
Malam hari.
Malam yang dinanti Devan akhirnya tiba. Ia sedang mematut dirinya di depan cermin dengan pakaian rapi yang sudah di siapkan Bella.
Malam itu ia mengatakan kalau ia akan menghadiri undangan dari rekanannya sekaligus menyelesaikan masalah dengan seseorang. Ia tidak menceritakan detailnya, hanya saja ia mengatakan kalau Bella tidak perlu ikut karena mungkin ia tidak akan lama.
Sebenarnya Bella penasaran dengan apa yang akan dilakukan Devan tapi ia mencoba menghormati pilihan suaminya dalam menyelesaikan masalah yang sedang ia hadapi. Ia yakin, lambat laun Devan akan menceritakannya.
Masih membantu Devan bersiap, Bella memandangi pantulan sosok suaminya di kaca. Ada rasa tidak rela membiarkan laki-laki ini pergi seorang dari. Tidak terbayang berapa pasang mata yang akan menatapnya penuh kagum. Akh, membayangkan ini saja ia sudah cemburu.
“Suami aku ganteng banget sih. Wangi lagi.” Ucap Bella seraya mengusap bahu dan punggung Devan yang tegap untuk merapikan jas yang di pakai suaminya.
Ini kali kedua Bella melihat Devan mengenakan jas, setelah sebelumnya memakai jas di acara pernikahan mereka.
“Istriku mengurusku dengan baik, mana mungkin aku tidak terlihat keren.” Timpal Devan yang memandangi Bella dari pantulan cermin.
Rambutnya yang tercepol sembarang, membuat Devan bisa melihat leher jenjang Bella yang menjadi salah satu daya tarik terfavorit untuk ia kecup.
"Aku gak bisa bayangin, berapa perempuan yang akan melirik Mas nanti di sana." Gumam Bella yang masih terdengar samar oleh Devan.
Devan tidak lantas menimpali, ia hanya tersenyum sekali lalu dengan satu tangannya yang kekar, ia menarik tubuh Bella hingga berada di hadapannya. Ia menatap lekat wajah yang merona itu lalu mengecup pipinya.
"Rupanya istriku bisa cemburu juga." Devan mencolek hidung bangir Bella. Seketika wajah Bella merona karena malu.
"Terima kasih sudah mengurusku dengan baik." Ucapnya dengan penuh kesungguhan.
Dulu saat melajang, Devan kerap kebingungan sendiri dalam hal penampilan. Karakter wajahnya yang dingin dipadu dengan cara berpakaiannya yang asal, tanpa memikirkan penampilan, membuat Devan cederung terlihat urakan. Dalam acara apapun, penampilannya akan sama saja. Celana jeans dan kaos polos. Baru saat dekat dengan Bella ia mulai memperhatikan penampilannya.
Dan setelah menikah dengan Bella, penampilannya jauh berubah. Ia tetap dengan gayanya yang santai namun tidak lagi terkesan urakan. Bella pandai mematutkan penampilan suaminya agar lebih rapi. Sebisa mungkin Bella selalu memprioritaskan kebutuhan suaminya, termasuk dalam hal penampilan.
"Iyalah, Mas adalah suamiku, mana mungkin aku mengabaikan penampilan Mas. Mas kan seorang sutradara hebat, penampilan juga perlu diperhatikan, apalagi Mas sekarang mengenal banyak orang di sini. Ingat, di sini tidak sesantai di Singapore." Bella setengah berbisik di ujung kalimatnya.
"Untuk itu, aku berterima kasih, sayang. Jika kemudian banyak wanita yang melirikku, ya itu urusan mereka. Urusanku hanya dengan kamu, tidak akan pernah ada wanita lain." Tegas Devan.
"Waaww,, Aku sungguh beruntung. Apa Mas bisa berjanji untuk itu?" Bella mengacungkan jari kelingkingnya pada Devan.
"Kenapa tidak? Aku bahkan sudah membuat perjanjian yang lebih berat dari ini. Dengan Ozi dan tentu saja dengan Tuhan." Devan balas mentautkan kelingkingnya di kelingking Bella. Lantas ia kecup tangan Bella dengan lembut.
Mendengar ucapan Devan, hati Bella sungguh tersentuh. Laki-laki ini mengatakannya tanpa ragu dengan tatapan tajam pada Bella. Dengan sikap Devan seperti ini, semakin lama kepercayaan dalam dirinya semakin tumbuh. Bukan hanya kepercayaan pada Devan melainkan kepercayaan pada dirinya sendiri, bahwa ia layak untuk bahagia.
"Cup!" Sebuah kecupan tiba-tiba di daratkan Devan di bibir Bella, membuat Bella cukup terkejut.
"Mas,..." Bella berusaha menghindar. Ia melerai pelukannya dari Devan.
"Kaget ya? Makanya jangan ngelamun, apa lagi ngeliatin aku kayak gitu. Aku berasa lagi di introgasi tanpa kata-kata, tau Bell..."
“Maaf... Habisnya aku masih gak percaya kalau kamu benar-benar suami aku. Teriakan aku di ujung lapang basket dulu, ternyata jadi kenyataan.” Bella terkekeh geli mengingat tingkahnya dulu.
"Tapi waktu itu kamu beneran berani loh yang. Sampe gak bisa ngomong aku. Dan ingatan itu sering kebawa di mimpi aku."
Menyenangkan bagi Devan saat mengenang sedikit moment mereka saat kecil dulu.
"Itu sih gara-gara temen-temen nantangi aku mulu. Aku juga gak ngerti dapet keberanian dari mana waktu itu."
"Berarti sejak dulu kamu udah suka sama aku. Cuma gak nyadar aja. Iya kan?" Devan mendekatkan dirinya pada Bella lantas mengusap punggung sang istri dengan sensual.
“Aku tau kamu menyukainya kan?” Bisik Devan di telinga Bella yang ia kecup dan usap-usap dengan hidungnya yang bangir.
“Suka. Tapi jangan sekarang yaa, nanti kamu terlambat.” Bella sedikit mendorong tubuh Devan menjauh darinya dan menunjuk jam di dinding. Kalau tidak di hentikan, ini akan berkelanjutan.
“Akh, aku sangat malas. Tapi ini harus segera selesai.” Gumamnya, yang masih bisa Bella dengar.
Bella menangkup wajah suaminya dengan kedua tangan. Di tatapnya wajah itu dengan penuh cinta.
“Aku semangatin yaa,,, Biar masalahnya cepet selesai. Aku juga mau nandain mas biar gak ada yang berani ngelirik Mas.” Tutur Bella tanpa melepaskan pandangannya dari Devan.
“Oh ya? Gimana caranya?” Devan menunggu dengan penasaran.
Bella hanya tersenyum, membawa Devan membungkuk ke arahnya lantas menjinjitkan kakinya untuk mengikis jaraknya dengan Devan.
“Cup!” Satu kecupan Bella berikan, membuat suaminya menatapnya dengan penuh keterkejutan.
“Itu buat semangatnya. Selanjutnya buat nandain kamu biar gak dilirik wanita lain.” Bella tersenyum nakal pada suaminya.
“Go ahead!” Devan menunggu dengan tidak sabar.
Bella kembali menjinjitkan kakinya lantas menambah kecupan yang tadi ia berikan pada Devan. Tidak hanya mengecupnya, kali ini Bella menyesap kuat dan mengigit bibir Devan yang sensual. Merasakan gairah sang istri, Devan membalas pagutan Bella tidak kalah kuat. Tubuhnya yang tinggi sampai melengkung, mengungkung agresif tubuh Bella yang lebih pendek darinya.
Lidahnya menerobos masuk ke rongga mulut Bella, bertukar saliva dan saling mengabsen seisi rongga mulut satu sama lain hingga Bella terengah nyaris kehabisan nafas.
Devan melepas pagutannya di sela gairahnya yang masih menggebu. Ia ingin menikmati moment ini lebih lama lagi tapi keinginan untuk segera menyelesaikan masalahnya begitu mendesak.
Sambil menenangkan helaan nafasnya yang menderu, Devan menempatkan dahinya di dahi Bella. Mata keduanya sama-sama terpejam dengan nafas menderu yang berangsur mereda.
“Aku gak akan lama, kita akan meneruskannya nanti. Hem?” Devan membuat janji dengan sang istri.
Bella hanya terangguk kecil, mengiyakan ajakan suaminya.
Setelah mereka mulai tenang, dua pasang mata itu kembali terbuka. Tatapannya yang saling mengunci di akhiri dengan satu kecupan manis dari Devan.
“Mas, Inka mengajakku pergi malam ini. Apa boleh?” Izin Bella pada suaminya.
“Boleh. Tapi jangan terlalu lama yaa… Dan berhati-hatilah…” Pesan Devan seraya mengusap kepala Bella dengan sayang.
“Iya. Aku pastikan akan sampai di rumah sebelum kamu sampai Mas.”
“Baiklah. Have fun.”
Di peluknya tubuh mungil Bella dengan erat. Rasanya sangat sulit ketika harus berpisah padahal gairah sudah menguasai tubuh dan pikirannya.
Bella menepuk-nepuk punggung Devan, ia ingin menyemangati suaminya.
*****
Coming Soon