
Devan masih memandangi Bella yang sejak tadi terus memandangi satu titik hitam di meja makan. Entah semut hitam yang lewat, pelapis meja yang gosong terkena abu rokok atau tulisan brand minuman teh yang di cetak meliuk-liuk di atas alas meja. Ia tidak tahu persis. Yang ia tahu, makanan yang ada di hadapannya belum ia cicip sedikitpun dan masih ia abaikan begitu saja.
Devan mengetuk meja di hadapannya, membuat suara gaduh untuk memecahkan lamunan Bella yang dalam.
“Bell, hey!!!” Panggil Devan dengan pelan namun penuh penekanan.
“Hem?” Bella menoleh pelan dengan sisa kesadaran yang belum penuh, sepertinya ia benar-benar melamun dengan sangat dalam.
“Kenapa?” Bella balik bertanya saat Devan hanya memandanginya dengan cemas.
“Lo gak suka makanannya? Mau pesen yang lain?” tanyanya khawatir. Ia tidak tahu persis makanan favorut Bella apa sekarang tapi biasanya makanan di hadapan mereka jadi favorit semua orang termasuk Bella.
Satu hal yang pasti, ia melihat benar wajah Bella yang terlihat lelah malam ini. Seperti tenaganya habis hanya untuk mengedipkan matanya yang sayu.
“Nggak.” Sahutnya lemah. Ia tersenyum kelu, akh seperti joker saja.
Ia mendekatkan piring di hadapannya dan mengambil sendok dari dalam tempatnya. Satu suapan di ambil Bella, dikunyahnya pelan dan tatapannya kembali kosong.
“Jangan di paksain kalau gak suka. Lo mau ke tempat lain?” Devan memberi tawaran. Mungkin pilihannya salah mengajak Bella makan malam di tukang nasi goreng pinggir jalan.
“Gak usah, ini aja. Tapi bantuin Van,” pintanya, mendorong piringnya mendekat pada Devan.
“Gue udah kenyang. Lo terusin makannya.” Tolak Devan. Tentu saja piringnya sudah kosong sedari tadi.
“Oh, punya lo udah habis ya….” Komentar Bella yang melanjutkan kunyahannya.
“Hem, nasi lo makin banyak. Gak tau udah berapa biji nasi yang beranak.” Cetus Devan melempar gurauan.
“Emang, nasi bisa beranak ya?” Tanya Bella dengan wajah polosnya. Pikiran Bella benar-benar sedang tidak di sana.
“Ajaib kan?!” Sahut Devan yang di balas tawa oleh abang penjual nasi goreng, membuat Devan menyembunyikan wajahnya karena malu. Kenapa ia bisa seabsurd ini?
“Iyaa…” Bella mengangguk kecil.
Ia melanjutkan makannya dengan suapan-suapan kecil. Nasi goreng ini seperti tidak habis-habis, padahal menu ini salah satu menu makanan favorit Bella. Mungkin butiran nasinya benar-benar beranak pinak.
“Van,” tiba-tiba saja Bella bersuara.
“Hem? Lo perlu apa?” Sahut Devan dengan sigap. Ia melipat tangannya di meja sambil memandangi Bella, menunggu gadis ini akan berbicara apa.
“Emm, boleh gak kalau gue yang nyetir pulang?” pintanya.
Devan menatap Bella tidak yakin. Tapi terlihat jelas kalau gadis ini sangat berharap.
Jelas sudah jawaban Devan apa. Ia duduk di kursi penumpang sambil berpegangan pada handle grip dengan erat. Wajahnya tegang dengan keringat yang bercucuran di dahi dan punggungnya. Matanya melotot memperhatikan jalan di depan mereka. Rasanya kakinya ikut mengerem setiap kali Bella hampir menabrak sesuatu bahkan hanya sekedar polisi tidur.
Bella terus menancap gas, RPM mobilpun mendekati maksimal dengan kecepatan di atas rata-rata.
“Belll!! Awas ada motor!! Bell!!!” Teriak Devan di tempatnya. Sepertinya ia salah telah mengizinkan Bella yang menyetir. Akibatnya ia serasa berada di kotak video game. Tubuhnya miring kiri dan kanan, mengikuti belokan kasar yang diambil Bella.
“Bell!! Lampu merah!”
“Eh itu awas ada yang nyebrang!”
“Beellaaaa, jangan di gas lagii.”
“Bell please Bell!!!” Suara Devan sampai gemetar dan Bella tetap memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi dengan ambisius. Entah kendaraan mana yang sedang di tantangnya.
“TET TETTTT!!!!!” Suara klakson panjang membuat Bella menginjak rem dalam-dalam.
"AS TA GA!!!" Devan sampai kehilangan suara saking tegangnya.
“CKITTT!!!” Rem pun berdecit dan berhasil menghentikan laju mobil yang nyaris menabrak mobil pengangkut BBM. Beruntung mobil bermuatan ribuan liter itu berhasil menghindar sehingga tidak membuat mereka bertabrakan.
“AKH SIAL!!!” Dengus Devan dengan nafas terengah. Jantungnya nyaris saja copot.
Tidak hanya itu, ia segera turun dari mobil dan tidak lama kemudian,”HUWEKKK!!!” Nasi goreng pun ikut keluar lagi dari mulutnya.
Untuk beberapa menit Devan berada di luar mobil, bersandar lemah sambil mengumpulkan kesadarannya yang beberapa saat lalu seperti hilang.
Gilaaa, ia baru tahu kalau Bella bisa segila itu saat mengendarai mobil.
Setelah berhasil menguasai dirinya, Devan naik lagi ke dalam mobil. Ia masih melihat Bella yang duduk dengan tenang seraya menyodorkan sebotol air mineral padanya.
“Lo gak apa-apa?” tanyanya. Entah cemas atau hanya penasaran.
Devan tidak menjawab. Ia memilih mengambil botol air mineral di tangan Bella untuk menyadarkan diri sepenuhnya dan mengusir rasa pahit di mulutnya. Di teguknya air mineral hingga hanya bersisa setengahnya.
“Lo sendiri, apa udah ngerasa lebih baik?” Devan balik bertanya seraya menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Perutnya masih terasa mual.
“Hem.” Hanya itu sahutan Bella seraya tersenyum.
Gila masih bisa-bisanya ia tersenyum tenang begitu.
Ia kembali melanjukan mobil membuat Devan memilih berpegangan lagi pada handle grip sambil memasangkan sabuk pengaman.
Tapi ternyata kali ini Bella melajukan mobilnya dengan pelan.
“Fiuh…” Devan membuang nafasnya dengan lega. Bella sudah terlihat lebih tenang.
Menikmati laju mobil yang tenang, Devan menurunkan jendela mobilnya. Ia perlu udara segar untuk menyegarkan pikirannya.
“Kalau kita pergi ke club, terus minum minuman. Kira-kira gimana ya?” Cetus Bella tiba-tiba. Ia melirik Devan yang langsung menolehnya dengan wajah bingung.
“Gue cuma nanya Van, tegang amat lo.” Lanjutnya dengan senyum tipis yang ia tunjukkan.
“Pertanyaan lo ngadi-ngadi aja Bell.” Hanya itu sahutan Devan menyembunyikan ketegangan yang membuat jantungnya masih berdebar kencang setelah mendengar pertanyaan Bella tadi.
“Gue pengen denger komentar lo. Gak tau kenapa gue jadi suka denger lo banyak ngomong dan nasehatin gue. Gue ngerasa lo manusia normal yang bisa bawel, bukan lagi Mr silent.” Imbuhnya yang kemudian terkekeh.
"Lo labelin gue Mr silent?"
Devan menahan tawanya sendiri lantas mengusap kepalanya tidak habis pikir. Ia balas menatap Bella. yang mengangguk-angguk sambil menahan tawa. Pipinya yang tirusan terlihat naik. Ini menyenangkan untuk di lihat.
“Ya, lo pasti udah punya jawaban sendiri. Lo cuma perlu milih, mau nyelesein masalah apa mau mengalihkan masalah?” Devan menjawabnya dengan pertanyaan.
“Yaa ya ya, menyelesaikan atau mengalihkan? Pilihan yang bagus buat gue pilih, apa mau jadi orang bertanggung jawab atau pengecut. Gitu kan maksud lo?"
"Kurang lebih." Sahut Devan sambil menjentikkan jari.
"Gue suka dengernya.” Bella kembali tersenyum di ujung kalimatnya. Entah bagian mana yang membuatnya tersenyum ringan begitu setelah tadi hanya memasang wajah muram.
Mobil masih melaju pelan, kemudian menepi saat menemukan sebuah taman dengan halaman yang cukup luas. Bella mematikan mesin kemudian ia termangu menatap cahaya lampu yang menyala di tengah taman.
“Anak itu, adek tiri gue.” Tiba-tiba saja ia mengatakan hal yang tidak Devan duga sebelumnya.
Devan jadi memandangi Bella yang sedang berusaha mengumpulkan keberaniannya. Ya, butuh keberanian besar untuk sebuah pengakuan kelam.
“Dia satu-satunya anak yang lahir dari rahim perempuan yang bikin bokap gue berpaling dari nyokap.”
“Hahaha.. Hidup sebecanda itu kan sama gue?”
Bella menoleh Devan yang tengah menatapnya dengan laman. Ia tidak berkata apapun saat ini.
“Usianya selisih 7 tahun dari gue. Anaknya cukup pekerja keras walau gak pinter-pinter amat. Dia sering dapet remidial khususnya untuk mata pelajaran MIPA tapi sekarang malah pengen masuk jurusan arsitektur. Lawak nih bocah.” Bella tertawa di ujung kalimatnya. Terlihat kontras dengan tatapannya yang nanar.
Devan sampai tercengang, di balik sikap diamnya Bella, ia tidak menyangka kalau Bella tahu banyak hal tentang adik sambungnya.
“Gue selalu berpikir kalau bokap udah ngelakuin kesalahan besar karena udah nyelingkuhin nyokap gue. Nyokap yang paling gue sayangi, dia selingkuhi dan wanita itu malah di sembunyiin bahkan sampai di bawa mati. Gue masih bertanya, siapa yang sebenarnya saat itu di cintai sama bokap gue? Apa nyokap gue udah bukan siapa-siapa lagi di hati dia? Apa wanita itu menjadi cinta terakhir bokap gue?”
“Sial, gue gak bisa terima kalau sampai wanita itu sebenarnya satu-satunya yang bokap gue cinta saat dia pergi. Pengecut banget kan dia, pergi tanpa pernah jelasin apapun sama gue dan keluarga gue.” Kali ini ekpresi wajahnya berubah marah. Tangannya yang semula mencengkram kuat stir, kali ini mengepal.
“Tapi satu hal yang gue yakini, seperti hal nya Rangga, bokap gue lebih mencintai egonya diatas apapun. Tapi kenapa gue masih gak bisa nerima anak itu?”
“Bukannya yang terkutuk itu kelakuan bokap gue, sementara anak itu begitu gak berdosa. Dia diciptakan dengan sempurna, di sayangi sama tuhan sampe dibentuk begitu mirip sama gue dan abang gue. Tuhan gak mau sampai gue mengabaikan anak itu. Lalu, siapa sebenarnya yang gak adil?” Bella tercenung dengan pertanyaannya sendiri.
Terlalu banyak tanda tanya yang ada di benaknya dan tidak bisa ia urai.
“Kalau lo bisa menjawab siapa yang sebenarnya gak adil, apa hidup lo bisa lebih tenang?” Devan bertanya dengan hati-hati.
Ia menatap Bella dengan lekat dan menunggu perubahan ekspresi wajah Bella, apapun itu.
“Gue gak yakin Van. Kalau pun gue nemuin siapa yang sebenarnya gak adil, gue juga gak tau seperti apa keadilan itu seharusnya ada di hidup gue.” Sahut Bella dengan tatapan nanar.
“Gue ngerasa, sering kali gue jahat sama anak itu. Gue tau dia gak salah, tapi gue selalu memperlakukan dia seolah dia biang masalah di hidup gue. Gue bahkan sangat benci setiap kali denger dia manggil gue kak Bella. Berbicara seolah kami saling mengenal dan bersikap seolah kami dekat. Gue masih gak tau, sikap seperti apa yang harus gue tunjukin sama anak itu.”
“Gue,” Bella tidak lantas meneruskan kalimatnya. Ia bahkan kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan seperti apa perasaan marahnya.
“Hah, gue gak ngerti kenapa gue sekarang jadi suka cerita sama lo Van. Padahal lo asing buat gue.” Kembali Bella menatap Devan dengan lekat.
“Gue selalu menahan diri untuk gak cerita sama siapapun. Karena gue pikir, orang lain pun pasti punya masalah. Dan gue gak bisa egois dengan ngasih orang lain tambahan masalah dengan nyeritain masalah gue dan seolah mereka punya kewajiban buat ngasih gue jawaban. Tapi sama lo, kenapa gue bisa cerita sedetail ini? Lo muak gak sih Van?” Bella jadi mengerutkan dahinya, tidak mengerti.
Ia akui, kehadiran Devan seperti memberi ketenangan tersendiri untuknya.
“Entahlah. Mungkin karena gue ganteng?” sahut Devan asal.
“Hahahahaha….” Bella jadi tertawa mendengar sahutan Devan yang asal.
Dan Devan jadi ikut tertawa mendengar suara Bella yang lepas. Ia bersyukur karena Bella mulai terbuka. Ia mungkin tidak bisa memberikan solusi yang pasti untuk masalah Bella karena ia tahu, mungkin Bella tidak membutuhkan sarannya.
Gadis ini hanya perlu di dengarkan, di temani tanpa perlu di hakimi.
“Gue tidur bentar di sini yaa… Lo gak masalah kan?” tanya Bella tiba-tiba.
“Hem, gak masalah.” Timpal Devan.
Bella berusaha meluruskan jok mobilnya agar tidak terlalu tegak begitupun dengan Devan. Ia melakukan hal yang sama seperti yang Bella lakukan.
Mereka membaringkan tubuhnya dengan nyaman. Bella sengaja berbaring miring menghadap Devan, memandangi laki-laki yang kini membaringkan tubuhnya di sampingnya. Devan menoleh Bella dan tersenyum.
“Lo emang ganteng Van. Dan lo berbahaya.” Ungkap Bella tiba-tiba.
“Gue tau.” Sahut Devan dengan senyum tertahan.
Ia masih mendengar Bella terkekeh mendengar jawabannya. Entah sejak kapan Bella begitu terbuka padanya.
Devan memilih memejamkan matanya. Rasanya wajahnya berubah hangat setelah mendengar ucapan Bella. Atau mungkin jadi merah sehingga harus ia usap. Aaarrrhggh ia sampai frustasi karena tidak tahu seperti apa ekspresi wajahnya sekarang. Apakah memang tampan seperti yang Bella katakan barusan?
Beberapa menit berlalu, Ia tidak lagi mendengar suara Bella. Hanya hembusan nafasnya yang tenang yang ia dengar. Saat membuka mata, wajah Bella persis di depannya.
Ingin rasanya ia menyibak anak rambut yang menutup sebagian wajah Bella. Tapi kemudian tangannya hanya mengepal.
“Gue tau lo capek Bell. Tapi lo hebat. Lo kuat. Lo hanya perlu tau, mana itu sakit hati dan mana itu bertahan pada ego. Sejauh ini, Good job Bell.” Lirihnya seraya tersenyum.
"Thanks Van,..." Sahut Bella yang perlahan membuka matanya. Gadis itu bahkan tersenyum. Matanya yang seperti matahari terbit ikut tersenyum padanya.
Devan sampai tidak bisa berkata-kata. Ia pikir Bella sudah tidur. Akhirnya mereka saling bertatapan dengan hangat.
Jangan tanyakan seperti apa ekspresi Devan saat ini. Mungkin ekspresi bodoh dengan muka yang merah atau salah tingkah. Tapi kali ini, ekspresi apapun yang dilihat Bella dari wajahnya, ia tidak ingin memalingkan wajah. Seperti ini saja. Memandangi wajah Bella yang tenang, satu hal yang baru di lihatnya hari ini.
Ini sudah lebih dari cukup..
*****