
Langkah Bella terhenti saat ia melihat Inka dan Ibra yang tengah duduk di kursi tunggu. Mereka segera berdiri saat melihat kedatangan Bella bersama Devan yang baru kembali dari apotek.
Inka segera menghampiri Bella dan memeluk sahabatnya dengan erat.
“Hey, you okey?” Bisik Inka dengan tangis tertahan. Ia bisa membayangkan seperti apa ketakutan Bella saat ini.
Walau kerap berselisih paham, namun kakak beradik ini jelas saling menyayangi.
“Hem, better.” Sahut Bella.
Pandangannya kini tertuju pada laki-laki muda yang tidak lain adalah Ibra.
Saat melepaskan pelukannya, Inka melihat Bella yang masih memandangi Ibra. Ia menoleh anak laki-laki yang terlihat gugup dan tegang mendapati Bella memandanginya.
“Sorry gue ngajak anak ini. Tadi pas telponan sama lo, kebetulan gue lagi di café. Dia denger kalau mas Bima sakit dan langsung inisiatif nganterin gue ke sini pake motornya. Untung aja jadi cepet nyampe. Lo gak apa-apa kan dia ikut?” Tanya Inka dengan ragu-ragu.
Inka mengerti kalau Bella mungkin tidak setuju ada orang asing di tempat ini hingga ia memperhatikan benar ekpresi Bella setelah mendengar penuturannya barusan.
“Hem, gak apa-apa.” Di luar dugaan ternyata Bella tidak mempermasalahkannya.
Mendengar jawaban Bella, Ibra pun mendekat.
“Gimana kondisi bang Ozi kak?” Tanya Ibra dengan wajah cemasnya.
“Udah siuman. Sekarang lagi sama mamah di dalem. Gue permisi dulu, mau ngasihin obat.” Pamit Bella.
“Okey.” Sahut Inka seraya mengusap lengan Bella sebelum gadis itu pergi.
Ketiganya kini duduk di kursi tunggu. Inka yang penasaran lantas menoleh Ibra.
“Lo kenal mas Bima?” Tanyanya pada Ibra.
Ibra menoleh Inka dengan takut-takut lantas mengangguk kecil.
“Hem… Mas Bima memang terkenal. Banyak orang yang tau dia, terutama cewek-cewek. Apalagi setelah mas Bima ngadain pameran foto 2 tahun ke belakang. Follower-nya aja di IG langsung naik drastis. Banyak karya dia yang di pamerin di sana. Keren emang mas Bima.” Celoteh Inka entah pada siapa.
Devan dan Ibra hanya terdiam saja. Kalimat-kalimat Inka lumayan mengalihkan pikiran mereka yang mencemaskan Ozi dan Bella di dalam sana.
“Hay,,,” Sapa Ozi saat melihat sang adik datang. Ia masih bisa tersenyum saat Bella menemuinya.
“Hay.” Bella duduk di samping Saras yang tidak lepas menggenggam tangan Ozi.
“Gimana perasaan lo sekarang?” Tanya Bella dengan wajah cemasnya.
“Perasaan gue yaa. Emm….” Ozi tampak berpikir. Ia menatap Bella yang jelas mencemaskannya.
“Marah.” Lanjutnya.
“Marah? Sama siapa? Sama gue?” Tanya Bella seraya menunjuk hidungnya sendiri.
Ozi menggeleng pelan.
“No. Gue marah sama diri gue sendiri karena selalu bikin lo sama mamah khawatir dan repot.” Jawab Ozi seraya tersenyum ketir.
Jika saja ia bisa meminta, ia ingin segera mengakhiri masa sakitnya ini agar tidak merepotkan orang-orang disekitarnya.
“Orang-orang yang harusnya gue jaga, malah gue bikin khawatir dan sedih. Itu yang bikin gue marah.” Imbuh Ozi yang terlihat sedih.
"Lo suka ngaco kalau ngomong. Khawatir sama sedih itu wajar, orang gua sama mamah peduli sama lo." Bella berusaha terlihat tenang.
"Oh ya?" Ozi tersenyum jahil pada sang adik. Jawaban Bella yang sok acuh dan ketus terkadang cukup menghiburnya.
“Hem." Bella terangguk yakin.
"Apa yang lo rasain sekarang?” Bella menyentuh dahi Ozi dengan punggung tangannya. Ia pun mengusap titik-titik keringat dingin di sana.
“Lebih baik, ya walau masih berasa abis naik komedi putar.” Sahut Ozi seraya tersenyum.
“Bisa-bisanya lo masih senyam senyum.” Protes Bella yang kesal dengan sikap Ozi.
“Hehehehe…. Sorry ya udah bikin lo panik.” Ozi mengambil tangan Bella untuk ia genggam. Begitu terlihat kalau adik kecilnya ini sangat mencemaskannya.
Bella hanya berdecik sebal. Cara ozi mengagetkannya memang tidak tanggung-tanggung dan nyaris membuat jantungnya copot.
Melihat respon Bella, Ozi hanya tersenyum. Diusapnya kepala Bella dengan sayang.
“Mah, maafin abang ya udah bikin mamah repot.” Ia pun meraih tangan Saras untuk ia genggam bersamaan dengan tangan Bella.
Ia menatap lekat dua wanita yang kini ada di hadapannya.
“Harusnya sekarang itu waktunya abang nyenangin mamah. Nemenin mamah dan melakukan hal menyenangkan bareng adek. Tapi, abang malah selemah ini. Abang bahkan belum bisa membalas sedikitpun kebaikan mamah dan malah terus ngerepotin mamah.” Ucap Ozi dengan tatapan nanar pada Saras.
Bisa terlihat helaan nafasnya yang berat penuh sesal.
“Abang ngomong apa sih. Mamah gak pernah mengarapkan anak-anak mamah membalas kebaikan mamah. Karena sesungguhnya, mamahlah yang mengharapkan kehadiran anak-anak di sisi mamah. Melangitkan do’a setiap waktu agar di beri keturunan. Maka tidak ada budi yang harus di balas oleh seorang anak. Mamah tulus sayang sama abang dan adek.” Dengan matanya yang berkaca-kaca ia menatap satu per satu wajah kedua anaknya.
Mendengar ucapan Saras, kedua anak itu jadi terharu. Begitu besar kasih sayang seorang ibu seperti Saras. Beberapa tahun ini ia membesarkan dua anak ini sendirian tanpa pernah membuat keduanya merasakan kekurangan kasih sayang.
Bella menyandarkan kepalanya di bahu Saras dengan tatapan yang tetap tertuju pada Ozi.
“Adek sayang sama mamah dan abang.” Ucap Bella dengan penuh kesungguhan.
Saat membayangkan satu per satu orang yang disayanginya pergi, rasanya tidak banyak kesempatan untuknya mengatakan kalau ia sangat menyayangi dua orang didekatnya kini. Tidak ada lagi perasaan yang ia tahan untuk Saras dan Ozi.
“Mamah juga sayang sama adek.” Saras mengusap pipi Bella dengan lembut membuat Bella bisa merasakan kasih sayang maha besar dari ibunya.
“Mamah adalah ibu yang jauh dari sempurna tapi izinkan mamah untuk sedikit egois. Mamah berharap, mamah akan selalu bisa memiliki kalian. Maka mamah harap abang mau berjuang untuk sembuh. Jangan sembunyikan apapun lagi dari mamah. Hem?” Saras mengeratkan genggamannya pada Ozi.
Ozi tersenyum kecil. “Iya mah, abang berjanji.” Janjinya pada Saras.
Rasanya begitu bahagia bisa memiliki satu sama lain dan saling mengasihi.
Di tengah kehangatan keluarga ini, seorang perawat datang menghampiri.
“Permisi. Mohon maaf mengganggu waktunya.” Ujar wanita bertubuh tambun tersebut.
“Iya sus, gimana?” Saras segera merespon.
“Begini ibu, kami mohon izin untuk melakukan transfusi darah pada pasien. Sesuai advice dari dokter, pasien diharuskan melakukan transfusi sekitar 6 labu darah agar hb nya kembali normal."
"Saat ini kami hanya memiliki 2 labu dan 4 labu lainnya sedang diupayakan oleh PMI. Namun kami khawatir itu akan memakan waktu yang cukup lama karena golongan darah pasien juga cukup langka. Barangkali ada keluarga yang golongan darahnya sama dengan pasien?” Tanya perawat tersebut dengan penjelasan mendetail.
“Em,,, Kalau golongan darah kami gak ada yang sama sus. Tapi golongan darah saya O, apa bisa di berikan untuk abang saya?” Tanya Bella.
Sekilas Perawat itu melihat catatan yang ada di medical record Ozi.
“Mohon maaf mba, walaupun golongan darah mba universal namun baiknya pasien mendapat donor dari golongan darah yang sama yaitu B rhesus negative.” Terang perawat tersebut.
Bella terangguk paham.
“Golongan darah abang sama dengan papah.” Kenang Saras yang menatap Ozi dengan khawatir. Golongan darahnya pun berbeda dengan Ozi sehingga tidak mungkin menjadi pendonor.
“Kalau gitu, tolong diberikan dulu labu darah yang ada ya sus, saya akan mencoba mencari kekurangannya supaya lebih cepat.” Pikir Bella dengan cepat.
“Baik mba. Kalau begitu, keluarga bisa menunggu di luar, saya izin untuk melakukan tindakan.”
“Baik sus, silakan.” Saras dan Bella segera bangkit dan memberi ruang.
“Abang, mamah nunggu di depan ya. Kalau abang perlu apa-apa, kasih tau susternya biar manggil mamah.” Pesan Saras pada Ozi.
“Iya mah.” Dengan berat hati Ozi melepaskan genggaman tangan Saras.
“Sus, saya nitip abang saya ya…” Bella pun berpesan pada perawat tersebut.
“Baik mba.” Ucap wanita muda itu seraya tersenyum ramah.
Ozi melambaikan tangannya saat Bella dan Saras keluar dari ruangan. Semoga saja ini tidak lama.
"Sakit gak sus?" Iseng Ozi bertanya.
"Sedikit, seperti di gigit semut." Jawab perawat.
Di luar ruangan sudah ada 3 orang yang menunggu. Devan, Ibra dan Inka.
“Gimana mas Bima, tante?” Cepat-cepat Inka bertanya sekali lalu meraih tangan Saras untuk ia kecup.
“Sudah sadar nak. Sekarang mau di transfusi dulu. Nak Inka sama siapa datang ke sini malam-malam?” Masih saja Saras mencemaskan gadis yang ada di hadapannya.
“Sama Ibra tante.” Tunjuk Inka pada pemuda di belakangnya.
“Tante,..” Bergantian Ibra yang meraih tangan Saras untuk ia salimi.
“Makasih yaa, udah dateng. Ozi pasti seneng banget kalau tahu banyak orang yang perhatian sama dia.” Tutur Saras dengan penuh haru.
“Sama-sama tante.” Adalah Inka yang menyahuti.
“Mah, kalau gitu adek ke PMI dulu ya. Biar cepet dapet darah buat abang.”
“Iya sayang.”
“Emang golongan darah mas Bima apa tante? Siapa tau Inka bisa donor.” Jeda Inka.
“Oh, golongan darah Ozi B rhesus negative.”
“Yaahh,, Golongan darah saya A tante.” Inka menciut sedih.
“Gak apa-apa. Do’ain aja biar Bella bisa dapet darahnya. Katanya lagi diusahain juga sama PMI.” Saras mengusap bahu Inka yang melorot.
“Golongan darah saya juga B tante…” Takut-takut Ibra menawarkan dirinya membuat Saras menatap pemuda itu penuh atensi. Ternyata anak ini tidak hanya mirip dengan mendiang suaminya melainkan golongan darahnya pun sama.
“Kalau tante mengizinkan, saya bersedia untuk donor.” Lagi Ibra menawarkan diri.
“Terima kasih.” Ucap Saras dengan mata berkaca-kaca.
“Iya tante.” Ibra tersenyum senang karena ternyata ia bisa membantu kakak sambungnya.
“Kalau gitu, Inka juga izin tanya temen-temen ya tante. Siapa tau ada yang golongan darahnya sama dengan mas Bima.” Cepat-cepat Inka mengeluarkan ponselnya dari dalam saku.
“Iya nak.” Rasanya Saras bisa menghela nafas lega karena ternyata banyak yang berusaha membantunya.
Dengan semangat Inka segera mengetik pesan di group kantornya.
“Info penting. Dibutuhkan segera pendonor golongan darah B rhesus negative untuk kakak sahabat kita Bella. Saat ini mas Bima sedang di rawat di rumah sakit Budi Mulya dan memerlukan darah golongan darah B rhesus negative. Dengan kerendahan hati, gue minta bantuan kalian gais buat bantu Bella. Makasih sebelumnya orang-orang baik.” Tulis Inka.
Dan dalam hitungan detik banyak yang meresepon pesan Inka. Bertanya kondisi Ozi saat ini dan beberapa di antaranya langsung menawarkan diri. Memang tidak banyak namun mereka bersedia memberikan darah mereka jika dibutuhkan.
“Tante duduk dulu di sini. Devan anter Ibra ke dalem dulu nanti sekalian nganter Bella ke PMI ya tan.” Ujar Devan dengan sigap.
“Iya, tante di sini dulu sama Inka ya. Temen-temen yang lain juga nanti bakal ke PMI buat donorin darahnya.” Sambung Inka dengan semangat.
“Iya, terima kasih banyak.” Lirih Saras dengan air mata haru di pelupuk matanya. Ternyata banyak orang yang memperdulikan putranya.
******
Terbaring di atas blankar dengan jantung yang berdegub kencang, itulah yang di rasakan Ibra saat ini. Dari celah tirai ia bisa melihat Ozi yang terbaring di sampingnya dan hanya terhalang oleh tirai tipis berwarna putih. Laki-laki itu tampak lemah dengan wajah pucat pasi. Matanya terpejam seperti sedang menahan sakit.
“Bang, ada gue di sini.” Rasanya ia ingin mengatakannya pada Ozi namun saat ini hanya ada dalam hatinya.
Setelah tadi menjalani pemeriksaan singkat, akhirnya Ibra diizinkan untuk donor darah. Perawat sudah mengambil sedikit darahnya untuk sample dan menyatakan Ibra lolos untuk menjadi pendonor.
Jujur, ini pertama kali ia mendonorkan darahnya. Ia pun baru tahu kalau ternyata jarum untuk mengeluarkan darahnya sebesar itu. Aakhhh mengerikan juga ternyata.
“Saya mulai ya…” Izin petugas medis pada Ibra.
“I-Iya.” Mata Ibra terpejam namun tetap saja kemudian ia mengintip karena penasaran ingin melihat saat pembuluh darahnya di tusuk. Apakah seperti di film-film?
Sebuah kapas alcohol menyapu area penusukan pembuluh darah vena di lengan kirinya. Rasanya dingin dan nyaman. Tidak lama dari itu, sebuah jarum besar di arahkan ke area tusukan,
“Tarik nafas…” Ujar petugas.
Ibra mengikuti saja dan di waktu bersamaan, “Awwh….” Lirih Ibra. Ternyata sakit juga. Bohong kalau Devan bilang rasanya seperti di gigit semut. Baginya ini cukup sakit.
“Okey, darahnya sudah mengalir yaa.. Mas nya kalau merasa pusing atau mual, segera angkat tangan yaa…” Pesan petugas medis setelah selesai memasangkan plester di dekat area tusukan dan lengan Ibra.
Ibra hanya memandangi darah yang mengalir di selang dan masuk ke dalam kantung. Ia memijat-mijat bola dalam genggamannya katanya ini untuk mempercepat aliran darah keluar.
Di balik rasa menakutkan yang tiba-tiba ini, terselip rasa bahagia karena pada akhirnya ia bisa melakukan sesuatu untuk keluarga Bella. Satu per satu ia bisa membalas kebaikan Bella walau ia tidak yakin apakah ini cukup di sebut sebagai kebaikan.
Perhatian Ibra kini kembali pada Ozi. Bibirnya bergumam seperti membaca mantra yang ia tujukan pada Ozi.
“Bang, lo harus sembuh. Tante Saras dan kak Bella cemas banget sama lo. Mereka butuh lo. Dan gue, gue minta kasih gue kesempatan untuk lebih banyak ngenal lo dan keluarga papah. Bisakah?” Batin Ibra.
Entah ikatan seperti apa yang membuat Ozi tiba-tiba membuka matanya. Ia menoleh ke samping dan Ibra tampak terkejut saat mata mereka bertemu pandang. Mereka bertatapan sebelum kemudian Ozi tersenyum kecil dan membuat mata Ibra terbelalak.
Setelah pertemuan di rumah Saras, ini kali pertama Ibra melihat Ozi tersenyum.
“Apa rasanya sakit?” Tanya Ozi pelan, seperti tenaganya nyaris habis. Rupanya sejak tadi ia tidak tidur. Ozi hanya memejamkan matanya untuk mengurangi rasa pusing berputar.
Ia melirik tangan Ibra yang ditusuk jarum dan mengeluarkan darah.
“Ngg-nggak. Ini kayak di gigit semut aja.” Sahut Ibra yang kaget Ozi bertanya.
Ozi hanya mengangguk kecil lantas mengalihkan pandangannya pada langit-langit ruangan yang berwarna putih. Nyala lampu neon seperti nyala semangat baru yang dilihatnya.
“Makasih dek, lo udah bersedia donorin darah lo buat gue.” Lirih Ozi kemudian. Ia kembali menoleh Ibra yang tidak bisa berkata-kata.
Ibra tercenung. Pikirannya tertaut pada satu kata yang di ucapkan Ozi.
“Dek?” Apa itu panggilan karena Ibra masih kecil atau karena Ozi sudah menganggapnya sebagai seorang adik?
Ibra tidak bisa menahan rasa menyeruak yang ada di dalam dadanya hingga membuat bibirnya tersenyum. Rasa pegal di lengan kirinya pun hilang. Jantungnya berdetak lebih cepat hanya karena mendengar panggilan Ozi.
“Sama-sama bang.” Sahutnya.
Lantas keduanya kembali memalingkan wajah, menatap langit-langit kamar yang putih bersih. Keduanya sama-sama menghela nafas dalam dan tersenyum kecil. Ada kelegaan tersendiri yang dirasakan keduanya.
Di tempat berbeda, Bella dibuat tersedu haru saat melihat ada sekitar 8 orang yang datang untuk mendonorkan darahnya.
“Donor darah gue buat mas Ozi eh mas Bima, kakaknya Bella. Nanti dia ke sini.” Ujar salah satu crew dari departemen artistic. Petugas segera mencatat nama-nama calon pendonor.
Bella sampai terharu, ia tidak menyangka kalau rekan-rekan kerjanya sepeduli ini pada Bella.
Dengan tangan gemetar ia menulis pesan di group. Group yang tidak pernah ia tinggalkan walau sudah berpindah departemen. Karena baginya, group ini adalah group keluarga di tempat kerja.
“Terima kasih. Terima kasih orang-orang baik, atas do’a dan kesediaannya donorin darah buat abang gue. Gue gak tau harus bilang apa, kalian baik banget. Semoga segala kebaikan juga selalu tercurah buat kalian semua. Sekali lagi terima kasih dan sehat selalu.” Tulis Bella dengan tangis tertahan.
Beberapa pesan balasanpun di baca Bella.
“Kuat ya Bell, bang Ozi pasti cepet sembuh.”
“Semangat Bell, lo kuat lo hebat.”
“Neng Bella cantikk, semangat yookkk!!!”
“Bell, gue bantu do’a yaa,, Sorry belum bisa donor.”
“Gue udah nitip do’a sama emak gue yang lagi umroh, Bismillah ya Bell, bang Ozi cepet sembuh.”
Dan banyak pesan lainnya yang membuat Bella tersenyum haru seraya membenamkan ponsel yang ia genggam di dada. Ia sadar, nyatanya ia tidak pernah sendirian selama ini.
Di tempatnya Devan hanya memandangi Bella dari samping. Susah payah gadis ini menahan tangisnya agar tidak pecah. Beberapa pesan pun masuk ke kotak masuk Devan dan menanyakan kondisi Bella serta Ozi. Banyak sekali yang peduli pada keduanya.
Dan saat melihat Bella seperti ini, Devan jadi tersadar. Bahwa sikap mandiri yang di tunjukkan Bella adalah pilihannya. Semua ia lakukan karena keadaan yang membuatnya harus memilih mandiri. Walau pada hakikatnya, ia tetap perlu perlindungan.
“Bell, gue akan selalu di sini. Persis di samping lo dan gak akan kemana-mana.”
******