
Pagi hari, Amara sudah menunggu di depan pintu unit apartemen Rangga. Sudah satu jam ia menunggu dan Rangga tidak juga keluar. Ia mencoba menelepon Rangga tapi handphone-nya malah tidak aktif.
“Gaa, kamu kemana sih?” gumam Amara dengan wajah cemasnya.
Sudah berhari-hari ia kesulitan untuk menemui Rangga padahal mereka tinggal di gedung yang sama. Rangga selalu menghindar setiap kali Amara ingin bertemu dan Amara tidak mungkin menyusulnya keluar karena usia kehamilannya yang semakin besar dan tidak bisa di sembunyikan lagi. Ia harus menghindari banyak tatapan mata yang memperhatikannya.
“Ting tong! Ting tong!” Amara memberanikan diri untuk menekan bell unit apartemen Rangga. Ia sengaja tidak berdiri di depan pintu karena khawatir Rangga tidak mau membuka pintu saat melihatnya.
“Ting tong! Ting tong!” Lagi Amara menekannya, berharap Rangga mau membukakan pintu.
Tidak lama berselang, pintu akhirnya terbuka. Dari celah pintu, Amara bisa melihat Rangga yang tampak berantakan. Ia tidak mengenakan baju dan hanya mengenakan celana jeans saja. Rambutnya juga berantakan, khas bangun tidur.
Melihat Amara yang datang, Rangga segera menutup kembali pintu namun Amara menahannya.
“Ga, sebentar,,,” Ia sengaja memasukkan tangannya ke celah pintu agar Rangga tidak menutup pintunya.
“Tolong kasih aku waktu sebentar, aku perlu ngomong sama kamu.” Bujuk Amara dengan tatapannya yang sendu dan mengundang iba.
“Udah lah Ra, aku gak mau ketemu lagi sama kamu.” Tolak Rangga saat melihat perut Amara yang semakin membuncit walau sudah menggunakan baju yang longgar.
Melihat perut itu membuat Rangga semakin benci saja pada Amara.
“Aku mohon Ga, kita gak bisa terus seperti ini. Kita public figure. Gimana kita ngehadapi netizen nantinya kalau hubungan kita seperti ini.”
“AKU GAK PEDULI! ITU URUSAN KAMU!” seru Rangga yang bersandar lemah di dinding. Ia mengguyar rambutnya kasar, rasa pening di kepalanya masih belum juga reda.
“Tapi Ga, kamu pacar aku. Maksud aku, mereka taunya kamu pacar aku. Kalau aku muncul dan keliatan hamil, mereka juga pasti akan ngejar kamu. Setelah gosip kemarin, nama kamu akan semakin jelek kalau mereka tau kamu mengabaikan aku. Aku,”
“Kamu mulai mengancam aku Ra? Iya?!” seru Rangga dengan kesal.
“Ga, aku bukan bermaksud ngancam. Aku cuma ngingetin kamu. Kita harus memikirkan ini sama-sama. Kamu gak mau kan promo film dan album kamu jadi terhambat karena masalah kita?”
Mendengar ucapan Amara akhirnya Rangga mengalah. Ia membuka pintu lebar-lebar dan membiarkan Amara masuk.
Rangga duduk di sofa, memakai kaos oblongnya lalu meneguk air mineral yang entah sejak kapan ada di atas meja. Ia bahkan tidak ingat bagaimana ia kembali ke rumah ini, semalam.
Sementara Amara, tampak begitu terkejut saat melihat banyak foto yang tersebar di lantai. Semakin terkejut karena itu adalah foto Rangga dan Bella. Menyebalkan, rasanya ia ingin membakar semua foto itu. Tapi sayangnya, kali ini ia harus lebih tenang. Ia tidak bisa menghadapi Rangga dengan emosional.
Amara duduk tidak jauh dari Rangga. Ia memperhatikan penampilan Rangga yang tampak berantakan dan berbau minuman beralkohol.
“Gimana kabar kamu Ga?” Tanya Amara dengan cemas. Walau ia yakin Rangga tidak baik-baik saja, ia tetap ingin memastikannya.
“Gak usah basa-basi Ra. Apa yang sebenarnya mau kamu omongin?!” Rangga menatap Amara dengan tidak suka. Ia lebih memilih memandangi ikan yang berenang di dalam bowl aquarium.
“Okey, maaf. Aku cuma cemas sama kamu.” Aku Amara dengan sesungguhnya.
“UDAHLAH RA! BISA GAK SIH KAMU GAK BAHAS ITU LAGI?!” Rangga langsung berdiri mendengar ucapan Amara. Bikin emosi saja menurutnya.
Amara sampai terhenyak mendengar suara Rangga yang meninggi tiba-tiba.
“Kamu tau aku marah, kamu juga tau aku kecewa. Kenapa kamu terus mengulang mengingatkan aku dengan kejadian itu? Kamu mau membanggakan diri kamu di depan aku karena kamu berhasil meniduri dan punya anak dengan laki-laki itu?”
“Selamat! Aku ikut berbahagia!” Rangga bertepuk tangan dengan kesal.
“Gaa,,, Bukan itu maksud aku...” Lirih Amara penuh sesal. Ia meraih tangan Rangga tapi kemudian di kibaskan oleh Rangga.
“Lalu apa? Apa yang kamu mau bicarakan sama aku? Tentang hubungan kita? Gak ada! Udah gak ada kita untuk saat ini. Cuma ada aku dan kamu yang sudah bukan siapa-siapa lagi!” tegas Rangga, menunjuk ia dan Amara bergantian.
“OKEY!! Aku gak akan bahas tentang kita!” Amara ikut meninggikan suaranya. Sepertinya Rangga sudah tidak bisa di bujuk lagi.
“Aku gak akan ngebahas hubungan kita lagi kecuali di depan fans dan netizen.” Amara menatap Rangga dengan putus asa.
Rangga pun menatap Amara dengan tidak habis pikir. “Apa kamu bilang? Kamu masih memikirkan pikiran fans dan mau pura-pura masih berhubungan sama aku? Pikirmu mereka peduli apa?”
“Iyaa Ga, aku mohon!"
"Sekali ini saja aku minta tolong, sampai aku melahirkan, tetaplah pura-pura menjadi pacarku."
"Aku janji aku gak akan keluar dari apartemen. Aku juga gak akan muncul di hadapan banyak orang. Aku akan bersembunyi. Tapi aku mohon bantuan kamu. Sekali ini lagi... Please... Aku butuh status punya pasangan. Tolong aku Ga.” Amara memohon di hadapan Rangga.
“AKH! SIAL!” dengusnya, kehabisan kata-kata. Ia mungkin tidak bisa menolak kali ini karena nama baiknya pun terancam semakin buruk.
“Apa mau kamu?” Sinis Rangga.
Amara bisa menghela nafas lega mendengar kesediaan Rangga. Ia mendekat pada Rangga dan menatapnya lekat.
“Tolong sembunyikan keberadaanku Ga. Tolong bela aku dihadapan banyak orang. Katakan kalau aku sedang bepergian atau apalah tapi pastikan kamu mengatakan kalau hubungan kita baik-baik saja. Katakan juga kalau kita sedang berusaha menata masa depan kita.” Tatapan Amara terlihat penuh harap.
“Jika kamu tidak bisa mengasihani aku, paling tidak, kasihani bayi ini, Ga.” Amara mengusap perutnya dengan lembut membuat Rangga ikut menatap perut Amara. Ia sadar bayi di perut Amara memang tidak berdosa.
“Kelak, aku harus membesarkan anak ini seorang diri. Jadi tolong, bantu aku untuk memastikan kalau fansku tidak akan pernah meninggalkan aku. Hanya mereka yang selalu menemani dan menghiburku sejak aku terjun ke dunia hiburan hingga sekarang. Aku gak mau mengecewakan mereka. Aku mau mereka tetap memandang Aku sebagai queen mereka. Bisa kan gak?” lirih Amara dengan terbata-bata. Rasanya tangisnya akan segera pecah.
“Aku mohon Ga, aku mohon...” Amara memegangi ujung baju Rangga dengan putus asa. Baginya, saat ini yang bisa ia jadikan tempat bersandar hanyalah Rangga, tidak ada yang lain.
“Okey, aku akan membantu kamu. Tapi pastikan kalau kamu tidak akan berulah lagi.” Tegas Rangga seraya mengibaskan tangan Amara.
Amara hanya tersenyum lantas memandangi tangannya yang dikibaskan Rangga. Ia sudah benar-benar di buang oleh Rangga. Pada siapa sekarang ia bisa berlindung?
*****