Bella's Script

Bella's Script
Permintaan Bella



“Ini buat kak Inka cantik dan ini buat kak Bella baik.” Ujar Ibra saat menaruh dua mangkuk besar es krim di hadapan Inka dan Bella.


Mata keduanya langsung membelalak melihat banyaknya es krim yang di hidangkan Ibra.


“Waaahhh banyak bangeett iniiii!!! Makasih loh....” Seru Inka dengan riang.


Siapa yang bisa menolak makanan manis ini, tentunya bukan Inka.


"Eemmmhh..." Ia langsung menyuap satu sendok penuh yang membuatnya melenguh nikmat merasakan campuran 3 rasa es krim di mulutnya dalam satu suapan walau sekali lalu ia meringis karena giginya langsung ngilu.


“Buat gue mana? Buat para cewek doang nih?!” Protes Indra karena ia dan Devan tidak mendapatkan bagian.


“Abang berdua, gue bikinin cemilan aja yaaa… Bentar,,,” Sahut Ibra dengan cepat.


Saking semangatnya masuk dalam film sebagai figuran, ia sampai membuatkan banyak cemilan dan es krim untuk beberapa orang crew.


“Ya udah, jangan pake lama. Buat gue tambah kopi item yaa..” Pesan Indra.


“Siap! Abang apa?” Kali ini Devan yang ia tawari.


“Gue air mineral aja.” Ia sudah terlalu banyak minum kopi hari ini. Pesanan Devan langsung di acungi jempol oleh Ibra.


Remaja itu pun berlalu dengan langkahnya yang ringan.


“Lo gak makan Bell?” Inka jadi memperhatikan Bella yang sejak tadi malah asyik membolak-balik halaman script di tangannya. Seperti tidak tertarik dengan makanan di hadapannya.


“Gue seharian ini makan yang manis. Rasanya perut gue gak nyaman.” Aku Bella tanpa mengalihkan pandangannya dari script yang sedang ia tandai.


Hari pertama memang terasa berat. Proses syuting yang di harapkan bisa mendapatkan minimal 10 scene, nyatanya hanya dapat 6 scene itu pun dengan susah payah. Bella jadi mengevaluasi script-nya sendiri, khawatir yang menjadi salah satu kesulitan pemain adalah dari script-nya yang kurang detail.


“Lo gak lagi diet kan?” Tanya Indra yang penasaran.


“Kagak lah bang. Ngapain gue diet-diet segala. Gue masih makan dengan porsi normal kok.” Sahut Bella dengan ringan.


Hanya tidak ia pungkiri kalau selera makannya belum kembali. Makan hanya sebatas kebutuh untuk mempertahankan agar tubuhnya tidak tumbang.


“Kalau gitu, berhenti dulu kerjanya. Ini udah bukan jam kerja.” Indra merebut script di tangan Bella dan menutupnya.


“Iyaa sorry..” Bella hanya tersenyum kecil.


“Belakangan ini lo ngeselin Bell. Sering banget bilang sorry.” Protes Indra seraya menatap Bella lekat. Ia menyadari dalam beberapa hari ini banyak hal yang berubah dari Bella.


“Hahahaha… Bisa aja lo. Emang gue salah kan, waktunya ngobrol tapi gue malah autis sama kerjaan.” Bella berusaha tersenyum di ujung kalimatnya.


Namun Indra tidak bergeming, ia masih memandangi Bella dengan seksama. Suara tawa Bella saja ia dengar berubah, tidak seringan dan serenyah dulu.


“Ada apaan sih di muka gue sampe lo liatin mulu?” Bella jadi mengusap wajahnya sendiri, khawatir ada sesuatu di wajahnya.


Indra tidak menjawab, malah cengengesan sekali lalu meneguk jus jeruk milik Bella.


“Kak Bella makin cantik, iya kan bang?” Suara Ibra tiba-tiba terdengar.


“Apalagi setelah rambutnya di potong, lebih seger.” Imbuhnya seraya menaruh dua piring cemilan di hadapan Indra dan Devan.


Devan jadi ikut memandangi Bella yang jadi terdiam. Gadis itu merogok sakunya dan mengambil karet gelang yang biasa ia simpan di saku celananya.


“Loh, kenapa di iket? Lebih bagus di gerai kak.” Protes Ibra sambil duduk di kursi tengah.


“Lo naksir ama si Bella?” ledek Indra. Perhatian Ibra terhadap Bella ia rasa terlalu detail..


Remaja itu hanya cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.


“Nih anak, naksir sama lo Bell. Lo mau gak ama berondong?!” Indra jadi menggodanya.


“Ngaco lo!” Protes Bella dengan senyuman kelu.


Devan jadi memandangi Bella yang salah tingkah. Bukan, lebih tepatnya merasa tidak nyaman.


“Gue udah punya gebetan bang. Oh iya, nyokap gebetan gue punya salon kak. Siapa tau lo mau warnain rambut lo gitu, biar jadi pirang atau coklat.” Tawar Ibra tiba-tiba.


“Wah beneran? Dimana salonnya?” Adalah Inka yang menyahuti dengan antusias. sudah sangat lama ia tidak memanjakan dirinya di salon.


“Beneran!!! Banyak selebgram yang sering mampir ke salonnya. Di jamin deh lo kagak bakalan nyesel. Nanti gue wa-in alamatnya ya...” Ibra begitu antusias berbicara.


Tiba-tiba saja Bella berdiri dari tempatnya. Terlihat jelas kalau ia tidak nyaman.


“Gue ke belakang sebentar.” Pamitnya dari hadapan orang-orang.


“Kenapa dia?” Inka jadi bingung sendiri melihat Bella yang tiba-tiba pergi.


“Dia gak ngerokok kan?” Ia jadi celingukan memandangi lawan bicara yang tidak menyahuti satu pun. Masing-masing sibuk dengan minumanan di hadapannya.


“Tring.” Sebuah pesan masuk di ponsel Ibra dan remaja itu menghela nafas dalam.


“Gue pamit bentar ya bang. Selamat menikmati makanannya.” Ujarnya dengan ekspresi wajah yang berubah resah.


“Hem,,” Hanya Indra yang menyahuti sementara Devan asyik dengan ponselnya.


“Ini ada apa sih? Perasaan kok gue jadi sendirian di meja ini?” Protes Inka. Tidak biasanya ia merasakan hal seperti ini.


“Udeehh,, Lo habisin aja dulu es krim lo. Nih punya Bella sekalian.” Indra mendekatkan kedua mangkuk es krim pada Inka dan gadis itu hanya mendengus kesal.


Bukan ini yang ia mau.


*****


“Akhirnya, lo mau ngobrol juga sama gue kak.” Ujar Ibra saat menghampiri Bella yang menunggunya di belakang café.


Gadis itu memungunginya dan berbalik saat Ibra mendekat.


“Gue seneng ngeliat lo seharian ini? Gimana acting gue tadi? Cukup menjiwai gak? Saking *exciting-*nya gue sampe lupa kalau gue bakalan keliatan lebih keren kalau pake topi. Kira-kita nanti gue dapet bagian lagi ga di scene berikutnya?” Cerocos Ibra dengan penuh antusias.


Moment berbicara berdua dengan Bella adalah hal langka baginya.


“Gue minta lo berhenti.” Sahut Bella tiba-tiba. Raut wajahnya yang semula tenang berubah kesal.


Ibra langsung terdiam. Wajahnya yang di penuhi senyumpun berubah sendu.


“Berhenti bersikap kalau kita saling mengenal. Lo beberapa kali melewati batas. Lo jangan lupa, kita gak sedekat yang lo pikirin.” Protes Bella yang terdengar sangat tegas dan pedas di telinga Ibra.


Ibra tertunduk lesu mendengar ucapan Bella yang terasa mematahkan hatinya.


“Lo masih gak bisa nerima gue kak?” Lirihnya. Matanya yang sendu menatap Bella.


Bella hanya memalingkan wajahnya saat pandangan mereka bertemu. Tangannya tampak mengepal, entah perasaan apa yang sedang di tahannya.


“Gue pikir, lo mau nunjukkin kalau lo mulai peduli dan sayang sama gue.” Langkahnya terhenti tepat empat langkah di depan Bella.


“Lo sengaja syuting dengan latar tempat ini supaya gue bisa mendapat penghasilan lebih. Lo juga membuka kesempatan buat ngeliat lo lebih dekat dan lebih sering, ngeliat lo kerja keras dan mengenal pribadi lo di hadapan temen-temen lo. Tapi sepertinya gue salah. Gak ada hal yang bisa lo berikan sama gue selain rasa tanggung jawab.”


“Apa gue masih menjadi beban terberat lo?” Tanyanya dengan tatapan lekat pada Bella.


Terlihat bella menghela nafasnya dalam. Ia seperti kehabisan kata-kata untuk menimpali ucapan Ibra.


“Lo bener, gue sengaja milih tempat ini di antara tempat lainnya agar produk di tempat ini terjual habis. Tapi bukan karena lo kerja di sini, ini karena manager café ini adalah temen SMA gue.” Tegas Bella tanpa balas menatap Ibra.


Ia sadari, ucapan Ibra benar adanya. Namun yang ia ucapkan sekarang pun bukan sebuah kebohongan. Ia hanya mencoba menutupi perasaannya agar tidak terlalu terlihat jelas di hadapan Ibra dan membuatnya terlihat lemah.


Ia melirik dari sudut matanya, Ibra tampak tercenung. Sepertinya ucapannya mengena di hati Ibra.


“Hem, gue percaya.” Entah mengapa ucapan Ibra terdengar ironis dengan kenyataan yang sebenarnya. Ibra malah bisa membaca maksudnya dengan jelas.


“Satu hal yang lo tau kak, apapun yang lo maksudkan buat gue atau yang lo lakuin sekarang, gue anggap itu sebagai kepedulian lo terhadap gue. Dan gue harap, kelak lo bisa nerima gue. Sebagai adik lo, bukan sebagai beban yang harus lo pikul.”  Tegas Ibra dengan penuh keyakinan.


Bella hanya terdiam seraya mengepalkan tangannya. Tidak ada lagi yang perlu ia dengar dari Ibra. Saat berlalu ia melewati Ibra dan berhenti sejenak persis di samping Ibra.


“Jaga sikap lo selagi gue masih bersikap baik.” Tegas Bella tanpa ragu.


Sekali lalu ia pergi meninggalkan Ibra yang terpaku di tempatnya seraya tersenyum pedih. Seperti dadanya di tonjok Bella dengan sangat keras, menohok.


“Kak Bell, lo bukan pembohong yang hebat. Lo terlalu transparan.” Lirih Ibra.


Ingatan kejadian saat Bella remaja kembali berputar di kepala Ibra. Pertama kali ia melihat wajah yang ceria saat bertemu papahnya di sebuah bioskop.


Saat itu usianya sekitar 10 tahun.


"Pah, sama siapa ke sini? Aku juga lagi nonton sama temen." Ucapnya saat itu.


Fauzi tidak menjawab, ia seperti belum siap akan bertemu Bella di tempat ini.


"Pah," Suara Ibra membuat keduanya terhenyak. Saat ia meraih tangan Fauzi, ekspresi Bella langsung berubah. Ia tentu mengenal wajah manis yang berubah penuh tanya di hadapannya.


“Suatu hari, papah akan mempertemukan kamu dengan kakak kamu. Namanya kak Bella. Dia anaknya manis, baik, ceria dan penuh semangat. Dia sangat berprestasi di sekolah. Selain seorang ketua osis, dia juga murid teladan. Nilai pelajarannya selalu paling tinggi di antara teman seangkatannya. Kamu bisa belajar banyak dari dia."


"Kamu tau, hobinya menulis, sering ikut lomba cerpen dan pasti selalu juara.” Ibra masih mengingat bagaimana papahnya menceritakan tentang gadis cantik yang ada di hadapannya dengan penuh kebanggan.


“Kapan aku bisa ketemu kak Bella pah?” tanya Ibra kecil saat itu.


Fauzi hanya tersenyum, lantas mengusap kepala Ibra dan mengecupnya.


“Nanti ya, papah akan kenalkan.” Ujarnya seraya menghela nafas dalam.


"Dia siapa pah?" Pertanyaan Bella menyadarkan Ibra dari lamunannya.


"Dia," Fauzi menoleh anak yang berdiri di sampingnya dan tangannya tengah ia genggam.


"Nanti papah jelasin di rumah ya. Nontonnya udah kan? Sekarang kamu pulang dulu." Fauzi benar-benar tergesa-gesa. Ia pasti belum menyiapkan penjelasan apa yang akan ia sampaikan pada Bella.


"Tapi pah," tolak Bella.


"Papah minta kamu pulang dulu ya Bell..." Fauzi sampai mendorong Bella agar pergi.


"Aku gak mau! Papah kenapa harus dorong-dorong aku hah?!" Bella tidak bergeming di tempatnya. Ia terus memandangi tangan Fauzi yang di genggam erat oleh Ibra.


"Kalau gitu, papah yang pergi." Ujar Fauzi tiba-tiba.


Ia menarik tangan Ibra untuk pergi. Saat seorang wanita menghampirinya, wanita itupun di tarik Fauzi untuk pergi.


"PAPAH!!!!" teriak Bella membuat banyak pasang mata tertuju pada mereka.


 Namun Fauzi tidak berbalik sedikitpun. Ia semakin mempercepat langkahnya menjauh dari Bella. Ibra masih mengingat bagaimana Bella yang mematung di tempatnya selama beberapa saat seraya terisak.


"PAPAHH!!!" Gadis itu kembali berteriak memanggil Fauzi. Ia berlari mengejar Fausi namun Fauzi segara masuk ke dalam mobil.


"PAH!!! TUNGGU BELLA!!!!" Dengan air mata berurai Bella mengejar Fauzi.


Tidak ada niatan untuk menunggu, dengan tergesa-gesa Fauzi menyalakan mesin mobil dan langsung tancap gas.


"Papaahhh!!!" Suara teriakan Bella semakin lama semakin tidak terdengar. Ibra masih melihat ke belakang, melihat Bella berlari sekuat tenaga mengejar mobilnya.


Hingga akhirnya, "PAPAH!!!!!” Teriakan itu menjadi teriakan terakhir yang di lihat Ibra sebelum sebuah mobil truk menghantam dengan keras mobil SUV yang membawa Ibra dan kedua orang tuanya.


Remaja itu mematung di tempatnya dengan wajah yang terkejut.


"PAPAH!!!!!!" Bella berteriak histeris saat mobil berguling dan bagian depan menghantam dengan kuat pagar pembatas jalan.


Ia berlari menuju mobil yang mengepulkan asap namun dengan cepat seorang laki-laki menahan Bella agar tidak mendekat.


Ia meronta-ronta melawan kuatnya cengkraman laki-laki yang menahannya agar tidak berlari mendekat.


Setelah itu semuanya gelap, Ibra tidak lagi melihat apapun. Kesadarannya telah hilang.


Keesokan darinya, Ibra baru tersadar. Suara tangis lirih yang membuatnya terbangun dan sadar kalau ia tengah berada di ruangan serba putih yang ia yakini adalah rumah sakit. Kesadarannya masih belum penuh saat ia merasakan beberapa selang terhubung ke tubuhnya.


Ada satu hal yang jelas di ingatnya, sebuah suara yang seperti sangat familiar di telinganya.


“Saya mohon bu…” Suara bergetar bercampur tangis itu menarik perhatian Ibra pada seseorang yang sedang bersimpuh di hadapan neneknya.


Dari belakang, ia melihat kalau yang sedang bersimpuh di hadapan neneknya adalah seorang anak perempuan dengan pakaian serba hitam dengan rambut yang terikat ekor kuda.


“Saya juga kehilangan seorang papah. Tapi saya berjanji, saya akan memenuhi segala kebutuhan cucu ibu. Dia tidak akan kekurangan apapun. Dia bisa bersekolah setinggi apapun. Tapi saya mohon, jangan pertemukan dia dengan ibu dan kakak saya. Saya mohon bu.”


Ibra sadar, suara tercekat dan parau itu adalah milik gadis bernama Bella, yang terakhir dilihatnya.


Siapa sangka, mereka benar-benar di pertemukan. Hanya saja dalam kondisi yang tidak menyenangkan.


Ibra hanya bisa menangis di tempatnya. Pikirannya yang masih polos hanya bisa mencerna sebagian hal yang bisa ia mengerti. Ia telah kehilangan kedua orang tuanya dengan cara yang tragis. Ia hanya hidup bersama neneknya dan seorang kakak yang ingin menyembunyikan keberadaannya.


Betapa menyedihkannya kehidupan yang harus ia jalani.


Dan sejak itu, Bella benar-benar mewujudkan janjinya. Ia berusaha keras memenuhi kebutuhan Ibra. Mulai dari makanan, pakaian hingga perlengkapan sekolah dan tentu saja biaya sekolah yang tidak sedikit.


Gadis ini sudah sangat bekerja keras sejak dulu.


Permintaannya hanya dua hal, “Jangan meminta hal di luar yang bisa gue kasih, yaitu perhatian dan kasih sayang. Selain itu, jangan pernah muncul di hadapan nyokap dan abang gue, selamanya.” Ujar bibir merah muda yang begitu tegas berbicara di hadapannya.


Ibra hanya mengangguk setuju walau dalam hatinya berontak karena yang ia butuhkan bukan hanya melulu soal material. Namun Bella terlanjur membuat jarak. Membangun tebing yang tinggi untuk melindungi hatinya agar tidak kembali patah. Ibra menjadi salah satu hal yang tidak ia inginkan hadir dalam hidupnya.


*****