Bella's Script

Bella's Script
Berlomba



Seorang wanita masih merapikan make up-nya di dalam mobil setelah mereka tiba di parkiran sebuah mall besar. Lipstick merah terang ia poleskan lagi ke atas bibirnya yang tipis, di katupkan berulang kali untuk meratakannya hingga bibirnya terlihat kontras dengan kulit wajahnya yang putih bersih.


Ia tersenyum kecil untuk melihat senyumnya sendiri saat bertemu orang lain nanti.


Tidak lupa ia menyapukan blash on warna peach di tulang pipi kiri dan kanannya. Ia pun menyisir rambutnya yang sengaja di buat sedikit bergelombang, berbeda dengan rambut aslinya yang lurus dan halus.


Sedikit menjauhkan cermin di tangannya untuk melihat kesempurnaan penampilan yang menjadi ciri dari seorang Amara Prameswari. Sentuhan terakhir adalah menyemprotkan parfum ke seluruh tubuhnya agar tercium wangi khas dirinya.


Rangga yang terus melihat keluar jendela, sedikit menutup hidungnya saat wangi parfum Amara terlalu menyengat. Ia sampai terbatuk karena parfum yang terhisap rasanya sampai ke tenggorokannya.


“Aku udah wangi kan yang?” Tanyanya yang juga menyemprotkan parfum pada Rangga.


“Udah Ra, kebanyakan parfumnya.” Protes Rangga sambil mengipas-kipaskan tangannya agar wangi parfum menjauh.


“Ih kamu mah ngeselin.” Bibirnya langsung mengerucut mendengar ucapan Rangga.


Ia memasukkan alat make upnya ke dalam tas khusus tempat ia menyimpan alat-alat kecantikannya.


Rangga hanya terdiam, tidak menimpali ucapan Amara.


“Gak minta maaf udah ngomong gitu sama aku? Aku kan dandan cantik juga buat kamu. Biar kamu di sebut pacar yang beruntung.” Sinisnya sambil melirik Rangga yang acuh tak acuh.


“Iya sorry. Kamu cantik kok.” Dengan malas Rangga menimpali.


“Cium dulu dong. Seharian ini kamu gak nyium aku. Tadi pagi aja gak ada morning kiss.” Amara mengerucutkan bibirnya yang merah di hadapan Rangga.


Penampilannya yang cantik memang sangat menggoda, tapi kali ini tidak bagi Rangga.


“Ra, jangan gini akh. Belakangan ini kita udah sering kelewatan. Kita belum nikah, gimana kalau kamu hamil?” Tolak Rangga yang menegakkan tubuhnya sedikit menjauh dari Amara.


Sudah beberapa malam ini Amara terus memaksanya menginap di apartemen miliknya. Dan tentu saja ia tidak bisa menolak saat Amara menggodanya hingga beberapa kali melakukan hubungan yang belum seharusnya mereka lakukan.


“Stok obat aku masih banyak. Jadi kamu gak usah takut. Aku gak akan hamil dalam waktu dekat. Okey?!” Ujar Amara dengan yakin.


Ia semakin mendekat pada Rangga, mengecup kecil-kecil bibir Rangga dan mengusap perut Rangga hingga laki-laki itu melenguh tertahan mendapat usapan sensual dari Amara.


Amara tersenyum kecil melihat ekspresi Rangga yang tidak bisa menolaknya. Ia tahu persis bagian mana yang menjadi kelemahan Rangga di tangannya.


“Kalian gak turun?” Tanya Lisa yang kebagian menjadi pengemudi mobil mereka.


Kebiasaan Amara yang satu ini memang mengganggunya. Melakukan apapun sesuai keinginannya tanpa memperdulikan orang-orang yang ada di sekitarnya.


Ciuman Amara yang mulai liar pun terhenti. “Ganggu lo!” Dengusnya dengan kesal.


Ia kembali merapikan penampilannya, mengancingkan satu kancing yang sengaja ia lepas untuk menggoda Rangga.


“Lo gak usah nunggu gue sama Rangga. Gue kayaknya bakal sampe malem. Temen-temen gue dari LN dateng semua malam ini.” Terang Amara pada sang manager.


Lisa tidak menjawab. Hanya anggukan kecil yang ia berikan.


Pintu mobil mewah itupun terbuka dan Amara turun bersama Rangga. Ia berjalan dengan anggun layaknya seorang model yang berjalan di atas catwalk.


“Itu kak Amara ya? Bener gak sih?” Sayup-sayup ia mendengar suara remaja yang mengenalinya.


“Iyaaa bener… Cantik banget sih. Ayo kita minta foto.” Sahut remaja lainnya.


Amara yang menyadari kedatangan mereka segera mendekat pada Rangga.


“Ada fans. Jangan lupa senyum dan bersikap ramah.” Ujar Amara seraya menghampiri Rangga dan mentautkan jari tangannya dengan jari Rangga. Ini yang akan ia lakukan saat bertemu fans, bersikap semesra mungkin dengan Rangga.


“Hem.” Hanya itu sahutan Rangga.


Kalau sudah seperti ini, sudah pasti wajahnya akan menghiasi halaman akun social media banyak orang, termasuk akun gosip.


“Kak Amara yaaa?” Seru salah seorang remaja Wanita.


“Haaayyy,, Iyaa…” Amara memang pandai bersikap ramah pada fansnya.


“Waahhh cantik bangeettt… Kami boleh minta foto gak kak?” Pinta remaja lainnya.


“Boleh dong. Ayo sini.” Ajaknya.


Merekapun berfoto bersama, entah berapa banyak pose dan foto yang mereka ambil.


“Boleh minta tanda tangan juga gak kak?” PPermintaan lainnya dari fans tercinta.


“Boleh dong, dimana aku mesti tanda tangan?” Siap-siap ia mengeluarkan penanya dari dalam tas.


“Di sini kak!” Anak itu menunjukkan punggungnya untuk di tanda tangani Amara.


“Gak apa-apa ini? Kalian kan lagi main, nanti bajunya corat coret dong.”


“Gak apa-apa kak. Kan biar yang lain liat.”


"Okey kalau gitu." Tanpa ragu Amara pun memberikan tanda tangan di punggung beberapa anak.


“Kak Rangga juga dong…” Pinta mereka.


Rangga menurut saja, tanpa banyak protes ia memberikan tanda tangan di sebelah tanda tangan Amara. Mereka terlihat sangat senang.


“Kak Amara mau nanya dong, dimana sih kakak bisa ketemu sama kak Rangga yang ganteng ini?” Tanya salah satu fans.


Amara menoleh Rangga yang ada di sampingnya lantas tersenyum. Ia pun melingkarkan tangannya di lengan Rangga yang kokoh.


“Sorry, dia limited edition. Gak ada di toko orange. Jadi sorry, aku gak bisa spill,” Ucapnya membercandai seraya menyandarkan kepalanya dengan manja di bahu Rangga.


“Yaaaahhh….” Mereka terlihat kecewa.


“Jangan sedih dong, kan masih banyak anak-anak ganteng lainnya walau gak seganteng dia.” Amara mengedipkan matanya pada Rangga.


“UUhhhh so sweeettt.” Amara memang paling tahu cara berinteraksi dengan manis dengan para fansnya.


“Okey, lain kali kita ketemu lagi yaaa… Sekarang aku masuk dulu.” Pamitnya dengan anggun.


“ Iya kak, Makasih ya kak.” Seru mereka bersamaan.


“Sama-sama. Have fun anak-anak cantik.” Tandasnya seraya melambaikan tangan pada anak-anak tersebut.


“Yuk masuk!” ajaknya yang berjalan lebih dulu di hadapan Rangga.


“Iya..” sahut Rangga seraya memandangi tangan yang tadi di genggam Amara.


Selalu seperti ini.


*****


Bertemu dengan teman-teman Amara ternyata sangat menyenangkan bagi Amara tapi tidak bagi Rangga. Teman-teman yang didominasi kaum wanita sekitar 10 orang ini malah membuat kepala Rangga pusing tidak karuan.


Mereka saling berbicara satu sama lain tidak mau saling kalah, tertawa-tawa dengan bebas tentang hal apapun yang menurut mereka patut di tertawakan.


Beberapa di antara mereka, Rangga pun memang mengenalnya. 2 orang adalah teman SMA mereka yang sempat merundung Amara karena tahu siapa ibu dari wanita ini. Tapi entah bagaimana ceritanya sekarang mereka bisa berteman.


“Ra, lo nail art dimana? Gemes gitu?” Tanya wanita yang Rangga tahu bernama Wilda.


“Ohh ini. Cantik ya?” Dengan senang hati Amara menunjukkan ke sepuluh jemarinya yang cantik di hadapan mereka.


“Iyaaa… Gue mau lah di bikin kayak gitu kukunya.” Rengek wanita lain yang tidak Rangga tahu namanya.


“Okey, nanti gue kenalin sama salon kecantikan langganan gue. Tapi lo harus sedia budget yang cukup.” Terang Amara dengan jumawa.


“Emang berapa sekali treatment? 500 jeti apa sampe 1 M? Hahahaha…”


Mereka tertawa mendengar pertanyaan Wilda.


“Hahahaha… Ya nggak nyampe sih. Tapi bisa nembus sampe 300 jetian.” Sahut amara dengan penuh percaya diri.


Nah, perlombaann banyak-banyakan uang pun resmi di mulai.


“Yaa masih recehan yaaa…” Tanya wanita yang tidak Rangga tahu namanya. Yang jelas, cincin berlian tersemat cantik di jari manisnya.


Amara tidak menimpali, ia memilih meneguk minumannya sambil mendelik kesal.


“Gue denger lo habis beli rumah?” Tanya Wilda pada seorang wanita terambut pirang yang duduk di samping laki-laki pelontos yang lebih tua darinya.


Laki-laki itu tampak asyik saja bertelepon, membicarakan bisnis yang bernilai miliyaran.


“Iyaaa… Dia yang beliin.” Gadis itu mencium sang lelaki dengan gemas dan laki-laki itu membalasnya dengan usapan sayang di kepala.


“Berapa harganya?” Wilda semakin penasaran.


“Emmm,, murah sih. Kalau rumah yang di PI, sekitar 18 M lah, kalau apartemen yang kemaren gue posting di IG, sekitar 6 M. Dia juga ngasih gue kado lambo. Tuh yang itu.” Wanita itu menunjuk sebuah mobil mewah berwarna gold yang terparkir dan terlihat jelas dari tempat mereka duduk.


"Waaahh..." Hampir semua wanita terkagum-kagum dengam mobil yang di tunjuk oleh wanita itu. termasuk Amara.


Sedikit melirik Amara dan Rangga melihat kekasihnya ini sudah meneguk minumannya beberapa gelas. Wajahnya terlihat sedikit kesal walau masih bisa ia tahan. Sudah pasti di rumah nanti Amara akan meracau tidak jelas yang ujung-ujung menelpon Lisa, merengek minta mobil baru atau rumah baru.


“Aku keluar dulu.” Bisik Rangga pada Amara.


Ia merasa tempat ini bukan tempat dimana ia seharusnya berada.


“Hem.” Sahut Amara.


“Gue permisi.” Pamit Rangga yang di angguki teman-teman Amara.


Ia pun berlalu, memilih keluar mall untuk sekedar menghisap sebatang rokok dan menghilangkan kepenatannya karena minuman beralkohol.


“Dia bukannya dulu pacarnya si Bella temen lo ya?” Tanya Wilda yang penasaran.


Dengar, Rangga baru beranjak saja mereka sudah menggunjingkannya. Padahal Rangga masih bisa mendengar obrolan mereka. Tapi kali ini Rangga memilih mengabaikannya. Terserah apa yang akan Amara katakan pada teman-temannya.


“Iyaaa.. Udah putus. Sekarang sama gue. Lebih serasi sama gue kan?” Amara mengibaskan rambutnya dengan seksi membuat laki-laki di samping temannya melirik dan tersenyum.


“Terus lo masih temenan sama Bella?” Wilda semakin penasaran. Dia memang banyak bertanya.


Amara tidak lantas menjawab. Ia memilih mengambil botol minuman yang ternyata lebih dulu di ambil oleh laki-laki bermana Keith dan menuangkannya ke gelas Amara. Sepertinya laki-laki itu tertarik pada Amara.


“Thanks.” Ucapnya pada laki-laki berwajah Eropa tersebut.


Laki-laki itu hanya tersenyum dan mengedipkan matanya.


“Babe….” Wanita berambut pirang itu merengek kesal pada sang kekasih dan Amara tersenyum penuh kemenangan.


“Gak ada yang bisa menolak pesona gue kan? Apalagi cuma seorang Rangga.” Ujarnya dengan penuh percaya diri.


Suasana di ruanganpun mendadak panas. Mereka bersaing saling mengatur strategi di kepala masing-masing. Mereka pun memandangi Amara yang sepertinya mulai mabuk.


Di luar sana, Rangga masih menikmati sebatang rokok di mulutnya. Ia tidak lagi mendengar apa yang mereka perbincangkan di dalam sana. Satu hal yang ia pikirkan sekarang adalah bagaimana hubungan ia dan Amara ke depannya.


Melihat semua sikap Amara, ternyata banyak hal yang tidak sesuai dengan dirinya. Sering kali mereka cek cok karena hal kecil yang seharusnya tidak menjadi perdebatan. Kalau seperti ini, bagaimana bisa ia memperkenalkan Amara pada kedua orang tuanya, terutama ayahnya.


Pikiran Rangga tertaut lebih dalam. Hingga pada satu titik ia melihat seseorang dari kejauhan. Seseorang yang ia rasa kenal.


“Bella?” Gumamnya. Ya, ia mengenalnya. Wanita bertopi dengan tampilan tomboynya yang khas, tentu saja dikenali Rangga.


Ia melihat Bella berjalan di area parkir bersama seorang laki-laki bertubuh jangkung. Di tangannya ia memeluk boneka tedy bear berwarna krem yang ia usap-usap dengan lembut. Mereka tampak berbincang dan sesekali tersenyum.


Laki-laki itu melepaskan jaket kulitnya dan menyampirkannya di bahu Bella. Pastinya bukan tanpa alasan tapi karena udara sore ini berubah menjadi dingin. Terutama bagi hati Rangga.


Rangga terus memperhatikan arah perginya Bella. Ia mematikan rokok yang ada di tangannya dan bergegas menghampiri Bella. Namun langkah kakinya terhenti saat tersadar, untuk apa ia menghampiri Bella? Apa salahnya jika sekarang Bella berjalan dengan seorang laki-laki asing?


Tunggu, rasanya laki-laki itu tidak asing baginya. Saat menoleh, ia melihat jelas laki-laki bertopi itu.


“Devan?” lirihnya.


Apa sekarang mereka benar-benar bersama-sama?


Tubuh Rangga langsung sempyongan karena lemas. Ia sampai berpegangan pada pagar besi di dekatnya. Laki-laki itu memperlakukan Bella dengan manis. Ia bahkan menempatkan tangannya di bagian atas pintu mobil saat Bella akan naik ke mobil.


Ada apa di antara mereka?


Dan kenapa dada Rangga terasa sesak?


*****