Bella's Script

Bella's Script
Ketika semuanya hingar



Jam 9 malam, Bella memutuskan keluar dari rumah. Hanya memakai piyama tidur juga hoodie, Bella mengendap-endap keluar rumah lantas berlari dengan kencang keluar halaman. Ia berdiri dengan gelisah menuggu kendaraan yang di pesannya tiba.


Sebuah taksi membawa Bella menjauh dari rumahnya. Tidak ada hal lain yang ia pikirkan saat ini selain menemui Rangga.


Ya, sekali lagi ia akan menemui Rangga untuk memperbaiki semuanya.


Di kepalanya Bella sudah mengkonsep apa saja yang akan ia katakan. Sesekali ia menggeleng dan meremas rambutnya dengan panik saat suara-suara sumbang orang-orang di sekitarnya ikut terdengar.


“Fokus Bell, fokus.” Ujarnya yang kembali berusaha merangkai kalimat.


Supir taksi sampai melirik, memperhatikan Bella yang tampak gelisah.


“Mau ketemu siapa neng? Kok kayaknya gak tenang banget.” Suara supir taksi membuyarkan kalimat yang sudah susah payah Bella rangkai.


“Ketemu pacar saya. Saya harus bicara sama dia.” Timpal Bella yang kembali berpikir.


“Kenapa bukan pacar neng yang dateng? Neng kan perempuan, harusnya dia yang dateng, bukan malah nyuruh neng. Dia gak khawatir apa pacarnya yang keluar malem sendirian. Gimana kalau,”


“LO BISA DIEM GAK SIH?!!!” seru Bella dengan kesal, membuat supir taksi langsung terdiam.


“Lo nyetir aja yang bener. Bawa gue cepet-cepet ke alamat tujuan. Udah! Gak usah banyak bacot!” Omel Bella dengan tatapan tajam pada supir taksi.


“Baik neng. Maafin bapak yaaa, udah sok tau…” ujar laki-laki yang ternyata sudah berumur.


“HAISH!!!” saat marah Bella jadi lepas kendali. Apalagi dalam kondisi tertekan seperti ini. Ia sampai tidak sadar siapa orang yang menjadi lawan bicaranya.


“Maaf pak…” Ia balas meminta maaf. Lantas ia tertunduk, bertopang pada kedua tangannya dengan lemah. Harusnya ia bisa menahan emosinya pada orang yang tidak bersalah.


Tidak terdengar persis apa yang laki-laki itu katakan, yang jelas Bella masih memikirkan kalimat yang sudah ia rangkai di kepalanya namun sekarang raib entah kemana.


Laki-laki itu tersenyum kecil. “Neng anak yang baik. Kelak akan bertemu jodoh juga orang baik. Bissmillah ya neng…” hanya itu yang di dengar Bella.


Bella tidak menimpali. Ia berusaha menenangkan diri dengan bersandar ke sandaran kursi seraya memejamkan matanya. Sebentar saja ia ingin menghapus hingar suara di kepalanya.


“Hati-hati neng… Mau bapak tungguin?” tanya laki-laki paruh baya saat tiba di alamat yang di tuju. Laki-laki itu menatap Bella dengan khawatir.


Bella tidak menimpali. Ia hanya mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikan uang tersebut pada supir. Lantas ia turun.


Berjalan dengan cepat menuju studio, namun hanya suasana hening yang di dapati bella. Lampu luar menyala remang-remang dan lampu dalam ruangan hanya beberapa yang menyala. Ia masih berharap Rangga ada di dalam.


Di dorongnya daun pintu dengan kuat dan ada seseorang di sana.


“Bell,” sapa Niko yang terkejut melihat kedatangan Bella.


Bella memperhatikan Niko yang tampak sedang membereskan barang-barang. Beberapa alat band malah sudah tidak ada di tempatnya.


“Lo mau pergi?” tanya Bella dengan terkejut. Memperhatikan seisi ruangan yang mulai kosong.


Niko hanya tersenyum. Menghampiri Bella dan mengajaknya duduk. Ia masih terkejut dengan kedatangan Bella yang begitu berantakan.


“Lo sendirian ke sini? Naik apa?” tanya Niko, menatap Bella dengan khawatir.


“Gue tanya, lo mau pergi?! Rangga mana?” Bella masih fokus dengan pertanyaannya yang belum di jawab Niko.


Niko mengguyar rambutnya frustasi. Ia bisa membayangkan sehancur apa Bella saat ini.


“Bell,…” di raihnya tangan Bella namun dengan cepat Bella mengibaskannya.


Ia beranjak dari tempatnya mencari Rangga ke setiap ruangan termasuk kamarnya.


Semuanya sudah bersih. Tidak ada lagi foto-foto ia dan Rangga. Lampu aesthetic yang ia tata untuk menemani Rangga tidur, atapun baju-baju yang ia susun rapi di lemari. Hanya ada Kasur yang kosong tanpa sprei tergeletak di atas ranjang.


“Rangga lagi keluar, nanti dia balik lagi.” Ujar Niko yang berdiri di belakang Bella, ikut memandangi kamar Rangga yang kosong.


Bella tidak menghiraukannya. Ia mengambil sisa robekan foto di lantai. Ada wajahnya yang terkoyak di sana. Kalau di perhatikan ini foto saat Bella menemani Rangga manggung di Palembang, sekitar 8 bulan lalu.


Tiba-tiba saja air mata berderai di sudut mata Bella. Ia memeluk potongan foto itu seraya terisak. Rangga telah membuangnya. Tidak hanya perasaannya yang berubah tapi juga semua kenangan indah yang mereka punya.


Niko yang berdiri di belakang segera mendekat. Ia memeluk Bellaa dari samping seraya mengusap kepalanya.


“Lo harus nerima keputusan dia Bell… Lo bisa bahagia walaupun tanpa Rangga.” Lirih Niko menghibur Bella.


“Gimana gue bisa bahagia kalau kebahagiaan gue udah pergi bersama Rangga?” ujar Bella dengan parau. Membayangkan kehilangan Rangga membuat dadanya sangat sesak. Tidak terbayang bagaimana ia menjalani hari-harinya tanpa Rangga.


“Tekadang berpisah itu memang sakit, tapi bertahan akan lebih sulit Bell. Lo harus kuat..” lirih Niko menatap Bella dengan yakin.


Wanita itu hanya terisak di hadapannya membuat Niko menghela nafas dalam dan berat. Perasaan hancur yang Bella alami pun pernah ia rasakan 2 tahun lalu. Tepatnya saat Amara mengatakan kalau ia sudah tidak bisa lagi berpura-pura di depan Niko dan menyembunyikan perasaannya.


“Lo tau Bell, saat kita udah menggantungkan perasaan kita pada manusia, kita merasa kalau semua perasaan dia, kita yang menggenggamnya. Dia akan bergerak sesuai dengan yang kita inginkan.”


“Sampai kita lupa bahwa orang yang kita cintai pun adalah seorang manusia yang bisa membuat pilihan. Dan mau tidak mau, kita harus menghargai pilihan itu. Termasuk pilihan Rangga sama Ara.” Tukas Niko, menatap nanar Wanita yang hanya terpaku dengan foto di tangannya.


Ia menggeleng. Seperti mengingkari apa yang Niko ucapkan.


“Gue bisa memperbaikinya. Memperbaiki semuanya dan mempertahankan hubungan gue sama Rangga. Mungkin Rangga jenuh, tapi dia gak benar-benar mau pisah sama gue. Dia udah janji kalau dia gak akan ninggalin gue, Ko.” Kukuh Bella dengan tangis tertahan.


“BELL!!” gertak Niko sedikit keras.


“Gue gak mau denger apa-apa lagi dari lo.” Cepat-cepat Bella menutup kedua telinganya dengan kuat.


“Kalau lo nyerah sama hubungan lo dan Ara, itu urusan lo. Tapi gue gak akan nyerah.” Ia tetap dengan pilihannya.


“Akh sial!” dengus Niko, seraya mengguyar rambutnya kasar.


Bella memang keras kepala apalagi kalau sudah berhubungan dengan prinsip dan pilihannya.


Tidak berselang lama, terdengar suara deru mobil yang masuk ke halaman rumah. Bella segera menghampiri dan langkahnya terhenti saat melihat Rangga dan Amara yang turun dari mobil.


Keduanya ikut terkejut dan menghentikan tawa mereka saat melihat Bella yang berdiri di hadapannya.


“Ga,..” sapa Bella dengan perlahan. Ia berusaha tersenyum secantik mungkin walau derai air matanya tidak berhenti.


Rangga tidak menimpali, ia memilih masuk dan melewati Bella begitu saja.


“Mana lagi yang mau di angkut?” tanya Rangga pada Niko yang ikut terpaku. Ia bisa membaca aura tegang di ruangan ini.


“Ga, aku mau bicara sebentar…” lirihnya. Di usapnya dengan kasar air mata yang seolah tidak mau berhenti.


Rangga yang sedang mengambil stick drum pun, melempar kayu itu membuat suara nyaring saat mengenai drum.


“Apalagi? Bukannya kita udah selesai?” Rangga menatap Bella dengan dingin.


“Ngg- Nggak Ga, kita belum selesai. Kamu belum ngejelasin apa-apa soal alasan kamu mutusin aku. Kalau alasan kamu gak masuk akal, aku bisa kok nerima kamu lagi. Aku bisa maafin semua kesalahan kamu sama Ara.” Ia mendekat menghampiri Rangga dengan langkahnya yang tertatih.


“Aku mungkin banyak kurangnya. Kalau sekarang aku gemukan, aku mau kok diet ketat supaya berat badan aku turun lagi. Kalau aku kurang putih, aku bisa kok suntik putih, gak akan takut lagi sama jarum. Kalau kamu gak suka rambut aku yang gelombang gini,” Bella melepas cepolan rambutnya, membuat rambut ikalnya tergerai berantakan.


“Aku bisa kok ngelurusinnya. Kalau kamu bosen karena aku gak terlihat cantik dan menarik, aku akan belajar semua ilmu perawatan wajah. Pake skincare, ikut make-up class. Atau belajar sama Inka. Dia pinter make – up.” Cerocos Bella dengan terbata-bata.


“Aku bisa melakukan apapun asal kamu jangan pergi dari aku Ga,… Aku cinta sama kamu dan gak bisa kehilangan kamu. Please, Ga…” ia menyatukan kedua tangannya di depan Rangga, menunduk, memohon penuh harap seraya terisak.


“Udah lah Bell, kamu gak usah kayak gini. Aku udah gak mau bahas hubungan kita lagi.” Rangga menepis tangan Bella dengan kasar, membuat tubuhnya goyah.


Dengan cepat Niko menahannya namun Bella balas mengibaskan tangan Niko. Ia kembali berusaha berdiri tegak.


“Kalau gitu kasih aku alesan, kenapa kita harus pisah Ga? Bukannya kamu janji gak akan ninggalin aku? Kita udah melewati banyak hal. Kamu selalu ngedukung aku dan aku gak pernah ninggalin kamu saat kamu berada di titik terrendah. Kita,”


“KARENA SAMA KAMU SEMUANYA TERASA SULIT BELL!!!!!” gertak Rangga yang meradang. Ia sudah bosan mendengar Bella yang merengek.


Bella yang mendengar gertakan Rangga tampak tersentak. Satu bulir lagi air matanya turun, kali ini tanpa isakan.


“Kamu tau gak sih, sama kamu semuanya terasa sia-sia. Aku gak bisa bertindak bebas seperti yang aku mau. Kamu mengaturku, aku harus ini dan itu. Kamu superior dan membuat aku merasa selalu berada di bawah kamu.” Terang Rangga dengan berapi-api. Ia menatap Bella dengan tajam penuh kemarahan.


“Aku, aku bisa memperbaikinya Ga. Aku,” bibir Bella gemetar hendak mengucapkan kalimat yang sudah ia rangkai namun sekarang hilang begitu saja.


Ia merremas kepalanya yang berdenyut pusing, kemana perginya kalimat meyakinkan yang tadi akan ia katakan pada Rangga.


Seketika Bella menatap Rangga dengan matanya yang merah dan basah. Ada banyak kesakitan yang ia perlihatkan.


Ia mendekati Rangga Kembali, meraih tangan Rangga yang mengepal kuat, sulit di bujuk.


“LO APAAN SIH?!” dengan cepat Amara menghampiri Bella dan mendorongnya.


“BRUK!!” Bella sampai terjatuh di lantai.


“ARA!!” gertak Niko yang segera membantu Bella berdiri.


“Lo kelewatan ya!” imbuh Niko dengan kesal.


“Lo gak perlu ikut campur! Lagian lo suka kan sama Bella, kenapa gak lo ambil aja bekas gue?!” timpal Rangga yang tersenyum sinis pada Niko.


Amara ikut tersenyum sinis sambil menutup mulutnya, anggun.


“Bella, lo keras kepala banget sih.” Amara menghampiri Bella dan menyibak rambut Bella yang menutupi wajahnya.


“Sakit ya?” sinisnya yang tersenyum puas.


Bella hanya terdiam dengan tubuh gemetaran.


“Let me tell you something Bell,…” Amara menyingkap helaian rambut Bella yang menutupi daun telinganya. Mendekatkan bibirnya untuk berbisik.


“Hubungan lo sama Rangga, udah gak ada yang bisa di perbaiki. Udah hancur, udah rusak.”


“Dan yang terpenting, perasaan dia udah gak ada buat lo."


"Lo liat kan matanya gak bisa bohong kalau dia udah gak ada rasa sama lo?” Amara menunjuk Rangga yang menatapnya tajam, lalu memalingkan wajahnya.


“Dia bahkan gak merasa bersalah sama sekali waktu dia menjawab telpon lo dan manggil lo sayang, tepat beberapa menit setelah mendesah puas di atas tubuh gue."


"See? Jadi, apalagi yang mau lo harapin darling? Apa yang mau lo perbaiki, hem” Amara tersenyum puas karena sudah berhasil mengeluarkan semua hal yang ia simpan selama ini.


Ini kesempatannya untuk menyingkirkan Bella. Merebut laki-laki yang ia cintai, maka tidak akan pernah ia lepaskan kesempatan ini begitu saja.


“Lo bilang Rangga bukan tipe lo, kenapa sekarang,” Bella berusaha menimpali.


Amara merapikan rambut Bella dengan kasar dan kembali berbisik.


“Sssttt…… Denger gue.” dengan cepat Amara menaruh telunjuknya di bibir Bella. Ia tidak membiarkan Bella meneruskan kalimatnya.


“Lo udah gue kasih banyaaaaakkkk banget waktu untuk ada di samping Rangga. Tapi,"


"Kali ini gue gak mau ngalah lagi Bell. Lo bukan lagi pusat dunia seperti waktu lo SMA dulu.”


“Jadi baiknya, lo sekarang pulang dan rapihin penampilan lo. Cari cowok lain, barangkali masih ada cowok yang bisa nerima banyaknya kekurangan lo. Inget Bell, lo bukan tandingan gue. Hem? Paham sayang?” ia menepuk wajah Bella dengan penuh ketegasan.


Bella hanya tercenung. Ia baru tahu, betapa banyak racun yang Amara simpan untuknya. Di tatapnya Amara yang berdiri angkuh di hadapannya. Wanita itu hanya mengibaskan tangannya dan meminta Bella pergi.


“Ga,” bibir kelu Bella berucap dengan lirih.


“Semua udah jelas Bell. Antara kita gak ada apa-apa lagi dan lo bukan siapa-siapa lagi di hidup gue.” Tegas Rangga yang langsung membuang pandangan dari Bella, seperti enggan melihat wanita itu lagi.


Bella terangguk penuh kesakitan. Ia menelan semua pil pahit yang di dengarnya, seperti halnya saliva yang mengganjal di tenggorokkannya dan membuatnya sulit mengatakan apapun.


Ia pergi dengan langkah gontai. Saat Niko menahannya, dengan lemah Bella melepaskan tangan Niko.


Ia hanya tahu kalau ia harus pergi, ya pergi sejauh mungkin.


******


“Aarrgghh sial..” Bella mencengkram dadanya yang terasa sesak dan sakit. Pertama ia mengusapnya untuk menghilangkan sesak namun hingga ia pukul berkali-kali tidak juga hilang rasa sakitnya.


“Rangga,…” isaknya seraya jatuh terhuyung.


Kakinya yang sudah lama berjalan tiba-tiba saja terasa lemah.


“Aku cinta sama kamu Ga, kenapa kita jadi begini?” batinnya dengan tatapan kosong, nanar menatap jalanan yang seperti tidak ada habisnya ia tapaki.


Ia berusaha kembali berdiri, berpegangan pada pagar taman yang bisa ia gapai. Hanya beberapa kendaraan yang melintas di hari yang sudah mulai larut.


Ia tidak pernah menyangka kalau ia akan mendengar dengan tegas pernyataan Rangga yang memintanya pergi. Ia tidak menduga kalau Amara menyimpan banyak racun dalam hatinya selama ini.


Ucapan Amara, seperti film yang terus berulang di kepalanya di tambah ingatan akan kenangan bersama Rangga yang terus berputar di kepalanya. Sakit ya sangat sakit.


Suara-suara sumbang dari orang-orang di kantor, ingatan akan pertengkarannya dengan Ozi dan tatapan penuh rasa kasihan dari orang-orang di sekitarnya seperti bom waktu yang semakin lama semakin berkumpul di kepalanya hingga membuat isi kepalanya sangat ramai.


Bella tidak dapat menghentikan itu. Semuanya terlalu menyakitkan dan menyedihkan di waktu yang bersamaan.


Entah sudah berapa lama dan jauh ia berjalan, tidak lagi ia hiraukan. Di hadapannya ada kemilau cahaya dari riak air yang seolah memintanya untuk mendekat.


Dengan wajah sembab, mata yang bengkak dan merah, ia menatap nanar riak air tersebut. Beberapa kali ia memejamkan matanya, berharap bayangan di kepalanya bisa segera menghilang. Tapi semakin ia berusaha rasanya semakin sulit. Semuanya seperti bola panas yang melintas dan menisakan rasa sakit di setiap sel otaknya.


Bella ingin menangis sejadinya, berteriak sekuatnya namun ia bahkan sudah tidak memiliki tenaga untuk melakukannya.


Di temani hembusan angin malam yang dingin, ia berdiri di tepian jembatan menghandap ke Danau. Saat itu ia hanya berpikir, mungkin dengan masuk ke air, otaknya akan berhenti berpikir. Semua bayangan menyakitkan itu akan memudar kemudian tenggelam hilang terbawa dinginnya air danau.


Ya, itu yang ada di pikiran Bella saat ini.


Sambil merentangkan tangannya di tepian jembatan, ia memejamkan mata. Ia membiarkan angin yang berhembus membawa serta sisa air matanya sebelum ia tinggalkan pergi. Sebentar saja ia ingin berhenti berpikir, berrhenti membayangkan dan berhenti mendengarkan suara-suara yang ada di kepalanya.


“Kak, jangan maju!” seru sebuah suara yang Bella dengar sesaat setelah ia melangkahkan kakinya menuju tepian jembatan.


Ia mengenal suara itu.


“Di situ berbahaya, sini lo kasih tangan lo ke gue okey.” Bujuk suara tersebut seraya mengulurkan tangannya. Ya, Bella mengenal suara tersebut sebagai suara adik tirinya yaitu Ibra.


Bella menurunkan tangannya yang terentang. Bibirnya yang pucat tersenyum simpul. Berani sekali Ibra menghentikannya. Padahal ia salah satu bayangan yang ikut berputar di kepalanya.


Dengan wajah yang cemas dan berusaha menenangkan, Ibra mendekat.


“Percaya sama gue, kasih tangan lo ke gue. Kalau ada apa-apa, gue bisa dengerin lo. Lo bisa omongin semuanya baik-baik, gak usah,”


“Berhenti.” Lirih Bella. Pelan namun tegas.


Ia sudah sangat lelah mendengar banyak suara. Ia hanya ingin masuk ke air dan membiarkan kepalanya berhenti berpiikir.


Langkah Ibrapun terhenti dengan wajah yang diliputi kekhawatiran.


“Tolong berhenti. Berhenti mengasihani gue.” Hanya hatinya yang berontak dan bibirnya tetap membisu.


“Okey, gue berhenti tapi tolong kasih gue tangan lo ke gue,” Ibra dengan suara terbata-bata.


Kalimatnya pun terhenti, saat tiba-tiba Bella berbalik. Menunjukkan wajah cantiknya yang terlihat pucat. Rambut yang tergerai dan berantakan. Mata yang merah dan basah, serta bibirnya yang kering, pucat pasi. Ibra tidak menyangka kalau wanita yang berdiri di tepian jembatan itu adalah seorang wanita kuat, yang ia kenal sebagai Bella.


Bella baru tahu kalau orang-orang semakin banyak yang berkerumun, saling berbisik dan beberapa di antara mereka mungkin sedang mengasihinya dengan tatapan penuh rasa penasaran. Dia sudah lelah dengan semua tatapan itu.


“Lo tenang okey.” Ibra mengendap mendekat, langkahnya hati-hati agar tidak mengusik wanita yang terlihat putus asa tersebut. Walau dalam hatinya bertanya bagaimana bisa seorang Bella memiliki pikiran untuk mengakhiri hidupnya.


“Kasih tangan lo ke gue.” Ia kembali mengulurkan tangannya.


Melihat betapa berantakannya penampilan Bella yang tegas, tentu bukan sebuah candaan jika kemudian ia berdiri di tepian jurang dan siap melompat.


Perlahan Bella menggeleng. Air matanya yang sudah kering, kembali menetes tanpa isakan. Bibirnya yang kering itu bergetar, seperti bergumam tapi tidak ada suara yang terdengar.


Remaja itu mengernyitkan dahinya. Seperti wanita itu tengah memberikan pesan terakhir.


“Gue gak denger suara lo. Apapun yang mau lo sampein, lo sampein di sini.” Ibra mulai panik.


Bella hanya menggeleng, tidak ingin lagi mendenar apapun. Lantas ia tersenyum. Tidak lagi berusaha berbicara, seperti tenaganya habis. Pada akhirnya, ini yang ia pilih. Menjatuhkan tubuhnya ke dalam air yang secara sukarela menyambutnya.


“AAARRGGG!!!!!!!” beberapa orang berteriak sebagai suara yang terakhir di dengar Bella.


Setelah itu semua hening. Semua bisu. Tidak ada lagi hingar seperti yang ia inginkan selama ini.


Semua sudah berakhir bukan?


******