Bella's Script

Bella's Script
Kecemasan untuk Inka



Setelah beberapa hari di rawat, akhirnya hari ini Ozi sudah diperbolehkan pulang. Bella dan Saras sibuk membereskan barang-barang sementara Devan pergi untuk mengambil obat yang akan di bawa pulang.


“Mah, surat kontrolnya dimana? Biar adek satuin sama hasil pemeriksaan lainnya.” Tanya Bella yang sedang mengecek perlengkapan administrasi, hasil lab dan sebagainya.


“Di tas mamah sayang. Bentar mamah ambil.” Saras beranjak untuk mengambil tas yang berada di atas kursi sebelah tempat tidur Ozi.


Sambil memeriksa tasnya, Saras memperhatikan Ozi yang tampak gelisah memandangi layar ponselnya. Sejak pagi tadi memang seperti itu dan semakin siang Ozi lebih banyak melamun.


“Abang kenapa, kok ngelamun aja?” sambil memberikan surat kontrol pada Bella, perhatiannya tidak lepas dari Ozi.


Laki-laki itu segera menaruh ponselnya saat sadar ternyata rasa gundahnya begitu ketara.


“Gak apa-apa mah.” Sahut Ozi yang berusaha tersenyum tenang. Kemudian ia kembali tertunduk melirik ponsel yang tidak pernah berdering sejak beberapa hari lalu.


“Jangan bilang lo betah di sini dan gak mau pulang.” Bella menggoda sang kakak dengan iseng.


“Adekkk, kebiasaan deh gangguin abang.” Saras menatap sang putri lantas menggeleng.


“Ya lagi, abang kayak mau berpisah sama pacar. Madesu gitu mukanya.” Bella menjulurkan lidahnya pada sang kakak yang tersenyum kecil.


“Madesu apaan dek?” Saras jadi penasaran dengaan istilah yang digunakan Bella.


“Masa depan suram mah. Gelap gulita tiada bercahaya, laksana malam kelam yang tiada berkesudahan.” Nah, panjang kan penjabarannya. Bella bergelendot manja pada sang ibu.


“Kirain apaan. Ada-ada aja sih istilahnya.” Saras jadi ikut tersenyum mendengar istilah Bella.


“Nggak lah, mana ada gue betah di sini.” Ozi memilih beranjak dari atas tempat tidur.


Penampilannya sudah rapi, tanpa perban yang menutupi kepalanya. Hanya ada perban kecil di bagian kepala belakang. Bedanya, saat ini kepalanya pelontos setelah operasi kemarin.


“Anak bujang jangan kebanyakan ngelamun. Harus semangat, apalagi sekarang abang sudah sembuh.” Saras mengusap punggung sang putra untuk menyemangatinya.


“Iya mah. Alhamdulillah…” Ucap Ozi penuh syukur.  Ia beranjak menuju sofa dan terduduk di situ sambil membuka beberapa kertas hasil pemeriksaan yang ada di dekatnya.


“Temen lo gak ada ke sini dek?” Tanya Ozi tiba-tiba.


“Temen gue siapa? Temen gue kan banyak.” Bella mencoba memancing.


“Yaa bestie lo!” Ozi menatap sang adik lekat, seolah ingin menyampaikan maksudnya.


Kalau ini sih Bella tahu, sudah pasti sahabatnya yang di maksud Ozi.


“Kenapa? Dia gak ada ngabarin lo?” Bella balik bertanya.


Ozi hanya menggeleng dan menunjukkan wajah kecewanya.


Beberapa saat Bella dan Saras saling bertatap, lucu juga saat Ozi galau. Dan hal ini menarik karena sebelumnya Ozi tidak pernah menanyakan kabar Inka.


“Maksudnya siapa sih? Inka?” Saras seolah ingin kejelasan dan pertanyaannya membuat Bella menahan senyum.


“Ppfftt..” Bella hanya bisa menahan tawanya.


“Iya mah.” Ozi tersenyum kecil, ia mengusap wajahnya yang terasa hangat karena malu.


“Hahhhaha…” gadis itu malah tergelak. Lucu, karena Ozi bukan orang yang bisa berpura-pura dan menyembunyikan perasaannya. Ia tidak segan untuk terbuka pada orang terdekatnya.


“Adekk, abang… Kok malah lempar-lemparan bantal sih.” Saras mengambil bantal dari tangan Bella.


“Nggak tau nih abang. Cemasnya sama Inka tapi malah aku yang di lempar. KDPS nih abang.” Bella pura-pura merengek manja.


“Dih! Apaan KDPS?” Ozi geli sendiri dengan tingkah manja sang adik.


“Iya, mamah juga gak tau.” Dua orang itu menatap Bella penuh tanya.


“KDPS, kekerasan dalam persaudaraan. Catet itu, abang gak boleh kayak gitu sama aku yang mungil, cantik, lemah, letih, lesu dan butuh perlindungan ini.” Cerocos Bella dengan gayanya yang sok lemah.


“Adekk, kayak orang kurang darah aja pake lemah, letih, lesu segala.” Saras mencubit pipi Bella dengan gemas.


Bella hanya terkekeh mendengar ucapan sang ibu, namun tidak dengan Ozi. Ia memilih melihat keluar jendela ruangan dan memikirkan ucapan Bella barusan. Beberapa kata sifat seperti mungil, cantik, lemah, letih, lesu dan butuh perlindungan, makin mengingatkan Ozi pada seseorang yang beberapa hari lalu ia suruh pulang.


Sudah lebih dari dua hari gadis itu tidak ada lagi datang. Ia juga tidak mengirimi pesan penuh semangat yang biasa Ozi dapatkan setiap pagi.


Apakah gadis itu baik-baik saja? Apa ada hal buruk yang menimpanya? Mengapa ia jadi cemas begini?


Melihat Ozi yang tampak melamun, Bella jadi tidak tega.


“Inka lagi nemenin bokapnya. Dia sengaja ngambil cuti supaya bisa liburan sama bokapnya, mumpung abang-abangnya lagi di luar kota.” Terang Bella tanpa di minta.


Ozi yang semula melamun, kini berbalik menatap Bella.


“Kenapa, lo gak percaya?” Bella menatap sang kakak penuh selidik.


Ozi hanya menggeleng. Ia jadi teringat cerita Inka beberapa hari lalu kalau ia baru bisa bersama sang ayah kalau kakak-kakaknya tidak ada di rumah. Benarkah sesulit itu hidup Inka?


“Emang abang-abangnya kenapa sayang?” Saras jadi ikut penasaran dengan ucapan Bella.


“Em… Sikap abangnya gak terlalu baik sama Inka, Mah. Terutama bang Andra. Dia membatasi Inka bertemu sama papahnya."


"Mereka sering banget berantem hanya karena Inka ketauan diam-diam nemuin papahnya. Waktu itu aja Bang Andra sampe tega Mah mukul Inka. Kuping Inka sampai berdengung selama dua apa tiga hari gitu gara-gara di pukul keras sama abangnya.”


“Astagfirullah… Sampe segitunya?” Saras terlonjak tidak percaya.


“Iyaa… Makanya Inka harus curi-curi waktu kalau mau ketemu papahnya. Sekarang aja dia sengaja ngajuin cuti buat bisa bareng papahnya. Dia bilang dia takut gak bisa sama-sama lagi sama papahnya. Karena kalau abangnya udah pulang, kemungkinan dia cuma bisa ngalah, nurut gak nemuin papahnya daripada berantem sama bang Andra dan bikin papahnya sedih. Kasian emang itu anak… Padahal dia sayang banget sama papah dan ketiga abangnya.” Tutur Bella dengan penuh empati.


“Ya ampun, kasian ya….” Saras ikut bersedih. Ia tidak menyangka kalau keceriaan Inka tidak setara dengan kondisi gadis itu yang sebenarnya.


Dan tidak hanya Saras, Ozi pun ikut tertegun dengan pikirannya yang kosong. Tanpa sadar tangannya mengepal saat tiba-tiba bayangan Inka dan kesedihannya terlintas di pikirannya.


“Iya Mah. Makanya adek harap Inka bisa cepet nikah, biar ada yang jagain dia selain papahnya. Dia gak ada tempat berbagi selain adek, karena dia bukan orang yang mudah percaya sama orang lain.” Lagi Bella menambahkan.


Dada Ozi seperti bergemuruh mendengar cerita Bella, tidak, ia tidak bisa mendengarnya lagi. Ini terlalu menakutkan.


Dan Bella melihat dengan jelas ekspresi kesal sang kakak saat ini. Jika Ozi marah dan kesal, maka sudah pasti laki-laki itu memiliki kepeduliaan lebih pada sahabatnya.


****