Bella's Script

Bella's Script
Jutaan bunga



Sampai di lokasi syuting, crew di buat terkejut dengan banyaknya bunga yang di kirim ke lokasi. Beragam bunga ada di sana dengan warna yang berbeda-beda membuat penuh ruang istirahat para artis. Wanginya yang bercampur dan menyeruak ternyata malah membuat pusing.


“Buseett ini bunga banyak amat. Sekebon raya nih kayaknya habis di petik. Dari mana sih?” Tanya Roni yang terkejut melihat pagi ini bunga mengisi area syuting.


“Dari fansnya si cantik Amara. Tuh masih banyak di mobil juga belum saya turunin.” Jawab seseorang yang mengaku sebagai kurir untuk mengirim bunga ini.


“Namanya siapa mas? Kok gak ada kartu namanya?” Lisa yang kebingungan mengatur tempat bunga pun ikut bertanya.


“Bos saya yang tau, kalau saya kan cuma nganterin doang.”


“Tadi ada sih satu yang ada kartu namanya tapi saya nggak tau yang mana. Kelupaan saya mba saking banyaknya.” Terang laki-laki berkulit gelap yang sudah mengkilap karena berkeringat kelelahan mengangkut bunga.


“Ara mesti tau ini. Dia juga harusnya tau siapa pengirim bunga sebanyak ini.” Gerutu Lisa yang kebingungan. Ia memvideo bucket-bucket bunga yang sudah di tata dengan rapi.


“Udah gak usah terlalu dipikirin. Yang penting kan gak ada tulisan turut berduka citanya.” Romi ikut mengawasi bunga-bunga yang sudah di turunkan.


“Lagian, lumayan juga ini buat properti syuting. Tinggal minta izin aja sama yang punya, boleh gak kita pinjem bunga-bunganya? Daripada layu gak kepake, iya kan?” Imbuh Romi yang tersenyum senang.


Paling tidak untuk scene besok, ia tidak perlu membeli banyak bunga untuk menata studio.


“Ente kalau ngomong. Terserah lo dah. Capek gue bersin mulu gara-gara banyak bunga. HATCHU!!!” Timpal Roni yang masih saja bersin-bersin.


“Nah, itu orangnya.” Tunjuk Rini yang sejak tadi sibuk mempotret satu per satu bunga yang menurutnya sangat menarik. Ia asyik berselfie ria dengan berbagai jenis bunga mawar dan menunjukkan pose-pose andalannya.


Saat melihat kedatangan Amara dan Rangga, ia pun segera berhenti. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya, menyiapkan properti untuk syuting sekarang.


“Huh syukurlah mereka udah dateng.” Lisa bisa menghela nafas lega. Ia sudah kebingungan, dimana ia akan menyimpan sisa bunga yang belum masuk ke dalam ruangan.


“Kalian kok bisa kesiangan sih?” Protes Lisa yang menatap lekat Amara.


“Sorry… “ Rangga mengendikkan bahunya.


Bukankah sudah sering Amara membuat semua proses terlambat? Yang menarik perhatiannya saat ini adalah dari mana bunga sebanyak ini hingga membuat Rangga merasa seperti sedang berada di taman bunga.


Lisa hanya menghembuskan nafasnya kasar. Masalah terlambat, sudah pasti Amara biang keladinya.


Di tempatnya Amara hanya tersenyum kecil dengan gurat penuh kebanggan. Ia mengambil satu bucket lily yang menarik perhatiannya. Bibirnya tersenyum kecil lantas ia menciumnya. Wanginya sangat enak. Ia pun mengeluarkan ponselnya dan mempotret dirinya bersama Bunga yang ada di tangannya.


“Kira-kira ini bunga dari siapa Ra?” Tanya Lisa yang penasaran.


“Gak tau.” Sahutnya pendek, namun ia tetap tersenyum. Menaruh satu bunga lalu mengambil bunga lainnya.


“Gak ada yang ngehubungin kamu emang Ra? Soalnya kalau bunga sebanyak ini kayaknya bukan dari fans biasa, minimalnya orangnya pengen kamu tau kalau dia yang ngirim bunga ini.” Selidik Rangga yang ikut penasaran.


Gadis itu hanya menggeleng. Alih-alih menanggapi pertanyaan Rangga, ia lebih suka memperhatikan satu per satu bucket bunga dengan rasa bahagia.


Tidak lama ponsel Amara berdering. Gadis itu tampak terkejut namun tidak bisa menyembunyikan senyumnya.


“Aku permisi bentar ya.” Pamitnya pada Rangga.


“Hem.” Rangga membiarkan saja Amara pergi untuk menjawab telepon. Tumben ia harus menjauh untuk menjawab telepon. Biasanya juga di loud speaker di depan Rangga dan Lisa.


“Mba Lisa, kayaknya lo perlu nyiapin satu ART deh buat beresin apartemen Ara.” Rangga duduk di salah satu kursi dan mulai bersiap dengan membaca script.


“Emang kenapa?” Lisa jadi penasaran.


“Tadi pagi Ara beres-beres sampai kelelahan. Makanya kami juga kesiangan.” Terang Rangga dengan penuh kekhawatiran.


“Hah, Ara beres-beres? Yakin?” Lisa menatap Rangga dengan tidak percaya. Lihat saja bibirnya yang menahan senyum.


“Iya.” Rangga mengangguk yakin.


“Hahahha… Impossible. Dia kan paling gak bisa beresin apa-apa. Naruh sisir ke tempatnya lagi aja harus gue yang lakuin.” Lisa tersenyum sinis saat mengingat seperti apa artisnya ini.


“Kemaren gue udah nyuruh orang buat beresin apartemennya Ara. Makanya gue tawarin dia nginep di tempat gue. Paling orang itu kali yang beresin. Kalau Ara yang beres-beres sangat gak mungkin.” Lisa benar-benar tidak percaya.


Mendengar ujaran Lisa, Rangga jadi teringat sesuatu.


“Jadi Ara nginep di tempat lo?” Mengingat mobil yang terparkir di luar basement membuat Rangga jadi menanyakan hal itu.


Deg!


Entah mengapa ada sesuatu yang kini mengganggu pikiran dan perasaan Rangga. Ia memandangi Amara yang masih sibuk bertelepon. Dari pantulan kaca yang ada di hadapan Amara, Rangga bisa melihat senyum yang terus terkembang di wajah Amara.


Penjelasan yang Lisa berikan dirasa berkebalikan. Saat libur justru Amara jarang mengajaknya pergi. Gadis itu lebih sering berada di apartemennya dengan alasan mau menonton film-film terkenal buat mengasah kemampuan *acting-*nya. Saat di ajak jalan malam pun ia berkata kalau ia ingin istirahat. Apa sebenarnya yang Amara lakukan? Apakah ikut bebenah bersama ART yang di kirim Lisa?


Ctik! Rangga jadi teringat sesuatu.


“Gue boleh pinjem laptop lo?” Pinta Rangga tiba-tiba.


“Boleh.” Tanpa penolakan Lisa memberikan laptopnya pada Rangga.


Layaknya detective, Rangga mulai menyalakan laptopnya. Ia mengecek beberapa hal termasuk transaksi keuangan.


“Lo meriksa apa sih?” Lisa ikut mendekat dan memperhatikan layar laptop yang menampilkan laporan aplikasi account banking milik Amara.


Tidak ada transaksi sama sekali dari rekening Amara selama beberapa hari ke belakang. Invoice pembelian makananpun tidak ada apalagi belanja sesuatu.


“Dia puasa dua hari kemarin?” Gumam Rangga karena merasa Amara tidak meminta ia membelikan apapun. Sementara gadis itu terus berada di apartemennya.


“Yang!” panggil Amara dengan suaranya yang riang. Rupanya ia sudah selesai bertelepon.


“Oh, hay!” Cepat-cepat Rangga menutup laptopnya.


“Udah selesai telponannya?” Ia memutuskan untuk bertanya.


“Udah. Aku mau ke toilet dulu. Sakit banget perut aku.” Rengek Amara. Ia menaruh tasnya di atas meja.


“Perlu mba Lisa buatkan minuman hangat?” Tawar Rangga seraya melirik Lisa yang duduk di sampingnya.


“Iyaaaa…” Sahut Amara dengan ekspresi manjanya.


“Okeeyy, gue buatin.” Lisa pun beranjak pergi dengan terpaksa. Ia masih berusaha mencerna apa yang sedang Rangga lakukan.


“Uuu gemeesss… Kamu pengertian banget sih yang… Love you…” Gadis itu mengusap pipi Rangga sebelum pergi.


Rangga hanya tersenyum kecil. Namun setelah Amara pergi, ekspresi wajahnya jauh berbeda. Ia menatap sosok Amara yang berlalu pergi dengan tatapan dingin.


Merasa sudah tidak ada siapapun di sekitarnya, Rangga mengambil ponsel Amara dari dalam tas. Ia membuka passcode-nya dan mengecek riwayat panggilan dan pesan terakhir.


Tidak ada pesan yang aneh-aneh. Hanya ada sebuah nomor tanpa nama yang sangat sering menghubunginya. Jika mengingat 3 angka terakhir, nomor tersebut adalah nomor yang tadi pagi menghubungi Amara dan Rangga yang menjawabnya.


Cara Amara mengambil ponselnya dengan tiba-tiba, membuat Rangga semakin penasaran saja. Lalu tadi, kenapa Amara harus menerima telponnya sembunyi-sembunyi namun dengan ekspresi senang. Ada yang aneh bukan?


Berbekal aplikasi pencarian contact, Rangga mencoba mencari tahu siapa pemilik nomor ini. Beragam nama muncul.


“Sugar dady, CEO LT Corp, Mr K, My baby Keith, Bos ganteng, CEO hot, Bule cakep dan terakhir Keith Hugo.”


Rangga tersenyum sinis. Akhirnya ia bisa menemukan nama laki-laki itu. ia kembali melakukan pencarian di Goo*le. Ada banyak orang dengan nama tersebut. Namun ada satu yang tidak asing, yaitu nama perusahaan yang sama dengan yang ada di kartu nama dalam dompet Amara.


Profil laki-laki itu pun di temukan Rangga. Seorang pemilik perusahaan pakaian dalam dengan brand asing. Saat melihat foto profil dari laki-laki ini, Rangga tentu mengingatnya. Ini adalah laki-laki yang sama yang Ia temui saat menemani Amara reuni dengan teman-temannya.


Seketika tangan Rangga pun mengepal. Dari matanya terlihat jelas kilatan penuh kemarahan. Ia bisa menyimpulkan kalau Amara sepertinya sedang bermain-main dengannya.


“Yang…” Gadis itu sudah kembali. Ia menghampiri Rangga dengan senyumnya yang manis.


“You okey?” Tanya gadis itu saat mendapati Rangga menatapnya dengan dingin.


Rangga tidak menjawab. Ia segera menghapus halaman pencariannya dan memilih beranjak pergi meninggalkan Amara. Gumpalan kemarahan terlalu besar dan memenuhi rongga dadanya dan bisa meledak kapan saja.


Saat ini ia perlu waktu untuk menghadapi Amara. Ia bertekad mencari bukti yang sebenarnya sebelum mengatakannya pada Amara.


“Ga, kamu mau kemana?” Amara menatap Rangga dengan bingung.


“Rangga! GA!!!” Teriaknya ketika Rangga memilih berlalu pergi tanpa memperdulikannya.


******