Devan yang membuat Rangga termenung.
Rangga tersenyum sinis, ternyata kecemasannya pada Bella sekarang sudah memiliki batas. Batas yang tidak bisa ia langar.
Rangga hanya menoleh Bella dengan senyum tertahan di bibirnya. Senyum itu tidak lantas mengembang saat ia tahu, ia harus menahan dirinya.
*****