
Seorang wanita bersimpuh di hadapan Amara. Ia tertunduk lesu tanpa berani menunjukkan wajahnya pada Amara.
“Ada apa lo datang ke sini?” Tanya Amara dengan sinis. Ia mengibaskan kakinya yang dipegangi Jihan.
Ia memang sudah menduga kalau Jihan akan datang menemuinya namun ia tidak menyangka akan secepat ini. Amara tahu persis kalau ego wanita ini sangat besar dan harga dirinya sangat tinggi.
“Tolong cabut tuntutan lo. Gue mohon.” Ucap Jihan dengan bersungguh-sungguh.
Ini kali pertama ia merendahkan dirinya di hadapan orang lain dan ini menjadi pukulan yang sangat besar bagi seseorang yang superior seperti Jihan.
“Kenapa gue harus maafin lo? Lo bahkan gak berkedip waktu lo sama Nadine nyiksa gue.” Amara melipat tangannya di depan dada.
“Gue nyesel Ra. Gue terpaksa ngelakuin semuanya.” Ucap Jihan lirih.
“Terpaksa lo bilang?" Amara berdecik lantas tertawa kecil, menertawakan pengakuan Jihan yang sangat tidak mungkin.
"Apa lo lupa, berapa kali lo memanipulasi dan mempengaruhi gue sampe membuat gue tidur sama Rangga? Lo juga lupa kalau lo yang membuat rencana untuk menjebak Bella agar Bella depresi sampai berniat bunuh diri? Apa itupun lo lakuin dengan terpaksa?”
“Gue rasa nggak!” Timpal Amara dengan kesal.
Amara masih mengingat persis saat seorang wanita cantik menawarinya kerjasama dan hendak membantunya untuk meningkatkan eksistensinya di dunia entertaint. Jihan menjanjikan banyak hal hingga dirinya terbuai. Sebagai timbal balik, permintaannya cuma satu, yaitu menyingkirkan Bella yang menghalangi jalannya.
“Lo bilang saat itu kalau Bella jadi selingkuhan calon suami lo. Bella bermain api di belakang Rangga. Kesibukan Bella cuma alasan karena sebenarnya dia sibuk dengan laki-laki yang menjadi cowok lo. Lo juga bilang kalau lo sampai harus pulang ke Indonesia karena harus mempertahankan hubungan lo sama laki-laki itu. Dan bla bla blaa, gue sampe lupa berapa banyak alasan yang lo sebutin buat menjelakkan Bella di hadapan gue dan bikin gue benci sama dia.”
“Gila! Gue baru sadar kalo ternyata lo cuma pembohong besar! Ck ck ck!” Amara tersenyum sarkas.
“Hubungan lo sama laki-laki yang lo sebut Satya itu cuma halusinasi lo Jihan. Lo terlalu ambisius untuk mendapatkan semua yang lo mau sampe lo gelap mata dan menganggap Bella adalah musuh terbesar lo. Lo juga memanipulasi gue agar gue ikut iri dan membenci Bella sampe mencelakai dia. Dan lo bilang itu sebuah keterpaksaan? Ooo come on Jihan, lo sangat picik!” Ujar Amara beruntun.
“Tapi lo juga menikmati permainan kita!” Timpal Jihan seraya bangkit dari bersimpuhnya. Sepertinya tidak ada gunanya ia merendahkan dirinya di hadapan Amara.
“Buktinya lo seneng bisa mendapatkan Rangga dan lo juga menyadari kalau lo iri dan benci sama Bella! Iya kan?!” Jihan menatap Amara dengan penuh kemarahan dan ledekan.
“Kenapa cuma gue yang lo salahin? Lo ngelakuin semua secara sukarela. Kenapa lo juga gak sadar sama kebencian yang lo simpan sejak lama buat Bella?
"Kita sama Amara, kita sama-sama orang brengsek! Rasanya gak adil kalau lo dapet kesempatan kedua sementara gue? Semua orang ingin gue membusuk di penjara. Itu gak adil Amara! ITU GAK ADIL!!!!” Teriak Jihan tidak terima.
Mata bulat Jihan sudah memerah dan basah, bibirnya bergetar menahan tangis.
Tentu menurutnya ini sangat tidak adil karena ia hanya berjuang untuk mendapatkan cintanya.
Sejak pertama kali bertemu Devan di Singapore, ia memang jatuh cinta pada pandangan pertama dengan laki-laki itu. Sosoknya yang dingin dan tegas, membuat hati Jihan terpikat pada sosok sempurna itu.
Ia habiskan waktunya untuk mendekat pada Devan tapi laki-laki itu malah semakin menjauh. Devan mungkin tidak tahu kalau seorang Jihan yang sempurna ada di sekitarnya dan memperhatikannya. Seacuh itu seorang Devan yang digilai banyak wanita termasuk dirinya.
Demi mendapatkan perhatian Devan, Jihan masuk ke dalam fans club Devan. Ia bersaing dengan fans yang lain demi menjadi seseorang yang paling berkuasa di dalam fansbase itu. Tapi sepertinya hal itu tidak cukup menarik bagi Devan. Laki-laki itu menutup rapat kehidupan pribadinya dari khalayak ramai.
Jihan kesulitan dan Jihan kehilangan kesempatan untuk mengejar Devan.
Sebuah kejutan ia dapatkan saat tanpa sengaja ia melihat Devan di sebuah acara. Sosoknya yang begitu bersinar dengan pengghargaan sebagai sutradara terbaik membuat Jihan semakin terpukau.
Jihan sudah berniat menghampiri Devan dan mengucapkan selamat. Ia berharap ini bisa menjadi jalan lurus untuk berbicara dengan Devan. Tapi ternyata saat itu laki-laki itu tengah disibukkan dengan hal lain. Ia tengah bertelepon di belakang panggung.
“Kenapa lo baru bilang sekarang? Lo pikir penyakit di diemin bisa sembuh sendiri?” begitu isi perbincangan yang berhasil di kuping Jihan.
“Gue gak bisa pulang. Lo tau kan, apa yang bakal om gue lakuin kalo gue pulang ke Indonesia?” Devan tampak kebingungan. Wajahnya yang panik terlihat jelas oleh Jihan.
“Jagain Bella? Lo bilang Bella udah punya pacar? Kenapa lo minta gue jagain Bella? Lagipula Bella pasti benci sama gue.” Pada kalimat ini Devan terlihat sangat sedih.
“Iya, gue sayang sama Bella tapi,” Devan menggantung kalimatnya. Sepertinya laki-laki ini tengah di hadapkan pada pilihan yang sulit. Ia berjalan mondar mandir sambil mengguyar rambutnya dengan kasar.
“OKEY!!! Gue akan pulang demi Bella!” Tegas Devan saat itu.
Dan detik itu juga, hati Jihan hancur. Devan yang ia puja ternyata memilih pergi untuk menemui wanita bernama Bella itu. Ia bahkan mengabaikan panggilan MC yang membacakan nominasi pemenang film terbaik yang disutradarai oleh Devan. Entah seperti apa sosok wanita bernama Bella itu hingga berhasil mengubah keputusan tegas seorang laki-laki bernama Devan itu.
Mungkin sejak saat itu, Jihan mulai memutuskan kalau tidak boleh ada nama Bella dalam hidupnya terlebih dalam hidup Devan.
“SIAL!” dengus Jihan seraya mendekat pada Amara. Ia sudah habis kesabaran. Tangannya sudah terangkat hendak memukul Amara tapi kemudian seseorang datang di waktu yang tepat.
“Hentikan Jihan! Berhenti mengganggu Amara atau saya akan memanggil polisi.” Seru Rangga dari mulut pintu.
Amara tersenyum miring, melihat wajah Jihan yang panik. Wanita itu segera menurunkan tangannya, takut Rangga benar-benar mewujudkan ancamannya.
Entah sejak kapan laki-laki itu ada di mulut pintu dan menggendong bayi Amara.
“Rupanya kamu masih bodoh Rangga. Kamu masih mau menemui wanita yang sudah memperalat kamu ini. Kamu lupa kalau gara-gara wanita ini hubungan kamu sama Bella berakhir?” Jihan tersenyum puas pada Rangga.
“Coba kamu bayangkan, kalau saja wanita ini tidak hadir di antara kamu dan Bella, kamu pasti sudah bahagia dengan Bella. Dan kamulah yang akan menjadi suami Bella, bukannya Devan.” Imbuhnya dengan penuh hasutan. Jihan tahu persis dimana letak ia harus menyentuh hati Rangga.
“Terima kasih sudah mengingatkan.” Ucap Rangga. Ia menghampiri Amara dan memberikan bayinya.
“Tentu. Bukankah sebaiknya sekarang kamu mengejar Bella lagi? Aku yakin dia,”
“Aku sudah mengucapkan terima kasih karena kamu mengingatkan saya kalau Bella sudah menjadi istri Devan.” Dengan cepat Rangga memenggal kalimatnya.
Mata Jihan yang semula antusias pun sekarang terlihat benci. Sepertinya ia sadar kalau ia gagal menghasut Rangga.
“Bella memang sudah tidak mungkin menjadi milik saya tapi saya bahagia karena akhirnya Bella menemukan kebahagiaannya. Jadi, berhenti untuk mempengaruhi saya ataupun Amara. Kamu, sudah tidak ada urusan lagi di tempat ini.” Tegas Rangga seraya menunjuk arah pintu keluar.
“Tidak perlu saya antar bukan?” imbuhnya.
Mendengar ucapan Rangga, Jihan tersenyum kecil namun air matanya menetes. Rupanya usahanya untuk membujuk Amara hingga ia berlutut di kaki Amara, tidak membuahkan hasil. Harga dirinya sudah jatuh dan tidak ada yang peduli.
“Kalian akan menyesal karena sudah mengabaikan saya.” Ucap Jihan seraya berjalan mundur.
Tapi sepertinya Rangga dan Amara tidak peduli. Mereka memalingkan wajahnya dari Jihan.
Tidak mendapat tanggapan dari Amara dan Rangga, akhirnya wanita itu memilih pergi sambil menangis. Ia mengusap air matanya dengan kasar. Langkahnya panjang dan tegas hingga ia sampai ke tempat parkir mobil.
Di dalam mobil Jihan terdiam. Otaknya tidak bisa berpikir bagaimana cara melepaskan dirinya dari jerat hukum.
Tidak, masih ada satu hal lagi yang belum ia konfirmasi. Jihan tersenyum senang, karena menemukan cara. Ia mengambil ponselnya dan dengan tangan gemetar ia mulai menghubungi seseorang.
“Kamu berhasil menemuinya?” Tanya Jihan dengan tergesa-gesa.
“Iya nona muda. Namun penuntut menolak untuk berdamai.” Ucap sang pengacara di sebrang sana.
“Akh sial! Bodoh kamu! Untuk apa saya membayar mahal kalian kalau kalian tidak bisa bekerja?” Cerca Jihan,
Tidak berguna, Jihan melempar ponselnya entah kemana. Tuuhnya yang lemah coba bersandar pada joknya. Ponsel di tangannya sampai terjatuh bersamaan dengan air mata putus asa yang menetes di kedua pipinya.
“AAARRRGGGHHHHH!!!!” Teriak Jihan di dalam mobil. Ia memukul stirnya berulang kali hingga mengacak rambutnya kasar untuk mengungkapkan kemarahannya.
Ini usaha terakhirnya untuk berdamai dengan Amara atapun Devan tapi keduanya menolaknya. Mereka tetap menempuh jalur hukum.
“KALIAN SEMUA BRENGSEEKKK!!!!” Teriak Jihan yang menangis sesegukan. Ia masih memukul-mukul stirnya namun tetap saja kemarahannya tidak kunjung usai.
Ia terpojok. Kesempatannya sudah benar-benar hilang dan ia putus asa. Dengan sisa kesadarannya, Jihan melajukan mobilnya keluar dari parkiran basement menuju jalanan. Sambil menangis ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Dan tiba-tiba,
“BRAK!!!!” sebuah hantaman keras terdengar dari jalanan beraspal.
Sebuah mobil sedan mewah ringsek menabrak sebuah truk container. Asap mengepul dari ruang mesin mobil mewah itu. Orang-orang berhamburan menuju jalanan yang ramai, mengelilingi mobil yang dikendarai seorang wanita yang saat ini sudah tidak sadarkan diri. Tapi semuanya hanya terdiam, tidak berani menghampiri wanita yang berada di dalam mobil.
Alarm mobil terus berbunyi dan kepulan asap semakin terlihat. Saat di dekati, ternyata Jihan menjadi satu-satunya korban naas dalam kecelakaan itu.
*****