
Ada yang berbeda pagi ini. Saat Bella terbangun, ia melihat sebuah selimut yang membungkus tubuhnya. Rasanya ia kenal dengan selimut tipis ini. Hah, milik Devan.
Dengan cepat Bella melepas selimutnya lalu melipatnya dan di masukkan ke dalam koper. Ia takut orang lain melihatnya.
Menggeliat dengan nikmat lalu memukul-mukul punggungnya yang terasa pegal. Hah, tidur di atas meja memang tidak senyaman tidur di atas tempat tidur. Walau tidak empuk tapi badannya lurus, tidak melengkung.
“Morniiing….” Sapa suara yang familiar dengan telinganya.
“Inkaa,,, Pagi banget lo dateng.” Seru Bella yang terkejut melihat Inka sudah berdiri di hadapannya.
“Yaaa biar gue gak ganggu. Siangan dikit, lo kan udah sibuk sama laptop dan isi kepala lo sendiri. Gue mana ada kesempatan buat ngobrol.” Sahutnya seraya menyilangkan tangan di depan dada, pura-pura kesal.
“Ahahahha.. Bisa aja lo. Sorry, gue jadi jarang ngobrol sama lo. Habis di kejar deadline sih.” Di peluknya Inka dengan erat dari samping.
“Iya-iyaaa… Udah sana lo mandi dulu. Bau naga tau gak?!” Inka menutup cuping hidungnya.
“Resek lo. HAH!!!” dengan sengaja Bella membuang nafasnya di depan Inka.
“BELSKYYYYYY!!!! Kebiasaan lo yaaa!!!” teriaknya.
“HAHAHA….” Bella malah tertawa terbahak sambil berlari ke kamar mandi.
Melihat tingkah Bella, Inka hanya menggelengkan kepala. Kelakuan sahabatnya memang seperti itu dan selalu membuatnya rindu.
Perhatiannya teralih saat layar ponsel Bella menyala dan memperlihatkan sebuah notifikasi pesan.
“Morning Bellaku,..” pesan itu yang terlihat selintas oleh Inka dengan pengirim Rangga.
“Tumben,” komentarnya. Biasanya selalu Bella yang mengirim pesan duluan dan menunggu balasan Rangga yang entah di balas kapan.
“Kalau ngelakuin hal gak biasa kayak gini, biasanya habis bikin dosa nih orang. Bikin dosa apa dia sama Bella? Apa berantem?” Gumam Inka, berbicara dengan pikirannya sendiri.
“Nanti siang aku ke kantor ya…” pesan itu yang dilihat Inka berikutnya.
“Hemh! Kayaknya bener dugaan gue, nih cowok mau bikin permintaan maaf tanpa pengakuan.” Lanjutnya.
“HEH!” Ngapain lo di sini?!”
“ASTAGA!!! Lo ngagetin aja anjir!!!” Inka sampai terlonjak saat Rini mengagetkannya.
“LEBAAYYY!!!! Lo kesepian yaaa temen trachea lo pindah ke sini.” Ledek Rini dengan sinis.
“Sotoy lu!” kilah Inka.
“Noh kursi lo di sebelah sana kan? Duduk gih, gue males debat pagi-pagi sama lo. Buang-buang energi aja!” Inka sedikit mendorong tubuh Rini agar pergi.
“Yeeee!!! Lo kali yang keluar dari sini! Noh, pintu ruangan lo sebelah sana!” balas Rini tidak mau kalah.
Inka hanya mendelik kesal. Sejak dulu ia memang tidak pernah akur dengan Rini. Ada saja bahan mereka untuk berselisih.
“Eh tapi bentar deh gue mau nanya.” Rini menggantung kalimatnya.
“Ogah! Males gue jawabnya!” Inka sudah mengulti lebih dulu.
“Yeeee resek lo! Gue cuma mau nanya, sohib lo ada hubungan apa sama bang Devan, perasaan kemaren-kemaren kok gue perhatiin sering banget pulang dan dateng barengan?” selidik Rini. Melisa yang berdiri di sampingnya ikut menyimak.
“Mana gue tau!” jawaban paling mudah adalah itu.
“Tuh, tanya sendiri sama orangnya!” lanjut Inka saat melihat Devan datang.
“Morrniing bang Devan…. Seger bener deh…” ekspresi Rini dan Melisa auto berubah saat melihat Devan datang. Wajah di buat imut dengan tingkah manis merapikan anak rambut.
Hari ini penampilan Devan sedikit berbeda. Tidak ada lagi jambang tebal yang menutupi garis wajahnya, membuat wajah tampannya terlihat dengan jelas. Rambut gondrongnya pun di sisir dengan rapi.
“Pagi..” sahutnya pendek. Tidak berlama-lama ia langsung masuk ke ruangannya.
“Dingin bener, kayak kulkas 4 pintu.” Gumam Rini.
“Bukan dingin, gak minat aja dia sama lo! Wleee!!!!” Inka langsung pergi setelah mengucapkan kalimat tersebut.
“Inkaaaa lo yaaa…” Rini mengacungkan bogemnya pada Inka, namun langsung di tahan Melisa.
“Ingeett jaga sikap.” Bisiknya sambil melirik Devan.
“IIssshhh kesel gue!!!” pekik Rini dalam hati.
Siang itu, rapat project mini seri di laksanakan di ruangan Devan. Semuanya anggota tim berkumpul kecuali Bella yang tidak masuk dalam project tersebut. Ia tetap dengan pekerjaan intinya, menulis script.
Di dalam sana, Melisa mendeskripsikan script yang ia buat dengan semangat. Setiap detail ia ceritakan untuk memastikan bahwa sutradara bisa menangkap gambaran scene yang nanti ingin ia tampilkan. Di tempatnya Devan memperhatikan dengan serius.
Sambil menopang dagu, ia mendengarkan deskripsi Melisa sementara matanya tidak lepas dari script yang ia baca. Cara duduknya begitu menarik di tambah ekspresi wajahnya yang dingin dan sorot mata tajam, ternyata sangat menarik bagi seseorang.
Jihan, ya Jihan yang kini berdiri di luar ruangan memperhatikan Devan di dalam sana. Pesona seorang Devan memang sangat memikat. Beberapa kali ia tersenyum dan sesekali menyibak rambutnya sendiri. Entah apa yang ada di benaknya.
“Kamu kenapa gak ikut Bell?” ia bersandar pada partisi kubikel Bella.
Gadis itu tampak asyik saja menulis tanpa memperdulikan apapun, termasuk Jihan yang sedari tadi berdiri di dekatnya.
“Mereka sedang rapat mini seri yang akan mulai tayang. Lagi pula saya gak masuk tim mba. Jadi saya fokus saja sama kerjaan saya.” baru kali ini Bella memberi atensi pada Jihan.
Bisa terlihat matanya yang berkantung di balik kacamata bulatnya. Kulitnya yang sedikit kusam dengan kulit bibir yang kering dan mengelupas. Rambutnya hanya di cepol asal saja, sangat terlihat kalau Bella memang hanya fokus pada pekerjaannya tanpa memikirkan hal lain, termasuk penampilannya.
“OOwww…” mulut Jihan membulat.
Baginya, satu saingan di ruangan ini telah gugur, karena ia yakin kalau Devan tidak akan melirik Bella. Tinggal Rini yang sok manis dan Melisa yang salah tingkah di depan Devan.
“Maaf mengganggu waktu kamu, silakan di teruskan.” Imbuhnya.
“Makasih mba.” Sahut Bella. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya yang terjeda.
Jihan membuka ponselnya. Mencari nama Devan di berbagai media sosial. Ada beberapa akun namun sepertinya bukan akun milik Devan sendiri melainkan akun fans. Jihan jadi berdecak, ternyata cukup banyak fans Devan di Singapura sana. Track record nya sebagai sutradara muda sering kali lebih menarik di bahas di banding para artis di project yang ia pimpin.
“Menarik.” Gumamnya sambil terus scroll info tentang Devan.
“Part ini, alurnya kurang logis. Terlalu ngawang-ngawang. Kita harus buat satu scene yang nanti bisa nyambung ke part berikutnya. Karena editor akan bingung nantinya.” Suara Devan terdengar jelas saat salah seorang OB membuka pintu ruangan Devan dan masuk.
Jihan langsung tersenyum, ia begitu menikmati mendengar suara Devan yang berat dan manly.
Tidak lama sampai kemudian OB itu keluar ruangan dan suara Devan tidak lagi terdengar karena pintu yang tertutup. Devan masih terlihat berbicara namun entah apa yang ia katakan. Yang jelas, gerak bibirnya sangat menarik bagi Jihan.
“Bell, kamu tau gak makanan kesukaan Devan?” Jihan mengetuk meja Bella tanpa mengalihkan pandangannya dari Devan.
“Em,,,,” pikiran Bella jadi beralih dari cerita yang di buatnya ke Devan.
“Mba Bell, makan siangnyaa…” ujar OB yang tadi pergi.
“Nasi kotak mungkin.” Tunjuk Bella pada sebuah nasi kotak yang di taruh OB di mejanya.
“Makasih ujang.” Imbuhnya.
“Sama-sama mba Bell, selamat makan…” Ujang sampai mengepalkan tangannya menyemangati Bella. Ia tahu kalau Bella jarang ngemil apalagi makan berat belakangan ini.
Bella mengacungkan jempolnya pada Ujang. Saat pandangannya beralih, ternyata Jihan sedang melihat isi nasi kotaknya dengan ekspresi tidak yakin.
“Iyaaa… Tiap ada rapat dan kami pesan nasi kotak, pasti habis dia makan. Makannya juga lahap.” Hanya itu yang Bella tahu.
Jihan tersenyum sinis mendengar jawaban Bella.
“Makan nasi kotak bukan karena itu makanan favorit Bell, tapi memang lebih ke kebutuhan dia mengisi perutnya.” Terang Jihan tidak sepakat.
“Itu mba Jihan paham banget. Ya mungkin juga. Tapi kalau mau lebih jelas, coba mba jihan tanya langsung. Saya gak bisa bantu nanya. Tuh orangnya,” Bella menunjuk Devan yang berjalan cepat keluar dari ruangannya.
Ia hanya membawa ponsel dan kunci mobilnya.
Jihan langsung bersiap, berdiri tegak, merapikan rambut, tersenyum lebar dan benar saja Devan menghampiri mereka.
“Van,” sapa Jihan.
“Bell, ikut gue sekarang.” Seru Devan dengan tergesa-gesa membuat Bella dan Jihan sama-sama terperangah.
“Dih apaaan, mau ke mana sih?!” Bella balik menyeru.
“Nanti gue jelasin!” di tariknya tangan Bella dengan kuat membuat gadis itu berdiri dengan terpaksa.
“Ehhh bentar, hape sama dompet gue…” tolak Bella, namun Devan tidak memperdulikannya.
Ia tetap menarik tangan Bella, masuk ke dalam mobil dan mulai melajukan mobilnya dengan tergesa-gesa.
“Astaga Devaaaann, lo kesurupan ya! Yang bener nyetirnya!” teriak Bella sambil berusaha menggapai seat belt dan melingkarkan pada tubuhnya.
“Ini kita mau kemana sih? Emang lo udah tau tempat-tempat di Jakarta?!” lagi Bella bertanya dengan bingung.
Devan seperti tersadar. Ia merogok saku dan mengeluarkan ponselnya yang kemudian ia berikan pada Bella.
“Cari map RS sehat mulia.” Titahnya tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.
“ Siapa sih yang sakit? Lagian ini di passcode.” Bella sibuk menggerutu.
“Tanggal lahir lo.” sahut Devan cepat.
“Hah?” Bella sampai terperangah tapi Devan tidak menanggapi.
Bella mencoba memasukkan tanggal dan bulan lahirnya sebagai passcode dan benar saja layar ponsel Devan terbuka. Sejenak Bella menatap Devan, tidak mengerti apa maksudnya.
“Kalau ada pertanyaan, nanti gue jelasin. Sekarang cari dulu rute rumah sakit itu.” Devan seperti mengerti rasa penasaran Bella.
Dengan rasa penasaran tertahan di benaknya, ia mencari rute rumah sakit yang di sebutkan Devan. Sepertinya ini lebih penting.
“Lo ada di jalur yang bener. Satu kilo meter di depan belok kanan. Tiga kilo kemudian, RS nya ada di sebelah kanan. Jadi lo harus melewati bunderan biar gak puter arah. Jaraknya sekitar 500 meter dari rumah sakit.” Terang Bella.
Devan tersenyum dalam hati. Seorang Bella juga ternyata bisa membaca rute, sesuatu yang langka.
Tanpa suara, Devan menambah laju kendaraannya menuju Rumah Sakit. Kurang dari setengah jam karena macet, mereka tiba di tempat parkir rumah sakit.
“Ikut gue.” Titah Devan seraya mengambil ponsel dari tangan Bella. Ia seperti mengecek pesan.
Bella hanya mengikuti saja arah yang di tuju Devan tanpa banyak tanya dan banyak protes.
Tiba di depan ruang UGD, langkah Bella dan Devan sama-sama terhenti. Ada dua orang laki-laki terduduk di kursi tunggu dan berdiri saat melihat kedatangan Devan dan Bella.
“Dia masih di dalem.” Ujar salah satu laki-laki yang sepertinya mengenal Devan.
“Ayo,” Devan berusaha menarik tangan Bella namun Bella mengibaskannya.
Ia memandangi jaket yang di pegang salah satu laki-laki itu dan ia kenal benar dengan jaket itu.
“Ini, jaket abang gue?” tanya Bella.
Laki-laki itu hanya terdiam dan membiarkan Bella mengambil jaket tersebut.
Bella segera mengecek jaket itu, memeriksa sakunya dan ia menemukan ponsel serta botol putih yang sering ia lihat di kamar Ozi.
Sepersekian detik sepertinya Bella tersadar akan sesuatu. Dengan cepat Bella memberikan jaket itu pada laki-laki tadi. Tanpa perlu di Tarik Devan, ia segera masuk ke ruang UGD. Otaknya dengan cepat memproses dan menebak alasan Devan membawanya ke rumah sakit.
“Abang,” lirih Bella saat ia melihat Ozi terbaring di atas blankar. Ia berlari menghampiri laki-laki yang berbaring tidak berdaya itu.
“Astaga, lo kenapa bang?” seru Bella yang terkejut.
Di raihnya satu tangan Ozi yang terkulai lemah di sisi tubuhnya. Di hidungnya terpasang selang oksigen sementara tangan kirinya terpasang infusan.
“Dek,” lirih Ozi dengan lemah.
Bella menatap wajah Ozi yang pucat pasi.
“Lo kenapa?!” tanya Bella dengan serak tertahan. Ada tangis yang berusaha di tahannya. Belum habis rasa terkejutnya.
“Gue udah baikan. Lo gak usah khawatir. Makasih udah mau dateng.” Terang Ozi dengan perasaan tenang melihat sang adik ada di dekatnya.
“Bacot lo! Lo sakit, mana mungkin gue gak datang? Kenapa malah ngasih tau Devan bukan gue?!” protes Bella dengan air mata yang perlahan turun.
Ia mengusap air matanya dengan kasar lantas mengecup tangan Ozi dengan sungguh.
“Apa yang sakit, hem?” suara Bella pecah dan serak. Tangisnya tidak tertahan.
Ia sangat menyesal karena telah bertengkar dengan Ozi beberapa hari lalu, hingga memutuskan diam di kantor untuk menghindari perselisihan.
Ozi hanya tersenyum lantas mengusap pucuk kepala Bella dengan lembut.
“Udah gue bilang kan, paracetamol itu bukan kunci. Norak lo!” cerocosnya, masih sempat mengomeli Ozi.
Dalam kondisi seperti ini saja Bella masih bisa membuat Ozi tersenyum gemas dengan tingkahnya.
“Kenapa lo gak bilang kalo lo sakit?” Bella terduduk di samping Ozi. Memeluk laki-laki itu dari samping.
“I’m okey dek,…” suara serak Ozi yang terdengar. Di tepuk-tepuknya bahu Bella dengan lembut.
“Bohong,” isak Bella.
Ternyata, melihat Ozi sakit Bella menjadi sangat rapuh. Ia pikir laki-laki tangguh ini akan selalu baik-baik saja. Ia tidak pernah mendengar Ozi mengeluh apapun apalagi mengatakan kalau ia sedang sakit.
Dan bagi Ozi, sikap manis ini yang Ozi rindukan dari adiknya. Beberapa lama ini mereka jarang bercengkrama seperti dulu. Bella sibuk dengan urusannya begitupun Ozi. Gadis manis ini selalu berusaha terlihat mandiri dan kuat, seolah tidak mau menjadi beban bagi kakaknya.
“Keluarganya sudah datang ya, bisa ikut saya?” seorang perawat menghampiri Bella, Ozi dan Devan.
“Iya sus.” Sahut Bella dengan cepat.
“Gue tinggal dulu, lo diem di sini jangan kemana-mana.” Titah Bella pada Ozi.
“Lo temenin dia.” Kali ini Devan yang di tatap serius oleh Bella dan laki-laki itu hanya mengangguk.
Miss independent memang tidak bisa di tolak.
******