
Mengetahui pertanyaan request itu dari Jihan, Inka segera mengalihkan tatapan tajamnya pada Jihan. Tidak hanya itu, ia bahkan mengacungkan jari tengahnya pada wanita yang berdiri tegak di salah satu sudut.
Jihan hanya tersenyum kecil. Alih-alih menanggapi kekesalan Inka, ia memilih pergi. Dalam pikirnya, boleh saja ia mengalah tapi ia tidak ingin hancur sendirian. Jika ia hancur, maka semuanya harus hancur, termasuk jika harus menghancurkan film ini.
“Sialan tuh perempuan gila!” dengus Inka.
“Udah Ka, kita dengerin dulu jawaban Ara.” Bella masih berusaha tenang walau ia tidak tahu jawaban apa yang akan diberikan Amara.
“Iya, mereka pernah bersama-sama.” Sahut Amara seraya melirik Bella dengan tidak suka. Andai saja dulu ia yang lebih dulu menjadi kekasih Rangga, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.
“Mereka pernah berpacaran selama 8 tahun.” Amara membuat jawabannya semakin lengkap untuk di komentari.
“Sh^t! Apa sih maksud perempuan ini." Inka semakin meradang.
"Ini kolom komentar langsung rame Ka.” Ujar Tio yang menunjukkan tayangan gosipnya yang di tayangkan lewat media sosial.
Beragam komentar muncul di sana dan mengait-ngaitkan banyak kejadian dalam klarifikasi ini.
“AAKHHH!!! Kesel gue!!!” eram Inka dengan tertahan.
Ia sudah kehabisan akal karena panik, begitupun dengan Devan yang mulai terlihat tidak tenang.
“Lalu, benarkah kalau saat itu, kamulah yang menjadi orang ketiga dalam hubungan Bella dan Rangga?” tanya Luna dengan penuh selidik.
“SIAL!” Roni ikut emosi mendengar pertanyaan Luna.
Amara tidak lantas menjawab, sepertinya ia baru tersadar kalau jawaban ia yang sebelumnya menjadi jebakan untuk dirinya sendiri.
“Okey, kebetulan di sini juga ada King nih yang duduk di kursi penonton. Wah ada Bella juga di sampingnya. Gimana kalau kalian ikut gabung di sini juga. Boleh?” dengan sengaja Luna meminta cameramen mengarahkan kameranya pada Bella dan Rangga yang duduk bersisian.
Amara sudah putus asa di tempatnya. Ia sudah menyerah jika kemudian para fans-nya berbalik menjadi pembencinya karena jawabannya beberapa saat lalu.
“Boleh.” Sahut Bella dengan berani.
Tidak ada pilihan lain bagi Bella selain menghadapi masalahnya saat ini.
“Bell…” Inka berusaha menahan tangan Bella namun Bella melepaskannya. Ia beranjak menghampiri Luna yang menunggunya dengan tidak sabar.
Di belakang Bella, ada Rangga yang mengekorinya. Sepertinya laki-laki ini pun tidak punya pilihan lain selain mengikuti Bella.
“Van! Gimana ini?!” Inka memberi kode pada Devan yang berdiri di kejauhan.
Laki-laki itu hanya terdiam, ia membiarkan Bella dengan keputusannya. Ia berharap, Bella bisa dengan bijak menjawab setiap pertanyaan.
*****
Terduduk di depan kamera, bukan hal yang biasa bagi Bella. Ia sedikit memincingkan matanya saat lampu sorot tertuju padanya. Tidak ada riasan sama sekali di wajahnya selain lip tint yang masih bersisa sedikit di bibirnya.
“Bell, gue tau lo bijak. Ayo Bell, lo pasti bisa.” Gumam Inka seraya memandangi wajah Bella di monitor camera utama.
Ia bersama crew lain mengelilingi monitor itu.
“Kabar baik. Iya betul, saya yang menulis naskah untuk film ini.” Bella menjawab dengan seramah mungkin.
“Waw, senang bisa bertemu langsung dengan seseorang yang bisa sukses di usia muda seperti kamu. Aku denger kamu sudah membuat banyak karya yang di buat film, sinetron dan mini seri. Itu keren Bell.” Pujian Luna terasa seperti buaian yang bersiap menyambut Bella jatuh.
“Terima kasih atas apresiasinya.” Bella mengangguk takzim pada Luna.
“Tapi maaf nih Bell, kita ada sedikit konfirmasi, soal gossip yang saat ini beredar."
"Aku melihat kalau akun media sosial kamu sekarang di banjiri follower hingga ratusan ribu tapi sayangnya sebagian besar, mereka menghujat kamu. Nah, apa tanggapan kamu soal masalah ini? Bener gak sih kalau sebenarnya Amara itu orang ketiga di hubungan kamu dan Rangga?” pertanyaan Luna membuat Bella seolah berdiri di tebing yang curam.
Salah-salah melangkah, ia akan terjatuh dan hancur.
Bella menghela nafasnya dengan dalam, ia berusaha menenangkan pikirannya sebelum menjawab pertanyaan Luna.
“Pertama-tama, saya minta maaf kalau gossip ini membuat banyak orang sibuk memikirkan kehidupan pribadi kami.” Bella memulai kalimatnya dengan tegas dan berani, membuat orang-orang semakin fokus menyimak, tak terkecuali Devan.
“Seperti yang dikatakan Amara tadi, video yang tersebar memang hanya cuplikan BTS kami. Kami sengaja mengabadikannya, untuk dokumentasi sekaligus menyemangati kami dan evaluasi terhadap proses syuting untuk perbaikan kedepannya. Saya harap soal itu sudah clear yaa… Jadi video itu sudah jangan di anggap lagi sebagai video perselingkuhan. Kalau mau lebih jelas, saya bisa tayangkan video yang sama dari sudut yang berbeda.”
“Oh boleh, silakan.”
Bella menoleh ke arah Devan dan laki-laki itu sudah paham. Rupanya ini alasan Bella memintanya untuk bersiap menayangkan video yang diambil dari kamera lain.
Devan segera mengambil alih kamera utama untuk menayangkan video itu.
Video berdurasi 9 menit itu mulai di putar. Di mulai dari persiapan syuting hingga penataan tempat. Semua di putar secara alami tanpa ada yang di tambahkan ataupun di potong.
"Bella yang nyiapin ini?" Tanya Inka pada Devan.
"Iya, dia minta video ini ke Kemal tadi pagi. Dia bilang, dia harus bersiap untuk hal terburuk." Terang Devan.
"Waahh, Bella emang cerdas." Puji Indra.
Devan tersenyum dalam hati saat ia sadar kalau Bella sudah belajar banyak hal. Ia tidak lagi senaif dulu, ia benar-benar mempersiapkan dirinya menghadapi masalah ini.
"Aku mau nyelesein ini Mas. Aku udah nggak mau membiarkan mereka bertingkah seenaknya. Mereka harus tau, kalau aku gak semudah itu diinjak dan di jatuhkan." Ujar Bella semalam.
Dan hari ini Bella membuktikannya.
“Itu video aslinya.” Ujar Bella setelah tayangan itu berakhir.
“Okeeyy, jadi clear ya netizen, kalau video itu bukan video perselingkuhan Bella dan Rangga.” Satu kalimat menyakitkan yang terpaksa harus Luna akui.
“Sekarang, kalau soal isu Amara itu selingkuhan Rangga, tanggapan kamu gimana?” Ini pertanyaan kedua yang Luna minta jawab.
"Brengsek nih si Luna!" Inka kalang kabut mendengar pertanyaan yang memojokkan Bella.
****