Bella's Script

Bella's Script
Memohon



Malam itu, Inka dan Ibra datang untuk mengunjungi Bella. Namun sayangnya, Bella masih enggan keluar kamar. Setengah hari ini Bella lebih banyak berdiam diri di kamar Saras dan memejamkan matanya. Entah ia benar-benar tidur atau pura-pura tidur saja.


“Gimana kondisi kak Bella, Mah.” Tanya Ibra yang terlihat begitu cemas.


Ia melihat jelas kekhawatiran Saras di balik usahanya untuk bersikap ramah menyambut Inka dan Ibra.


“Lagi istirahat. Sepulang dari kantor, Bella belum keluar kamar. Dia terus-terusan tidur bahkan belum mau makan.” Ucapnya dengan nada sedih.


Ibra dan Inka sama-sama menghela nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Mereka sama-sama mengkhawatirkan Bella.


Ibra jadi memandangi pintu kamar Saras yang berwarna putih dan tertutup itu. Entah apa yang sedang dilakukan Bella saat ini, mudah-mudahan mentalnya berangsur membaik.


“Lo dateng?” Sapa Ozi saat melihat Inka yang berdiri di samping Ibra.


“Ah, iya mas Bim. Ada yang perlu aku bantu?”


“Iya, kita perlu bicara. Nanti sama Devan juga.” Terang Ozi.


“Iya boleh Mas.” Angguk Inka patuh. Ia bisa melihat kekhawatiran Ozi dan kemarahannya yang bercampur menjadi satu.


Tidak lama berselang, terdengar suara langkah kaki Devan menghampiri mereka yang berkumpul di depan kamar Saras.


“Makan dulu nak, Devan belum makan dari tadi.” Tawar Saras saat melihat menantunya yang baru selesai mandi.


“Iya Mah, nanti Devan makan.” Devan tersenyum tipis pada Saras dan ikut memandangi pintu kamar Bella. Rasanya ia ingin mengetuk pintu kamar itu dan menemani Bella, tapi sepertinya saat ini Bella hanya butuh dirinya sendiri saja.


“Inka udah dateng, mau ngobrol sekarang?” tawar Ozi, membuyarkan lamunan Devan.


“Oh iya, ayo kita obrolin sekarang.” Sahutnya cepat. Ia ingin semua segera selesai.


Meninggalkan Saras dan Ibra yang masih di depan pintu, ketiga orang itu pergi menuju ruang atas. Mereka perlu memperbincangkan keputusan yang sudah di ambil Ozi.


“Gue berencana melaporkan Amara ke polisi, gimana menurut lo?” Ozi langsung memulai kalimatnya.


“Iya, mas Bima bisa melaporkannya. Aku rasa semua bukti sudah lengkap.” Inka langsung setuju.


Ozi melirik Devan seperti minta bantuan penjelasan saat mendengar jawaban Inka. Ia tidak mau Inka mengiyakan permintaannya karena Ozi lah yang meminta.


“Bukan hanya masalah melapor yang Ozi maksudkan.” Devan langsung paham dengan maksud Ozi. Persetujuan Inka terlalu cepat menurut mereka.


“Laporan kita ke pihak kepolisian, kemungkinan akan merugikan lo dan PH. Gue udah ngehubungin pak Eko dan dia bilang, untuk saat ini lo yang mengambil keputusan. Bagaimana pun, Amara adalah bagian dari project kita dan kalau project kita berakhir seperti ini, PH udah pasti bakalan rugi. Apa lo udah pertimbangin itu?” terang Devan panjang lebar.


Ozi dan Devan kini menunggu jawaban Inka yang tampak berpikir keras.


“Gue gak masalah Van, lo tetap bisa ngelaporin Amara ke polisi. Gimana ke depannya masalah film ini, biar gue sama om Eko yang mikirin.”


“Lo gak usah mikirin lagi masalah film, Van. Lo dan Bella udah berbuat banyak untuk film ini dan saat ini gue udah gak mikirin untung rugi. Keselamatan Bella jauh lebih penting di banding nominal yang mungkin menjadi kerugian perusahaan.”


“Urusan sama produser juga biar gue yang nyelesein. Sekarang kita fokus sama kesehatan dan keselamatan Bella. Gue khawatir, kalau kita gak lapor polisi, takutnya gak akan cuma sekali ini aja Amara nyerang Bella.” Tegas Inka dengan yakin.


Seharian ini ia sudah berpikir banyak, ia juga sudah berdiskusi dengan beberapa orang yang menurutnya perlu ia dengar masukkannya.


Dan ia sampai pada keputusan kalau mungkin pada akhirnya ia harus menerima kalau film ini akan hancur tanpa sisa.


“Okey kalau lo setuju. Gue akan segera mengurus semuanya.” Tegas Ozi dengan penuh keyakinan.


“Iya Mas.” Inka terangguk setuju.


Sebuah deringan telepon menjeda obrolan mereka bertiga.


“Aku permisi sebentar.” Pamit Inka saat melihat yang menelpon adalah orang rumah.


Ia sedikit menjauh dari Ozi dan Devan sebelum menjawab panggilan itu.


“Iya biikk, ada apa?” Jawab Inka dengan segera.


Suara pelayan di rumah itu tampak berisik bercampur dengan suara sirine.


“Halo biikk, ada apa?” Inka mengulang panggilannya.


“Non Inka, Non…” Malah suara tangis yang di dengar Inka.


“Biikk, ada apa?!” Perasaan Inka mulai tidak karuan. Dan satu jawaban dari sebrang sana membuat Inka terhuyung hingga bersandar pada kursi yang ada di sampingnya.


Melihat Inka yang hampir roboh, Ozi segera berlari menghampiri.


“Inka, lo kenapa?” beruntung Ozi datang di waktu yang tepat. Ia segera menahan tubuh Inka terkulai lemas.


“Pa, papah…” lirih Inka dengan wajah pucat pasi dan air mata yang berderai.


“Lo tenang Inka. Lo mau pulang sekarang?” Ozi ikut terkejut, walau berusaha menenangkan Inka.


“To-tolong, temani aku pulang.” Jawab Inka seraya mencengkram baju Ozi.


Tenaganya nyari habis untuk menopang tubuhnya sendiri.


Tanpa menunggu lama, Ozi segera mengantar Inka pulang.


“Mah, abang nganter Inka dulu. Kalau ada apa-apa segera hubungi abang.” Pamitnya dengan tergesa-gesa.


Begitupun dengan Inka, ia hanya mengangguk pamit pada Saras tanpa mengucapkan sepatah katapun. Langkahnya cepat, mengimbangi langkah Ozi di depannya.


“Ada apa Van?” Saras jadi penasaran.


“Devan nggak tahu persis Mah, tapi sepertinya sesuatu terjadi pada papah Inka.” Terang Devan seadanya.


“Astagfirullah… Ujian apalagi ini ya Allah…” Ucap Saras, lirih.


****


Rumah sakit adalah tempat yang saat ini di tuju ozi. Dengan kecepatan tinggi Ozi memacu kendaraannya. Ia berusaha bersikap tenang walau sedari tadi perasaannya getir melihat Inka yang terus menangis di sampingnya dan memanggil-manggil sang ayah.


Tidak butuh waktu lama sampai kemudian mereka tiba di rumah sakit.


“Tuan sudah masuk ke ruangan ICU non.” Sambut pelayan Wibisono yang terlihat gemetaran.


“Terima kasih bikk..” Inka segera menuju ruang ICU bersama Ozi.


Tiba di salah satu sudut ruangan, ia melihat kedua kakaknya tengah terduduk di kursi tunggu. Inka langsung menghentikan langkahnya dengan takut. Ozi yang berdiri disampingnya menatap Inka penuh heran. Tapi saat melihat dua laki-laki yang berdiri di depan ruangan, rasanya ia tahu alasan Inka menghentikan langkahnya.


“Lo gak usah takut, gue nemenin lo.” Ujar Ozi seraya meraih tangan Inka dan mentautkan jarinya di sela jari Inka kemudian membawa gadis yang ketakutan itu, melanjutkan langkahnya.


Inka masih memandangi tangannya yang di genggam Ozi, sangat hangat dan menenangkan. Lalu ia melihat wajah Ozi yang begitu yakin membawa Inka menemui sang ayah. Seperti tidak ada ketakutan sama sekali ketika harrus berhadapan dengan kedua kakaknya.


“Mau apa lo ke sini?” hadang Andra saat melihat kedatangan Ozi dan Inka.


“A-aku mau ketemu papah Kak.” Sahut Inka dengan takut-takut.


“Bertemu papah? Jangan mimpi lo!” Andra menyeringai sarkas.


“Kak, aku mohon, izinin aku bertemu papah Kak, sebentaaarr aja. Ya kak, aku mohon...” Inka sampai bersimpuh di kaki Andra.


“NGGAK! Sebaiknya lo pergi dari sini, lo gak di terima di tempat ini.” Suara Andra meninggi membuat Inka gemetaran.


“Kak, aku mohon kak. Aku harus ketemu papah. Ada hal yang harus aku sampaikan sama papah.” Inka memegangi ujung jas Andra namun Andra malah mengangkat kakinya dan membuat Inka terjatuh.


“HEH! Lo udah kelewatan!” Ozi akhirnya ikut bersuara.


Ia segera membantu Inka bangkit tanpa menurunkan pandangannya dari Andra.


“Oh, lo mau ikut campur? Apa urusan lo di sini?” Andra menyeringai sebal pada Ozi. Ia tidak merasakan takut sama sekali karena ada sang adik, Arfan yang menemaninya.


“Urusan gue? Lo nanya urusan gue?” Ozi mendorong tubuh Andra dengan ujung jarinya.


“Urusan gue adalah, gue gak bisa liat perempuan di perlakukan kasar seperti ini. Paham?!” ujar Ozi, pelan namun penuh penekanan. Ia berusaha meredam emosinya demi tidak mengganggu keluarga pasien lain yang memperhatikan mereka.


“Oh, dan lo pikir gue peduli sama urusan lo?” Andra balas menantang Ozi.


“Harus! Sebelum gue bikin lo tidur telentang di samping bokap lo.” Ancam Ozi seraya menggeratkan kepalan tangannya.


Mata kedua laki-laki itu saling melotot dan menyimpan banyak kemarahan. Sementara Inka masih menangis sesegukan di tempatnya.


Ia sudah menduga hal ini akan terjadi. Ia akan kesulitan untuk menemui sang ayah, namun ia tidak bisa jika hanya diam saja tanpa menemui Wibisono sedikitpun. Dan sekarang, karena keras kepalanya ia membuat Ozi masuk ke dalam masalah keluarganya.


“Kak, udah lah kak. Kita biarin aja dia masuk. Toh papah juga udah gak sadarkan diri. Gak mungkin dia ngomong yang macam-macam.” Bisik Arfan yang masih bisa di dengar oleh Ozi. Tidak nyaman juga menjadi tontonan banyak orang seperti ini.


Kemarahan Ozi semakin berkumpul dalam dada. Bisa-bisanya dua laki-laki ini tidak mau mengizinkan Inka masuk hanya karena takut Inka meminta sesuatu dari sang ayah. Picik sekali pikirnya.


“5 menit! Waktu lo cuma lima menit.” Ujar Andra yang akhirnya luluh.


“Benarkah?” Inka segera bangkit dari tempatnya. Mengusap air matanya dengan kasar. Saat bertemu sang ayah, ia tidak boleh menunjukkan air matanya karena hanya akan membuat Wibisono sedih.


“Udah sana, 5 menit dan lo gak usah ngomong yang aneh-aneh!” Hardik Andra dengan kesal.


“Iya kak, 5 menit. Makasih kak.” Terbit senyum di wajah Inka dan itu membuat hati Ozi meringis. Untuk bertemu sang ayah gadis ini bahkan harus memohon, kejamnya dua laki-laki ini.


“Mas Bima, tolong temenin aku.” Ajak Inka yang tiba-tiba menarik tangan Ozi.


Dan Ozi tidak menolak, mungkin gadis ini perlu seseorang untuk menguatkannya.


****


“Pah…” panggil Inka dari balik masker yang menutupi mulutnya.


Ia mencondongkan tubuhnya pada Wibisono, berharap sang ayah mendengar suaranya.


“Ini Inka pah, Inka dateng pah.” Lirih Inka dengan tangis tertahan.


Bisa terlihat Wibisono dengan wajahnya yang pucat pasi dan ritme nafasnya yang cepat, kesesakan. Monitor terus berbunyi kasar, entah apa arti warna merah pada angka-angka yang muncul di layar monitor.


“Nak…” Tanpa di duga, Wibisono membuka matanya. Suaranya terdengar berat di antara hela nafasnya yang pendek.


“Iya pah, ini aku.” Inka menggenggam tangan Wibisono dengan erat.


Laki-laki itu berusaha tersenyum melihat kedatangan putri yang sangat ia sayangi. Tangannya yang gemetaran terangkat hendak mengusap kepala putrinya.


“Maafkan papah ya nak. Maafkan papah…” Ucap Wibisono, lirih dengan penuh sesal. Air matanya bahkan menetes begitu saja.


“Pah, papah gak perlu minta maaf sama aku. Aku yang seharusnya minta maaf sama papah karena aku gak mengurus papah dengan baik.” Suara Inka terbata-bata berusaha menahan tangisnya agar tidak pecah. Namun Inka kalah, air matanya menetes saat tangan Wibisono mengusap kepalanya dengan lembut.


Dadanya sampai sesak melihat kondisi sang ayah yang kesulitan untuk bernafas namun masih berusaha menunjukkan kasih sayangnya.


Wibisono hanya menggeleng. Sejurus kemudian, ia menatap sosok laki-laki yang berdiri di samping Inka.


“Siapa dia nak?” Tanya Wibisono.


Inka segera menoleh saat tatapan Wibisono tertuju pada Ozi.


“Oh, ini mas Bima pah. Kakaknya Bella.” Sahut Inka tanpa ragu.


Wibisono hanya tersenyum. Rupanya ini laki-laki yang selalu diceritakan Inka sejak dulu. Ia melambaikan tangannya pada Ozi dan meminta Ozi mendekat.


Ozi pun segera mencondongkan tubuhnya pada Wibisono, sejajar dengan Inka.


“Tolong jaga putri saya ya… Dia selalu kesepian dan ketakutan.” Bisik Wibisono dengan nafas tersengau-sengau.


“Iya om, saya akan menjaga Inka dengan baik. Om yang tenang dan segeralah pulih. Inka pasti sangat mengharapkan kesembuhan om.” Ujar Ozi menenangkan Wibisono.


Tanpa ia sadari, bukan hanya Wibisono yang ia tenangkan melainkan juga gadis cantik yang tersenyum haru di sampingnya.


Wibisono menggeleng.


“Waktu saya nggak banyak. Saya sudah sangat capek. Jadi tolong jaga Inka baik-baik.” Ucapan Wibisono bersamaan dengan air matanya yang menetes.


Ozi hanya mengangguk walau ia tidak tahu seperti apa cara yang bisa ia lakukan untuk menjaga Inka. Apa dengan memenuhi keinginannya untuk menjadi anak angkat Saras?


Melihat Ozi yang mengangguk yakin, Wibisono bisa tersenyum lega. Ia menggenggam tangan putrinya dengan erat.


“Papah mau tidur nak.” Ucapnya terbata-bata.


“Iya pah, papah istirahat yaa… Inka akan ada di sini.” Ucap Inka.


Perlahan, mata Wibisono meredup. Helaan nafasnya sudah tidak terlalu cepat seperti tadi. Tapi kini tangannyapun melemah dan suara monitor semakin bising.


“Mas, ini papah kenapa?” Inka mulai panik.


Tanpa menunggu jawaban Ozi, tiba-tiba beberapa petugas medis masuk ke dalam ruangan.


“Mas dan mbanya tolong tunggu sebentar.” Ujar seorang dokter yang segera menghampiri Wibisono. Ia mengambil alih posisi Inka dan Ozi.


“Pak, bapak. Pak Wibisono.” Panggil dokter itu seraya menekan-nekan dada Wibisono.


Inka menangis sesegukan di sudut ruangan dengan ditemani Ozi. Perasaannya sudah tidak karuan.


“Respon pupil negative dok.” Ucap seorang perawat yang membuat Inka terpekur. Apa yang terjadi dengan sang ayah?


Wibisono tidak merespon walau sudah di tekan-tekan di area dadanya. Hanya helaan nafasnya yang semakin lama semakin melemah.


“Silakan mas, tolong bimbing do’a untuk bapaknya.” Pinta dokter itu pada Ozi.


“Papah…” Inka segera mendekat bersamaan dengan Ozi. Ia sudah tidak menahan lagi air matanya.


Ozi mencondongkan tubuhnya pada Wibisono. Ia melafalkan kalimat takbir berulang kali di telinga Wibisono dan perlahan nafas Wibisono semakin pelan dan pelan lagi sampai kemudian terhenti.


"Innalilahi wa'inailihi rojiun." Gumam Ozi seraya mengusap air mata di sudut mata Wibisono yang sudah tertutup rapat.


“Bruk!” langit terasa runtuh bagi Inka yang kini terkulai lemah tidak sadarkan diri.


*****