Bella's Script

Bella's Script
Berpikir ulang



Permintaan Lina untuk berbincang berdua dengan Bella, membuat Bella memutuskan untuk mengajaknya berbincang di taman belakang studio. Mereka duduk berdampingan dengan sebuah kotak makanan yang ada di antara mereka.


Makanan ini memang sengaja di bawa Lina sebagai buah tangan saat menemui Bella. Ia mengingat persis bagaimana Bella sangat menyukai jajanan pasar yang sering ia sajikan dulu saat Bella main ke rumahnya.


“Gimana kabar kamu sekarang nak?” Lina mengulang pertanyaannya yang tadi sempat ia tanyakan pada Bella dengan tatapan cemas.


Saat ini mereka hanya berdua, Lina berharap Bella bisa mengatakan kondisinya yang sebenarnya.


“Alhamdulillah, Bella sehat tan.” Bella tetap dengan jawaban yang sama. Ia memang sehat-sehat saja.


Lina mengangguk kecil. Ia menatap wajah Bella yang tengah tersenyum padanya. Satu tangannya meraih tangan Bella lalu menggenggamnya dengan erat. Ia menepuk-nepuknya perlahan, membuat Bella ikut memandangi tangannya sendiri.


Sejujurnya yang ia ingin tahu sekarang adalah perasaan Bella setelah semua masalah ini menimpanya. Apakah gadis ini masih baik-baik saja? Samakah dengan kondisi putranya yang mulai rapuh?


“Rangga, sudah banyak berubah Bell.” Lina mengawali kalimatnya dengan usaha untuk tersenyum pada Bella.


“Dulu, Rangga sangat terbuka sama tante dan om. Dia juga memberikan perhatian besar pada keluarga kami. Dia sering tersenyum dan bercerita banyak hal, salah satunya tentang Bella."


"Tapi sekarang, dia bahkan seperti lupa jalan pulang ke rumah kami.” Lina menghela nafasnya dalam kemudian menghembuskannya perlahan.


Entah apa maksud wanita yang kini menatap nanar rerumputan yang bergoyang karena tertiup angin. Perasaannya benar-benar tidak menentu.


“Tante merasa kalau Rangga berubah setelah berpisah dengan Bella. Tante tidak hanya kehilangan calon mantu yang cantik,” Lina menjeda kalimatnya dengan menangkup sisi kiri pipi Bella dan tersenyum kelu.


“Tapi tante juga kehilangan sosok Rangga yang dulu kami kenal.” Raut wajahnya berubah sendu, ia tidak berani menatap mata Bella terlalu lama dan memilih menundukkan kepalanya.


“Hah, mungkin terlambat kalau sekarang tante minta maaf atas apa yang Rangga lakukan terhadap Bella dulu. Tante gak tau, apa yang membuat Rangga melakukan semua ini.” Terasa jelas kalau Lina sedang sangat menyesal.


Tentu saja, selama ini Lina selalu membanggakan sang putra yang bisa memilih seorang wanita yang tepat untuk dijadikan istrinya kelak. Bella yang santun, menghormati orang tua dan bisa masuk ke dalam keluarganya, berbaur dengan kedua anak kembarnya hingga sering kali membantu keluarganya saat menghadapi kesulitannya.


Yang membuatnya kecewa adalah Rangga malah memilih wanita lain yang tidak menunjukkan sama sekali keinginannya untuk mengenal keluarga Rangga. Beberapa kali Amara selalu menolak setiap kali ia dan suaminya mengundang gadis iitu ke rumah hanya untuk sekedar berkenalan.


Hal itu mungkin bisa Lina sedikit maklumi dengan menganggapnya sebagai sebuah proses. Tapi adanya gossip yang beredar saat ini, membuat ia meringis sedih. Ia tidak terima putranya dilabeli sebagai laki-laki yang tidak tahu diri yang menumpang popularitas pada Amara, oleh banyak orang.


Karena pada akhirnya, bukan hanya sekedar popularitas yang membuat orang tua bangga melainkan kebahagiaan dan ketenangan hidup anak-anaknya.


“Tan,” Bella balas mengeratkan genggaman tangan Lina, membuat wanita itu menatap pilu kedua tangannya yang hangat di genggam Bella.


“Tante gak perlu minta maaf atas apa yang terjadi sama Bella. Masalah Bella sama Rangga udah selesai. Sudah tidak membuat Bella sedih lagi.” Ucap Bella dengan sungguh.


Lina memberanikan diri menatap Bella dengan matanya yang berkaca-kaca.


“Harusnya Bella yang meminta maaf pada tante dan keluarga. Selama kita saling mengenal, mungkin Bella pernah membuat tante sedih atau marah. Tapi karena masalah Bella sama Rangga, Bella mengabaikan hal penting itu."


"Tante dan om udah Bella anggap orang tua sendiri. Hal itu tetap sama, walau Bella dan Rangga udah gak punya hubungan apa-apa. Bella tetap menghormati tante dan om.” Terang Bella dengan penuh kesungguhan.


Sejenak Lina tertegun. Ia tersenyum kecil mendengar ucapan Bella yang tulus hingga sampai di hatinya. Rasanya ia jadi malu sendiri saat mengingat rencana di kepalanya. Awalnya ia datang selain untuk meminta maaf, ia berharap bisa meminta Bella untuk menerima Rangga lagi. Ia masih teringat saat tiba-tiba tengah malam Rangga menghubunginya dan mengatakan,


“Mah, Rangga tau, Rangga bersalah sama Bella. Tapi, Rangga gak bisa lupain Bella.” Ucap sang putra yang berusaha menahan tangisnya, persis sebelum video viral ini menyebar.


Hati ibu mana yang tidak terrenyuh mendengar suara Rangga yang terdengar putus asa malam itu. Sayangnya, ia tidak sampai hati memaksa Bella. Terlebih saat ia melihat sebuah cincin yang melingkar di jemari Bella. Sepertinya seorang laki-laki sudah mengikatnya.


Lebih dari itu, ia dan putranya akan terlihat sangat tidak tahu diri jika mengharapkan hal itu terjadi. Ia sadar, alasan tuhan membuat Bella dan Rangga berpisah mungkin karena putranya bukan pasangan yang tepat untuk Bella.


“Boleh tante meluk Bella?” Pinta Lina dengan suara bergetar. Bulir air mata sudah terkumpul di sudut matanya dan bersiap untuk pecah.


Bella menangguk kecil seraya tersenyum membuat Lina segera berhambur memeluknya.


Lina memeluk Bella dengan erat. Iapun membiarkan air matanya menetes begitu saja. Mendengar jawaban Bella, sungguh ia sangat terrenyuh. Ia tidak lagi berani meminta Bella untuk kembali pada Rangga, ia hanya ingin Bella bahagia dengan lelaki manapun yang di pilihnya.


*****


“Ara! Tunggu Ara!” Panggil Rangga pada Amara yang berjalan cepat meninggalkannya.


Sesaat setelah Bella dan Lina pergi, Amara menatap Rangga dengan penuh kemarahan. Ia sangat kesal karena Lina bersikap lebih baik pada Bella alih-alih pada dirinya yang saat ini sudah menjadi kekasih Rangga.


“Seneng kamu, liat mamah dan mantan pacar kamu akrab gitu?” Tanyanya pada Rangga. Bisa terlihat jelas ekspresi wajahnya yang sangat kecewa dan cemburu.


“Kamu ngomong apa sih Ra? Aku,” Belum sempat Rangga melanjutkan kalimatnya, Amara sudah memilih pergi lebih dulu. Ia bahkan mengibaskan tangan Rangga yang hendak meraih tangannya. Ia pergi begitu saja.


“Ara, kita perlu bicara Ra. Jangan kayak anak kecil gini!” Seru Rangga yang masih berusaha mengejar Amara. Namun Amara tetap mengabaikannya.


“AMARA!!!” Seru Rangga yang membuat Amara terhenyak dan menghentikan langkah kakinya.


Amara berdiri mematung di tempatnya dengan rasa marah dan sedih yang bercampur di dadanya. Ia kesal melihat Bella dan Lina seakrab itu. Ia pun marah karena wanita paruh baya itu bersikap dingin padanya. Sementara Rangga, tidak melarang sama sekali saat Lina ingin berbincang dengan Bella. Mengapa semua orang menghindarinya? Ini menyakitkan bagi seorang Amara yang biasa di puja.


Rangga berusaha mendekat pada Amara. Memutar tubuh gadis itu agar menghadapnya. Ia menghela nafasnya dalam, mencoba menenangkan dirinya sebelum kembali mencoba meyakinkan Amara.


“Aku gak minta mamah datang nemuin Bella. Nggak Ra,” Lirih Rangga seraya menatap Amara yang matanya merah dan basah.


Amara tersenyum sinis, mana mungkin ia bisa percaya.


“Kamu pikir aku bakal percaya?!” Seru Amara dengan amarah menggebu-gebu.


“Kecilkan suara kamu.” Ia mencengkram lengan Amara dengan keras.


“Ikut aku!” Gertaknya seraya menarik tangan Amara menuju ruang istirahat pemain. Ia tidak mau semakin banyak pasang mata yang menatap pertengkaran mereka.


“Rangga, lepasin!” Tolak Amara, namun Rangga mengabaikannya. Cengkraman Rangga di lengannya malah semakin erat dan menyakitkan.


Tiba di ruang tunggu Rangga mengibaskan tangannya. Ia menatap Amara penuh kekesalan.


“Apa maksud kamu mengatakan aku mendekat sama Bella?” Rangga berbicara pelan dengan penuh penekanan. Matanya tajam menatap Amara.


Amara berusaha menegakkan tubuhnya yang sempat terhuyung sambil mengusap lengannya yang sakit karena cengkraman tangan Rangga.


“Kamu pikir aku nggak tau kalau diam-diam kamu masih menghubungi Bella?” Ia mendekat pada Rangga dan tersenyum sinis.


Rangga cukup kaget dengan ucapan Amara. Bagaimana mungkin Amara bisa mengira kalau ia kembali mendekati Bella walau kenyataannya memang seperti itu?


Ya, Rangga memang sedang berusaha kembali mendekat pada Bella. Dan jika saja Amara tidak hamil, mungkin ia akan segera memutuskan Amara dan kembali mengejar Bella.


Ia akui, selama ini ia tersiksa karena harus menyembunyikan perasaannya. Berpura-pura bersikap manis terhadap Amara, sabar menghadapi setiap tingkah menyebalkannya dan berpura-pura ia tidak peduli pada Bella.


Semua itu menyiksanya namun keadaan membuat ia masih harus menahan perasaannya.


“Gak usah nuduh aku sembarangan.” Rangga memilih memalingkan wajahnya dari Amara. Ia mengusap wajahnya kasar.


“Oh ya, aku nuduh?” Pancing Amara.


Ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan halaman chat Rangga yang diabaikan Bella.


“Lalu ini apa?” Amara tersenyum sinis pada Rangga.


Rangga segera menoleh dan ia melihat halaman chat-nya. Ya, itu aplikasi chat miliknya. Rangga kelabakan, ia segera memeriksa ponselnya membuat Amara tersenyum penuh kemurkaan.


“Teknologi udah canggih Rangga. Kalau mau bermain di belakang aku, bermainlah dengan cantik dan pintar.” Ia menatap Rangga dengan penuh intimidasi.


“Kamu meng-clonning akun chat aku?” Tanya Rangga tidak habis pikir.


Amara hanya mengendikkan bahunya lantas tersenyum penuh kemenangan.


“Kamu selalu membuat aku curiga mana mungkin aku diam saja?” Ucapnya enteng.


“Ara!!  Kamu melanggar privasi aku!”


“Dan kamu ngehancurin perasaan aku Rangga!” Balas Amara dengan cepat. Bibirnya bergetar menahan tangis.


“Kamu bahkan melakukan ini setelah kita berhubungan. Kamu tidak berhenti padahal kamu tau aku lagi hamil! Kamu gila Rangga!” Amara menunjuk-nunjuk Rangga dengan penuh kemarahan.


Rangga memilih memalingkan wajahnya. Kali ini ia memang tidak bisa menghindar.


"Jangan lupa Ga, tanpa aku, kamu hanya laki-laki bodoh yang diam di bawah kaki wanita. Kamu gak akan di kenal seperti sekarang. Selamanya kamu cuma vokalis band tidak terkenal yang berada di bawah ketiak wanita alpha."


"DIAM!!!" Rangga naik pitam.


"Bella gak pernah nempatin aku di kakinya. Dia menghormati aku, mendukung aku, dia juga support system terbaik aku."Tegas Rangga dengan wajah merah padam karena marah.


Tiba-tiba saja ia merasa tidak terima Amara menjelek-jelekkan Bella.


"Oy ya? Terus kenapa kamu milih sama aku? Bukankah karena aku memperlakukan kamu lebih dari itu?" Amara mendekat pada Rangga. Menarik kerah bajunya untuk mengikis jarak mereka.


"Kamu jangan lupa Ga, cuma aku yang bisa ngasih kamu semuanya. Aku bahkan udah ngasih kehormatan aku buat kamu. Dan di dalam perut ini," Amara menunjuk perutnya dengan tegas.


"Ada bukti pilihan kamu!!!" Tegas Amara dengan penuh penekanan.


"****!!!" dengus Rangga dengan kesal. Ia mengguyar rambutnya kasar. Terlihat jelas wajahnya yang frustasi dan marah. Tangannya mengepal dengan erat.


Sementara Amara, ia hanya tersenyum kecil di tempatnya melihat Rangga yang akhirnya bungkam. Dalam hatinya ia menertawakan kebodohan Rangga dan ia akan selalu menang.


Dengan jemari lentiknya, ia meneruskan rencana yang sudah ia susun.


"IT'S HURT" Tulisnya dalam snapgramnya dengan latar berwarna hitam.


Dalam beberapa detik ke depan, tentu ia tahu apa yang akan terjadi kemudian.


******


ARAAAA!!! Emosi gue nulisnya.


Jangan lupa like komen dan vote nya yaaa...


Terima kasih