
Setelah perasaannya lebih tenang, Bella kembali menghampiri teman-temannya. Ada yang sibuk menyalakan api unggun, makan makanan rebusan seperti jagung rebus, ubi-ubian atau kacang-kacangan. Ada juga yang sudah makan malam karena perutnya keroncongan dan terus minta di isi. Udara dingin memang membuat nafsu makan semakin meningkat.
Yang menarik perhatian Bella saat ini adalah Devan yang sedang sibuk memanggang daging. Bella pikir Devan tidak suka mengerjakan pekerjaan domestik tapi nyatanya ia sangat menikmati perannya sebagai tim barbeque. Ia tengah memanggang daging yang sudah di potong tipis-tipis. Di tangannya ia memegang erat kipas besar yang ia kipaskan pada tungku pemanggangan.
“Hey, dari mana?” Sapa Devan saat melihat kedatangan Bella. Dari tadi ia mencari Bella tapi baru sekarang Bella terlihat.
“Em, keliling cari udara segar.” Sahut Bella yang berusaha tersenyum. Ia yakin matanya sudah tidak merah dan basah lagi.
Devan jadi memperhatikannya dengan seksama.
“You okey?” Entah mengapa ia tidak yakin kalau Bella hanya sekedar berkeliling mencari udara segar. Lihat saja matanya yang sedikit bengkak dan wajahnya yang sembab.
“Hem, I’m good.” Sahut Bella dengan yakin. Devan hanya tersenyum, ia tahu Bella sedang berusaha baik-baik saja.
“Bell, dagingnya mateng nih. Cobain!” Seru Roni yang sibuk mengunyah dan memperhatikan dua orang ini sedari tadi.
“Wah banyak banget. Kayaknya enak nih!” Mata Bella langsung membelalak melihat banyaknya daging yang sudah matang di panggang. Air liur rasanya sudah berkumpul di ujung lidahnya.
“Wanna try?” Tawar Devan.
“Hem, boleh.” Sahut Bella dengan yakin.
Devan menaruh kipas dan menggantinya dengan garpu. Ia mengambil satu potong daging yang sudah matang, meniupinya lantas menyuapkannya pada Bella.
“Say aaa…” Ujarnya seperti memberi makan anak kecil.
Bella menurut saja, membuat Roni seketika menahan senyum seraya mengusap bulu tangannya yang merinding. Sementara dua orang itu anteng-anteng saja menikmati daging panggang buatan Devan.
“Kok gue yang deg-degan anjir.” Gumamnya, saat melihat Devan dan Bella yang bertatapan lekat satu sama lain.
Bella mengunyahnya dengan tenang. Mengecap setiap rasa yang berpadu di mulutnya dan Devan dengan sabar menunggu komentar Bella tentang masakannya.
“Enak.” Puji Bella yang tersenyum ceria.
Eksresi Devan langsung berubah. Wajahnya yang semula harap-harap cemas kini tersenyum lega. Rasanya menyenangkan melihat ekspresi Bella seperti ini. Devan pun ikut menyantap satu potong daging, setelah beberapa lama memanggang daging, baru kali ini ia pun memiliki selera untuk memakannya.
“Lo makan yang banyak Bell. Ini belum ada yang makan selain lo dan gue.” Cetus Roni menggoda.
“Hah, beneran. Kenapa?” Bella jadi penasaran.
Ia merebut garpu dari tangan Devan dan kembali mengambil satu potong untuk ia santap.
“Mana ada yang berani minta kalau yang bikinnya abang gondrong begini.” Ledek Roni sambil mendelik.
“Hahahaha… Iya sih mana ada yang berani yaa…” Sahut Bella seraya memandangi Devan yang terlihat salah tingkah di hadapannya. Sejak tadi ia perhatikan Devan memang terus memasang wajah perang, mana ada yang berani mendekat selain orang-orang yang cukup mengenalnya atau bermental baja seperti Roni.
“Itu apaan?” Tunjuk Bella pada wajah Devan. Sepasang mata bulat itu menatap Devan lekat, menjadikannya salah tingkah.
“Hah, emang ada apaan?” Devan segera mengusap wajahnya.
“Ahahahaha… Malah di usap lagi mukanya. Item semua tuh!” Bella tergelak saat melihat sisa arang yang hitam belepotan di wajah Devan.
“Hah, beneran?” Devan jadi panik.
Ia segera mengambil tissue dan melap wajahnya. Matanya tidak lepas dari memandangi Bella yang masih terkekeh dengan tawa tertahan.
“Masih ada tuh.” Bella menunjuk pipi kiri Devan.
Devan segera mengusapnya.
“Bo’ong!” Goda Bella yang kembali tertawa.
“Jail lo!” Dengus Devan yang gemas sendiri pada tingkah Bella.
Untuk beberapa saat mereka saling tersenyum, bertatapan dan perlahan senyum merekapun memudar. Devan menatap Bella dengan lekat dan gadis itu hanya terdiam.
“Anjiirr dada gue..” Roni memukul-mukul dadanya sendiri.
Melihat dua orang ini saling bertatapan, membuat ia malah berdebar sendiri. Tidak, sepertinya Roni tidak berdebar sendirian. Lihat saja Devan yang wajahnya memerah, pasti jantungnya pun berdebar sangat kencang. Lalu Bella?
Sedetik kemudian Bella memalingkan wajahnya. Entah apa alasannya hingga ia lebih memilih mengambil piring kertas di dekatnya.
“Gue mau nambah ya.” Ujarnya mengalihkan perhatian.
“Hem, boleh. Kita makan di sana.” Tunjuk Devan pada sebuah tempat dekat api unggun.
“Lo lanjutin ya Ron.” Titahnya pada Roni yang sejak tadi memandangi keduanya.
“Iyaa. Udah sana lo pada makan.” Ia mengibas-ngibaskan tangannya agar dua orang itu segera pergi.
“Makasih bang. Lo juga jangan lupa makan.” Cetus Bella seraya mengangkat tangannya yang membawa daging panggang di atasnya.
“Iya siap!” Roni mengacungkan jempolnya dan membiarkan Bella dan Devan pergi. Benar saja, setelah itu anak-anak crew pada mendekat dan ikut mencicipi daging panggang.
Bella dan Devan berjalan bersisian menuju api unggun. Mereka berbincang santai walau tadi sempat canggung.
“Gue gak tau kalau lo bisa masak.” Puji Bella secara tidak langsung.
“Nggak terlalu juga. Cuma, gue lebih seneng aja menyiapkan makanan buat diri gue sendiri. Gue bisa bebas menentukan perpaduan rasanya dan terutama menentukan kalori yang mau gue konsumsi.” Terang Devan.
“Pantesan bentuk badan lo terjaga banget.” Puji Bella tanpa ragu tapi sedetik kemudian ia memalingkan wajahnya saat teringat pertemuan pertama mereka di kamar Ozi. Akh sial, kenapa ia harus dengan polos mengungkapkan itu? Bikin malu saja, pikirnya.
Devan hanya tersenyum mendapat pujian itu dari Bella.
Sampai di depan api unggun, Devan mengusap-usap sebilah batang kayu, membersihkannya dari kotoran atau serangga sebelum Bella duduk.
“Thanks.” Ucap Bella.
Mereka duduk bersisian sambil memandangi api unggun.
“Gue pernah baca, kalau cara menjaga tubuh ideal itu dengan deficit kalori. Bener gak sih?” Pembahasan mereka berlanjut pada seputaran makanan.
“Kenapa, lo mau diet?” Devan balik bertanya sebelum kemudian menyuapkan satu potongan daging ke mulutnya.
“Em, nggak. Cuma waktu gue ngobrol sama seorang temen yang kebetulan dia nerapin pola hidup yang sehat dan teratur banget, dia bilang menjaga tubuh kita ideal itu dengan deficit kalori. Gue sih bukan pengen banget jadi kurus tapi lebih ke, gue gak mau saat tua nanti gue sakit-sakitan karena gak bisa ngejaga kesehatan saat muda.” Terang Bella.
“Gue setuju soal itu. Tujuannya bukan buat ngurusin badan tapi menjaga kesehatan.” Devan menggaris bawahi.
"Menurut gue, pola makan itu juga bergantung pada kebutuhan kalori dan jenis zat yang mereka butuhkan. Ada orang yang metabolismenya lebih cepat saat mencerna yang mengandung protein ada juga yang cepat saat mengkonsumsi lemak. Dan itu berbeda-beda."
"Jadi selain mengatur pola makan, lo harus lebih mengenal apa yang sebenarnya tubuh lo butuhkan. Karena, itu bagian dari memperhatikan dan mencintai diri sendiri." Terang Devan dengan panjang lebar.
Bella terangguk-angguk paham. Membicarakan masalah makananpun ternyata bisa semenarik ini dengan Devan.
Tanpa mereka sadari semakin lama, semakin banyak orang-orang yang berkumpul mengelilingi api unggun. Ada yang menikmati secangkir minuman hangat, makanan rebusan seperti jagung rebus dan kacang rebus, ada juga yang masih menikmati daging panggang buatan Roni.
“Gue kangen banget berada di alam kayak gini.” Ucap Bella seraya menghela nafas dalam untuk mengisi rongga paru-parunya. Wangi angin yang membawa ketenangan sangat jarang ia temui belakangan ini.
Ia menatap langit di atas sana yang tidak terasa gelap karena banyak bintang yang menyinari. Terlihat sekali kalau ia sangat menikmati suasana seperti ini.
Tiba-tiba saja muncul ide di kepala Devan.
“Besok malam lo ada janji gak?” Tanyanya tiba-tiba.
“Em, enggak. Emang kenapa?” Bella jadi menoleh kembali pada laki-laki di sampingnya.
“Gak apa-apa. Gue cuma mau ngajak lo ke suatu tempat.” Terangnya dengan senyum tertahan.
“Oh ya? Kemana?” Bella jadi penasaran.
“Hem,, okey.” Bella menyanggupi. Devan jadi tersenyum sendiri membayangkan kemana ia akan pergi bersama Bella besok.
Tidak lama berselang, terdengar suara dentingan gitar yang dimainkan Romi. Laki-laki itu datang bersama Inka sang biduannya PH. Entah dari mana dua orang itu sebelumnya.
“Kita nyanyi-nyanyi yukk….” Ajak Romi. Ia dan Inka duduk tidak jauh dari tempat Bella dan Devan.
“Gass bang!!!” Seru Inka yang di sambut riuh tepukan tangan oleh para crew yang sudah berkumpul.
Suara petikan gitarpun mulai terdengar. Alunan musik yang dimainkan rasanya tidak asing di telinga. Inka dengan botol minuman yang ia isi setengahnya untuk di jadikan microphone jadi-jadian. Ia mulai menyanyikan barisan lirik yang di bacanya di ponsel.
“Oh my oh my oh my...” Atensi para crew langsung beralih pada Inka yang memulai ral lagunya dengan merdu.
“One
Two
Three
Go
You know all the things I've said
You know all the things that we have done
And things I gave to you
There's a chance for me to say
How precious you are in my life
And you know that it's true..”
Kali ini Inka mengarahkan microphone-nya pada orang-orang yang duduk melingkari api unggun. Lihat wajahnya yang ceria, seolah membuat ajang nyanyi bersama ini adalah konser tunggalnya bersama para fans.
“To be with you is all that I need….” Bella menyambut baik ajakan Inka melanjutkan bait lagunya.
Devan jadi tertegun, memandangi bella saat barisan syair itu mulus terucap dari bibir Bella. Ternyata suara Bella tidak kalah merdu.
Mereka bertepuk tangan lirih, menikmati setiap baris lagu yang dinyanyikan duo gadis cantik ini.
"'Cause with you.
My life seems brighter
And these are all the things
Everybody,
I wanna say..."
"Sing...." Inka mengajak semua bernyanyi.
"I will fly into your arms...." Baris itu terdengar seperti tengah di nyanyikan oleh paduan suara, karena banyak yang ikut bernyanyi.
Sementara perhatian Devan kini hanya tertuju pada Bella. Ia begitu menikmati wajah cantik yang terlihat begitu tenang dengan matanya yang berbinar walau sedikit sembab. Bibirnya yang bergerak lirih saat barisan lagu itu ia nyanyikan. Ternyata suara Bella sangat sopan saat masuk ke rongga telinganya.
Devan jadi ingat, saat dulu ia mendengar Bella menghafalkan lagu-lagu wajib nasional saat SD.
“Woy cempreng woyy!!!” Seru Ozi yang berteriak dari luar kamar Bella.
“Abang reseeekkk, jangan berisiikk!!!” Gadis itu kesal sendiri karena Ozi mengganggunya. Sudah beberapa kali mengulang lagu yang di nyanyikannya, tapi antar baris selalu tertukar hingga ia bingung sendiri.
Namun Ozi malah terkekeh.
“Adek gue lucu yaa kalau ngomel.” Ujarnya pada Devan. Devan hanya tersenyum menanggapi keisengan sahabatnya.
“I will fly into your arm…..” Kalimat itu menjadi kalimat terakhir yang dinyanyikan Inka bersama Bella.
“Wooowwww!!! Kereeenn!!!” Seru Roni yang bertepuk tangan sambil berdiri di sambut tepukan tangan dari penonton.
Inka hanya mengangguk-angguk takjim, berlagak layaknya Mariah Carey yang baru selesai menyanyikan lagu andalannya dan mendapatkan apresiasi tinggi.
“Lagiii-lagiii-lagiiiii!!!!” Seru para crew meminta Bella dan Inka melanjutkan.
“Okey-okey okeeyy… Tenang ya tenang..” Inka langsung berdiri di tengah-tengah lingkaran.
“Lagu biasa ya bang Rom.” Ia memberi kode pada Romi sang gitaris.
“Gue ikut!” Indra menggambil gallon kosong untuk ia tabuh.
“Bentar, gue lengkapin.” Roni jadi semangat bergabung. Ia mengambil beberapa aksesoris dari kotak property dan memasangkannya di tubuh Inka.
Penampilan Inka sudah sempurna dengan kalung mas palsu yang super besar bergantung hingga ke perut, gelang keroncong yang panjang dan wig rambut keriting.
“Keren-keren…. Semangat Inkaaaa!!!” Seru Bella yang kemudian tergelak. Ia pun menoleh Devan yang ada di sampingnya, ternyata laki-laki itu masih memandanginya.
“Hey! Kok bengong?!” Bella menjentikkan jarinya di hadapan Devan.
“Hah?” Devan langsung terhenyak. Ia kaget bukan kepalang. Pikirannya sedang tidak di sini, ia tengah melamunkan Bella dan menikmati memandangi Bella yang sangat cantik dengan banyak tersenyum dan tertawa.
“Oh sorry..” Kesadarannya baru kembali
“Inka gokil ya.” Bella mengalihkan perhatian Devan yang terus memandanginya.
“i-Iya.” Terpaksa Devan ikut mengalihkan pandangannya pada Inka. Ia baru sadar kalau Inka sudah di dandani sedemikian rupa dan mengundang tawa orang-orang.
“Kala kupandang kerlip bintang nan jauh di sana!” Seru Inka saat suara musiK terdengar.
“Wuhuuu lanjut neng!!!” Indra dengan semangat menabuh galonnya.
“Sayup ku dengar melodi cinta yang menggema!”
Satu per satu crew ikut berdiri dan meliukkan tubuhnya berjoget.
“Naik Bell!!!” Seru Roni seraya menarik tangan Bella.
“Ahahahaha.. siap! Ayo Van!” Tanpa di duga Bella pun menarik tangan Devan.
“Bell, gue gak bisa jogged!” tolak Devan namun tetap ikut berdiri.
“Gue gak terima alesan! Udah ikut aja!” Timpal Bella yang memegangi tangan Devan agar tidak kabur.
Ia berjoged di depan Devan sambil tertawa-tawa sementara Devan hanya bertepuk tangan mengikuti irama.
Tiba-tiba Roni datang, memasangkan wig kribo di kepala Bella membuat Bella tertawa renyah.
Devan jadi ikut terawa melihat penampilan Bella yang lucu.
Tanpa Devan duga, Bella menarik tangannya, lantas berputar di bawah tangan Devan yang terulur. Ia tertawa sangat riang.
Seketika, waktu seperti melambat bagi Devan. Ia menikmati saat jantungnya berdebar kencang ketika melihat rambut Bella yang berayun indah di depan matanya. Bella menari di hadapannya lalu berputar mengitarinya. Sesekali menggodanya dengan menyenggolnya. Ini menyenangkan, sangat menyenangkan hingga ia ingin waktu ini berjalan lebih pelan lagi bahkan berhenti. Melihat Bella tertawa seperti ini ternyata membuat sudut hatinya hangat.
Bella memberi warna baru dalam hidupnya. Tidak hanya rasa berdebar yang ia rasa, melainkan rasa nyaman karena gadis ini selalu ada di sekitarnya. Melihat matanya yang berbinar, bibirnya yang tersenyum mereka juga tingkah isengnya yang memaksa Devan harus berjoged. Hal apa lagi yang harus ia pungkiri. Ia telah jatuh cinta pada gadis ini. Hingga semua kesempatan yang ia dapatkan untuk berada di dekat Bella tidak ingin ada satu detikpun yang dilewatkannya.
“Bell, lo sangat cantik saat tertawa. Teruslah seperti ini dan akan gue pastikan lo gak akan pernah meredup lagi”
*****