Bella's Script

Bella's Script
Belskyy, jangan bikin gue bingung!



Pernah gak sih kalian merasa kalau weekend itu sangat cepat berlalu tapi weekday itu terasa berjalan sangaaat lambat?


Hal itu juga yang saat ini sedang dirasakan Bella. Rasanya baru kemarin ia menikmati break syuting panjang tapi sekarang sudah harus mulai bekerja lagi. Tubuhnya seperti belum selesai di recharge.


Ada rasa menyenangkan sebenarnya bertemu lagi dengan weekdays karena itu berarti Bella bisa mulai melanjutkan rutinitas pekerjaan dan melupakan beberapa saat masalah pribadinya.


Ada kalanya pekerjaan itu seperti pelarian terbaik dari sebuah masalah. Ada yang setuju?


Di depan cermin saat ini Bella sudah selesai mematut diri. Ia terlihat cantik dengan outfit casual yang menjadi ciri khasnya. Rambutnya ia kepang ekor kuda dengan juntaian sampai ke bahu. Di helanya nafas lega saat ia merasa penampilannya sudah cukup rapi.


Beberapa barang ia masukkan ke dalam tas, ia yakin hari ini pekerjaannya akan terasa lebih berat setelah efek libur kemarin.


Keluar dari kamar dan ia langsung menuju meja makan. Baru beberapa langkah di ambilnya, ia langsung melambatkan langkah kaki berikutnya. Ia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat seseorang yang ikut duduk di meja makan dan sedang menikmati sarapannya.


“Sarapan sayang, mamah udah bikin nasi goreng kesukaan adek.” Panggil Saras saat melihat Bella yang ragu untuk mendekat.


“Iya mah.” Gadis itu berusaha tersenyum kecil dan melanjutkan langkahnya menuju meja makan.


Tiba di meja makan Bella mendapat perhatian dari dua laki-laki yang duduk bersisian.


"Pagii.." Bella hanya menunduk, pura-pura menggeser kursi yang akan ia duduki.


Ozi tersenyum kecil saat melihat sang adik yang terlihat canggung duduk berhadapan dengan Devan.


"Pagiii.." Sapa Ozi dan Devan bersamaan.


Menyenangkan rasanya melihat Bella tampil segar seperti ini.


“Mau gue ambilin?” Tawar Ozi Bella hanya terdiam di tempatnya.


“Gue ambil sendiri.” Bella segera mengambil piring yang ia isi dengan nasi goreng. Sesekali ia melirik Devan yang masih memandanginya.


Akh tatapan Devan itu selalu membuat Bella harus menghela nafasnya dalam untuk mengendalikan dirinya sendiri. Bagaimana bisa laki-laki itu tenang saja memperhatikannya sambil menikmati nasi goreng?


“Sudahlah, ngapain juga gue canggung. Devan kan gak mungkin ada maksud apa-apa ngeliatin gue.” Gumam Bella dalam hatinya, walau ia mengenal benar arti kilatan yang terlihat di mata Devan.


Bella mengambil alat makannya dan di waktu yang bersamaan Devan mendorong toples berisi bawang goreng mendekat pada Bella.


“Thanks.” Ucap Bella kaget seraya memandangi Devan dan laki-laki itu hanya tersenyum kecil dan menghentikan kunyahannya. Akh bikin gemetar saja.


“Devan sengaja di suruh ke sini sama mamah, soalnya mamah khawatir sakitnya kambuh gara-gara kurang makan. Tapi baru hari ini dia dateng. Nanti lo berangkat bareng Devan aja, di luar masih gerimis soalnya.” Terang Ozi yang memberi penjelasan tanpa di minta.


Ia memberitahu yang sesungguhnya. Setelah Devan sakit, Saras memang memintanya untuk datang atau menginap saja di rumah ini. Namun Devan menghargai keinginan Bella untuk tidak bertemu sementara dengannya. Hingga baru hari ini ia datang karena sudah pasti Bella pun tidak bisa menghindar untuk bertemu dengannya.


Bella melihat keluar jendela dapur dan benar saja, masih ada gerimis di luar sana.


“Gak ada yang larang juga buat dia datang ke rumah ini.” Timpal Bella berusaha tenang. Satu tangannya merogoh tepat sendok untuk mengambil garpu.


“Sejak kapan makan nasi goreng pake sendok sama pisau roti?” Ledek Ozi saat melihat Bella yang mengambil pisau roti alih-alih garpu.


Ketenangannya bohong.


“Sejak hari ini.” Sahut Bella yang kesal karena di sindir. Ia berdecik sebal sementara Ozi hanya terkekeh melihat tingkah sang adik yang bersikukuh menggunakan pisau roti untuk makan.


“Abaaang… Malah di godain adiknya. Bukannya di ambilin garpunya.” Protes Saras yang membawakan garpu bersih dari tempat cuci piring.


“Makasih mah. Tau nih, resek emang!” Dengus Bella seraya mendelik.


"Buat ini maksudnya!" Ia memotong kasar telur mata sapi di piringnya. Ada saja alasannya yang membuat Ozi mengangguk-angguk seraya tersenyum.


Diliriknya Devan dan laki-laki itu hanya tersenyum tipis. Dalam hatinya menertawakan Bella juga kah?


“Lo mending pake kacamata deh Van!” Cetus Bella tiba-tiba tanpa berani menatap Devan yang sesekali melirik dan mencuri pandang.


“Untuk?” Devan balik bertanya. Ia dan Ozi sama-sama mentautkan alisnya bingung. Saras juga ikut menoleh ke belakang.


“SSppprtt!!” Ozi berusaha menahan tawanya hingga makanannya hampir muncrat. Ia mengerti benar, kalau tatapan Devan membuat adiknya salah tingkah.


“Gak usah berisik. Nih makan!” Bella menaruh dua telur ceplok di piring Ozi agar sang kakak diam dan makan saja.


“Okey, okey.. Ampun.” Ia mengangkat tangannya menyerah walau masih berusaha menahan tawa. Tidak tega juga melihat Bella yang seperti salah tingkah sampai berbicara dan bersikap yang aneh-aneh.


“Okey, lain kali gue pake kacamata. Sorry, udah bikin lo gak nyaman.” Devan menjawab seadanya. Ia tidak mengerti bahwa permintaan Bella karena Devan terus menatapnya lekat hingga membuat perasaannya tidak karuan.


“Sayang, ini mamah bawain bekel makanan yaaa, buat adek sama Devan. nanti makan siangnya jangan yang aneh-aneh.” Aksi Saras berhasil mengalihkan pembicaraan walau tetap membuat Bella dan Devan akhirnya harus saling terikat.


“Wah makasih tante. Devan jadi cepet sembuh berkat makanan-makanan yang tante kirim ke rumah. Maaf juga karena merepotkan.” Timpal Devan dengan penuh semangat dan full senyum pada Saras.


Bella sampai menatap tidak percaya pada laki-laki di hadapannya, ceria sekali. Ia juga sampai tidak tahu kalau Saras selalu mengirimkan makanan untuk Devan selama beberapa hari ini.


“Sama-sama. Nanti di makan yaa…” Saras menepuk dua lunch box yang ia tempatkan di samping Bella.


“Makasih mah.”


“Makasih tante.”


Sahut keduanya bersamaan, membuat mereka saling lirik. Devan tersenyum kecil saat Bella meliriknya sementara gadis itu segera memalingkan wajahnya.


“Gue bilang juga pake kacamata!” Gerutu Bella dalam hati. Akh tatapan Devan benar-benar menganggu pikirannya.


Menuruti permintaan Bella, Devan benar-benar memakai kacamata hitam. Mereka sudah berada dalam mobil dengan penjalanan menuju kantor.


Bella jadi menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat permintaannya sepertinya salah. Ia memang meminta Devan memakai kacamata hitam, maksudnya agar ia tidak terus bertemu pandang dengan tatapan Devan yang sering kali membuat perasaannya tidak karuan. Tapi saat Devan memakai kacamata hitam, laki-laki itu malah terlihat keren. Apalagi saat rambut gondrongnya terkena hembusan angin dari jendela yang sengaja ia buka.


Wuihhh... Cahaya matahari menjadi pencahayaan paling bagus saat jatuh ke wajah Devan yang terlihat segar dan ceria. Bibirnya bahkan seolah terus tersenyum.


Lalu coba kalian bayangkan cara Devan mengguyar rambutnya yang berhamburan saat terkena angin, aaakkhh rasanya Bella ingin berteriak dan membuat wajahnya memerah. Baru Bella sadari juga kalau Devan memotong sedikit rambutnya hingga terlihat lebih rapi.


Deg,


Jantung Bella mulai berdetak tidak menentu.


Tunggu, sejak kapan melihat penampilan Devan menjadi menarik untuk diperhatikan?


“Aduuhhh Bella… Otakmu ituu mikirnya kemana aja sih?!” Gerutu Bella dalam hati. Tangannya tidak berhenti menepuk-nepuk dahinya sendiri.


“Kenapa, lo pusing?” Tanya Devan yang membuat Bella membuka matanya kaget.


“Hah, enggak.” Cepat-cepat Bella memperbaiki posisi duduknya menjadi tegak.


“Udah lo gak usah pake kacamata item.” Cetus Bella lagi dengan lirikan kecil pada Devan.


“Hah?!” Devan sampai menoleh kaget. Tadi diminta pakai kacamata, sekarang jangan.


“Nanti jalannya gak keliatan!” Lanjut Bella saat melihat Devan yang tampak bingung.


“Keliaan jelas kok. Malah ngebantu banget biar gak silau kena cahaya matahari.” Devan menjawab seadanya.


“Terserah lo deh.” Sahut Bella ketus. Ia sedikit memiringkan tubuhnya ke sebelah kiri, menarik tubuhnya sedikit menjauh dari Devan.


“Okey, gue buka.” Menuruti permintaan Bella itu lebih baik menurut Devan.


Ia melepas kacamatanya walau terlihat jelas wajahnya yang bingung. Ada apa sebenarnya dengan Bella yang kini berusaha menahan senyum karena Devan menuruti kemauannya.


“Bingung kan lo Van? Sama gue juga. Belskyyyy…. Lo kenapa sih? Jangan bikin yang nulis bingung deh!” Auhor.


*******