Bella's Script

Bella's Script
Lo gue, End!



*Bukan hal yang mengejutkan, ketika malam itu Jihan tiba-tiba datang ke kantor dengan langkah yang cepat dan panjang. Di tangannya ia membawa print out* kontrak yang sudah ia tanda tangani bersama Eko. Ia masih tidak terima karena Inka berani mengirimkan email pemutusan kontrak untuk project film yang sudah mereka sepakati.


Wanita cantik itu tidak bisa menyembunyikan ekspresi kemarahan yang ia tahan sejak ia menerima email itu dari Inka.


“Saya mau ketemu pak Eko.” Ujarnya sembari menggebrak meja reseptionist.


“Oh, bapak sedang rapat bu.” Reseptionist itu langsung gemetar melihat mata Jihan yang menyalak tajam.


“Tidak berguna!” Dengus Jihan.


*Tanpa menunggu security* yang mengantar, ia segera menuju ruang rapat, tempat dimana Eko dan Crew masih berkumpul.


“BRUK!” Pintu di buka oleh Jihan dengan kasar hingga membentur dinding.


Orang-orang terperanjat dan langsung menoleh ke arah pintu.


“Apa maksud email yang dia kirim pada saya?” Mata Jihan menatap Eko namun tangannya menunjuk Inka.


“Anda lupa kalau anda sudah menandatangani kontrak dengan saya dan saya bisa mengajukan keberatan dan menuntut denda pada PH ini?” Teriak Jihan dengan mata menyalak.


Eko yang beranjak hendak menghadapi Jihan, kini di tahan oleh Indra.


“Bukan cuma pak Eko yang membuat keputusan ini, tapi kami semua.” Indra berdiri lebih dulu menghadapi Jihan. Ia sudah sangat muak dengan perempuan pembuat onar ini.


"Memangnya, berapa yang sangguo lo tuntut? Satu milyar, dua milyar, tiga milyar?" Lanjut Indra dengan santai.


“Oh, jadi anda menantang saya hah?” Jihan tersenyum sinis pada Indra.


“Gak ada yang takut kok sama tuntutan lo.” Roni ikut berdiri di samping Indra dan di susul oleh kemal dan Crew lainnya.


“Hebat, kalian benar-benar berani menantang saya?" Jihan bertepuk tangan rendah di hadapan crew. Senyumya menyeringai penuh ketidaksukaan.


*"Kalian lupa berkat siapa project* ini sampai bisa berjalan? Saya bagian dari crew ini! Ingat itu!” Teriak Jihan hingga urat di lehernya menegang kebiruan karena kemarahan yang meledak.


*“Crew*? Mba Jihan bilang kalau mba Jihan crew di sini?” Bella akhirnya gatal untuk tidak berkomentar.


Ia beranjak dari tempat duduknya. Ia menghampiri Jihan dan menatap berani wanita yang sedang menyalak marah.


*“YA!! SAYA CREW* DI PROJECT INI!! SAYA PRODUSERNYA!! DAN SAYA YANG MENGATUR SEMUANYA!!” Jihan beteriak seperti orang yang kehilangan akal.


Bella tersenyum kecil melihat respon Jihan. Ralat, tidak hanya Bella melainkan juga Inka, Eko, Devan dan seluruh crew menertawakan tingkah Jihan.


“Waahhh,,, Mba Jihan sepertinya harus belajar lagi nih.” Bella mendekat pada Jihan, berada pada jarak aman dari jangkauan Jihan.


“Let me tell you something about crew.” Bella mempertegas kata di ujung kalimatnya.


“Kru adalah sekelompok orang yang bekerja pada aktivitas bersama, umumnya dalam organisasi terstruktur atau hierarkis.”


“Sekarang saya tanya, aktivitas bersama apa yang sudah mba Jihan lakukan bersama kami?” Bella bertanya dengan nada rendah tapi terkesan sangat keras.


“Maksud kamu apa?! Saya produser di project ini dan saya yang membiayai project ini sejak awal. Kalian jangan lupa itu!” Geram Jihan.


“Exactly! Itu yang saya maksud.” Bella menjentikkan jarinya di hadapan Jihan.


“Yang bekerja bersama di tim ini adalah uang mba Jihan, bukan mba Jihan sendiri.” Bella tersenyum miring karena berhasil membuat wanita itu melotot tajam tapi tidak bersuara.


“Mba Jihan pernah gak berjuang bersama kami di project ini?"


"Biar saya coba ingat-ingat." Bella pura-pura berpikir keras.


"Emmm, saya ingat."


"Di mulai dari mba Jihan memutuskan segala sesuatunya sendiri. Lalu, mba Jihan gak menghargai proses yang ada di project ini? Atau mba Jihan ada usaha gak untuk membantu kami saat project ini hampir gagal karena gossip-gosip yang beredar?”


“Nggak kan?” Tanya Bella yang lebih terdengar sebagai sindiran.


“Malah mba Jihan loh yang justru membuat masalah dengan menyebar video BTS. Melakukan provokasi yang membuat pemain kami celaka dan banyak hal buruk lain yang mba Jihan lakukan untuk membuat usaha kami sebagai crew sia-sia.”


“Mba Jihan gak lupa dong, sama semua kejadian itu? Nggak kan?” Cerca Bella beruntun namun penuh ketenangan.


Jihan tidak menimpali, hanya tangannya saja yang mengepal mencengkram kontrak yang sejak tadi ia pegang sampai jari-jari tangannya memucat saking kerasnya ia memegang.


Sementara Bella tampak tenang saja menatap Jihan seraya bersidekap menantangnya.


“Sekarang saya tanya balik, apa semua yang mba Jihan lakukan itu masih mencerminkan kalau mba Jihan crew di project ini?” Bella mengukuhkan pertanyaannya. Ia bahkan menunjuk dada kiri Jihan yang membusung dengan berani.


“Nggak kan?” tandas Bella dengan ekspresi yang berubah kesal.


“Dan kamu Bella!” Jihan balas menunjuk Bella dengan telujuknya yang gemetar. Mungkin karena saking marahnya.


“Kamu hanya berani menantang saya karena kamu memiliki orang-orang ini. Orang-orang bodoh yang masih berpikir kalau perempuan depresi seperti kamu itu special.” Jihan berdecik sebal di padu dengan senyumannya yang sarkas ia tujukan untuk Bella.


“Hah, kalian ini memang otak udang. Mau-maunya membela perempuan seperti ini. Kalian harus tau kalau,..”


“Sssstttt!!!! Udah diem!” potong Inka yang ikut maju menghadapi Jihan. Wanita itu pun langsung mengepalkan tangannya dengan wajah berubah merah karena kesal.


“Lo udah terlalu banyak omong Jihan!” Tantang Inka. Sebenarnya ia sudah malas berhubungan dengan Jihan tapi mulut Jihan sepertinya memang harus di bungkam.


“Otak lo emang kagak pernah bisa nyampe dan gak sefrekuensi sama kami. Lo lupa tadi Bella jelasin crew itu apa?” Inka tersenyum sinis pada Jihan.


“Kami semua, ada di belakang Bella, bukan karena Bella lemah terus harus kami dukung. NO… Otak lo jangan sebodoh itu.” Inka menunjuk-nunjuk kepalanya dengan geram.


“Lo harus sadar, kalau yang lo hadapi sekarang itu satu crew. Bukan cuma Bella, gue, bang Roni, Devan atau yang lainnya."


“Oh iya, gue lupa. Otak lo emang gak bakalan sampe mikir ke sana, karena lo cuma berorientasi sama kemauan lo doang. Lo sebenernya gak tertarik juga sama project ini. Lo cuma tertarik buat ngeganggu Bella. Lo pikir siasat lo gak kebaca? Keliatan jelas Jihan!” serang Inka tidak terima.


“Brengsek lo Inka, lo berani ngomong gitu sama gue!” Merasa tidak terima, Jihan mengangkat tangannya hendak menampar Inka namun dengan cepat Bella menahannya.


Bella mencengkram erat tangan Jihan yang beberapa senti lagi sebelum mengenai Inka. Kedua perempuan itu saling bertatapan penuh kemarahan.


“Lo gak berhak untuk nyentuh temen gue. Bukan Inka yang harusnya di tampar tapi lo!” seru Bella seraya mengibaskan tangan Jihan dengan kasar.


Sekali waktu,


“PLAK!!!” Bella menampar pipi kiri Jihan.


*“Itu tamparan dari seorang crew* yang script-nya lo berantakin. Dan kesolidan timnya lo acak-acak.” Ucap Bella.


Jihan melotot kaget sambil memegangi pipi kirinya. Ia tidak menyangka Bella berani menamparnya.


“PLAK!!!” Kali ini pipi kanan Jihan yang ditampar Bella.


“Itu tamparan dari seorang perempuan yang lo ganggu kelurganya.”


“Gimana, mba Jihan sudah cukup sadar bukan?” Bella tersenyum puas melihat Jihan yang terhuyung nyaris terjatuh mendapatkan dua tamparan dari Bella.


Wanita itu memegangi pipinya yang merah dan perih. Matanya berkaca-kaca menahan tangis.


“Brengsek kamu Bella. Saya akan menuntut kamu atas apa yang kamu lakukan terhadap saya!” Suara Jihan sampai bergetar karena menahan tangis.


Tiba-tiba saja Devan maju ke depan dan berdiri di samping Bella.


“Tidak perlu mengancam istri saya dengan gertakan sambal seperti itu. Lebih baik anda bersiap untuk tuntutan yang lebih besar yang akan anda terima.” Ucap Devan seraya memberikan sebuah berkas pada Jihan. Berkas tuntutan atas perbuatan Jihan terhadap sang ayah.


Dengan tangan gemetar, Jihan menerima berkas itu. Ia membaca satu halaman pertama dan air matanya langsung menetes.


“Anda tidak bisa melakukan ini pada saya.” Ucap Jihan dengan gemetar. Ia menghampiri Devan namun Devan segera berreaksi.


“Tetap di tempat anda! Atau kami akan menambahkan berkas gugatan lainnya pada anda, saat ini juga..” Ancam Devan dengan serius.


Satu Langkah yang sudah di ambil Jihan, akhirnya urung dilakukan. Ia tetap berdiri lemah di tempatnya.


“Gu-gugatan apalagi yang anda maksudkan?” Jihan langsung gelagapan.


“Gugatan ini pun sebenarnya tidak beralasan anda tunjukkan pada saya. Apa buktinya kalau saya melakukan Tindakan kekerasan?” Ia bertanya dengan wajahnya yang panik. Ia menatap tidak percaya pada Devan yang sangat ia cintai.


Otaknya masih berpikir, bagaimana bisa Devan tahu kalau ia yang memerintahkan orang-orang suruhannya untuk menyerang Amri.


“Tambahannya adalah gugatan tindakan kekerasan pada saya. Dan saya sudah membawa saksinya.” Timpal sebuah suara yang muncul di mulut pintu.


Jihan segera menoleh dan matanya membulat tidak percaya saat Ia melihat sosok Amara di mulut pintu.


Wanita itu segera mendekat pada Jihan sembari melepas kacamata hitam yang menutupi mata bulatnya.


“Mba JIhan, gak lupa kan atas apa yang mba Jihan lakukan pada saya?” Tanya Amara dengan tenang.


Jihan sampai terhuyung karena kaget. Terlebih saat ia melihat Rangga yang berdiri di samping Amara. Sepertinya ia sadar kalau Rangga lah bukti dan saksi kunci yang akan memberatkannya.


“Akh, sial!” Dengus Jihan tanpa bisa mengelak lagi.


*****