Bella's Script

Bella's Script
Kulit ayam Ibra



Bermain dengan warna, masih menjadi hal yang menarik bagi Ozi. Otaknya seperti tercerahkan melihat berbagai warna yang berbeda.


Hari ini, ia sengaja menganti semua cat di rumah Bella yang sebagian besar sudah kotor dan beberapa  bagian mengelupas.


Ya, hari ini Ozi dan Ibra berniat membersihkan rumah ini. Setelah lama terbengkalai, rumah besar ini sudah seperti rumah hantu yang ditinggalkan penghuninya.


Di beberapa bagian ia sengaja menambahkan wallpaper sementara bagian lainnya ia cat sendiri dengan warna yang bervariatif. Setelah photography, membuat mural dengan topik utama gambar 3D menjadi hobi baru Ozi. Ia begitu menikmati setiap kali menggoreskan kuas di atas permukaan dinding yang rata. Tubuhnya sudah di penuhi cat, tidak hanya pada bajunya tapi juga pada wajah dan tangannya.


“Bang, ini kan warna yang lo minta?” Tanya Ibra yang sedang membuka satu kaleng cat yang baru ia beli.


Ozi menoleh pada adiknya yang memiringkan kaleng cat agar terlihat warnanya oleh Ozi.


“Iya bener. Itu buat lapisan ke empat nantinya. Lo simpen aja dulu, jangan di campur apapun.”


“Oh iya, gue minta tolong, cek tukang di depan, apa masang canovi-nya bener rapi atau nggak.” Pinta Ozi berikutnya.


“Okeeyy…” sahut Ibra patuh.


Sudah hampir 5 hari, Ozi dan Ibra memilih merapikan rumah ini. Mereka sepakat untuk menjadikan rumah ini sebagai tempat usaha selain rumah tinggal Ibra dan neneknya. Ozi mewarnai beberapa ruangan dengan aesthetic agar terkesan lebih hidup dan menarik perhatian konsumen. Ia juga ingin saat Bella masuk ke tempat ini, ia tidak lagi mengingat traumanya.


Badan Ozi yang mulai pulih, membuat laki-laki ini tidak betah berdiam diri di dalam rumah. Ia mengerjakan apa saja yang bisa ia lakukan. Untuk pekerjaan berat memang ia meminta bantuan tukang namun untuk pekerjaan detaill seperti mengecat ruangan, mempolanya juga mengatur ulang penataannya, menjadi bagian yang Ozi ambil alih.


Semua pekerjaan ini membuat tubuh Ozi terasa lebih sehat dan segar. Setelah beberapa lama ia lebih banyak berdiam diri di rumah, merasakan tubuhnya yang sering di dera sakit, sekarang ia bebas melakukan apapun. Tubuh ini seperti cangkang baru untuk dirinya.


“Bang! Ada tamu nih!” seruan Ibra dari luar membuat Ozi menghentikan sejenak pekerjaannya.


“Enak aja tamu. Masa gue di bilang tamu.” Protes Inka yang membawa beberapa keresek makanan di tangannya.


“Ya udah, layanan pesan antar special!” timpal Ibra yang kemudian terkekeh.


Ia mendapat pukulan kecil di bahunya dari Inka. Bisa saja anak kecil ini menggodanya.


Dari tempatnya berdiri, Inka bisa melihat Ozi yang mulai menaruh kuas catnya juga sarung tangannya.


“Masuklah!” ujarnya, mempersilakan gadis yang malu-malu itu untuk mendekat.


“Makasih Mas…” Inka bergegas menghampiri Ozi.


“Waaahhh… keren banget Mas Bima…” puji Inka saat melihat kombinasi cat yang di buat Ozi di permukaan dinding. Ia melangkah maju, lalu mundur kembali dan maju lagi. Sudut pandangnya terhadap gambar berubah begitu saja seirama gerakan tubuh dan jarak yang diambilnya.


“Gilaaakk, dari jarak yang berbeda efek yang terlihat juga berbeda. Kok bisa sih mas?” Inka terpana dengan kreasi cat yang di buat tiga dimensi oleh Ozi.


Ozi hanya tersenyum, mengambil jarak untuk melihat hasil karyanya sendiri.


“Ini akan jadi spot VIP pengunjung. Gimana pendapat lo?” tanya Ozi yang menikmati melihat hasil karyanya sendiri.


“Ini sih bakalan jadi spot favorit. Nanti aku sama Bella boleh bantu ngatur ruang ininya gak Mas?” Inka menunjuk satu ruang yang kosong dan sengaja belum di ubah oleh Ozi.


“Silakan. Penataan ruang bukan keahlian gue, kalian aja yang atur.” Timpal Ozi.


“Iya Mas. Nanti aku coba pikirin konsepnya, kalau di padu sama warna dinding kayak gini.” Inka ikut antusias.


Beberapa saat Ozi memandangi seisi ruangan. Sebelum di rapikan seperti ini, masih banyak foto Bella dan Rangga juga teman-teman band-nya, menempel di dinding. Dan sekarang sudah ia ubah total. Rasanya sudah tidak lagi menyesakkan.


“Menurut lo, Bella masih akan trauma gak dengan rumah ini?” Tanya Ozi tiba-tiba.


Ia menatap sebuah foto keluarga yang terpajang di salah satu sudut. Wajah Bella saat menikah yang ia pandangi.


“Emmm… Menurutku enggak. Selain sudah banyak yang berubah dari rumah ini, Bella juga udah berdamai dengan masa lalunya. Aku yakin dia gak akan mengingat traumanya terus menerus.” Ungkap Inka penuh keyakinan.


Ozi mengangguk kecil mendengar ucapan gadis itu. Entah sejak kapan mereka mulai suka bertukar pikiran dan ini sangat menarik bagi Ozi.


“Cakep banget dah!” batin Inka tanpa bisa mengalihkan pandangannya dari Ozi.


“Lo bawa apa?” Tanya Ozi yang membuat Inka membuyarkan lamunannya.


“Hah? Oh ini, makanan. Bella bilang Mas Bima sama Ibra udah seharian di sini, jadi aku bawain makanan.” Inka memeperlihatkan keresek di tangannya.


“Hem, gue sama Ibra memang belum makan.” Aku Ozi.


“Okey, kalau gitu, Mas Bima cuci tangan dulu, aku siapin makanannya.”


“Iya.” Ozi beranjak untuk mencuci tangan sementara Inka menyiapkan makanan yang ia bawa.


“Dek, makan dulu!” ia juga memanggil Ibra yang sedang berada di luar.


“Siap!” Ibra segera masuk, layaknya anak kecil yang di tawari makan dan sedang lapar-laparnya, membuat anak muda itu segera berlari dan meninggalkan semua pekerjaannya.


“Wah ayam goreng!” serunya, sesaat ketika melewati Inka.


“Makanya cepet cuci tangan. Nanti ayamnya keburu kabur!” celoteh Inka yang membuat Ibra tertawa.


Tidak hanya itu, Ozi juga ikut mengulum senyum di tempatnya.


Selesai membersihkan diri masing-masing, mereka segera berkumpul di meja makan. Keberadaan furniture sebelumnya, ternyata banyak membantu bagi Ibra dan Ozi. Mereka makan dengan lahap di meja makan yang dulu sering digunakan Bella untuk makan malam bersama teman-temannya. Akh, itu sudah lama sekali.


Memperhatikan Ozi makan, menjadi hal yang menarik bagi Inka. Gerakan tangannya amat pelan, membawa makanan masuk ke mulutnya lalu sementara tatapannya tidak pernah beralih dari Ozi yang begitu menikmati makanannya.


“Gue sama abang mirip kan kak?” Ibra merubah posisi duduknya dan makan dengan gaya Ozi.


Sikut Inka nyaris terpeleset karena kaget dengan pertanyaan Ibra.


“I-Iya…” Cepat-cepat Inka menundukkan kepalanya. Malu juga karena Ozi meliriknya.


“Kalo gitu, kenapa cuma abang gue yang lo liatin?” Ibra tertawa lebar tanpa suara. Rupanya tadi itu pertanyaan pancingan.


Senangnya membuat Inka kikuk dan melotot tajam padanya.


“Ngarang aja!” dengusnya sambil menaruh satu paha ayam di piring Ibra.


“Ha ha ha ha…” Ibra mengeja tawanya, menyenangkan karena berhasil membuat sang kakak menoleh dan melirik Inka.


“Demen dia sama lo.” ujarnya yang cekikikan saat di toleh Ozi.


Tidak menimpali, Ozi lebih memilih mengambil kulit ayam yang sedari tadi ada di pinggir piring Ibra lalu memakannya.


“ABAANGG!!!! Itu sengaja gue simpen buat gue makan nanti tau!” rengeknya kesal.


Tapi Ozi tidak ambil pusing, ia malah sengaja mengunyahnya dengan kasar di hadapan Ibra membuat sang adik semakin kesal.


“Makanya kalo makan, jangan kebanyakan ngomong!” nasihat Ozi pada sang adik. Puas rasanya mengerjai Ibra hingga kesal begini.


“Ngomong gak boleh tapi tatap-tatapan boleh. Begitu ya?!” bisa saja Obra menimpali hingga membuat Inka yang sedang memandangi lelaki idamannya harus tertunduk malu.


“Bukan urusan lo!” sahut Ozi seraya melirik Inka yang malu sendiri. Ia balas menatap Inka yang kemudian tersenyum kecil tanpa bisa menyembunyikan rona merah di pipinya.


Ibbraaaa,, Jangan nakal dek!


*****