Bella's Script

Bella's Script
Rencana Devan



Satu jam sudah berlalu sejak Devan memulai rapat pentingnya di ruang rapat utama. Dimulai dengan memutar ulang teaser dan thriller film sampai membicarakan soal promo dan mengatur ulang deadline yang sedikit bergeser dari rencana semula.


“Gimana kalau kita mulai di hari besok? Besok kan weekend tuh,, kita gencarin promo lewat medsos dulu, gimana?” saran anak promotor yang dipimpin oleh Hendrik.


“Enggak, minggu ini belum bisa. Ada yang harus gue selesein dulu.” Devan masih memandangi kalender duduk yang ada di hadapannya.


“Apaan? Emang ada yang belum selesai?” Indra jadi penasaran.


“Hem,.. Gue mau masalah gosip ini selesai dulu. Biar gak ngehalangin promosi.” Sambil berpikir, ia mengetuk-ngetukkan ballpointnya ke meja.


Ia ingin segera menyelesaikan ini, hanya menunggu beberapa hari lagi sampai Devan bisa memulai promosi. Rasanya sangat lama sekali.


“Terus di tanggal berapa kita mulai?” Kemal tampak penasaran. Entah apa yang direncanakan Devan saat ini karena masalah gosip seperti belum terselesaikan dengan benar.


“Tring!” sebuah pesan masuk dan di layar ponsel tampak nama Bella yang muncul. Saat ini istrinya memang tidak ikut rapat karena harus menyiapkan script untuk project baru.


“Sorry sebentar,” Devan bergegas membaca pesan yang di kirim Bella.


“Yang,.. Aku izin pulang duluan yaa.. Badanku agak greges.” Tulis Bella.


“Tunggu sebentar sayang, nanti aku anter.” Dengan cepat Devan membalasnya.


“Gak usah, aku di anter driver kantor aja. Lagian aku niatnya mau pulang ka apartemen aja yaa... Biar gak terlalu jauh.”


“Ya udah,, Hati-hati sayang. Selesai rapat nanti aku nyusul ke apartemen.”


“Okey.. See you, Mas,..”


“See you soon, I love you, sayang...” jari Devan dengan cepat menyelesaikan berkirim pesannya dengan Bella.


"I love you too.." Balasan pesan Bella berhasil membuat Devan tersenyum kecil.


“Gimana?” Ia mencoba kembali fokus pada pekerjaannya. Mendadak semangatnya untuk menyelesaikan rapat ini bertambah berkali lipat. Ia ingin segera menemui Bella.


“Iya, apa gak sebaiknya kita mulai promo di weekend? Soalnya orang-orang banyak menggunakan media sosialnya di weekend.” Saran dari Hendrik.


“Okey, ide yang bagus. Sekarang tanggal?” Devan tercenung sejenak memandangi kalender.


“20 Ya...” Ia seperti tersadar akan sesuatu.


Ia baru sadar kalau di tanggal ini biasanya periode bulanan Bella.Sepertinya ia tahu alasan Bella merasakan ketidaknyamanan di tubuhnya.


“Weekend minggu depan, tanggal 4 kita mulai promo, setelah konferensi pers. Itu di barengin aja sama promo soundtrack. Kita gempur di semua medsos.” Terang Devan dengan semangat.


“Bentar, konferensi pers apa maksud lo?” Indra jadi penasaran.


Devan hanya tersenyum misterius melihat rasa penasaran timnya. Tentu saja akan ia terangkan dengan detail rencana ia kemudian.


*****


Selesai rapat, Devan langsung pulang menuju apartemen. Ia mampir ke minimarket untuk membeli beberapa kebutuhan dan melanjutkan perjalananya dengan cepat. Hanya 15 menit saja hingga Devan sampai di apartemen.


Di dalam rumah, lampu tidak seluruhnya menyala. Hanya lampu-lampu kecil yang meneranginya namun membuat Devan merasa cukup. Biasanya saat ia pulang semuanya gelap gulita, hanya lampu di ujung pagar yang menyala hingar.


“Sayang….” Panggil Devan saat sudah masuk ke rumah. Ia mencari keberadaan Bella yang tidak terlihat di ruang tamu.


Nyala lampu tidur terlihat jelas dari kamarnya yang berada di atas. Devan menaruh tas kerjanya di meja ruang tamu dan segera menuju kamarnya yang berada di atas.


Helaian rambut terlihat dalam gulungan selimut yang menutupi tubuh seseorang. Devan segera tahu kalau itu adalah istrinya. Ia mendekat pada Bella, duduk di pinggiran tempat tidur. Di kecupnya pipi Bella yang sedang terlelap dengan keringat dingin di dahinya.


Merasakan usapan lembut yang mengusap wajahnya serta kecupan mesra di pipinya, Bella pun segera terbangun.


“Mas,,,” Lirihnya. Membalik tubuhnya yang semula tidur menyamping sambil memegangi perutnya yang sedang kram.


“Ssstttt… Sayang… Maaf aku malah bangunin kamu…” Suara Devan terdengar pelan sambil mengusap dahi Bella agar kembali tertidur.


Bella membuka matanya dan terlihat wajah Devan persis di hadapannya. Bibir yang pucat itu berusaha tersenyum.


“Gak apa-apa. Aku gak bener-bener tidur kok. Tapi aku juga gak ngapa-ngapain, perut aku sakit banget… Maaf yaa, aku belum sempet bikinin mas makan malam.” Suara Bella terdengar mendayu nyaris tanpa tenaga.


“It’s okey… Sini aku peluk.” Devan menyandarkan dirinya lebih dulu pada headboard tempat tidur lalu membawa tubuh Bella bangkit dan menyandarkannya di tubuhnya. Lantas ia peluk Bella dari belakang.


“Kok mas tau?” Bella jadi menoleh Devan yang ada di belakangnya.


Devan tersenyum kecil, Ia menyingkap helaian rambut yang menutupi wajah pucat istrinya lalu mengusap kepalanya dengan lembut.


“Aku selalu mengingat kapan Ozi membelikan kamu minuman pelancar haid itu. Maaf, karena aku terlambat membelinya. Harusnya aku ngasih ini dua hari sebelum tamu bulanan kamu dateng kan?” Jujur Devan yang membaca label di minuman pelancar haid itu.


“Gak pa-pa…. Mas gak perlu minta maaf segala. Lagi pula, setiap bulan aku merasakan seperti ini, hanya saja rasa sakitnya masih selalu tidak bisa aku tahan. Maaf karena udah bikin mas cemas.” Diusapnya pipi Devan yang di tumbuhi rambut halus dari jambangnya.


“Emm… Kasian istri aku…” Devan mengeratkan pelukannya pada Bella sambil mengecupi kepala Bella.


“Oh iya, kamu mau gak aku ajak ngalihin rasa sakitnya?” tanya Devan tiba-tiba.


“Ngalihin rasa sakit? Gimana caranya?” Bella jadi menoleh sang suami yang menempatkan dagunya di bahu Bella.


“Nanti aku kasih liat. Kamu tunggu sebentar.” Devan membantu Bella untuk kembali berbaring lantas beranjak menuju lemarinya.


“Mas, mau ngapain sih? Jangan bilang mau ngajak aku olahraga. Gak boleh, tauk!” Cerocos Bella beruntutan saat melihat Devan membuka bajunya di depan lemari.


“Ya nggak dong sayang, mana ada aku setega itu.” Devan memandangi wajah panik Bella dari pantulan cermin dan bergegas mengganti bajunya.


Ia kembali membuka satu sisi pintu lemari dan mengambil jaketnya.


“Pake ini biar kamu gak kedinginan.” Jaket itu dipakaikan Devan pada Bella.


“Mas, ini kita mau kemana, kok aku di pakein jaket segala. Selimut aja udah cukup loh…” Bella protes tapi tetap saja mengikuti permintaan Devan untuk memasukkan tangannya ke lengan jaket. Terlalu besar, namun sangat nyaman bagi Bella.


“Nanti kamu akan tau.” Sahutnya penuh rahasia. Lihat saja senyumnya yang misterius pada Bella. Ia juga menandukkan hidungnya ke hidung Bella dan mengecup singkat bibir pucat dan kering Bella.


Ia mengeluarkan ponselnya yang berdering lantas ia jawab.


“Okey, terima kasih.” Sahutnya singkat. Entah siapa yang menghubunginya, membuat Bella semakin penasaran pada tingkah suaminya.


“Mas,…” Seru Bella, saat tiba-tiba Devan menggendong tubuhnya dengan kedua tangan.


“Pegangan sayang.” Ia juga melingkarkan tangan Bella di lehernya.


Bella menurut saja sambil memandangi wajah sang suami dengan penuh penasaran.


Devan membawa Bella menuruni anak tangga lalu keluar dari rumah. Di halaman sudah menunggu mobil Van miliknya yang dijadikan mas kawin oleh Devan.


“Kita mau bepergian?” Bella langsung terperangah.


“Iya.” Sahut Devan singkat.


Pintu mobil itu dibukakan oleh seseorang yang tidak terlalu Bella kenal. Tapi sepertinya salah satu crew.


“Kamu tunggu sebentar, aku akan mengambil beberapa barang dulu.” Devan membaringkan Bella di kasur kecil yang ada di dalam mobil Van.


Bella jadi tersenyum kecil seraya memandangi sang suami dari jendela mobil yang tirainya terbuka. Devan berbicara dengan laki-laki yang tadi mengantarkan mobil, entah apa yang mereka bicarakan yang jelas Devan menjabat tangannya dengan akrab.


Devan juga masuk ke rumah dan membawa satu keresek makanan atau minuman, Bella tidak terlalu yakin, dan bergegas menghampiri Bella.


“Kamu nikmati ini selama dalam perjalanan yaa… Kalau perlu apa-apa, aku di depan.” Tunjuk Devan pada kursi pengemudi.


Sebotol minuman untuk pelancar menstruasi diberikan Devan padanya setelah membuka botol penutupnya.


“Makasih, Mas.” Sahut Bella.


“Sama-sama sayang.” Tidak lupa Devan mengecup dahi sang istri dan menyelimutinya.


Devan sudah duduk di balik kemudi. Ia menurunkan jendela yang menjadi batas antara area depan dengan belakang mobil.


Mobilpun mulai melaju, Bella mulai mengatur posisinya selama perjalanan. Duduk bersandar pada bantal yang di tumpuk, lalu menekan tombol untuk membuka sunroof mobilnya. Ia bisa melihat langit Jakarta yang mulai gelap dan berbintang.


Rasanya menyenangkan, terduduk di dalam mobil yang selama ini menjadi impiannya.


Perlengkapan yang lengkap mengisi mobil ini hingga membuat Bella berasa ada di dalam rumah dalam versi sederhana. Beberapa kantong makanan juga bertengger di atas meja kecil yang minim guncangan saat mobil melaju. Devan benar-benar menyiapkan semuanya.


******************