Bella's Script

Bella's Script
Menjaga jarak



Hari sabtu yang di nanti sudah seperti tidak memberi arti untuk keluarga Ozi. Masing-masing terdiam dengan pikirannya sendiri walau tubuhnya berada di tempat yang sama dan tetap bergerak layaknya manusia normal.


Ozi berhadapan dengan sepiring nasi goreng yang hanya ia aduk-aduk namun pelan. Seperti tidak ada selera untuk menikmatinya. Sementara Saras, masih menata makanan yang ia buat sambil terus memperhatikan ke arah pintu kamar Bella.


Sejak kemarin, mereka belum bertemu lagi. Belum sekalipun Bella keluar dari kamarnya untuk sekedar minum atau menghirup udara luar. Jangan di tanya soal makan, sepertinya ia tidak memiliki selera itu. Dengan pikiran yang menerawang Saras menyiapkan makanan di dalam beberapa kotak makan dan memasukkannya ke dalam goodie bag.


“Bang,” setelah pekerjaannya selesai, Wanita paruh baya itu duduk di samping Ozi dan memperhatikan putranya dengan seksama.


“Abang gak manggil Adek? Ini udah siang, dia bahkan gak keluar buat minum.” Cemas Saras.


Bella anak yang menyukai minum air putih. Katanya kalau satu hari saja kebutuhan minum air putihnya tidak terpenuhi, badannya terasa lelah dan tidak segar. Tapi dari kemarin ia mengabaikan itu.


“Kalau beneran haus, dia bakal keluar mah. Seperti yang dia bilang, dia bukan anak kecil lagi.” Sahut Ozi. Ia meletakkan sendok dan garpunya. Selera makannya benar-benar hilang.


Saras menghela nafas dalam. Betapa menyedihkan saat kedua anaknya ini bertengkar. Suasana rumah jadi sepi, padahal seharusnya di weekend seperti ini mereka menikmati kebersamaan mereka. Entah itu membersihkan rumah sama-sama, Ozi menggoda Bella dan membuat mereka berlarian di rumah sambil tertawa-tawa atau mungkin berkumpul di taman belakang untuk sekedar barbeque-an.


Hah, Saras merindukan hal itu. Di usia senja, kesibukan anak-anaknya semakin banyak. Di saat ada waktu dan malah muncul masalah, seperti membuktikan kalau hidupnya memang seringkali sendirian.


“Coba abang bujuk Adek. Abang ngalah, jangan terlalu keras sama dia. Lagi pula, menurut mamah beberapa hal yang Adek omongin kemaren itu ada benarnya.” Suara Saras terdengar pelan penuh harap.


“Terus maksud mamah, omongan abang dan kecemasan abang selama ini salah?” Ozi jadi meradang. Terlihat jelas kalau ia kecewa dengan ucapan Saras yang cenderung membela Bella.


“Abang cuma mau adek dapet yang terbaik mah, bukan hal lain. Kenapa jadi abang yang salah?”


“Mamah harus tau, laki-laki itu, cuma main-main sama adek. Asyik ngajak adek pacaran, sering bikin adek nangis dan kesulitan, bikin adek bingung tapi gak pernah mikirin masa depan mereka.”


“Hal sederhananya gini, pernah gak dia berusaha mengenal kita mah? Dua orang yang dimiliki adek di hidupnya. Buat abang percaya kalau dia bisa di percaya untuk menjaga adek lebih baik dari abang.”


“Nggak kan?”


“Dia bahkan gak pernah datang untuk sekedar main dan mengenal kita. Dateng setahun sekali cuma waktu lebaran tanpa mau buka kesempatan buat kita saling mengenal. Nganter Adek aja cuma sampe gerbang padahal jelas abang nunggu Adek di depan. Apa salahnya dia masuk sebentar dan nyapa kita. Apa sebegitu sibuknya jadi vokalis band sampai gak bisa luangin waktu buat menyapa kita padahal udah 8 tahun mereka pacaran?”


“Apa cuma hobi dan keinginan dia yang menjadi prioritas sementara Adek gak pernah menjadi prioritas di masa depan dia? Adek udah berkorban banyak buat laki-laki itu mah.”


“Lalu, apa laki-laki seperti itu pantas abang percaya buat jagain Adek?”


Kekesalan Ozi akhirnya tumpah. Kekesalan yang bercampur kecemasan kerap memenuhi pikirannya selama ini. Baginya, Bella sangat berharga, ia tidak mau kalau Bella sampai jatuh ke tangan laki-laki yang salah.


“Ya, mamah paham.” Saras menghampiri Ozi dan mengajaknya duduk. Ia mengusap punggung sang putra dengan lembut untuk menenangkannya.


“Mamah paham benar kekhawatiran dan kecemasan abang. Tapi,” di tatapnya wajah Ozi yang masih terlihat kesal. Ia tersenyum kecil untuk sang putra.


“Bisakah abang ajak adek bicara baik-baik?”


“Ajak dia bicara dari hati ke hati. Dengarkan dan hargai keputusannya dan jangan menghakiminya. Dalam hubungan mereka, adek lah yang sebenarnya lebih kesulitan di banding kita. Dia butuh kita untuk mengerti. Percaya sama mamah.” Terang Saras dengan lembut.


Ozi menatap sejenak wajah Saras yang teduh. Ia berusaha memahami maksud ibunya. Dan perlahan Ozi mengangguk, mengiyakan permintaan sang ibu.


Di teguknya minuman hitam bercafein itu dengan perlahan. Pahit di awal namun manis dan menenangkan di ujungnya. Mungkin seperti itulah setiap hubungan.


Sepeninggal Ozi dan Saras, rumah benar-benar sepi. Seharian ini Bella berdiam diri di kamar untuk melanjutkan tulisannya. Di sore hari, perutnya protes minta di isi. Tapi selera makannya tidak kunjung datang.


Dengan penampilan yang asal-asalan, hanya mengenakan piyama, rambut di ikat cepol dan kacamata yang setia bertengger di atas batang hidungnya, Ia memutuskan untuk pergi ke dapur. Membuat secangkir kopi untuk menyegarkan tubuhnya.


Tidak lama terdengar suara langkah kaki mendekat. Bella sedikit menoleh tanpa berhenti menyesap kopinya.


Devan sudah pulang rupanya. Laki-laki itu melepaskan jaketnya yang kemudian ia sampirkan di sandaran kursi. Di ambilnya gelas dari atas meja makan dan menuju dispenser sebelah Bella.


Mereka berdiri berdampingan namun tidak memiliki keinginan untuk saling menyapa.


Devan meneguk air mineralnya dan Bella menyeruput lagi kopinya yang masih hangat. Keduanya terdiam, menyelesaikan keinginan masing-masing lalu kembali ke kamarnya tanpa saling berpamitan. Ya, sesepi itu rumah hari ini.


*****


Beberapa hari ini terasa begitu serius bagi Bella. Ia bekerja keras menyelesaikan script-nya agar bisa tidur nyenyak.


Beberapa hari ini juga Bella memilih tinggal di kantor. Alih-alih pulang dan bertengkar dengan Ozi, lebih baik menghabiskan waktu di kantor dan menyelesaikan pekerjaan, pikirnya.


“Mah, adek nginep di kantor yaaa… Masih banyak kerjaan.” Pesan itu yang beberapa hari ini ia kirim berulang untuk mengabari Saras.


“Udah makan nak?”


“Adek mau di bawain apa, nanti mamah titipin bang Devan.”


“Adek jangan begadang yaaa… Jaga Kesehatan.”


Kalimat-kalimat itu yang di kirim Saras karena mencemaskan putrinya.


“It’s okey mah. Adek baik-baik aja kok.” Dan itu adalah pesan balasan default dari Bella. Ia lebih menikmati mengerjakan semuanya di kantor.


Dan tanpa di sadari, hal ini yang sebenarnya selalu Bella takutkan saat menulis. Ya, tenggelam. Tenggelam dalam pekerjaan, tenggelam dalam cerita dan tenggelam dalam emosi yang ia bangun di cerita yang ia buat.


Suara ketikan jari di atas keyboard kembali terdengar, kali ini sedikit keras. Sepertinya Bella sedang menulis dengan emosi yang menggebu.


“Tahan kaleeee, di ruangan ini gak cuma lo doang.” Cetus Rini yang merasa terganggu oleh Bella.


Bella tidak menanggapi. Telinganya sudah lebih dulu di tutupi headset agar tidak mendengar suara bising di sekitarnya.


“Mau kemana?” tanya Rini saat Melisa beranjak.


“Ke taman. Nulis di sana aja.” sahut Melisa yang mendelik kesal pada Bella.


Kedua wanita itu beranjak dari tempatnya dan berpindah ke taman untuk melanjutkan pekerjaannya.


Dari ruangannya Devan memperhatikan Bella yang tampak serius mengetik script-nya. Ia sudah menerima 2 part lanjutan dan rasanya semakin penasaran dengan cerita yang di buat Bella.


Tanpa Devan sadari, ternyata Bella menangkap kalau ia sedang memperhatikannya.


“Kenapa?” seru Bella saat melihat Devan memandanginya.


Devan tidak bergeming dan tidak menyahuti. Bella jadi celingukan melihat ke sekelilingnya. Mungkin tidak terdengar.


“Ngefans banget lo sama Ralline Syah?” dengusnya saat ia pikir Devan sedang memandangi baligo Ralline Syah yang terhalang oleh tubuhnya. Beberapa kali ia memang mendapati Devan melihat ke arahnya, tapi jika di pikir-pikir, bukan ia yang di perhatikan Dean, melainkan bintang iklan yang diidolakan banyak pria.


Ia sedikit memundurkan kursinya agar tidak menghalangi pandangan Devan dan samar ia melihat laki-laki itu tersenyum.


“Seneng lo, bidadarinya gak kehalangin Arca Borobudur?!” gerutunya seraya melanjutkan pekerjaannya.


Hari-hari berjalan selalu seperti itu. Kantor sekarang jadi rumah kedua bagi Bella. Ia tidur dan makan di sana. Bahkan membawa baju ganti dalam koper ke kantor.


Hingga tengah malam dan akhirnya Bella tertidur di meja kerjanya.


“Belum pulang bro?” sapa Indra di pintu ruangan Devan. Ia adalah salah satu assisten sutradara untuk project film dengan Bella nantinya.


“Masih baca script.” Devan mengangkat script di tangannya dan menunjukkannya pada Indra.


“Kerja keras banget sih lo.” Indra masuk ke ruangan Devan dan duduk berhadapan.


“Bella gak di bangunin? Jam berapa ini?” Ia memutar kursinya ke arah belakang dan terlihatlah Bella yang tertidur telungkup di mejanya. Ia melihat jam tangan sudah setengah 1 malam.


“Udah gue saranin tapi nolak.” Sahut Devan lurus.


Ia ikut memandangi Bella dengan wajah khawatir. Setiap hari Bella seperti itu. Meja kerja ibarat kamarnya sekarang. Makan dan Minum di sana bahkan di sebelahnya ada sebuah koper tempat Bella menyimpan bajunya.


“Sejak dulu, dia memang selalu sangat fokus sama kerjaannya. Kadang gue bingung darimana asal tenaga sama inspirasinya.” Indra jadi tersenyum saat mengingat Bella sejak dulu hingga sekarang.


Devan tidak menanggapi. Ia hanya memandangi Bella dengan lekat penuh perhatian.


“O iya, bisa gak kalau besok pagi kita rapat sama Rini dan Melisa. Script mereka buat mini series udah selesai. Kemungkinan kita garap itu dulu sambil nunggu project film bareng Bella selesai.” Terang Indra memecah fokus Devan  .


“Boleh. Kita susun jadwal mulai besok.”


“Hem, okey. Gue pulang dulu. Lo jangan kepagian pulang ke rumah.” Indra beranjak dari tempatnya. Menepuk pundak Devan dengan akrab.


“Hati-hati.” Sahut Devan yang di acungi jempol oleh Indra.


Laki-laki bertubuh tambun yang usianya hampir dua kali lipat dirinya itu, akhirnya pergi. Tinggalah Devan yang memandangi Bella dari tempatnya.


Ia mengambil kain yang ia bawa dari rumah lalu menghampiri Bella dan menyampirkan kain itu di tubuh Bella. Bella sedikit menggeliat dan Devan tersenyum kecil melihat wajah Bella saat tertidur lelap. Tidak lupa ia pun melepas kacamata Bella.


Untuk beberapa saat ia terpaku. Ia memandangi wajah Bella yang tidak secerah biasanya. Ada lingkaran hitam di matanya dengan wajah yang kusam. Dahinya berkerut seolah banyak sekali yang mengisi rongga pikirannya.


“Lo terlalu bekerja keras Bell.” Gumamanya. Jujur, ia mulai khawatir.


Di taruhnya kacamata di dekat Bella. Tidak lupa ia pun menaikan suhu AC agar tidak terlalu dingin.


“Tidurlah yang nyenyak, jangan terlalu banyak bermimpi.” Imbuhnya. Segaris senyum ia berikan pada Bella sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan Bella.


****