
Sekitar lebih dari setengah jam dua gadis itu menangis di dalam mobil. Mobilnya tetap terdiam di antara mobil lain yang berlalu Lalang di lajur kanan.
Mata mereka sampai bengkak dan perih. Wajahnya sembab dan pucat. Setelah perasaan sedih dan takutnya di ungkapkan, ternyata perasaan mereka terasa lebih ringan walau tidak baik-baik saja.
Bella mengambil kacamata dari laci dashboard. Milik ia dan sang kakak. Satu ia pakai dan satunya ia pakaikan Inka.
“Ini terakhir kalinya kita nangisin abang. Gue gak bakal maksa lo ngelakuin hal yang gak lo sukai. Tapi, lo emang tetep harus memikirkan masa depan lo, dengan atau tanpa abang gue.” Tegas Bella seraya memasangkan kacamata untuk menutupi mata bengkak Inka.
Inka hanya terdiam. Membiarkan Bella mengurusinya.
Bella menghela nafas dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Ia melakukannya beberapa kali hingga perasaannya jadi lebih baik.
Setelah kondisi hatinya lebih lega, ia mulai menyalakan kembali mesin mobil. Menggerakkan perseleng maju lalu menginjak gas dan mobilpun melaju masuk kembali ke jalanan, berbaur dengan kendaraan lainnya.
Keduanya tetap terdiam, menikmati perjalanan sambil menenangkan diri. Bella sengaja membuka jendela sedikit untuk membiarkan udara dari luar masuk dan membantu mengeringkan air mata mereka.
Tidak sampai 20 menit untuk sampai di café yang mereka tuju. Tidak seperti biasanya, kali ini café sangat ramai pengunjung, bahkan orang-orang berkerumun di meja barista.
“Ada apa itu, kok rame banget? Ada diskonan gitu?” Tanya Inka seraya melepas kacamatanya.
Matanya sudah tidak terlalu bengkak. Ia berjalan dengan cepat di depan Bella yang masih mengambil sling bag yang ia lingkarkan di joknya.
“Cepet banget tuh anak jalannya, mentang-mentang ada diskonan.” Gerutu Bella yang tersenyum sendiri melihat tingkah sahabatnya.
Namun tidak lama dari itu, Inka kembali menghampirinya.
“BELL!!! BURUAN!!!” Serunya dengan wajah cemas.
“Kenapa sih?” Tanya Bella. Buru-buru sekali Inka, takut kehabisan apa bagaimana?
“BELSKY!!! Jalan lo cepet dikit dong!” Inka sampai meneriakinya.
“IYA!!” Bella mempercepat langkahnya dari tempat parkir menuju café.
Begitu masuk café, suasana tegang langsung terasa. Inka menarik tangan Bella untuk mendekat.
“MISI!!” Ketusnya pada pelanggan yang menghalangi.
Bella langsung terdiam begitu melihat apa yang terjadi.
“Elo tuh ya mestinya lo tau diri. Lo cuma anak haram yang hidupnya numpang sama gue. Hidup lo tuh cuma nyusahin gue!! Aib buat keluarga gue! Gak ada gunanya lo kerja beginian, tetep aja lo bergantung hidup sama gue!!!” Teriak seorang wanita berdaster yang mencoba mencakar Ibra dan melepas apronnya.
“Eehhh jangan kasar bu!!” Dimas segera menahan wanita itu agar tidak menyerang temannya.
“Jangan ikut campur lo!” Dengan sekuat tenaga wanita bertubuh gempal itu mendorong Dimas hingga terjungkal.
Orang-orang berteriak dan segera menolong Dimas.
“Elo, udah gue gedein. Udah gue kasih makan gratis, tinggal gratis selama bertahun-tahun di rumah gue, tibang anak gue minjem sepatu lo doang, sampe lo ajak berantem. MAKAN NOH SEPATU!!!!” Seru wanita itu seraya melempar sepatu ke wajah Ibra.
“Astaga ibuukk!!!” Inka langsung menerobos menghadang wanita yang menyalak marah itu menyerang Ibra.
Bella hanya mematung, memandangi Ibra yang hanya tertunduk tidak melawan. Ia juga melihat sepasang sepatu Ibra yang terserak. Sepatu yang ia belikan karena Ibra bilang kalau ia suka bermain futsal bersama teman-temannya.
Karena sepatu inikah Ibra sampai di marahi?
“Mulai sekarang, gue kagak mau ngurusin lo lagi. Lo keluar dari rumah gue. Lo bawa juga nenek lo yang sakit-sakitan.” Wanita yang Bella kenali bernama tante Susi itu melemparkan sebuah tas ransel besar pada Ibra.
“Dan inget, lo ganti semua duit gue yang udah lo pake buat berobat nenek lo. Lo juga jangan berani-berani ngaku sebagai keponakan gue. Lo bukan siapa-siapa lagi buat gue!! Brengsek lo!” Pukulan keras di layangkan ke kepala Ibra dan Ibra hanya terdiam.
Ia membiarkan tangan besar itu menghantamnya hingga kepalanya pusing dan sakit.Ia sudah terbiasa menerima perlakuan ini dari tantenya.
Puas menghina dan memukul Ibra, wanita itupun pergi.
“Lo gak apa-apa?” Tanya Inka setelah wanita itu pergi.
Ibra hanya tertunduk malu seraya menahan sakit. Bukan hanya malu pada orang-orang yang berkerumun dan saling berbisik. Lebih dari itu ia malu hanya untuk sekedar menatap Bella yang berdiri di hadapannya dan tidak berkata apapun.
Bukankah ia pernah berkata kalau ia bisa menjaga dirinya sendiri?
*****
Di taman belakang café saat ini Ibra dan Bella berada. Mereka sama-sama duduk terdiam di atas sebuah bangku. Bella menaruh sepasang sepatu yang tadi di pungutnya dan menempatkannya di antara mereka berdua.
“Sepatu ini gak terlalu mahal, kenapa gak lo kasih aja?” Tanya Bella tanpa menoleh Ibra.
Ia tidak habis pikir, hanya karena masalah sepatu sampai harus membuat keributan hingga ke café tempat Ibra bekerja.
Remaja itu tidak menimpali. Ia hanya tersenyum kecil lantas menyentuh sudut bibirnya yang berdarah. Rupanya selain memukul, tante Susi juga menampar Ibra. Hanya saja Bella tidak melihatnya.
Tapi, jikapun ia melihatnya, memangnya apa yang akan di lakukan?
“Bukan perkara harga sepatunya, tapi siapa yang ngasihnya.” Suara remaja beranjak dewasa yang khas itu mulai terdengar.
“Lo beliin sepatu ini tepat 4 hari setelah gue ulang tahun ke 17. Itu bermakna banget buat gue kak.” Ibra mengambil sepatu itu dan memandanginya dengan mata berkaca-kaca. Sampai kapanpun ia tidak akan rela orang lain memakai barang yang Bella belikan untuknya.
“Lo gak perlu berlebihan.” Kilah Bella. Ia tidak mau membahas terlalu dalam masalah perasaan antara ia dengan adik sambungnya.
Ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan menaruhnya di atas bangku.
“Lo bisa keluar dari rumah tante lo. Bawa juga nenek lo. Tapi jangan tinggal di sembarangan tempat, nenek lo udah tua.” Ujar Bella yang juga menaruh secarik kertas di sebelah kunci itu.
Tanpa menunggu lama, Bella beranjak dari tempatnya. Baginya pembicaraan ia dengan Ibra sudah selesai.
“AKH SIAL!!” Dengus Ibra dengan keras.
Ia menangkup wajahnya mengusapnya beberapa kali lantas ikut berdiri.
“Lo bisa gak sih jangan gini terus sama gue?!” Seru Ibra pada Bella.
Bela pun menghentikan langkahnya, entah apa yang ingin di katakan Ibra padanya.
“Ada yang lain yang mau lo minta?” Tanyanya tanpa memalingkan wajahnya pada Ibra.
“Lo bisa liat gue gak sih sebentar?” Pinta Ibra dengan kesal. Matanya sudah merah dan berkaca-kaca menahan tangis.
Bella menghela nafasnya dalam. Untuk menghadapi Ibra, ia selalu perlu cukup keberanian dan ketenangan.
Saat Bella berbalik, Ibra tersenyum kelu. Ia menatap wajah sang kakak yang selalu berusaha terlihat tenang. Padahal ia tahu, bagaimana gejolaknya perasaan Bella saat ini.
Ibra menngambil kunci yang ada di atas bangku beserta kertasnya. Ia berjalan mendekat pada Bella. Meraih tangan Bella dan membenamkan kunci serta kertas itu di tangan Bella.
“Bukan ini yang gue perluin kak.” Suara Ibra terdengar bergetar.
Ia menekan sudut matanya agar tidak menangis. Tapi seperti sulit.
“Bisa gak sekali aja lo cukup nanya perasaan gue sekarang atau gimana perasaan gue selama tinggal di rumah tante Susi?” Matanya yang berkaca-kaca akhirnya lolos menangis.
“Apa gue betah?”
“Apa gue di tindas?”
“Apa gue bisa tidur nyenyak?”
“Apa gue menikmati makanan gue?”
“Lo harus tau kalau rumah bukan sekedar tempat untuk berteduh!” Tangis Ibra kembali pecah. Suaranya semakin bergetar.
“Lo dan gue beda.” Ia menunjuk Bella dan dirinya bergantian.
“Lo berada di rumah yang tidak hanya sebagai tempat lo berteduh. Lo mendapat limpahan kasih sayang. Lo punya ibu yang setiap malam ngedo’ain segala kebaikan buat lo. Lo punya abang yang selalu menjaga lo, memasang banyak mata hanya untuk memastikan kalau lo akan selalu baik-baik aja.”
“Sementara gue, Lo bahkan gak peduli, apa luka ini sakit?”
Ibra menyentuh sudut bibirnya yang berdarah dan mulai kering. Bekas gambar tangan Susi mungkin mulai memudar tapi rasa sakit di hatinya bahkan tidak mungkin hilang.
“Lo tau kak, setiap kali lo ngasih ini dan itu buat gue, mulai dari transfer padahal uang itu susah payah lo kumpulin. Ngirim alat-alat sekolah, padahal kebutuhan lo pun gak sedikit atau saat lo belanjain kebutuhan bulanan gue dan nenek. Gue ngerasa kalau lo sebenarnya lagi nyicil harga diri gue kak.” Ibra memukul dadanya sendiri dengan kuat.
“Sampai kapan lo akan terus ngerendahin gue? Sampai kapan hah?!” Ia menatap Bella dengan matanya yang menyalak.
“Sampai gue lulus sekolah dan dapet pekerjaan? Sampe gue nikah dan punya anak? Atau sampai gue mati?!!!!” Kali ini suara Ibra meninggi, membuat Bella sampai terhenyak.
Ia tidak peduli jika ada orang lain yang kemudian mendengar perdebatan kemudian.
“Kebahagian gue tidak pernah menjadi tanggung jawab lo. Tapi, kasih gue kesempatan untuk tahu seperti apa itu bahagia. Bisakah? Hem, bisakah?”
Ibra melangkahkan kakinya dengan gemetar semakin mendekat pada Bella.
Ia menangkupkan kedua tangannya di depan Bella. “Bisakah kak?” lagi ia bertanya dengan air mata yang berurai dan tangan yang gemetar.
Bella tidak menjawab. Ia hanya tertunduk dengan tangisnya yang ikut pecah. Sejahat itukah ia selama ini? Padahal ia hanya berusaha melakukan yang terbaik yang ia bisa. Melakukan hal yang adil agar tidak menyakiti siapapun. Tapi kini, apa mungkin ini hanya bentuk keegoisannya saja? Ia bahkan tidak sadar ada kesedihan sebesar itu di hati Ibra.
Ya, ia terlalu egois. Ia hanya menakar perasaan orang lain berdasarkan perasaannya saja. Tanpa pernah ia tanyakan, seperti apa sebenarnya perasaan Ibra? Apa yang sebenarnya anak ini perlukan?
“Maaf, maafin gue…” Ibra berusaha menyentuh bahu Bella, ia sadar mungkin ia terlalu kasar pada Bella.
Namun dengan cepat Bella mundur, ia perlu menjaga jaraknya dari Ibra. Ia tidak punya cukup keberanian untuk menjawab semua pertanyaan Ibra.
Ibra hanya bisa mengepalkan tangannya ke udara dan membiarkan Bella berbalik meninggalkannya. Namun sebelum meninggalkan Ibra, bibirnya berucap lirih.
“Jalan akasia nomor 18. Lo boleh datang kapanpun.” Ujarnya dengan terbata-bata lantas ia pergi meninggalkan Ibra yang kini bertekuk lutut di tempatnya.
Tubuhnya sudah sangat lelah. Pertahananya runtuh. Namun ia masih bisa tersenyum, saat Bella dengan jelas menyebutkan alamat rumahnya yang bisa ia datangi.
Apa benteng yang di bangun Bella mulai ia rubuhkan dengan sendirinya?
*****