
Langkah Bella dan Devan terlihat panjang dan cepat nyaris berlari saat menyusuri lorong rumah sakit menuju ruang perawatan Ozi. Sepanjang jalan Devan tidak lepas menggenggam tangan Bella yang coba ia kuatkan agar tidak ketakutan sendirian.
Kamar 206 sudah di depan mata. Seorang perawat baru keluar dari ruangan dan tersenyum ramah menyapa Bella dan Devan sebelum pergi. Mereka langsung masuk tanpa memberi jeda pintu untuk tertutup.
“Lo gak apa-apa kan?” Keduanya terengah di mulut pintu.
Bella segera berlari menghampiri Ozi yang sedang terduduk bersandar di tempat tidurnya sambil menonton televisi.
Ia segera mengecek suhu tubuh Ozi dengan menepatkan punggung tangannya di dahi Ozi.
“Nggak. Gue baik-baik aja.” Sahut Ozi yang berusaha bangkit agar duduk tegak.
“Fiuh syukurlah.” Bella bisa menghela nafas lega saat ternyata sang kakak baik-baik saja. Ia pun tersenyum lega pada Devan yang tidak kalah mencemaskan kondisi Ozi.
“Mamah mana?” Bella langsung teringat Saras yang tidak ada di ruangan. Tadi Saras terdengar begitu tergesa-gesa saat menghubunginya.
“Lagi ke depan ngurus administrasi. Bentar lagi juga balik.” Terang Ozi, memandangi dua orang ini bergantian.
Bella mengangguk-angguk sambil duduk di sofa bersama Devan. ia harus menenangkan jantungnya yang masih terasa berloncatan.
“Cepat banget nyampe sini. Lo bawa adek gue kebut-kebutan ya?” Ozi memperhatikan dua orang yang sedang menenangkan dirinya.
“Masih kecepatan normal.” Sahut Devan.
Ozi hanya menggeleng menahan senyum mendengar sahutan sahabatnya. Ia pun jelas melihat sikap manis Devan saat mengusap kening Bella yang berkeringat.
“Kalian udah nyampe?” Suara Saras terdengar di pintu masuk.
“Iya mah. Adek sama Devan kaget banget tadi makanya buru-buru ke sini.” Bella menghampiri sang ibu yang membawa keresek makanan di tangannya, untuk ia ambil alih.
“Maaf udah bikin adek sama nak Devan khawatir. Maksud mamah nanti pulang ke RS karena kita memang harus ngobrol soal abang. Tapi gak nyuruh buru-buru juga. “ Saras mengusap rambut Bella yang basah karena keringat.
“Iya mah, adek panik kalau denger soal si iseng ini.” Ucap Bella sambil menjulurkan lidahnya pada Ozi.
Ozi hanya terkekeh di tempatnya. Antara senang dan sedih orang-orang di sekitar mencemaskannya.
“Ngomong-ngomong, ada kabar apa soal abang? Dokter spesialisnya udah ada visit?” Bella ingin segera tahu kondisi Ozi. Ia duduk di kursi samping tempat tidur Ozi.
Ozi dan Saras saling lirik sebelum menjawab pertanyaan Bella.
“Sini nak Devan, duduk di sini.” Saras meminta Devan duduk di samping Bella.
“Baik tante.” Devan segera mendekat.
“Ada apa sih ini, kok jadi tegang gini?” Bella menatap Ozi dan Saras bergantian. Ia penasaran dengan arti ekspresi keduanya yang sulit di tebak.
“Jadi gini sayang. Tadi, dokter spesialis bedah syaraf udah visit. Katanya kondisi abang semakin membaik dan rencana tindakan operasi sudah bisa di jadwalkan. Rencana 3 hari ke depan.”
“Alhamdulillah… Terus gimana, abang sama mamah udah setuju kan?” Bella menatap kedua orang di hadapannya dengan penasaran. Tidak bisa ia pungkiri kalau ini kabar baik dan harapan terbesar Bella kalau Ozi bisa segera sembuh.
Ozi menunduk lesu dan membiarkan Saras melanjutkan kalimatnya.
“Dokter udah menjelaskan detail rencana operasi berikut kondisi yang mungkin abang hadapi saat dan setelah dilakukan tindakan. Mamah, udah menyetujuinya. Tapi katanya abang punya permintaan.” Saras menoleh Ozi yang terduduk dengan tenang di tempatnya.
“Permintaan apa? Lo gak nolak kan bang?” Bella menatap Ozi penuh selidik.
Ozi menggeleng. “Gue setuju. Hanya saja, gue kepikiran lo sama mamah." Ozi menatap Bella lekat.
"Siapa yang akan ada yang menjaga kalian kalau-kalau hal buruk terjadi saat dan setelah gue operasi?” Ucapan Ozi membuat hati Bella gemetar.
“Bocah… Pastilah gue berjuang dan berusaha bertahan.” Diusapnya kepala Bella dengan lembut, membuat gadis itu tersenyum kecil walau masih cemas.
“Katanya operasinya sekitar 13 jam. Berbagai kemungkinan bisa saja terjadi walau sudah pasti tim medis berusaha seoptimal mungkin untuk nyelamatin gue dari penyakit ini. Cuma, kita gak pernah tau gimana kondisi gue saat keluar dari ruang operasi. Gue boleh yaa, bikin satu permintaan sama kalian berdua?” Ozi memandangi Bella dan Devan bergantian.
“Lo minta apa?” Devan segera menyahuti. Ia tidak mau sahabatnya merasa sendiri menghadapi rasa takutnya.
Ozi menghela nafas dalam sebelum melanjutkan kalimatnya.
“Kalian berdua nikah ya, sebelum gue operasi.” Pinta Ozi dengan sungguh.
“Hah, nikah?” Bella sampai menegakkan tubuhnya dan menjauh dari Ozi. Ia menatap Ozi penuh tanya.
“Hem… Gue pengen lo berdua nikah sebelum gue operasi. Bantu gue untuk tenang menghadapi kondisi antara hidup dan mati ini.” Tegas Ozi.
“Hah? Lo gila ya. Mana ada gue nikah dalam waktu 3 hari ke depan? Lo kalau bikin permintaan gak kira-kira.” Bella benar-benar melepaskan rangkulannya dari Ozi. Ia kesal dengan permintaan Ozi yang tidak masuk akal.
Menikah? Dalam 3 hari? Konyol! Itu yang ada di pikiran Bella saat ini.
“Dek,, Gue serius.” Ozi meraih tangan Bella untuk ia genggam.
“Keberhasilan operasi ini sangat kecil. Gue gak siap kalau belum memastikan ada seseorang yang akan menjaga lo dengan baik.” Raut wajah Ozi berubah cemas. Terutama saat mengingat masalah yang saat ini di hadapi Bella.
Ia yakin Bella akan menyembunyikannya beberapa saat, agar tidak membuat Ozi dan Saras memikirkan hal ini. Sayangnya, Ozi dan Saras sudah tahu lebih dulu. Dan Bella tidak tahu kalau ibu dan abangnya sudah mengetahui gosip yang saat ini beredar.
“Gue takut, kalau ternyata semuanya gak sesuai harapan kita. Terus gue gak bisa jagain lo dan mamah lagi. Gimana bisa gue mengiyakan saran dokter untuk operasi sementara gue gak yakin sama kondisi kalian berdua dan ternyata gue harus pergi selamanya.” Mata Ozi sampai berkaca-kaca saat mengucapkan kalimat tersebut.
“Iiiihhh!!! Lo ngomong apa sih! Jangan nakutin gue deh!!!” Decik Bella dengan air mata yang meleleh di kedua pipinya.
Bagaimana bisa Ozi berbicara setenang ini tentang kematian sementara perasaan Bella sedang ketar ketir.
“Gue akan nikahin Bella sesuai permintaan lo.” Ucap Devan dengan yakin.
Semua tatapan kini tertuju pada Devan dan laki-laki itu berusaha tenang walau sebenarnya gemetar.
“Seperti yang pernah Devan sampein ke tante dan Ozi, kalau Devan serius sama Bella. Devan harap, tante dan Ozi bisa yakin untuk memberikan kepercayaan itu sepenuhnya buat Devan.” Imbuh Devan dengan penuh kesungguhan.
Ozi tersenyum tenang mendengar ucapan Devan. Sebuah sapuan halus di berikan Saras di bahu Devan.
“Terima kasih nak. Terima kasih banyak.” Lirih Saras dengan air mata berlinang. Ia tidak menduga, setelah menghadapi banyak kejadian menyedihkan dan menakutkan, akhirnya ia bisa mendapatkan kabar baik.
“Sama-sama tante. Devan juga berterima kasih atas kepercayaan tante pada Devan.”
“Iya nak.” Saras memandangi Devan penuh rasa syukur.
Sementara itu, dari tempatnya Bella memandangi Devan yang sedang di rangkul ibunya. Laki-laki itu berusaha tersenyum pada Bella yang menatapnya penuh haru dan tanya.
Kenapa yakin sekali laki-laki ini?
*****
Lanjutt?
Hehehehe... Jangan lupa like, komen, vote-nya yaaa...
Terima kasih