
“Apa, om Alwi ke sini?” Tanya Devan yang memandangi Bella dengan cemas.
“Iya, tadi beliau ke sini. Tapi cuma sebentar.”
“Dia gak ngapa-ngapain kamu kan sayang?” Devan memandangi sekujur tubuh Bella, memutarnya dan kemudian ia peluk dengan erat. Terlihat jelas raut terkejut dan cemas Devan saat ini.
“Nggak lah Mas.” Bella melerai pelukan Devan yang terlalu erat di hadapan Saras dan Ozi.
“Om Alwi itu sayang banget sama mamah Anggita, mana mungkin dia tega nyakitin perempuan.” Lanjutnya dengan tenang.
“Ah, syukurlah...” Lagi Devan memeluk Bella tanpa ragu. Mungkin berasa dunia ini hanya milik mereka berdua.
Saras dan Ozi hanya tersenyum melihat tingkah Devan. Sementara Bella tersipu malu dengan apa yang dilakukan suaminya. Sulit memang menahan Mr physical touch seperti Devan, untuk tidak melakukan kontak fisik dengannya saat mengungkapkan perasaan.
“Lain kali, kalo ada apa-apa, lo jangan hadepin sendiri dek. Apalagi hal yang berbahaya seperti tadi.” Ozi mencoba mengingatkan Bella.
“Iyaaaa... Tadi gue ngerasa aman-aman aja kok. Cuma kaget aja karena om Alwi tiba-tiba udah ada di depan pintu. Tapi, setelah gue sapa, ya beliau bisa di ajak bicara baik-baik.” Terang Bella berusaha menenangkan ketiga orang yang ada di hadapannya.
Karena pengalaman buruknya dengan Alwi, Devan dan Ozi memiliki kewaspadaan yang tinggi saat Alwi ada disekitarnya. Terlebih Alwi sudah mengancam Devan kalau ia tidak segan untuk menghancurkan orang-orang di sekitar Devan.
"Mas, kalau om Alwi itu punya istri atau anak gak?" Bella penasaran dengan sosok laki-laki tegas yang diliputi banyak kemarahan dan kesedihan itu.
"Nggak. Setelah mamah meninggal, om Alwi terpuruk. Dia menyibukkan dirinya dengan pekerjaan hingga anak perusahaannya berada di mana-mana. Dia pernah memaksaku untuk melanjutkan perusahaannya, tapi melihat sikap Om Alwi terhadap papah, aku merasa kalau dia hanya menjadikan aku alat untuk memenuhi ambisinya." Kenang Devan.
"Apa om Alwi pernah berbicara masalah pribadi dirinya dengan Mas?"
Devan menggeleng. "Om Alwi gak pernah nunjukkin perasaannya selain rasa marah. Dia juga gak pernah peduli sama perasaan orang lain. Dia hanya tau apa yang dirinya sendiri inginkan." Tegas Devan.
Mendengar cerita Devan, hati Bella terasa meringis. Ia bisa membayangkan bagaimana perasaan Alwi selama ini. Mungkin ia sangat kesepian hingga ia hanya bisa marah pada keadaan.
"Tapi, mungkin saja kita perlu mendekat sama om Alwi. Bagaimana pun, beliau orang tua kita."
"Aku tidak yakin Bell,... Om Alwi seseorang yang dipenuhi kemarahan dan kekecewaan. Aku takut dia menunggu kita lengah dan melakukan hal buruk terhadap orang-orang di sekitarku."
Devan tertegun membayangkan ucapannya sendiri. Ia mengenal benar Alwi yang begitu tegas dan kasar. Ia bisa menghalalkan segala macam cara demi mencapai tujuannya. Ia tidak siap kalau sampai Alwi melakukan hal jahat lainnya pada orang terdekatnya.
Melihat suasana yang tegang, Ozi mencoba mencairkannya.
“Ngomong-ngomong, gimana kondisi papah Amri.” Ia berharap pikiran Devan teralihkan dari hal menyedihkan tentang Alwi.
“Tadi dokter udah visite, katanya kondisi papah semakin membaik. Papah juga minta pulang, katanya gak betah di rumah sakit. Tapi kata dokter, sebaiknya dibicarakan dulu dengan keluarga karena kondisi papah belum sepenuhnya pulih.” Terang Bella, menatap ketiga orang tersebut bergantian.
“Aku akan temui dokter. Aku mau pastiin dulu kondisi papah sebenernya kayak gimana baru aku temuin papah.” Ujar Devan.
“Iya, baiknya gitu mas.”
*****
Di tempat yang berbeda, Inka datang ke apartemen Amara. Ia ingin bertanya mengenai gosip yang saat ini beredar.
“Welcome aunty,...” Sambutan Amara terdengar manis saat sosoknya muncul di depan pintu.
Ia tersenyum lebar menyambut kedatangan Inka. Ia tampil dengan sederhana, hanya mengenakan daster saja. Rambutnya pun berantakan, tercepol asal dengan beberapa helai rambut yang tidak terikat, tidak ada penataan rambut ikal khas Amara. Sungguh penampilan yang berbeda dari Amara yang di kenal begitu fashionable.
Di tangan kirinya, ia menggendong bayi laki-laki yang sedang tertidur lelap di dekapan ibunya. Bayi itu tidak mengenakan baju dan matanya tertutup kacamata bayi. Sepertinya Amara baru selesai mengajaknya berjemur.
“Masuklah,..” Amara membuka pintu lebih lebar.
“Thanks.” Inka tersenyum kecil melihat bayi mungil itu.
Amara mengajak Inka masuk. Saat memasuki ruangan apartemen itu, wangi khas minyak telon bayi langsung tercium dan mendominasi seisi ruangan. Beberapa helai baju berserakan di lantai beserta bekas tissue yang baru di kumpulkan di atas plastik.
“Sorry masih berantakan. ART hari ini terlambat dateng karena harus belanja dulu bahan makanan.” Terang Amara tanpa di minta.
Ia mempersilakan Inka untuk duduk di sofa, setelah beberapa potong baju di ambilnya. Amara memang tidak cukup lihai dalam membersihkan ruangan.
“Mau minum apa?” Tawar Amara.
“Oh gak usah, gue gak lama.” Inka menahan Amara agar tidak lagi beranjak.
“Sepertinya, lo begitu menikmati peran lo sekarang.?” Inka memandangi Amara dengan seksama.
Wajah wanita itu terlihat tirus, sepertinya bobot badannya turun drastis. Tapi auranya malah terpancar begitu cantik walau tanpa riasan tebal yang biasa ia gunakan.
“Ya, gue sangat suka peran gue sekarang. Bangun tidur karena suara tangis dia. Males-malesan di kasur sambil nyiumin asem badan anak gue di pagi hari. Ngobrol sama dia pas lagi nyusuin dia dan meluk dia saat gue ngerasa sendiri. Ini hidup yang gak pernah gue bayangin sebelumnya. Gue gak ngerasa kesepian lagi.” Ungkap Amara dengan penuh kebahagiaan. Ia mengusap dahi putranya dengan lembut lantas mengecup kepala putranya yang mulai terlelap.
Ia jadi teringat ucapan Bella, ia mungkin gagal menjadi sahabat yang baik tapi ia tidak boleh gagal menjadi ibu yang baik. Dan ucapan Bella itu ia tanamkan di pikiran dan dasar hatinya.
“Hem, gue bisa ngeliat itu.” Inka memandangi bayi kecil yang menggeliat itu dengan haru. Ternyata, mahluk sekecil itu bisa memberikan perubahan yang sangat besar untuk Amara.
“Ya, gue datang ke sini karena ada yang perlu gue tanyain."
"Lo udah liat gossip yang sekarang beredar?”
“Hem. Tentang Devan atau tentang Bella dan gue?” Amara balik bertanya.
Dahi Inka mengernyit, “Gimana bisa lo nyimpulin kalau sutradara berinisial D itu adalah Devan?” Inka sampai memajukan tubuhnya antusias mendekat pada Amara.
“Ya, gue tau itu dari Rangga.” Aku Amara dengan santai.
“Maksud lo, Rangga terlibat di penyebaran gossip ini?”
Amara mengangguk kecil.
“Dua hari lalu, Rangga datang ke sini dan minta foto-foto gue sama Bella. Dia bilang, gue sama dia harus bantu Bella karena Jihan merencanakan hal jahat buat Bella dan Devan.”
“Rangga sih gak bilang detail rencana Hijan seperti apa. Dia cuma tau kalau Jihan mau menyebarkan issue soal masa lalu bokap Devan dan mengancam akan merusak reputasi Rangga di media, kalau Rangga menolak ajakannya.”
*“Rangga terpaksa menyetujuinya. Sebagai balasannya, Rangga sama gue menyiapkan gosip bandingan. Kami sepakat buat ngalihin issue itu dengan nyebar berita kedekatan gue sama Bella. Rangga juga yang minta bantuan labelnya supaya up promo soundtrack* dia gila-gilaan sebagai syarat kesediaan Rangga untuk kontrak dengan label itu selama 5 tahun ke depan. Dengan begitu, gue sama Rangga berharap gossip itu tenggelam dengan sendirinya.” Terang Amara dengan tenang.
“Tapi Bella ketemu sama Rangga dan Jihan di Singapore. Mereka kerjasama sama omnya Devan yang jahat itu.” Inka masih tidak habis pikir.
Amara tidak lantas menimpali. Ia beranjak untuk menempatkan bayinya di box bayi dan membiarkannya tertidur dengan tenang.
“Lo paham gak sih, strategi menempatkan musuh dalam jangkauan kita?” Amara tersenyum kecil pada Inka. Ia mengambil ponselnya dan kembali duduk di hadapan Inka.
Inka tidak menjawab, melainkan hanya mengangguk dengan mata yang membulat. Rupanya ia baru sadar, kalau Rangga sengaja mengiyakan ajakan Jihan untuk bekerja sama, agar tahu pergerakan dan siasat licik wanita itu.
Amara menyalakan ponselnya.
“Nomor lo masih yang sama kan?” Tanya Amara.
“Iya, tapi nomor lo gue block. Masih benci gue sama lo.” Sahut Inka seadanya.
Amara hanya terkekeh. “Buka dulu, ada yang harus gue kirim.” Ia tidak teroengaruh sama sekali oleh ucapan Inka. Baginya sangat wajar kalau Inka membencinya.
Inka menuruti permintaan Amara untuk membuka blockir-annya.
Tidak lama, Amara meneruskan beberapa video kiriman Rangga padanya. Mata Inka langsung membulat melihat video yang sedang ia putar.
“Kenapa gak lo kirim ke Bella atau Devan?” Inka bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari video yang sedang ia tonton. Sesekali ia terlihat marah dan seringnya meringis ngeri.
“Gue gak punya nyali buat ngehubungin Bella.” Sahut Amara yang menaruh kembali ponselnya di atas meja.
“Rupanya lo punya malu juga.” Decik Inka sinis.
“Ya, begitulah hidup. Semuanya serba gak terduga."
"Dulu gue pernah sangat mengagumi Bella. Lalu muncul kebencian di hati gue karena hidup Bella terlalu sempurna. Dan sekarang gue ngerasa kecil di depan seseorang yang dulu sangat gue benci.” Aku Amara dengan tatapan yang kosong, tertuju pada sebuah foto yang berada di atas meja kecil di sudut ruangannya. Foto ia, Bella dan Rangga saat SMA.
Inka hanya tersenyum sinis dan melanjutkan menonton videonya.
“Gue udah konsul sama pengacara gue. Dia bilang, kalau Devan bisa menuntut Jihan dengan tuntutan pencemaran nama baik. Tapi hukumannya tidak lama. Kalau mau lebih lama, dia bisa menuntut dengan tuntutan penghasutan dan persekongkolan. Hukumannya cukup lama apalagi kalau dia nunjukkin video-video serta bukti chat dan bukti panggilan suara dia dengan orang-orang yang di suruh mukulin bokap Devan dan mengatasnamakan om-nya.”
"Menurut Rangga, Om nya Devan sebenarnya gak menyentuh sama sekali bokapnya Devan. Tapi sepertinya kedatangan orang-orang suruhan Jihan itu bertepatan dengan kedatangan Om-nya Devan. Bokap Devan sempat memohon sama Om-nya Devan tapi dia memilih pergi dan membiarkan bokap Devan yang tidak sadarkan diri di pinggir jalan." Terang Amara dengan tenang.
"Gila, ini perempuan sakit! Bisa ya dia sejahat itu?" Inka sampai tidak percaya.
“Lo sendiri gak berniat menuntut Jihan juga? Dia juga udah memprovokasi Nadine buat nyulik lo kan?” Kali ini fokus Inka pada wanita rumahan ini.
“No. Dia gak cuma memprovokasi, tapi dia ikut ngehajar gue di rumah ini. Dan semunya terrekam di CCTV.” Amara masih mengingat, bagaimana sakitnya perut yang sedang mengandung itu di tendang oleh Jihan. Tingkah kasar Jihan itu rupanya memprovokasi Nadine untuk bertindak lebih beringas di luar nalarnya. Banyak kata-kata kasar yang di lontarkan dua perempuan itu pada Amara yang hanya bisa meringis kesakitan.
Entah berapa kali Nadine membenturkan kepalanya ke dindin, sementara Jihan lebih suka menendang perutnya.
Amara memejamkan matanya beberapa saat. Mengingat kejadian itu membuat sisi iblis dalam dirinya kembali bangkit. Ingin rasanya ia pergi untuk membalas dua orang yang sudah menyiksanya tanpa ampun. Namun, ia sudah berjanji pada dirinya, kalau ia akan menjadi ibu yang baik untuk putranya. Dan ia tidak mau merusak usaha yang sudah ia mulai.
“Terus kenapa lo diem aja?” Inka mulai menurunkan ponselnya, setelah ia mengirim semua video pada Devan dan Bella.
“Siapa bilang gue diem?” Timpal Amara dengan cepat. Tatapannya berubah marah saat ia mengingat semua yang dilakukan Jihan terjadapnya.
“Tunggu aja waktu yang tepat. Gue mau dia bertekuk lutut dan memohon di depan anak gue. Dia hampir ngambil sesuatu yang paling berharga di hidup gue, jangan pikir dia bisa lolos gitu aja.”
Senyuman sinis langsung tergambar di wajah Amara. Ia memandangi wajah putranya yang ia jadikan wallpaper di ponselnya. Percayalah, wanita itu akan membayar mahal semua yang sudah ia lakukan pada dirinya terutama putranya.
****