Bella's Script

Bella's Script
Tendangan bertubi-tubi



Disebuah ruangan yang lembab dan kotor, seorang wanita tampak terbaring tidak berdaya diatas lantai bersemen kasar. Tangannya bergerak kecil saat kesadaran mulai memenuhi pikirannya. Seberkas cahaya kecil menyinari punggung tangannya yang dipenuhi luka juga wajahnya yang dipenuhi luka.


Adalah Amara, yang kini berusaha bangkit dari tempatnya dan menggapai botol minum yang ada di hadapannya. Sekedar menggapai botol saja, Amara begitu kesulitan. Ia merangkak mendekat menaha rasa sakit di tubuhnya yang di penuhi luka perih dan berdarah. Beberapa di antaranya sudah mengering tapi masih meninggalkan rasa sakit.


“Morning Ara,…” Panggil sebuah suara yang membuat yang begitu Amara kenali.


“Gimana tidurnya semalam? Nyenyak?” tanya wanita itu, sengaja menendang pelan botol minuman yang hendak diraih Amara hingga berguling dan menjauh.


Amara menghembuskan nafasnya kasar, usahanya malah sia-sia.


“Ups! Sorry…” kekeh wanita itu yang tidak lain adalah Nadine. Menyenangkan melihat wajah Amara yang terlihat kesal begini.


Ia berjongkok di hadapan Amara yang akhirnya kembali terbaring, membiarkan rasa haus seperti mencekiknya.


“Heeyy, wake up baby…. Gue mau ngeliat Amara yang beberapa hari lalu mengancam calon suami gue.” Nadine mengusap kepala Amara lalu menarik rambutnya dengan kasar.


“Aakhhhh…” Amara meringis kecil merasakan perihnya rambut yang sudah berantakan kemudian di tarik paksa oleh Nadine. Ia sampai mendongak memandang wanita yang tersenyum sinis padanya.


“Gimana rasanya, apa nyenyak tidur di tempat ini? Bau busuk sampah dan lembab sangat cocok dengan hidup lo yang kayak sampah. Hahahahaha….” Nadine tertawa dengan puas.


Ia sangat suka melihat Amara meringis kesakitan dengan wajahnya yang dipenuhi luka. Tidak ada lagi Amara yang cantik paripurna yang bisa meluluhkan hati banyak pria termasuk Keith.


Ya, Keith lah yang menjadi alasan Nadine melakukan ini pada Amara.


Ia tidak terima saat melihat pesan dari Amara yang menunjukkan pesan-pesan mesranya selama ini hingga foto USG yang Amara klaim sebagai USG anaknya dengan calon suaminya, Keith.


Siang kemarin, setelah pertengkarannya dengan Keith, Keith memilih pulang ke negaranya. Ia membatalkan pernikahan mewah yang akan mereka gelar dalam waktu satu minggu ke depan. Hati wanita mana yang tidak hancur, mendapati calon suami yang ia cintai ternyata selingkuh dengan wanita lain dan itu adalah sahabatnya sendiri.


Pengecut itu bahkan melarikan diri saat Nadine tahu apa yang mereka lakukan dibelakang Nadine.


Nadine murka. Amara sudah menghancurkan rencana indah yang ia susun bersama Keith dan harus menanggung malu atas pembatalan pernikahannya.


Dengan segala kemarahannya, semalam ia mendatangi Amara ke apartemennya. Keberuntungan memang sedang berpihak padanya. Ia mendapati Amara yang lemah karena efek obat penenang membuat Nadine menggunakan kesempatan itu baik-baik.


Ia menumpahkan semua kemarahannya pada Amara. Menampar Amara berkali-kali, menjambak rambutnya, membenturkan kepalanya ke dinding dan satu hal yang paling sadis yang ia lakukan adalah menendang ******** Amara dengan heels-nya yang tajam.


Ia merasa, bagian tubuh itulah yang membuat hubungan ia dengan Keith hancur dan ia tidak bisa membiarkannya.


Amara berguling di lantai tanpa bisa melawan.


Belum puas menghajar Amara, Nadine membawa Amara ke sebuah Gudang kosong di sekitaran apartemen. Dengan bantuan 2 orang laki-laki suruhannya, Nadine menyekap Amara di ruangan kotor dan bau ini. Ia pikir, ini tempat paling cocok untuk wanita murahan seperti Amara dengan pikirannya yang selalu picik dan kotor.


“Air Nad, air…” Amara bersuara lirih meminta minum pada wanita yang menatapnya dengan penuh kebencian.


“Air?” Ucap Nadine yang tersenyum sinis.


“Oohhh… Rupanya queen mau minum ya? Sini, gue kasih minum. Coba angkat kepalanya.”


Nadine mengambil sebotol air mineral dingin lalu membukanya di hadapan Amara. Amara bisa membayangkan bagaimana segarnya air itu saat membasahi tenggorokannya yang kering dan perih.


Ia menengadahkan kepalanya, menyambut air minum itu dengan antusias.


Sayangnya, Nadine mengucurkan air itu di depan Amara, berjarak beberapa senti saja dari mulut Amara.


“Hihihi… Sorry, sepertinya aku meleset.” Nadine terkekeh ringan, membuat Amara hanya bisa mengepalkan tangannya dengan kesal.


Sisa air yang tinggal sedikit, Nadine siramkan ke atas kepala Amara di sertai tawa Nadine yang menggelegar karena berhasil menyiksa Amara.


“Hahahahahahaha….” Nadine tertawa terbahak-bahak hingga sudut matanya mengeluarkan air mata. Ia bertepuk tangan pelan merasakan kepuasan melihat Amara menderita seperti ini. Penderitaan yang tidak akan pernah membayar lunas kesakitan yang ia alami.


Amara hanya bisa mengecap air yang mengalir melewati wajahnya. sakit yang mendera di bagian perutnya membuat ia kesulitan untuk bergerak apalagi melawan Nadine.


“Nikmati liburanmu di sini sebentar ya Ra, aku harus melanjutkan pekerjaanku dulu.” ucap Nadine yang melap tangannya yang basah dengan sapu tangan lalu membuang sapu tangan itu tepat di wajah Amara.


Ia hendak melenggang pergi namun tiba-tiba Amara menahan kakinya agar tidak beranjak.


“Jangan pergi…” Ucapnya lirih.


“LEPAS!” teriak Nadine seraya menendangkan kakinya pada Amara.


Namun wanita itu tidak melepaskan pegangan tangannya, malah semakin erat hingga Nadine menendangnya beberapa kali.


Tangan Amarapun terlepas dengan beberapa manik yang berhasil ia copot dari sepatu Nadine. Ia menggenggamnya dengan erat.


“Akh, kamu memang wanita murahan. Ambisimu hanya sebatas manik di sepatuku. Ambil sana, kalau perlu kamu kunyah supaya kenyang!” Hardik Nadine dengan kesal. Tangan kotor wanita itu telah mengotori dan merusak sepatunya.


Tendangan terakhir Nadine membuat Amara terkulai tidak berdaya. Wanita itu mencengkram kuat-kuat manik sepatu di tangannya dengan tangis tertahan yang membuat dadanya sesak.


Ia putus asa, ia berharap ada seseorang yang datang menyelamatkannya, entah siapapun itu.


*****