Bella's Script

Bella's Script
Bell,...



“Hay Bell,” Sapa sebuah suara yang tidak lain adalah David, anak finance.


“Oh Hay.” Bella yang sedang menata bunga Marigold pun menoleh.


Dari dua laki-laki yang mendekat itu ternyata yang tiba lebih dulu di hadapan Bella adalah David, bukan Devan. Di saat yang bersamaan, Devan memilih menghentikan langkahnya, mengalihkan perhatiannya pada hal lain namun tidak pergi. Ia pura-pura ikut sibuk menyentuh apapun yang ada di dekatnya, padahal hanya ingin tahu apa yang Bella bicarakan dengan laki-laki yang baru ia lihat ini.


Harus Devan akui kalau ia kalah cepat dari laki-laki berpenampilan necis dengan kemeja berwarna soft dan dasi berwarna terang. Sangat terlihat kalau laki-laki ini begitu memperhatikan penampilannya.


“Gimana kabar lo? Baik?” Tanya laki-laki bernama David itu tanpa sungkan.


“Alhamdulillah. Lo apa kabar Vid?” Bella balas menjabat uluran tangan David yang terarah padanya dan berjabat untuk beberapa saat.


Satu simpulan yang diambil Devan, mereka saling mengenal namun entah apa maksud laki-laki ini menghampiri Bella.


“Baik.. Lama ya kita gak ketemu. Terakhir ngobrol waktu lo ngajuin klaim belanja property buat talkshow, eemm sekitar 7 bulan lalu.” David masih mengingat jelas kapan terakhir ia berbicara dengan Bella.


Gadis ini dengan detail menyampaikan laporan keuangan untuk pembelanjaan property. Cara bicaranya yang runtut, pembawaannya yang tenang dan suaranya yang riang benar-benar tidak bisa David lupakan.


“Oh iyaa… Waktu program morning show itu yaaa.. Lumayan lama juga.” Sahut Bella. Ia tersenyum saat mengingat acara yang dulu ia buat dan beberapa kali mendapat tranding 1 sebagai acara talkshow terbaik dengan penonton terbanyak.


Devan yang sedang menguping, sesekali menoleh Bella. Ia penasaran melihat respon Bella yang ternyata sangat terbuka pada David. Mereka seperti sudah mengenal satu sama lain dengan cukup lama.


“Ini Bell, gue ada oleh-oleh buat lo.” Laki-laki itu memberikan sebuah goodie bag pada Bella, bergambar singa, khas negara singa putih sana.


“Waaahh makasih Vid. Bawa oleh-oleh segala. Lo habis liburan dari sana?”


“Iya, kebetulan temen gue ada yang nikahan di sana. Jadi gue ke sana selama beberapa hari, ya itung-itung liburan juga lah. Dan gue inget lo suka banget coklat. Makanya gue bawain.” Terang David dengan penuh semangat.


“Dih, baik banget lo. Makasih banyak yaa. Nanti gue coba.” Timpal Bella.


“Sama-sama Bell.”


“Oh iya, ini juga, gue mau ngajak lo.” David menyampaikan maksudnya dengan hati-hati, membuat Devan kembali menoleh dan semakin meruncingkan telinganya untuk mendengar jelas obrolan keduanya.


Laki-laki ini benar-benar bergerak cepat.


“Ngajak gue kemana?” Bella bertanya dengan penasaran.


“Gini, Film barunya Keanu Reeves udah tayang di bioskop minggu ini. Lo mau gak sabtu ini kita nonton bareng?” Lagi, David berbicara dengan berani.


Devan benar-benar menyimak dan menunggu jawaban Bella. Gadis itu tampak terpaku, cukup terkejut dengan ajakan David yang langsung to the point.


“Lo tau, gue suka Keanu?” Bella sampai tidak habis pikir. Rasanya hanya beberapa orang yang tahu tentang hal-hal yang ia sukai.


“Iyaaa,, Lo pernah nonton marathon film-film lama Keanu berulang kali sampai berusaha ngehubungin manajemennya demi bisa dapet tanda tangan dia kan?” Hal detail seperti itupun ia tahu.


“Hahahahhaa… Iyaa… Tapi sayang sampe sekarang belum dapet. Gue gak terlalu beruntung sama hal kayak gitu. Fans tapi pasif, hahaha...” Keluh Bella penuh sesal. Padahal ia sangat mengidolakan actor tersebut.


“Nih.” David menyodorkan sebuah foto berukuran post card dengan tanda tangan Keanu Reeves di atasnya.


“Astaga! Ini buat gue?” Mata Bella sampai membulat tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.


“Iya dong.” Ringan saja David memberikan barang langka tersebut.


“Aaaahhh thank you David. Lo baik banget!!” seru Bella seraya menepuk lembut lengan David. Kontak fisik kedua yang membuat jantung David berdetak kencang.


“Sama-sama Bell.” David tidak biasa menahan senyumnya saat melihat Bella sesenang ini.


Gadis itu masih memandangi foto Keanu di tangannya sambil senyum-senyum sendiri.


“Jadi gimana, weekend ini gue bisa ngajak lo nonton kan?” Di saat yang tepat David menawarkan keinginannya.


Devan yang berdiri di tempatnya sudah memejamkan mata sambil mengepalkan tangan. Bibirnya bergumam lirih, “Jangan mau Bell.. Itu modus. Jangan mau..” gumamnya, berusaha mengirimkan sinyal pada Bella walau sebenarnya hanya ia yang mendengar.


“Okey! Bisa kok.” Sahut Bella dengan yakin.


“Okey… Thanks Bell..” David bisa menghela nafas lega.


“Sh*ttt!!” Sementara Devan hanya bisa mendengus kesal karena laki-laki itu berhasil mengajak Bella pergi.


Aaarrgghh rasanya ia ingin protes. Ada sesuatu yang berjogol di dadanya dan tidak bisa ia terima. Sayangnya, Bella terlihat begitu senang saat ini. Lalu ia bisa apa, selain kemudian pergi dan membiarkan Bella yang masih berbincang dengan David.


*****


“Van, gue udah ngukur set buat scene yang sekarang, kayaknya terlalu sempit. Bisa gak kalau kita agak geser ke sana?” Tanya Bella yang tiba-tiba menghampiri Devan yang sibuk menulisi Clapper Board.


“Boleh. Nanti lo bilang aja sama cameramen.” Sahutannya acuh tak acuh, Devan bahkan tidak menoleh padanya.


“Emm tapi kalau gak bisa, ya nggak usah soalnya lo kan yang lebih tahu bagusnya pengambilan gambar dan ruang para pemain kayak gimana.” Bella membaca sikap Devan sebagai penolakan secara halus. Mana mungkin ia langsung mengarahkan cameramen begitu saja, itu di luar kuasanya.


“Kapan gue bilang gak bisa?” Suara Devan terdengar sinis membuat Bella langsung merasa tidak nyaman.


“Lo kenapa sih? Bete apa Marah sama gue?” Bella sampai membungkuk demi melihat wajah Devan yang masih tertunduk dan berusaha melihatnya dari bawah.


Mata keduanya bertemu dan Devan segera memalingkan wajahnya.


“Siapa yang marah?” Ia beralih pergi meninggalkan Bella, membawa Clapper board ke mejanya. Benda pipih itu ternyata mendapatkan perhatian lebih besar dari Devan di banding Bella.


“Sikap lo yang nunjukkin kalau lo bete atau marah.” Sahut Bella dengan tegas.


Devan segera menoleh karena kaget dengan reaksi Bella. Gadis itu menatapnya kecewa seraya menyilangkan tangannya di depan dada.


Sejujurnya ia tidak berniat bersikap seperti ini pada Bella. Tapi naluriahnya terlalu kuat sebagai seorang laki-laki yang kesal saat melihat Bella mengiyakan ajakan anak finance itu. Bella begitu sadar kalau Devan kesal tapi tidak menyadari alasan kekesalannya.


Ia menghela nafas dalam dan akhirnya memutuskan untuk membalas tatapan Bella.


“Lo kalau ada yang salah sama gue, lo ngomong lah. Jangan silent treatment gini. Jahat banget lo!” Bella berujar dengan kesal.


Devan hanya bisa mengusap wajahnya kasar. Apakah yang ia lakukan memang keterlaluan?


“Terserah lo. Lo yang punya hak ngatur semuanya.” Sahut Bella ketus. Ia memilih pergi, daripada ia terus kesal pada Devan. Ia tidak mau membuang tenaga dengan berdebat.


“Bell!, Bella!!” Panggil Devan.


“I’m done! Lo aja yang atur.” Matahari PH ternyata bisa jadi petir yang menyambar di siang bolong.


Tidak, lebih tepatnya ia sudah malas berdebat setelah melihat sikap Devan sebelumnya.


Devan jadi serba salah. Ternyata lebih bingung kalau Bella yang marah. Ia akan kehilangan banyak hal, terutama senyum Bella.


Syuting di mulai dan Devan mengikuti saran Bella untuk menggeser lokasi. Tapi hingga saat ini Bella masih terdiam menyimak, membuat Devan sesekali menoleh gadis yang duduk di dekatnya namun terhalang Indra.


“Slate in!” kalau tidak mendengar perintah Indra yang beruntun mungkin Devan masih betah memandangi Bella yang sedang melihat bagaimana para pemain bersiap di belakang layar.


“Action!” seru Devan sebagai penanda take mulai di ambil.


Setiap pemain mulai memerankan tokoh yang mereka mainkan.


“Minara!” Panggil Michael dengan wajahnya yang garang.


“Aku tidak berbicara dengan penguntit apalagi pengecut. Pergi kamu!” Hardik Minara dengan keras.


Ia membawa semua barang-barangnya dari atas meja dan bergegas pergi meninggalkan Michael yang mematung di samping tempat sampah.


“Aku bukan menguntit!” Timpalan Michael membuat langkah Minara terhenti.


“Kamu pikir aku percaya?” Minara tersenyum sinis pada Michael.


"Memang apa namanya orang yang terus mengikuti seseorang, memantau dengan teropong dan mencari tahu semua tentangku di akun media sosial?"


“Kamu Harus percaya! Aku bukan penguntit!!” Seru Michael tidak terima.


"Oh ya, lalu apa istilahnya?" Minara berdiri menantang Michael dengan senyumnya yang sinis.


“Kamu cari sendiri istilah untuk orang yang sedang mengejar wanita yang dia suka.” Michael sampai mengepalkan tangannya setelah lolos mengucapkan kalimatnya.


“Hah, gila!" Minara berdecik sebal..


"Ungkapan cinta macam apa ini? Dictator!” Seru Minara dengan mata menyalak kesal.


“Aku tidak peduli kamu melabeliku apa. Penguntit, diktator atau apalah, terserah!!!"


"Yang jelas aku menyukaimu Minara! Aku sangat menyukaimu!!! Aku hanya ingin selalu melihat wanita yang aku suka! Itu saja cukup.” Michael terus berteriak membuat Minara menghampirinya.


“DIAM KAU!! BODOH!” Hardik Minara seraya menutup mulut Michael yang terus bicara. Ini membuatnya malu saat banyak pasang mata menatap dua orang yang sedang berdebat di ruang kelas.


"Kamu mau seisi kampus dengar pernyataan bodohmu itu?!" Desis Minara penuh penekanan.


Alih-alih diam, dalam satu waktu Michael malah menarik tangan Minara yang menutup mulutnya lantas meraih tengkuknya. Jarak wajah keduanya sangat dekat, hampir berciuman.


“DUK!” Tiba-tiba Minara memberi perlawanan dengan menanduk Michael membuat laki-laki itu terhuyung kesakitan seraya memegangi kepalanya.


“CUT!!!” Seru Devan mengakhiri pengambilan scene.


"Aaakkhh hampir ajaaa..." Gumam Rini yang gemas sendiri melihat pemeran utama pria dan wanita hampir berciuman. Dan adegan setelahnya membuat ia semakin gemas.


Sadar akan ucapannya, ragu-ragu Rini menoleh Bella yang duduk di sampingnya. Begitupun Devan dan Indra. Mereka cemas menunggu reaksi Bella.


Nyatanya Bella tidak bergeming apalagi beranjak dari tempatnya.


“By, sorry… Aku terlalu keras ya?” Amara sang Minara pun berubah panik. Ternyata ia terlalu totalitas memerankan perannya melawan Rangga, hingga Rangga benar-benar kesakitan.


“Coba cek.” Seru Indra pada salah satu crew.


“Ayo ke tempat istirahat dulu.” Ajak salah satu crew yang hendak memeriksa Rangga.


Kegaduhan pun terjadi.


"Aku minta maaf ya By.. Gak sengaja.." Rengek Amara dengan wajah cemasnya. Pasangan kekasih ini benar-benar menunjukkan kemesraannya, peduli satu sama lain.


Dimulai dari Amara yang meniupi dan mengusapi kepala Rangga yang sakit sementara Rangga tampak nyaman di samping Amara.


“Aku cium biar cepet sembuh ya..” Ucap Amara untuk menghibur Rangga.


Rangga hanya terdiam merasakan sakit seraya melirik Bella. Namun Bella hanya terdiam di tempatnya. Tidak berreaksi apapun. Bukankah ia sudah pernah melihat lebih dari sekedar ini?


Devan jadi ikut memandangi Bella dengan penasaran.


Apakah hati wanita ini kembali patah? Apa ia menyesal dengan pilihannya menerima tantangan Jihan untuk melanjutkan project film ini? Apa ia akan menyerah atau bertahan?


Tidak terbayang bagaimana perasaan Bella nantinya. Selama beberapa hari ke depan Bella akan terus melihat adegan mesra Minara dan Michael tidak hanya di dalam scriptnya tapi juga di dunia nyata. Apa yang akan di lakukannya?


Bagaimana perasaannya? Kenapa wajahnya begitu tenang? Matanya berkedip normal seperti tidak melihat apapun. Tidak ada mata yang berkaca-kaca apalagi linangan air mata.


Lantas mengapa hal ini malah membuat Devan cemas?


“Bell,” Panggil Devan dengan ragu.


“Ya!” sahut Bella seraya tersenyum. Seperti wanita itu baru tersadar dari sesuatu.


“Break dulu kali ya. Biar pemainnya di tangani dulu sama tim medis.” Imbuh Bella. Satu hal yang hilang dari Bella saat ini, kepeduliannya terhadap Rangga.


Ia tidak ada niatan untuk menghampiri Rangga, melainkan lebih memilih melepas headset yang melingkar di kepalanya lalu beranjak pergi dengan wajah tenang seperti tidak terjadi apapun. Entah kemana tujuannya.


Hey, you okey Bell?


*****