Bella's Script

Bella's Script
Bukan perkara waktu



Hari yang panjang telah Bella lewati. Beragam serangan fisik dan psikis membuat tubuh terasa lelah. Menjelang akhir pekan, setelah konfrensi pers itu Bella lebih memilih berdiam diri di kamar. Banyak hal yang ia lakukan seorang diri.


Di mulai dari membersihkan sisa make up di depan kaca, mengusapnya perlahan dengan kapas basah, jujur ia merasa kalau make up yang ia kenakan terlalu tebal bagi seseorang yang jarang berdandan seperti Bella. Ia tidak suka berdandan seperti ini. Seperti memakai topeng yang membuatnya nyaris tidak mengenali siapa dirinya.


Sisa lipstick ia usap dengan perlahan, berulang kali sampai hanya menyisakan bibirnya yang pucat dan kering. Sisa eyeliner yang masih berbayang hitam di matanya membuat matanya terlihat celong.


Akh, membersihkan make up saja ia tidak tahu cara yang benar.


“Make up itu gak selalu memulu bertujuan untuk memukau orang lain Bell. Lebih dari itu, ini meningkatkan self esteem kita bahwa kita layak di pandang menarik oleh orang lain. Terkadang ini menjadi cara bagi seseorang untuk menunjukkan kalau dia mencintai dirinya sendiri.” Ucapan Inka itu masih terngiang jelas di telinga Bella, tepat saat wanita muda itu memoles wajahnya untuk acara sore ini.


Ya, Inka benar. Namun ini bukan salah satu cara yang akan ia gunakan untuk menunjukkan kalau Bella mencintai dirinya.


Selesai mengusap wajahnya yang sudah lebih bersih, pandangan Bella tetiba tertuju pada cincin yang berkilau saat terkena cahaya lampu.


Ya, cincin ia dengan Rangga.


Ia memang belum melepasnya dan entah karena alasan apa.


Mengingat lirikan Rangga yang memperhatikan cincin di jarinya, Bella jadi memainkan benda berwarna silver itu. Seketika ingatan saat moment romantis tidak terduga itu hadir kembali dalam ingatannya.


Bella masih ingat, 4 tahun lalu tepat di hari ulang tahunnya, Rangga yang baru pulang manggung dari Bandung tiba-tiba datang ke lokasi syuting. Laki-laki itu membawa sebuah cake mungil berbentuk hati yang katanya hasil karya Yaya dan Nana, adik Rangga yang masih SMP.


“Aku gak bisa bikin cake tapi Yaya sama Nana mau buatin ini pas tau kamu ulang tahun. Aku harap kamu suka.” Ujar Rangga kala itu.


“Wah, cantik yang…” Bella menatap cake itu dengan mata berkaca-kaca.


Dua adik Rangga itu memang sangat baik. Sejak pertama bertemu, mereka menjadi saudara yang menyenangkan untuk Bella. Dan saat itu ketulusan keduanya begitu menyentuh hati Bella.


“Cobain dong.” Pinta Rangga, penuh harap.


“Tapi ini cantik banget kuenya, sayang banget kalau di makan.” Bella jadi tidak tega.


“Mereka bakalan sedih kalau tau kamu gak memakannya. Mereka pasti nanya, gimana komentar kak Bella soal kue buatan kami?” Rangga berbicara dengan lucu, mencontohkan dua anak itu berbicara.


“Hihihi… Kamu mah gemesin!” Bella mencubit pipi Rangga dan laki-laki itu malah tersenyum lantas mengecup tangan Bella.


“Cobain yaaa… Mau aku suapin?” Tawar Rangga.


“Maauuuu….” Bella bermanja pada Rangga.


Dengan senang hati memotongkan kue untuk Bella. Menyuapinya, membuat Bella tersenyum haru sambil menggigit kue dari tangan Rangga. Rasanya enak tapi kemudian kunyahan Bella terhenti.


“Kenapa yang?” Tanya Rangga yang terkejut.


“Emm, gak tau, ini kayak ada…” Bella mengeluarkan sebuah benda dari dalam mulutnya.


Benda berkilauan yang membuatnya menatap Rangga dengan penuh tanya.


Rangga hanya tersenyum seperti sudah menduga sesuatu. Cepat-cepat Bella membersihkan benda itu dari sisa kue.


“Yang, ini?” Mata Bella membelalak tidak percaya. Sebuah cincin kini ada di tangannya.


“Kamu suka?” Tanya Rangga penasaran.


“Ini buat aku?” Bella masih tidak percaya.


Rangga mengangguk yakin. “Aku belum pernah ngasih sesuatu benda yang berkesan buat kamu. Aku harap kamu suka.” Ujar Rangga dengan tulus.


“Eemmm…..” Bella sampai tidak bisa berkata-kata. Matanya yang berkaca-kaca menatap Rangga dengan perasaan haru yang menyeruak.


“Aku pakein yaaa…” Rangga meraih tangan Bella, menyematkan cincin itu dengan hati-hati. Lantas Rangga mencium tangan Bella dengan lembut.


Bella memandanginya dengan perasaan yang tidak bisa ia jabarkan saat itu.


“Sial!” dengus Bella tiba-tiba.


Ia bahkan masih mengingat rasa membuncah yang ia rasakan dulu saat Rangga mengecup keningnya. Tatapan hangat yang hanya menjadi miliknya dan selalu di tunjukkan oleh Rangga saat menatapnya. Semuanya terlalu indah.


Benar adanya, bahwa yang sulit itu bukan melupakan seseorang tapi melupakan rasa yang pernah di ciptakan orang itu dan membuatnya tersimpan menjadi sebuah kenangan.


“Tenang Bell, tenang…”


Bella berusaha menenangkan dirinya. Merangkul tubuhnya dan mengusap-usap punggungnya sambil menghela nafas dalam, merasakan sensasi apa saja yang di rasakan tubuhnya lalu mengembuskan nafasnya dengan pelan.


Ia tidak mengingkari perasaannya. Tidak mengabaikan punggungnya yang terasa pegal, telapak kakinya yang merasa dingin, ia menerima semua perasaan itu selama satu menit pertama.


Ia menarik nafas lagi, merasakan oksigen masuk ke tenggorokannya, mengisi rongga dada yang kini mengembang dan udara mengalir ke seluruh tubuh melalui aliran darahnya selama beberapa menit berikutnya.


Terakhir ia mengatur nafasnya dengan normal dan menyadari realita yang ada saat ini.


Setelah cukup tenang, kembali Ia menatap cincin itu. Cincin yang selama ini sulit di lepas karena jarinya yang gemukan, ternyata melonggar.


“Lo gak perlu terburu-buru. Semua itu hanya kenangan yang tidak perlu lo lupain tapi mengingatnya tidak perlu lagi bikin jantung lo berdebar kencang.. lo gak sespesial itu sekarang..” lirih Bella seraya meremas bajunya sendiri. Menasihati diri sendiri ternyata sulit. Sering kali banyak hal yang bertentangan.


Ia berusaha mengingat bagaimana Rangga tersenyum di samping Amara dan wanita itu bergelendot manja di hadapannya. Rangga merangkul pinggang Amara, menggenggam tangannya dengan erat serta mengusap kepala Amara dengan sayang.


Hal yang kerap Rangga lakukan padanya dulu di belakang layar, kali ini Rangga melakukannya di hadapan orang banyak tanpa rasa risih atau sungkan. Rangga terlihat sangat bahagia saat bersama Amara. Seluruh awak media dengan leluasa membuat artikel tentang kemesraan pasangan itu.


Mereka benar-benar di mabuk cinta. Berbeda dengan dulu,


“Yang, post foto ini di IG kamu dong, biar couple sama aku.” Pinta Bella suatu waktu. Ia menunjukkan salah satu fotonya pada Rangga.


Rangga meliriknya sebentar, “Gak akh! Kayak anak kecil aja. Lagian kita bukan public figure, kenapa harus segala di posting.” Tolak Rangga kala itu.


“Justru karena kita bukan public figure, berbagi moment menyenangkan sama orang lain gak akan seheboh para artis kali. Ini ungkapan kalau kita bahagia memiliki satu satu sama lain. Senengnya orang kan beda-beda yang.” Timpal Bella sedikit kesal.


Melihat Bella yang mengerucutkan bibirnya, Rangga hanya berdecik. Dengan berat hati Rangga mempostingnya.


“Asyiikkk….” Seru Bella dengan mata membulat senang.


“Tapi kok di private?” Raut wajahnya berubah dengan cepat saat ternyata Rangga hanya memposting itu untuk orang-orang terdekat.


“Aku gak mau kamu di taksir cowok laen!” Sahut Rangga dengan meyakinkan.


Ekspresi kesal Bella langsung hilang. Jantungnya bahkan berdenyut lembut mendengar ucapan Rangga. Pikirannya bahkan sudah cemburu sebelum benar-benar ada yang menaksir Bella.


“Manis banget sih kamu. Sayang kamu banyak-banyaaaakkkkk!!!!” Bella langsung memeluk Rangga dengan erat.


Rangga hanya tersenyum kala itu. Dan saat ini, Bella paham maksud Rangga setahun lalu. Rangga bukan menghindarkan Bella dari pandangan laki-laki lain. Tapi dari kemungkinan marahnya Amara atas postingannya bersama Bella.


Hah, naifnya ia. Kenapa ia tidak sepeka itu dahulu? Apa ia benar-benar buta saat itu? Sangat bodoh kah sampai tidak memahami setiap perubahan sikap Rangga dan maksud yang ada di dalamnya?


Dan hari ini ia melihat Rangga mempertegas pilihannya di hadapan Bella. Maka ia pun harus tegas pada dirinya sendiri.


Bella memutuskan untuk melepas cincin itu.


Dimasukkannya cincin itu ke dalam laci. Dan saat Bella melihat sebuah gunting di dalam laci, ia mengambilnya. Menatapnya beberapa saat sebelum ia memilih melakukan ini.


Ia menyisir rambutnya yang panjang sepinggang. Menyisirnya dengan perlahan lantas mengikatnya.


“Krekkk” dengan yakin ia memotong bagian yang panjang dan menyisakan sisa rambutnya saja. Saat ikatan rambutnya di lepas, tersisalah rambutnya dengan panjang sebahu.


Hah, entah mengapa kepalanya jadi lebih enteng sekarang.


Bella mengacaknya, membuat efek messy hair pada rambutnya yang selalu tercepol. Kenangan dengan Rangga harus di akhiri dan ditinggalkan di satu sudut hatinya yang lain. Biarkan saja hanya menjadi kenangan yang tidak akan mempengaruhi hidupnya lagi.


Merasa harus merubah total perasaannya, Bella beranjak melakukan hal lain. Banyak ide bermunculan di benaknya.


Di malam itu, Ia pun membereskan semua barang-barang yang menyimpan kenangannya bersama Rangga. Mulai dari foto-foto ia dengan Rangga yang di susun aestetic di dinding. Lukisan yang pernah mereka buat bersama, barang-barang pribadi pemberian Rangga, semuanya di masukkan ke dalam dus.


Tidak hanya itu, dengan sisa tenaganya, ia menggeser benda-benda di kamarnya. Mengubah posisi ia tidur dan layout kamarnya.


Energinya masih sangat banyak. Tubuhnya sampai berkeringat setelah menggeser tempat tidur dan lemari baju. Entah dari mana asal tenaga yang sepertinya tidak pernah habis. Menjelang dini hari semuanya baru selesai.


Hal terakhir yang ia lakukan adalah mengambil ponselnya, mengubah semua kontak yang ada di ponselnya dengan nama lengkap masing-masing pemilik nomor.


Ia juga mengatur suara pemanggil yang saat orang tersebut menelpon maka nama orang tersebut akan terdengar.


“Rangga Pratama.” Suara itu muncul saat Bella mengetes aplikasi yang di gunakannya.


Nama Rangga sudah bukan lagi “MY R”. Ia pun menghapus semua pesan yang ada di chatnya dengan Rangga. Melepas pin dan menghapus flagging pink yang ia khususkan untuk Rangga dan tentu saja semua foto pun ia hapus. Ponselnya seperti kembali ke setelan pabrik. Tidak ada lagi memori tentang Rangga dan Amara yang di simpannya. Hanya satu hal yang tidak ia lakukan adalah memblokir nomor dua orang tersebut.


Ia masih sadar kalau saat ini dua orang itu adalah rekannya secara profesionalisme kerja.


Semuanya memakan waktu. Tidak hanya tentang menghapus semua memori di ponsel tapi juga menghapus perasaan saat ingatan di kepalanya sesekali muncul. Mungkin seperti ini kesibukan menata kembali hidup yang sudah hancur sementara kenangan yang di miliki terlalu banyak.


Selesai semuanya, Bella terkapar di atas tempat tidur dengan tubuh yang lelah. Matanya menerawang ke langit-langit dan semua benda miliknya bersama Rangga sudah benar-benar tidak terlihat di kamarnya.


Ia menghela nafas lega seraya tersenyum. Ternyata, Move on bukan hanya tentang seberapa lama waktu yang ia perlukan agar terbiasa. Tapi, seberapa berani dan tegas langkah yang di ambil untuk memulai move on itu sendiri.


“Lo akan tetep bahagia Bell, walau tanpa Rangga.”  Ungkap Bella seraya mengepalkan tangannya dan tersenyum pada langit-langit kamar yang menaunginya.


Ya, ia akan selalu bahagia bukan?


*****