
Kondisi di PH sangat kacau beberapa hari ini. Tim produksi film terpecah menjadi tiga blok dan terus berdebat terkait keberlangsungan film yang akan mereka produksi.
Melihat kondisi saat ini, beberapa orang ikut menentang, menjadikan couple of the month menjadi pemain di film ini sementara beberapa orang lagi memperbolehkan asalkan mengganti cerita yang akan mereka mainkan. Dan Jihan, kukuh dengan pendiriannya untuk melanjutkan produksi film dengan Rangga dan Amara tetap sebagai pemain.
“Alasan saya mau membuat film dengan PH ini karena sinopsis yang pak Eko tunjukkan pada saya. Apa artinya kerja sama ini kalau pak Eko mengganti cerita yang akan kita angkat? Ingat, kita sudah tanda tangan kontrak pak Eko.” Kalimat itu seperti template default yang di sampaikan Jihan untuk menekan Eko.
“Akh sial!”
“BRAKK!”
Baru kali ini Inka melihat Eko yang selalu sabar akhirnya menggebrak meja. Laki-laki yang biasanya hanya menunjukkan kemarahannya lewat tatapan matanya yang tidak bersahabat, kini mulai bersikap kasar. Pikirannya buntu, bingung untuk memutuskan langkah mana yang akan ia ambil.
Berlanjut atau terhentinya project ini sepertinya akan membawa kesulitan bagi banyak orang.
“Gimana kondisi Bella?” tanya Eko seraya memijat pelipisnya yang berbenyut pusing.
Laki-laki itu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi sambil memejamkan mata. Kalau di ukur, tekanan darahnya sudah pasti tinggi.
“Mulai bisa di ajak bicara sama psikolog.” Sahut Inka yang mengutip sedikit pesan dari Ozi.
Hanya hembusan nafas kasar yang di dengar Inka dari mulut Eko. Dahinya berkerut, seperti tengah memikirkan cara yang terbaik yang bisa ia lakukan.
“Kamu bisa bantu om?” tanyanya kemudian. Mungkin idenya tidak langsung di terima Inka tapi mencoba tetap harus ia lakukan.
“Apa?” Inka menatap Eko penuh atensi.
Ia tahu benar sulitnya kondisi Eko saat ini walau ia tidak bisa menjanjikan ia bisa membantu banyak.
“Setelah kondisi Bella membaik, ajak dia bicara secara pribadi dan tawari dia,” terlebih dahulu ia menatap Inka untuk melihat ekpresi gadis ini.
“Apakah bersedia menjual script-nya pada PH kita?” tanya Eko ragu. Hanya ini solusi yang terpikir di benaknya saat ini.
“Maksud om apa?!” gertak Inka dengan kesal. Sudah bisa di tebak kalau Inka akan meradang.
“Bella karyawan di sini. Dia yang ngebantu PH ini untuk terus bergerak maju. Dedikasinya besar dan sekarang om mau menghina dia dengan cara seperti ini?” Gadis ini menatap Eko dengan tidak percaya.
“Om lupa, gimana saat dia menulis script-nya?"
"Bukan hanya imajinasinya, bukan hanya waktunya tapi jiwanya juga ada di script yang dia tulis. Dan om mau menghinanya dengan nominal di tengah kondisi perusahaan kayak gini?!” cerocos Inka beruntun tanpa bisa di hentikan.
“LALU OM HARUS BAGAIMANA?!!!” gertak Eko yang putus asa.
“Om memang menawarkan nominal yang mungkin tidak akan pernah setara dengan dedikasi Bella. Tapi om juga sedang berusaha untuk membuat Bella tidak semakin tersudut dengan kondisi di perusahaan yang kacau balau ini.” Eko berusaha menjelaskan semampunya.
"Kamu pikir ada cara lain selain cara ini?" Ia menatap Inka dengan putus asa. Isi kepalanyaa seperti bergejolak, penuh dengan kepenatan.
Inka hanya mendengus kasar. Ini dilemma, tidak hanya bagi perusahaan tapi juga bagi orang-orang yang terlibat. Termasuk ia dan Eko.
“Aku perlu waktu om. Gak bisa gegabah.” Hanya itu sahutan Inka. Berbicara dengan Bella saja belum ada kesempatan apalagi menawarkan hal seperti ini.
“Ya, om paham. Tapi ingat, waktu kita tidak banyak. Jihan terus menekan kita untuk segera meneruskan project. Om gak tau harus gimana kalau tiba-tiba Jihan menghentikan kucuran dana untuk PH” Tegas Eko yang tidak di sahuti lagi oleh Inka.
Gadis itu memilih diam dan pergi, ia perlu waktu untuk berpikir. Jujur, saat ini ia tidak bisa menduga bagaimana perasaan Bella.
"Akh Sial!" di tonjoknya meja yang menjadi tumpuan tangannya. Memandangi Jakarta dari kaca ruangannya yang lebar ternyata tidak membuat pikirannya terbuka. Semuanya sempit dan sulit.
****
“Ade gak mau minum obat ini lagi mah, adek mau pulang.” pinta Bella seraya menaruh obat anti depresan di hadapannya. Membiarkan obat itu berada dalam cangkangnya dan mendorongnya menjauh. Obat ini tidak ia minum sejak sore kemarin.
Saras yang baru menyelesaikan kewajiban muslimnya, menatap Bella dengan penuh kecemasan.
Ini kali pertama ia mendengar suara Bella setelah beberapa hari bungkam. Dunianya sepi tanpa suara rengekan dan tawa Bella.
Di tatapnya wajah pucat Bella dengan lekat seraya menahan tangis yang menyesakkan di dadanya. Matanya tampak berkaca-kaca namun sungguh ia bersyukur karena Bella sudah terlihat lebih baik.
“Pasien tidak sepenuhnya berniat untuk mengakhiri hidupnya bu. Dia hanya sedang tertekan dan lelah secara mental. Walau belum pulih seutuhnya tapi sepertinya tidak ada bahaya yang mengancam nyawanya.” Terang psikolog yang akhirnya berhasil berbicara dengan Bella selama berjam-jam.
Saras mengucap syukur dalam hatinya seraya menghela nafas lega.
“Sini nak,” di raihnya tubuh Bella untuk ia peluk.
Ia sangat bersyukur karena Bella mau kembali berbicara dengannya.
Tidak Bella pungkiri kalau keberadaan Saras di dekatnya memberinya ketenangan tersendiri walau egonya masih berusaha menerima rasa malu saat ia berusaha begitu keras memperjuangkan Rangga di hadapan sang ibu. Ia juga telah menyia-nyiakan kesempatan yang Saras berikan dan malah berakhir seperti ini.
Ia tidak berdaya dan tidak ada cara apapun yang bisa ia gunakan untuk menyembunyikannya dari Saras. Sentuhan lembut Saras di punggungnya seperti obat pereda nyeri yang membuat punggungnya bisa kembali tegak setelah beberapa hari ini terhuyung lemah.
“Kita akan pulang ya sayang. Tapi adek solat dulu yaa…” bisik Saras yang diangguki pelan oleh Bella.
Entah mengapa tiba-tiba air mataya menetes begitu saja. Memperhatikan Bella yang tengah menunaikan kewajiban muslimnya, Saras hanya bisa menangis tersedu-sedu. Tubuh Bella yang semula berisi, kini jauh menyusut. Lihat saja punggungnya yang membungkuk dan berusaha berdiri tegak.
Kemana saja ia, sampai ia tidak bisa melindungi putrinya dari banyak hal yang mengancam jiwa dan mentalnya.
“Keinginan pasien untuk bangkit, cukup besar. Pesan saya, selalu berikan perhatian padanya agar dia tidak merasa sendiri. Beri dia kepercayaan untuk memilih agar kepercayaan dirinya pulih. Dengarkan pendapatnya dan berikan apresiasi pada pencapaiannya."
"Pada dasarnya, sekalipun pasien adalah wanita dewasa, ia tetap seorang anak yang membutuhkan perlindungan orang tuanya.” Ucapan psikolog kembali terngiang di telinga Saras, membuat ia merasa kembali tertampar oleh apa yang terjadi di belakangnya.
Dan setelah Bella menyelesaikan solatnya, Saraspun menghampiri lalu memeluknya. Ia menangis penuh sesal di samping Bella seraya mengusap bahu Bella penuh sayang.
“Maafin mamah ya nak, maafin mamah…” lirihnya dengan sungguh.
Bella hanya terdiam dengan air mukanya yang terlihat lebih tenang. Bulir air mata tidak lagi terlihat membasahi wajahnya.
Di raihnya tangan Bella yang layu untuk ia kecupi. Tangan ini sudah berusaha sangat keras demi membanggakan dan membahagiakannya.
Di tatapnya wajah Bella dengan sendu, lantas ia mengusap pipi Bella dengan lembut.
“Mamah selalu bilang sama adek kalau adek adalah wanita hebat yang bisa melakukan apapun. Tapi mamah gak pernah mengajarkan kalau seorang wanita hebatpun boleh mengeluh kalau dia lelah. Boleh beristirahat sejenak saat ia memerlukan waktu.” Suaranya terdengar parau dengan isakan yang tertahan.
“Mamah selalu bilang kalau adek sangat cantik kalau tersenyum tapi mamah tidak mengajarkan kalau adek boleh menangis saat adek bersedih dan mamah gak akan mengatakan adek tidak cantik lagi.” Kali ini Saras tersedu. Di genggamnya kedua tangan Bella dengan erat.
“Mamah selalu bilang kalau mamah bangga saat adek bisa berdiri di atas kaki sendiri sampai mamah lupa mengingatkan kalau adek perlu bersandar, mamah gak akan kemana-mana nak.”
“Mamah terlalu memaksa adek untuk banyak hal sampe adek berusaha terlalu keras. Mamah terlalu banyak menaruh beban di pundak adek, beban untuk terlihat baik-baik saja agar mamah tidak cemas."
"Maafin mamah nak….” Mata Saras yang merah dan basah masih menatap Bella. Bibirnya bergetar dengan bahu yang bergerak naik turun menumpahkan kesedihannya.
Ini penyesalan terbesarnya.
Ia sadar, selama ini ia telah salah. Berlabel seorang single parent, saat anak-anaknya bisa meraih banyak hal, dengan semangat ia menceritakannya pada siapapun. Seperti tidak memberi Bella kesempatan untuk sesekali mengatakan ia kesulitan. Dan tanpa ia sadar mungkin ada banyak harapannya yang membuat putrinya ini merasa terbebani.
Ia hanya melihat kalau Bella berproses maju. Putrinya bertumbuh menjadi wanita dewasa tanpa pernah ia bertanya, bagaimana perasaannya saat ini? Apa saja kesulitannya.
Hah, ia benar-benar menyesal. Hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini, menyesali semuanya.
Bella hanya bisa memandangi Saras yang menangis di hadapannya. Tenaganya seperti kosong hanya untuk sekedar menyemangati ibunya. Satu hal yang pastii, ia ingin kelur dari lorong gelap ini.
******