Bella's Script

Bella's Script
Pengakuan



Suara tawa dan obrolan menghangatkan malam yang dingin di Kota Bogor. Bella masih menjauh dari keramaian karena belum menyelesaikan panggilannya dengan Ozi di sebrang sana. Perasaannya selalu tidak tenang kalau belum mendengar kabar dari sang kakak.


“Obatnya udah lo minum?” Ini pertanyaan ke empat yang Bella lontarkan. Persis polisi yang sedang menyelidik dan perlu penjelasan detail.


“Udaaahh… Udah masuk ke lambung juga kali dan otw di serap sama usus.” Terang Ozi seraya terkekeh. Mendengar Bella mencemaskannya ternyata membuat ia merasa sangat dicintai.


“Bagus. Lo gak minum kopi atau teh kan? Katanya itu menghambat kerja obat.” Bella mengutip salah satu kalimat yang ia baca di artikel.


Sejak Ozi sakit, ia memang jadi sering membaca artikel tentang Kesehatan.


“Nggak lah. Gue udah berhasil naklukin ego gue buat sembuh, jadi lo gak usah khawatir. Lagian minum kopi sekarang malah bikin gue mules. Perang kali sama efek obat di perut gue. Yang ada malah bikin mual.”


“Lo mual? Muntah juga gak?” Tanya Bella dengan cepat.


Ia sangat kaget mendengar Ozi mual karena ini salah satu tanda memburuknya kondisi tubuh sang kakak.


“Nggak, Cuma mual doang. Ngemut gula merah juga sembuh. Ngomong-ngomong lo nanya soal gue mulu. Lo di sana gimana? Betah gak? Di nyamukin gak?” Ozi berusaha mengalihkan pembicaraan. Membuat Bella semakin cemas juga terkadang tidak menyenangkan. Ia tahu benar bagaimana overthinking-nya sang adik.


Bella tercenung sejenak, tentu saja saat ini kabar Ozi yang lebih penting di antara kabar-kabar lainnya.


“Lo gak sibuk sendiri kan di sana? Roni sama Devan jagain lo kan?” Lagi Ozi bertanya.


Bella jadi tersenyum kecil mendengar pertanyaan beruntun dari Ozi. Ia melihat ke sekeliling area camping dan hangatnya kebersamaan di area camping memang jelas terasa. Seperti mengulang memory beberapa tahun silam dimana Bella saat berada di departemen artistikpun pernah syuting di alam terbuka seperti ini dan di akhiri dengan camping. Ozi bahkan pernah menyusulnya.


Masing-masing langsung mengambil peran tanpa di minta. Ada yang sibuk membagikan alat makan, mengatur tata letak makanan dan ada juga tim yang sibuk menyiapkan barbeque. Akh, kebersamaan seperti ini memang selalu menyenangkan untuk di ulang.


“Seru, di sini seru.” Sahut Bella dengan yakin.


“Lain kali, kita camping ya bang, sama mamah juga.” Lirih Bella. Ia tidak persis ingat kapan terakhir mereka pergi liburan bersama, menghabiskan waktu untuk saling bercengkrama dan tertawa.


“Iya lah. Lo ajak sendiri nih mamahnya. Baru pulang dia dari butik. Hari ini telunjuk kanannya ketusuk jarum lagi.” Ozi menekan mode loudspeaker agar Saras pun mendengar perbincangan mereka.


“Abang mah malah bilang.” Saras mencubit pipi sang anak yang sedang berbaring dan menjadikan kedua kakinya sebagai bantal.


“Mah, mamah gak apa-apa?” Tanya Bella, tiba-tiba ia jadi sentiment.


“Gak apa-apa sayang. Abang kamu aja ini yang lebay.” Kali ini hidung Ozi yang dicubit oleh Saras.


“Hahahahaha… Dia pasti pengen pulang mah. Dasar si cengeng.” Ledek Ozi dari kejauhan.


“Ehhh… Abang.. Nanti adeknya beneran pengen pulang dan nekad, baru tau rasa.” Saras sedikit menjauhkan ponselnya agar Bella tidak mendengar namun sayup-sayup Bella masih mendengarnya.


Ia tersenyum kelu seraya menghela nafas dalam lantas ia jadi berpikir, setelah apa yang ia putuskan dua hari ke belakang, bisakah ia tetap mendengar tawa Ozi yang renyah ini? Akahkah kecemasan Saras hanya sebatas mencemaskan Bella yang suka telat makan.


“Mah, bang, maafin adek ya…” Lirihnya penuh dengan kesungguhan.


Perlahan ia mengusap air matanya yang jatuh menetes di pipi. Ia berusaha untuk tidak terisak.


“Maaf kenapa sayang?” Tanya Saras yang mulai cemas.


Bella tidak lantas menjawab. Ia menjauhkan ponselnya lantas menengadahkan kepala untuk menghalau air matanya agar tidak menetes. Akh, rasanya sangat sesak dan berat saat nafas di hela. Ia berdehem untuk menetralisir suaranya.


“Mungkin, dalam beberapa hari ke depan akan ada yang datang ke rumah. Adek minta maaf, karena mengundang seseorang tanpa meminta izin mamah dan abang terlebih dahulu. Maaf yaa…” Bella tidak dapat menyembunyikan isakannya.


Satu hal yang kini ada di benaknya, ia tidak bisa terus bersikap tidak adil pada adik sambungnya. Benar adanya bahwa anak itu tidak hanya membutuhkan rumah untuk bernaung, namun membutuhkan kehangatan di dalamnya. Karena itulah ia memberitahu alamat rumahnya dan mengundang Ibra untuk datang, kapanpun ia mau.


“Jangan menangis sayang. Terima kasih adek udah ngasih tau. Mamah dan abang akan mempersiapkan diri kalau suatu waktu dia datang ke rumah ini.” Ujar Saras dengan suaranya yang hangat dan menenangkan. Walau Bella tahu, ibunya sedang menahan sesak dalam dada.


“Makasih mah.” Hanya itu yang bisa Bella ucapkan.


“Ya udah, adek nemuin dulu temen-temen ya mah. Mamah sama abang jaga kesehatan. Adek sayang mamah sama abang.”


“Iya sayang, mamah juga sayang adek. Take care ya nak...” Hanya Saras yang menyahuti dan entah kemana suara Ozi sekarang.


Panggilan berakhir. Yang tersisa sekarang adalah Ozi dan Saras yang sama-sama mematung di sebrang sana. Ozi yang tetap berbaring dengan kedua kaki Saras sebagai bantalan. Matanya menatap satu titik kosong di hadapannya.


Begitupun dengan Saras, ia terpaku di tempatnya dengan tangan kanan yang masih berada di atas kepala Ozi namun tidak lagi mengusapnya dengan lembut. Pikirannya sama-sama menerawang, memikirkan apa yang akan ia lakukan jika anak itu datang ke rumahnya. Bisakah ia bersikap ramah?


Sementara Bella, ia berjongkok lemah di atas rerumputan yang basah. Ia menelungkupkan kepalanya di atas lengan yang ia jadikan bantalan. Ia menangis sesegukan di sana, tangis yang ia tahan saat berhadapan dengan Ibra. Baru kali ini ia bisa menumpahkan emosinya yang semula ia tahan.


Ia masih mengingat bagaimana ekspresi tidak berdaya yang di tunjukkan Ibra saat itu. Dan entah mengapa, ingatan itu seperti tengah menghakiminya. Menghakimi keegoisannya karena terus menyisihkan seseorang yang seharusnya ia akui keberadaannya.


Hingga di hari itu, tiba-tiba pikirannya terbuka. Ia membuat sebuah keputusan yang besar dalam hidupnya. Keputusan yang seharusnya ia ambil sejak lama, agar tidak menyiksa Ibra dan dirinya sendiri.


Ya, selama mengabaikan Ibra, ia sadari sebenarnya bukan hanya Ibra yang tersiksa melainkan dirinya sendiri. Ia seperti menyimpan sekam kemarahan, kekecewaan dan rasa tidak terima kalau ada orang yang tidak seharusnya hadir dalam hidupnya. Harusnya hidupnya tidak begini.


Semakin lama, sekam itu berubah menjadi nyala api yang membakar hatinya sendiri, menyisakan bekas luka yang Bella sendiri tidak tahu cara mengobatinya.


Namun hal tidak terduga terjadi. Tepatnya saat ia memutuskan untuk membiarkan Ibra masuk dan mengenal keluarganya. Sisa nyala api di hatinya seperti padam dengan sendirinya. Menyebutkan alamat rumah dan mengundang Ibra untuk datang ternyata membuat rasa sakit dan sesak di hati Bella berkurang. Seperti ini rupanya perasaan yang muncul saat ia berhasil mengalahkan egonya sendiri. Lega,, ya kelegaan yang belum pernah Bella rasakan sebelumnya.


Satu kalimat yang ia persis ingat sebelum ia pergi,


“Kak, kematian papah bukan kesalahan lo. Dia pergi bukan karena lo terlalu keras mengejarnya dan dia bukan ingin mengabaikan lo seperti yang lo pikir selama ini.”


“Dia hanya berpikir, kalau saat itu dia tidak punya cukup keberanian untuk mengahadapi orang-orang yang dia sakiti dan mengakui semua kesalahannya. Buat papah, lo putri terbaik yang pernah dia punya dan akan selalu seperti itu. Dan lo harus ingat, tidak ada yang bisa menolak takdir tuhan.” Tegas Ibra yang bersimpuh lemah di hadapan Bella.


Bella seperti tertampar. Tapi entah mengapa tamparan itu seperti menyadarkannya pada rasa bersalah karena kecelakaan yang terjadi di depan matanya.


Di waktu yang bersamaan, ucapan Ibra seperti obat dari perasaan bersalahnya selama ini. Ia selalu mengandai-andai, jika saja saat itu ia tidak keras kepala memanggil-manggi papahnya, mengejarnya dan memaksanya untuk menjelaskan semuanya, mungkin Papahnya tidak akan pergi untuk selamanya.


Dan tanpa sadar, kejadian itu memberinya perasaan bersalah yang ia simpan dalam-dalam.


“Jika saja aku tidak membuat papah merasa di pojokkan, mungkin aku, abang dan mamah tidak akan kehilangan papah. Tidak akan ada anak kecil yang terpaksa menjadi yatim piatu gara-gara aku. Tidak akan ada seorang anak yang tidak tahu bagaimana menghadapi hari esok dengan penuh ketakutan.” Pikir Bella saat itu.


Dengan semua rasa bersalah itu, ia mencoba menebusnya. Ia berusaha untuk tidak menjadi beban baik untuk Ozi ataupun Saras. Ia berusaha berdiri di atas kakinya sendiri sejak ia remaja. Ia pun mengambil alih tanggung jawab untuk mencukupi kebutuhan Ibra. Hingga tanpa ia sadari, kebutuhan orang-orang di sekitarnya bukan hanya kebutuhan material.


“Jangan lakukan itu lagi kak. Jangan terlalu keras sama diri lo sendiri. Lo gak harus memikul semua beban dan menaruhnya di pundak lo. Gue gak butuh apapun lagi, selain ada lo di dekat gue dan ngakuin keberadaan gue.” Tulis Ibra pada pesan yang ia kirim dan selalu Bella pandangi.


Anak kecil itu rupanya tumbuh menjadi remaja yang dewasa. Ia telah menyadarkan Bella akan banyak hal. Dan entah mengapa, sejak hari itu Bella merasa beban di dadanya tidak lagi seberat dulu. Rasa sesak di dadanyapun tidak sesakit itu.


Kini ia bisa mengakui pada dunia kalau, papahnya meninggal karena kecelakaan. Ia meninggalkan seorang anak yang kemudian menjadi adik untuk Bella. Apa pengakuan ini yang membuat perasaannya merasa lebih lega?


*****