Bella's Script

Bella's Script
Mengingat kebaikan



Setelah sekian lama, baru kali ini lagi Bella menginjakkan kakinya di kantor. Bertahun-tahun ia bekerja di tempat ini, membuat Bella merasa beruntung bisa bekerja perusahaan ini.


Suasana kantor yang masih sama dan orang-orang masih menyapanya dengan ramah. Yang berbeda kali ini ia berjalan di samping laki-laki yang sudah menjadi suaminya.


Berjalan dengan tenang, tanpa bergandengan tangan. Mereka sepakat untuk tidak menunjukkan hal yang mengundang pertanyaan saat berada di kantor.


Tiba di resepsionis, Bella dan Devan langsung menuju ke ruang rapat dengan menggunakan lift. Ruangan luas yang berada di lantai 3 itu sudah terisi oleh beberapa orang crew, termasuk Inka yang menunggunya di mulut pintu.


“Hay...” Inka langsung berhambur menghampiri Bella dan memeluknya.


“Gue cemas karena lo gak bisa di hubungin Bell..” Lirih Inka.


“Sorry udah bikin lo cemas.” Mereka berpelukan beberapa saat.


“Gue gak bawa hp ke rs dan ternyata baterainya habis.” Aku Bella apa adanya.


Ia melerai pelukannya dari Inka. “Tapi seperti yang lo liat, gue sehat-sehat aja. Jadi, lo gak usah terlalu cemas.”


Bella mencengkram dagu Inka lalu menggoyang-goyangkannya dengan gemas. Sahabatnya ini memang selalu perhatian dan mencemaskannya.


“Heemm,, Syukurlah kalo lo baik-baik aja. Om Eko juga nanyain kabar lo. Juga lo Van,” Inka bergantian menatap Devan yang berdiri di samping Bella.


“Okey, gue masuk duluan. Silakan kalau masih mau ngobrol.” Pamit Devan yang di angguki setuju oleh Bella.


Ia masuk ke ruang rapat dan langsung menghampiri Eko. Entah apa yang dibicarakan keduanya.


“Gimana kondisi mas Bima?” Inka langsung teringat pada sang pujaan hati.


“Masih sama, belum sadarkan diri.” Hembusan nafas Bella terdengar berat.


“Nanti gue ke rumah sakit yaaa. Siapa tau kalau ketemu gue, mas Bima cepet bangun. Bener gak?” Inka menyenggol lengan Bella dengan sengaja, lalu mengibaskan rambutnya genit.


Wajah ceria yang di tunjukkan Inka hanya topeng untuk menutupi kecemasannya.


“Iya, silakan. Siapa tau abang juga kangen sama cerewetnya lo.” Bella mencubit hidung Inka yang minimalis.


Bella jadi teringat, betapa seringnya Ozi tersenyum saat acara pernikahannya kemarin. Karena apa lagi kalau bukan karena tingkah Inka yang atraktif dan cerewet.


“Ya udah, yuk kita masuk. Biar cepet selesai.” Inka melingkarkan tangannya di lengan Bella.


“Yuk!” Mereka berjalan masuk menuju ruang rapat.


Suasana ruangan yang beberapa menit lalu masih di penuhi tawa, kini berubah serius. Di layar sedang di tayangkan beberapa video yang tersebar mengenai gosip yang saat ini beredar. Eko terdiam di tempatnya saat Inka menjelaskan asal muasal terjadinya gosip ini.


“Kalian sudah cek CCTV?” Tanya Eko.


“Sudah pak. Saya cek CCTV beberapa kali dan tidak ada orang yang masuk ke ruangan saya. Tidak ada juga yang mendekat ke komputer saya.” Terang Kemal yang masih tidak habis pikir.


“Eemmm...” Eko mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja seperti penyidik yang sedang berpikir keras ememcahkan kasus.


“Sebenarnya ada dua cara yang bisa kita lakukan menyikapi masalah ini.” Pandangan Eko menyapu seluruh mata yang sedang menatapnya.


“1, kita klarifikasi masalah ini lewat acara gosip punya PH kita, cuma ini harus siap dari Bellanya. Dan satu lagi, kita biarin gosip ini mereda dengan sendirinya. Yang penting tidak ada tanggapan apapun dari Bella, Rangga atau Amara.” Eko kini menatap Bella yang ada di hadapannya. Ia seperti menunggu persetujuan Bella.


Bella hanya terdiam, masih menimbang apa yang seharusnya ia lakukan.


“Kenapa gak kita ceritain aja yang sebenarnya?” Suara Rini yang tiba-tiba terdengar.


“Maksudmu?” Eko balik bertanya.


“Ya maksud saya pak, kenapa nggak kita bikin gosip bandingan. Kita ungkapin kalau sebenernya Bella yang dulu di selingkuhin sama Rangga. Dan Amara pelakornya. Selesai kan?” Terang Rini, tanpa ragu menatap Bella.


“Lo gila Rin?! Lo mau ngejatuhin temen lo sendiri? Lo tau gak Bella siapa di PH ini?” Inka langsung berreaksi setelah mendengar ucapan Rini.


Ia tidak menyangka kalau Rini bisa mengeluarkan ide seperti itu. Inka tidak bisa membayangkan kalau masa lalu Bella di buka lagi, apa Bella tidak akan terpuruk?


“Ka,..” Bella menurunkan tangan Inka yang sudah menunjuk Rini dengan tegas.


“Apa lo ngomong? Gue gak denger! Lo ngomong apa tadi?” Inka menyalak marah pada Rini, membuat gadis itu menatap Inka tidak suka.


“Masalah ini bukan gara-gara Bella! Ini karena kalian pada setuju produser kita milih pemain yang gak capable, cuma sebatas lagi trending aja. Ini akibatnya.”


“Lo catet itu Rin!” tegas Inka dengan menggebu-gebu.


“Inka, jaga sikap kamu.” Eko berusaha mengingatkan.


Inka baru akan menimpali, namun Bella segera menahannya.


“Gue mau ngomong Ka.” Lirih Bella, menatap tajam sahabatnya.


“Sial!” kalau sudah begini, Inka hanya bisa patuh. Susah payah ia menahan amarahnya terlebih saat melihat Rini yang menunjukkan wajah tanpa rasa bersalah dihadapannya.


Bella berusaha tenang sebelum memulai kalimatnya, ia harus bisa mengendalikan emosinya.


“Sebelumnya, saya minta maaf karena saya menjadi salah satu yang menyebabkan kegaduhan ini.” Bella memulai kalimatnya.


“Bell,,” Inka segera berreaksi, tidak terima sahabatnya yang tidak bersalah malah meminta maaf.


Bella tidak meladeni, ia hanya menahan tangan Inka untuk tetap duduk tenang di sampingnya.


“Soal masukan Rini tadi, mohon maaf saya sepenuhnya tidak setuju.” Ia menatap Rini yang menatapnya acuh.


“Bukan karena saya menjadi bagian dari masalah ini tapi karena ini berhubungan dengan film yang sedang kita garap.” Bella menujukan pandangannya pada Eko.


“Amara dan Rangga, adalah tokoh utama di film ini. Sebisa mungkin kita harus menjaga nama baiknya. Kalau kita sampai membuat gosip bandingan dengan menceritakan kondisi yang sebenarnya, maka penonton akan lebih dulu antipati pada film kita.”


Eko mengangguk-angguk setuju mendengar ucapan Bella.


“Menurut saya ,cara terbaik yang bisa kita lakukan adalah dengan tidak menanggapi gosip itu. Kita fokus saja untuk penyelesaian film dan kita pastikan, tidak ada satupun dari pemain kita yang menanggapi gosip yang saat ini beredar. Tanpa respon dari kita, gosip akan menguap dengan sendirinya.” Tutup Bella dengan tenang.


“Tapi Bell, apa lo gak capek di gosipin yang nggak-nggak? Lo gak mikirin nama baik lo gitu, gue aja gak terima Bell ngeliat komentar netizen yang semakin hari semakin jahat sama lo.” Inka tetap tidak terima.


“Terus solusi apa yang ada dipikiran lo sekarang?” Bella balik bertanya dan langsung membuat Inka diam.


“Nggak ada kan?” Lagi Bella menekankan.


Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia sangat ingin berontak. Memaki setiap orang yang dengan sembarangan menulis kalimat tidak pantas pada Bella, padahal mereka tidak saling mengenal. Bella sakit, ya ia sangat sakit saat melihat setiap makian yang tertuju padanya. Tapi saat ini, reaksi apapun yang ia lakukan akan tetap salah.


“Fans fanatik Amara sedang sangat banyak. Alih-alih menanggapi kabar yang tidak benar, kenapa tidak kita percepat produksi film dan memanfaatkan moment ini untuk menarik perhatian penonton?” imbuh Bella lagi.


Mendengar ucapan Bella, semua terdiam. Devan yang sedari tadi ada di tempatnya, menyodorkan secarik kertas pada Eko.


“Saya rasa, saya setuju dengan Bella.” Eko mengamini ucapan Bella.


“Daripada kita menanggapi kabar tidak benar ini, kita manfaatkan moment ini agar berbalik menguntungkan untuk kita. Salah satunya, kita coba publikasikan soundtrack film ini yang sudah selesai di garap. Gimana?” Pandangan Eko menyapu seluruh pasang mata yang menatapnya. Ia menunggu persetujuan crew.


“Ya, saya setuju. Hanya saja, kita perlu waktu untuk syuting video clip. Prosesnya akan cukup lama apalagi kita harus mengurus hak cipta dan sebagainya.” Kemal yang bersuara memberi masukan.


“Kayaknya gak perlu syuting video clip deh bang!” Rini menyahuti dengan cepat. Matanya berbinar dengan ide cemerlang di kepalanya.


“Terus, kalau kita gak syuting video clip, gimana caranya kita publikasi video clip? Gak mungkin kan kita cuma promo di radio atau kerjasama dengan provider untuk dijadikan nada sambung?” Kemal dengan responnya yang tidak setuju.


“Lo gunain aja video yang udah lo edit. Kan lo ada video yang berdurasi 4 menit 37 detik. Tinggal edit dikit terus lo masukin lagunya. Paling kita cuma butuh record tambahan pas recording lagu sama penyanyinya. Selesai kan bang? Kita gak usah keluar budget gede buat pembuatan video clip.” Terang Rini dengan bersemangat.


Terlihat jelas ia sangat bangga dengan idenya.


“Iya sih, bisa gitu. Tapi, darimana lo tau kalau gue punya video 4 menit 37 detik? Gue kan gak pernah publish?” tanya Kemal dengan penasaran.


******