
Kesibukan di kantor jelas terlihat saat menjelang makan siang. Inka bolak balik menghubungi Bella namun ponselnya masih tidak juga aktif.
“Nih anak kemana sih? Kok hp nya gak aktif mulu.” Gerutu Inka dengan wajah paniknya.
Sejak semalam di tinggalkan d rumah sakit, Bella tidak bisa dihubungi dan sampai sekarang pun sama. Padahal ia sedang sangat perlu berbicara dengan Bella.
“Ka, itu mas Tio nyari lo. Katanya mau minta izin tayang.” Roni dengan tergesa-gesa menghampiri bosnya.
Ia memberikan sebuah script iklan yang di titipkan Tio padanya.
“Izin tayang apaan?” Inka hanya melirik script yang bahkan tidak menarik perhatiannya.
“Gosipnya Bella. Gue udah larang tapi katanya lagi trending banget, banyak ajuan iklan juga. Bingung gue kalo kayak gini. Lo buruan deh samperin daripada keburu tayang tuh gosip.” Roni menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Ia tidak setuju dengan permintaan produser acara gosip namun ia tidak bisa menolak jika yang meminta adalah salah satu petinggi di PH ini.
“Nih orang-orang pada kenapa sih? Udah gue bilang jangan up berita apa-apa soal gosip Bella. Goblok banget emang!” Inka menendang tempat sampah sesaat sebelum melewati Roni hendak menuju ruangan Tio.
"BUSET!!" Roni sampai terhenyak. Bos nya sudah benar-benar marah.
Langkahnya sangat cepat sambil berusaha menghubungi Bella lagi.
“Mau kemana lo?” Indra tiba-tiba keluar dari ruangannya dan menjeda langkah Inka.
“Anjir lo bang!” Inka sampai terhenyak kaget, memegangi dadanya yang tiba-tiba berguncang kaget.
“Makanya kalau jalan tetep waspada. Rusuh banget kayak emak-emak ngejar tukang sayur.” Indra cengengesan melihat mata Inka yang melotot kesal campur kaget.
“Kurang waspada apa gue? Udah melotot kayak begini masih aja ada yang cari perkara.” Inka berdecik sebal.
“Lo ada kabar gak dari Devan? Bella susah banget di hubungin dari tadi pagi.”
Inka tidak ada waktu untuk berdiam diri. Ia melanjutkan langkahnya dan Indra mengikuti.
“Pagi tadi dia ngehubungi gue, katanya Pak Eko ngajak ketemu jam makan siang nanti. Cuma gue pikir, buat sekarang Bella mending jangan tau dulu deh. Kasian dia lagi mikirin abangnya. Gak tega gue kalo sekarang dia juga harus ngehadepin masalah segede ini.” Ucap Indra dengan wajah khawatir.
Inka melambatkan langkahnya sambil memikirkan ucapan Indra barusan.
“Tapi lambat laun dia mesti tau bang. Mungkin aja Bella punya pemikiran lain buat masalah ini.”
“Tapi Inka, mau Bella ngelakuin apapun akan keliatan salah buat sekarang. Lo mau Bella makin di bully dan di pojokin?”
Pertanyaan Indra membuat Inka tercenung. Ya, sejujurnya ia sangat khawatir dengan kondisi Bella namun menyembunyikan ini tidak akan berakhir baik. Bella pasti akan tahu, cepat ataupun lambat.
“Gue tau ini sulit tapi sambil kita nyiapin solusi buat masalah ini, baiknya Bella gak tau dulu. Devan juga udah setuju sama gue.” Lagi Indra menegaskan kalimatnya.
Inka hanya terdiam, tidak mengiyakan ataupun menolak.
Ia melanjutkan langkahnya menuju ruangan Tio. Entah apa yang harus ia lakukan sekarang, yang jelas ia hanya bisa menggenggam ponselnya erat-erat. Bersyukur juga Bella tidak bisa dihubungi jadi ia ada waktu untuk berpikir.
****
Ruangan Tio sudah ada di depan mata. Laki-laki itu langsung berdiri saat melihat kedatangan Inka.
“Ada apa lo nyari gue?” Inka langsung bertanya. Ia tidak ingin berpanjang lebar dengan laki-laki ini.
“Duduk dulu lah. Ngobrol dulu kita sebentar.” Tio menepuk kursi di sampingnya untuk Inka.
Dengan malas Inka ikut duduk.
“Di tekuk aja tuh muka, padahal gue punya info bagus buat lo.” Tio tidak lagi berlama-lama.
“Apaan?” Inka bersikap sedikit sinis. Sebenarnya ia sudah tahu maksud Tio tapi ia ingin mendengarnya langsung.
“Engagement acara gue lagi bagus nih Ka. Banyak banget tawaran iklannya. Tapi para promotor minta gue naikin gosip tentang Bella. Menurut lo gimana?”
“Gak!” Inka langsung menolak.
“Cepet banget lo jawabnya. Lo gak pertimbangin dulu? Ini cuan depan mata Ka. PH juga lagi butuh duit. Lo yakin kalau,”
“Gue yakin!” Inka langsung memotong kalimat Tio. Mulut Tio yang semula terbuka lebarpun akhirnya mengatup asam.
“Lo harus tau, selain Bella adalah bagian dari PH ini, trending-nya gosip itu juga berpengaruh sama produksi film kita. Kita memang butuh duit, PH ini lagi butuh bantuan. Tapi, gue gak bisa bikin usaha tim produksi film sia-sia gitu aja.”
“Gue masih berusaha supaya gosip murahan itu gak sampe merugikan kita.”
"Tapi Ka," Tio kembali mengangkat suara.
“DENGER GUE DULU!!!" Inka langsung mengulti dan membuat Tio terdiam.
"Coba deh lo bayangin gimana perasaannya Bella. Sekarang aja di udah ngerasa bersalah gara-gara gosip sebelumnya yang belum selesai. Di tambah gosip lain yang makin gila. Diemnya Bella itu bukan berarti dia gak mikirin apa-apa.”
“Banyak yang dia pikirin dan diemnya dia adalah salah satu cara supaya masalah ini gak semakin melebar.”
"Di pikir dia gak pengen ngomong? Gak pengen ngebela dirinya sendiri. Pengen dia juga. Tapi, pembelaan apapun cuma bakalan salah."
"Sebagian netizen itu fans-nya Amara. Yang kalau Amara bilang A, ya udah pasti bakal mereka dukung. Lah Bella, mau siapa yang ngelindungin dia selain dia sendiri dan kita-kita yang ada di dekatnya?" Inka menjelaskan dengan berapi-api.
“Ya terus menurut lo acara gue mesti bungkus? Lo mikirin juga gak berapa orang yang bakal jobless kalau program gue bungkus?” Tio terlihat sangat kesal. Menurutnya pendapat Inka terlalu subjektif sebagai sahabatnya Bella.
“Gue gak nyuruh lo bungkus. Emang ada kata-kata gue yang nyuruh program lo bungkus? Gak ada!”
“Gue cuma minta, lo jangan up berita soal Bella. Mau baik apalagi buruk berita yang lo bikin, tetep bakal ada akibat buruk yang harus kita tanggung. Jadi tolong tunggu dulu. Kita harus bijak ngadepin masalah ini.” Tutup Inka.
Tio hanya bisa mengguyar rambutnya kasar. Baginya ini pilihan yang sulit. Ia sudah melangkah sejauh ini, mengumpulkan materi sebanyak yang ia bisa terlebih sumber beritanya ada di depan mata. Tapi nyatanya konsepnya di tolak mentah-mentah oleh Inka.
“Menurut lo, gimana?” Tio masih berusaha bertanya pada Indra yang sedari tadi hanya terduduk menyimak di tempatnya.
Indra mengendikkan bahunya. “Ya, apalagi. Gue setuju sama Inka. Buat sekarang, mending kita diem. Paling nggak, kita tunggu hasil rapat siang ini sama Bos.” Tegas Indra, tidak bisa memberi solusi lebih.
Ketiganya kemudian hanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Memang tidak ada langkah yang bisa mereka lakukan selain diam untuk beberapa saat.
*****