Bella's Script

Bella's Script
Dua orang yang saling menyayangi



Melihat kedua orang itu hanya saling terdiam, Bella segera menghampiri Devan. Ia merasa kalau ia harus menyadarkan suaminya.


“Mas, itu papah Mas. Apa Mas gak berniat mengejarnya?” Tanya Bella seraya menyentuh pundak suaminya.


Wajah Devan yang sendu, kini menatap Bella.


“Apa papah nggak mengenaliku Bell? Atau papah membenciku?” Tanya Devan tanpa bisa beranjak dari tempatnya.


“Mas! Mana mungkin papah membenci Mas?” Bella menggenggam lengan suaminya lalu mengguncangnya, untuk menyadarkan Devan namun laki-laki itu hanya tertunduk saat sadar kalau mungkin Amri memang membencinya.


Flash back


Hari itu, Devan pulang lebih awal dari sekolah. Ia di antar Ozi dengan kondisi dipenuhi luka lebam di seluruh wajahnya dan darah yang tidak henti menetes dari hidungnya. Semua itu terjadi karena Devan tidak bisa melawan para kakak kelas yang memaksa untuk mengambil uangnya dan gagal memenangkan perkelahian. Hingga ia dihajar habis-habisan oleh 5 orang kakak kelasnya.


Melihat Devan yang pulang dengan berdarah-darah, pelayan di rumah terlihat sangat panik. Ia memutuskan untuk menghubungi majikannya karena tidak tahu apa yang harus ia lakukan.


“Ada apa Bi?” Tanya Amri dari sebrang sana.


Saat itu kedua orang tua Devan tengah dalam perjalanan pulang setelah menyelesaikan pekerjaannya di luar kota.


“Ampun tuan, aden terluka. Hidungnya berdarah banyak sekali dan tidak berhenti padahal sudah saya diberi tampon di hidungnya. Kata guru sekolahnya, mungkin tulang hidungnya patah.” Terang pelayan di rumah Devan.


“Bi! Kenapa bilang sama papah?!” Seru Devan dengan kesal.


“Ma-Maaf Den,…” Pelayan itu tampak gemetaran.


“Bi, ada apa? Devan kenapa?” Suara Anggita ikut terdengar di sebrang sana.


“Anu, nyonya. Aden terluka di sekolah dan saya akan membawa aden ke dokter dekat sini.”


“Ya sudah, bawa dulu Devan ke dokter terdekat. Setelah saya sampai rumah, kita akan membawanya ke rumah sakit.” Pesan Amri lewat telepon.


“Baik tuan.” Panggilan pun berakhir.


Dengan tergesa-gesa, Ozi dan pelayan Devan segera membawa Devan ke dokter terdekat dengan rumahnya. Ia di periksa dengan seksama dan dokter menyarakan agar Devan di bawa ke rumah sakit. Luka di hidungnya mungkin serius dan harus dilakukan rontgen agar hasilnya lebih pasti.


Setelah mendapat pengobatan, Devan di bawa kembali pulang ke rumahnya. Ia tidak lantas pergi ke rumah sakit karena masih menunggu kedua orang tuanya.


Tiba di rumah, Devan melihat sebuah mobil polisi terparkir di depan rumahnya. Mengetuk pintu beberapa kali dan pelayannya segera menghampiri.


Devan sudah ketakutan karena ia pikir ia akan di tahan karena berkelahi dengan kakak kelasnya. Tidak sedikit dari mereka yang juga terluka karena Devan sempat melawan. Tapi kemudian polisi itu bertanya,


“Apa ini kediaman bapak Amri dan ibu Anggita?” Dua polisi itu mengenal orang tuanya.


“Iya betul pak, ada apa ya pak?” tanya pelayan yang celingukan kebingungan.


“Mohon maaf, kami harus memberitahu keluarga, kalau tuan Amri mengalami kecelakaan dan sekarang sedang berada di rumah sakit.” Terang polisi itu.


Seketika, telinga Devan terasa seperti berdenging dan kepalanya pusing berputar. Ia masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya, terlebih saat ia mendengar bahwa penyebab kedua orang tuanya kecelakaan karena kelalain bertelepon saat berkendara.


Devan hanya bisa terpaku di tempatnya dengan pikiran yang kosong. Apa sebenarnya Devan lah yang menjadi penyebab kecelakaan itu?


Dan hingga saat ini pun ia tidak bisa mengerakkan kakinya untuk menyusul Amri yang berjalan menjauh darinya.


Perasaan hancurnya masih sama, menyakitkan, ya sangat menyakitkan.


Melihat Devan yang hanya terdiam, Bella memutuskan untuk menyusul Amri. Ia menghadang langkah kaki Amri yang terpincang-pincang.


Langkah pria itupun terhenti dan menatap Bella penuh tanya.


“Mohon maaf saya harus menemui om dengan seperti ini. Mohon maaf juga kalau cara saya tidak sopan. Saya, Bella. Istri mas Devan.” ucap Bella tanpa ragu memperkenalkan dirinya.


Ia meraih tangan Amri lalu menyalami dan mencium tangannya.


Amri sampai terhenyak saat mendengar ucapan Bella. Nama Bella yang tidak asing membuat Amri mengingat sosok gadis kecil yang menghampirinya 15 tahun lalu.


Sampai kemudian seorang gadis kecil yang juga memperkenalkan dirinya sebagai Bella, menghampirinya. Ia menyodorkan segelas air mineral dengan sepotong kue pandan di tangannya.


“Bella liat, om belum makan dan minum sejak tadi. Apa om tidak lapar? Apa perut om tidak sakit?” Tanya gadis itu dengan sepasang mata yang mencemaskannya. Persis sepasang mata yang kini di tatapnya.


Tanpa sadar, air mata meleleh di pipi Amri. Air mata yang coba ia tahan sejak ia melihat putranya yang duduk menunggu di atas bangku.


“Aku dan mas Devan datang untuk menjemput om.” Bella bahkan mengambil alih duffel bag dari tangan Amri yang lemah. Seperti tidak memberi celah laki-laki yang kebingungan ini untuk menolak ajakannya.


“Mas Devan memang gondrong, tapi om mengenalinya kan?” Bella menunjuk sang suami yang berdiri di kejauhan.


Amri tidak lantas menjawab melainkan hanya menelan salivanya kasar-kasar.


Tentu saja ia sangat mengenali putranya. Wajah yang sangat tidak asing dan mewarisi 70% raut wajah sang istri yang tidak pernah bisa di lupakannya. Semakin ia melihat wajah Devan, semakin terbit rasa bersalahnya karena telah menyebabkan kematian istrinya.


Tapi kali ini, sepertinya ia tidak bisa lagi menghindar dari Devan dan wanita cantik yang mengaku sebagai istrinya.


*****


Di ruang tamu apartemen Devan saat ini Devan dan Amri berada. Mereka duduk bersisian dengan tubuh tegang seperti suasana yang sejak tadi memenuhi ruangan ini.


Mereka sama-sama bingung, harus darimana memulai percakapan mereka.


“Gimana kabar papah?” Devan memulai pertanyaannya.


Ia melirik laki-laki yang duduk di sampingnya dan tengah memandangi foto keluarga yang ada di samping televisi. Foto ia bersama Anggita dan Devan.


“Masih sama, papah tetap menjadi laki-laki yang hancur.” Ucap Amri seraya mengeratkan genggaman tangannya pada tongkat yang setia membantunya berjalan.


15 tahun menjalani masa penahanan untuk menebus kesalahannya, tapi nyatanya rasa bersalah itu tidak pernah pergi. Bayangan wajah sang istri yang meninggal di pangkuannya, tidak pernah lekang oleh waktu. Rasa bersalahnya semakin besar saat ia sadar kalau ia telah membuat putranya berjuang hidup sendirian. Berpisah dari dirinya dan tentu saja dari ibu yang sangat ia sayangi.


“Kenapa papah gak pernah mau menemui Devan? Papah juga gak pernah membalas surat-surat Devan. Apa papah masih marah sama Devan?” Tanya Devan bertubi-tubi.


Layaknya anak kecil yang merengek dan membutuhkan jawaban atas semua pertanyaan yang selama ini di simpannya.


“Untuk apa papah marah?” Amri balas bertanya. Baru kali ini ia menoleh wajah sang anak yang membuatnya selalu merasa bersalah.


“Karena, karena Devan bukan anak yang kuat seperti yang papah harapkan.” Suara Devan terdengar gemetar.


“Kalau saja hari itu Devan gak lemah. Kalau saja hari itu Devan tidak membiarkan mereka memukul Devan. Bukankah, kita akan selalu bersama?” ujar Devan lirih.


Amri tidak lantas menimpali. Ia memandangi wajah Devan yang sendu dan sedih. Luka di hatinya kembali terbuka. Luka yang tidak pernah berhasil ia tutup.


Di raihnya tubuh Devan untuk ia peluk, satu hal yang selalu ia ingin lakukan sejak lama tapi tidak pernah memiliki keberanian untuk melakukannya.


“Maafkan papah Nak. Maafkan papah.” Tangis Amri terdengar lirih di telinga Devan.


“Karena ketakutan dan rasa bersalah papah saat menghadapi kamu, papah malah membuat kamu merasa bersalah nak. Maafkan papah.” Berulang kali Amri mengucapkan kata maafnya seraya memeluk Devan dengan erat.


“Kamu tidak sepatutnya merasa bersalah karena semua itu terjadi sebagai akibat dari kelalaian papah sendiri. Papah lah yang bersalah.” Amri mencengkram bahu Devan dengan kuat, untuk menumpahkan perasaan yang selama ini di pendamnya.


Mendengar ucapan Amri, rasanya Devan tahu alasan sang ayah mengapa ia tidak mau mengunakan jasa pengacara untuk membelanya dulu. Ia membiarkan Alwi menuntutnya dengan tuntutan yang berat karena ia sadar kalau ia satu-satunya orang yang patut dipersalahkan atas terjadinya tragedi itu.


Devan melerai pelukannya dari Amri, lantas menatap wajah laki-laki yang kini sudah tidak muda lagi.


“Devan gak pernah menyalahkan papah atas kepergian mamah.” Devan menggenggam tangan keriput Amri dengan erat.


“Devan tahu persis kalau papah sangat mencintai mamah dan Devan. Maka, tidak pernah sekalipun Devan kecewa sama papah. Walau harus kehilangan mamah, Devan tau papah tidak pernah sengaja menyebabkan kecelakaan itu terjadi.” Lanjut Devan dengan penuh pengertian.


Amri tidak lagi menimpali, hanya suara tangis yang kembali terdengar dan pecah di pelukan Devan.


Di luar sana, Bella mendengar semua obrolan Devan dengan Amri. Ia memilih berdiam diri di sini beberapa saat, sampai kemudian kedua orang yang saling menyayangi itu selesai mengungkapkan perasaannya satu sama lain.


*****