
“Mas, kita mau ngajak papah makan di rumah apa di luar?” Tanya bella dalam perjalanan pulang menuju apartemen.
Hari itu mereka pulang belum terlalu malam karena semua pekerjaan penting sudah selesai lebih cepat.
“Makan di luar aja. Papah suka makan seafood, sekalian kita ajak jalan-jalan.” Timpal Devan.
Ia membelokkan stir ke kiri dan sekitar 10 menit lagi mereka akan sampai di apartemen.
“Mau di ajak main ke mana Mas? Mau aku reservasiin tempat gak?” Tawar Bella, sembari mulai mengecek ponselnya.
Seharian ini ia memang nyaris tidak memegang ponsel karena pekerjaan begitu menumpuk dan mengharuskan ia fokus pada banyak hal.
Ia hanya sempat membalas pesan yang masuk ke messenger yang ter-install di komputernya saja.
“Kita tanya papah dulu. Kalau papah gak ada ide, nanti kita reservasi resto seafood yang bagus. Baru jam setengah tujuh ini.” Devan sempatkan untuk melirik jam di tangannya.
“Okey deh. Hemm… Aku harus istirahat cukup malam ini karena besok ada pekerjaan besar yang aku lakukan.” Ucap Bella seraya menyandarkan tubuhnya ke sandaran tempat tidur.
“Pekerjaan apa? Kita kan libur yang.” Devan melirik sang istri dari spion tengahnya. Bella tampak berpikir serius.
“Pertama, aku mau belajar masak bareng mamah. Kata mamah, besok tante Eva, temennya mamah yang seorang koki di resto, mau main ke rumah. Dia mau ngajakin mamah masak-masakan makanya aku mau belajar.”
“Dua, aku mau bantuin abang bikin konsep pameran. Udah dua minggu ini abang aktif lagi memotret. Dan kebetulan temennya mau ngadain pameran. Abang di minta join di pameran itu. Aku sih seneng, karena akhirnya abang bisa nerusin lagi hobby nya yang beberapa lama ini sempet di tinggalin.”
“Uuhhh kalo mas liat waktu abang cerita, beeuuhhh dia semangat banget. Menggebu-gebu, sampe aku gak kebagian ngomong.” Bella berubah antusias saat menceritakan sang kakak.
“Jadi Ozi mau nerusin dulu photography-nya?” Devan ikut bersemangat melihat tingkah sang istri.
“Iyaa… Tapi katanya, ini pameran terakhir yang mau dia ikutin. Setelah itu, abang pengen terima kerjaan di tempat yang waktu itu mas tawarin. Awalnya sih abang gak yakin bisa, apalagi kalau harus pindah ngantor ke Singapura. Kayaknya sih dia gak siap LDR sama Inka.” Bella terkekeh geli di sela kalimatnya.
“Tapi pas aku bilang, abang kan mau nikah. Harus punya bekal dong. Minimalnya pekerjaan yang seatle. Ya walaupun Inka bukan cewek yang matre tapi kan segala kebutuhan sekarang perlu uang. Masa mau ngandelin cinta.” Bella mengerlingkan matanya sebal sambil bersidekap. Membuat Devan tersenyum gemas.
“Lagi pula, abang mau ngasih liat ke kakak-kakaknya Inka, kalau setelah menikah dengan abang, Inka gak akan kekurangan apapun. Jadi gak masalah walaupun Inka gak di kasih warisan papahnya.”
“Agak mikir tuh abang.”
“Akhirnya dia coba nego sama CEO nya, ternyata mereka bolehin abang remote kerjanya dari sini. Cuma seminggu dua kali, abang tetep harus ke sana. Terutama kalau ada meeting penting. Tapi paling nggak, mereka gak LDR lah. Jadi aman.” Tandas Bella panjang lebar.
Devan hanya mengangguk-angguk mendengar cerita istrinya. Walaupun ia sudah mendengarnya langsung dari Ozi, tapi mendengarkan cerita Bella jauh lebih menyenangkan. Ia bisa melihat beragam ekspresi sang istri yang menggemaskan.
“Mas kok cuma senyum doang sih? Pusing ya denger aku cerita?” Bella berbalik menatap sang suami yang mesam mesem di tempatnya.
“Nggaakk… Justru aku suka dengerin kamu cerita. Ayo coba cerita apa lagi? Cerita badak api lagi juga boleh.” Pinta Devan dengan sungguh-sungguh.
“Ikhh mas gak asik. Masa aku doang yang di suruh cerita. Nanti giliran lah, sebelum tidur Mas yang cerita. Lagian udah mau nyampe rumah juga.” Timpal Bella seraya melihat ke depan sana.
“Iyaaa.. Gak kerasa yaa…” Devan memutar setirnya untuk parkir di tempat biasa.
“Tapi kok gelap sih Mas? Apa papah ke rumah mamah lagi ya?” Selidik Bella saat melihat semua lampu apartemen padam. Hanya lampu gerbang yang menyala.
“Iya. Apa papah keluar ya?” Devan ikut penasaran.
Keduanya segera turun.
“Aku telpon abang, Mas telpon papah ya. Siapa tau papah di rumah.” Bella mencoba menghubungi Ozi sementara Devan menghubungi sang ayah.
“Bang, ada papah gak di situ?” Tanya Bella saat panggilannya tersambung.
“Em, nggak. Ini di apartemen gelap, aku pikir papah ke sana.” Bella menggeleng, memberi kode pada suaminya kalau Amri tidak ada di sana.
“Oh, dari siang. Ya udah, aku bilang Mas Devan. Makasih yaa…” Panggilan dengan Ozi pun sudah terputus dan Bella segera menghubungi sang suami yang berulang kali mencoba mengubungi sang ayah.
“Kata abang papah memang ke rumah tapi siang tadi udah pulang. Gimana Mas, di angkat gak teleponnya?” Bella mulai khawatir.
“Teleponnya gak aktif. Papah kemana ya?” Devan mulai terlihat panik.
“Kita liat dulu di apartemen, siapa tau papah ketiduran. Yuk Mas.” Bella berusaha menenangkan suaminya.
Ia segera menuju apartemen dan diikuti oleh Devan.
Devan menyalakan lampu utama dan terlihat kondisi apartemen yang sangat rapi. Bahkan tidak ada satupun gelas bekas yang ada di dapur atau di atas meja.
“Nggak ada Mas.” Ucap Bella, saat mengecek kamar mandi dan kosong.
Devan segera naik ke kamarnya yang berada di lantai dua. Di kamar juga kosong.
“Ada gak Mas?” Panggil Bella dari bawah.
Devan tidak menjawab. Ia mematung sejenak saat sebuah pesan masuk keponselnya.
“Mas…” Panggil Bella. Ia menyusul Devan ke kamar dan suaminya tidak juga menyahuti.
“Mas kenapa?” Tanya Bella, saat melihat Devan mematung sambil memandangi layar ponselnya.
“Aku harus pergi!” Sahutnya dengan cepat.
“Hah, pergi kemana?” Bella begitu terkejut.
Alih-alih menjawab Bella, Devan memilih mengambil tas ransel dari dalam lemari, membuka resleting-nya dengan kasar dan tergesa-gesa mengecek passport miliknya. Ia juga memasukkan beberapa barang ke dalam ransel itu.
“Mas, ada apa sih? Mas mau kemana?” Bella segera menghampiri Devan yang terlihat semakin panik. Wajahnya pucat dan beberapa kali ia mengusap wajahnya resah.
“Mas,,!” Panggil Bella.
“KAMU BISA DIEM GAK SIH?! UDAH AKU BILANG AKU HARUS PERGI!” Sentak Devan tiba-tiba hingga Bella terhenyak di tempatnya.
Ia sangat kaget melihat Devan yang tiba-tiba membentaknya.
“Mas kenapa marah sama aku? Aku kan cuma nanya kamu mau pergi kemana? ini udah malem mas.” Sahut Bella dengan suara gemetar. Iar mata sudah terkumpul di sudut matanya dan bersiap menetes.
“Astagaa BELL…” Devan mengguyar rambutnya kasar. Ia menghembuskan nafasnya kasar beberapa kali sambil berjalan mondar mandir gelisah.
“Maafin aku tapi aku gak bisa cerita sekarang. Aku hanya harus segera pergi. Nanti aku hubungi.”
“Iyaa, tapi pergi kemana?! Kasih tau aku Mas!” Bella ikut panik, karena perubahan sikap Devan yang tiba-tiba.
Laki-laki itu sudah membawa tas ranselnya dan menatap Bella dengan putus asa.
“Kamu percaya sama aku kan Bell?” Tanyanya dengan mata merah dan berkaca-kaca.
“Iya aku percaya, tapi…”
“LALU APA MASALAHNYA?! AKU CUMA MINTA KAMU NUNGGU BELL! AKU HARUS PERGI SEKARANG DAN AKU BELUM BISA CERITA APA-APA SAMA KAMU." Suara Devan kembali meninggi.
"Tidak bisakah kamu mengerti itu sebentar?” Perubahan suara Devan jelas terdengar, dari sangat kasar sampai pelan namun penuh penekanan
“Enggak! Aku gak bisa! Aku gak bisa biarin kamu pergi tanpa ngasih tau aku apa-apa. Aku,”
“TERSERAH! TERSERAH KAMU BELL!” Sentak Devan pada akhirnya.
Dan detik itu juga air mata Bella menetes. Terasa hangat di pipinya namun pedih di hatinya.
Devan hanya beberapa saat menatap Bella, wajahnya terlihat sangat sedih tapi sepertinya tidak ada yang bisa ia katakan.
Ia segera turun, berlari kecil menuruni anak tangga tanpa berkata apapun lagi. Pintu rumah ia biarkan terbuka dan pergi begitu saja dengan mobilnya. Bella bahkan bisa mendengar bunyi decitan ban yang bergantian dengan asap mengepul dari knalpot mobil suaminya.
Devan pergi, dan Bella hanya bisa terduduk lesu di tepian tempat tidur.
“Mas,…” Ucap Bella lirih.
Ia tertunduk lesu di tempatnya. Dengan air mata berderai. Ia mencoba menenangkan dirinya dengan mengatur nafasnya yang menggebu dan dada yang berdebar kencang tapi tetap saja ia tidak bisa memahami keputusan Devan yang tiba-tiba pergi.
Apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya? Mengapa Devan pergi begitu saja, bukankah ia berjanji tidak akan meninggalkan Bella?
Hatinya hancur, bentakan Devan bahkan terasa lebih keras dari sebuah tamparan.
****