Bella's Script

Bella's Script
Perlawanan



“Bella udah balik?” Tanya Roni di sela aktivitasnya memasang aksesoris di panggung. Di tangannya ia masih memegangi palu, bekas memasang paku dan beberapa aksesoris.


“Belum, masih di jalan. Tapi dia udah bales chat gue. Bentar gue ke anak Iighting dulu.” sahut Inka.


Ia membawa beberapa lampu kecil yang di rangkai di sebuah kabel transparan, di gulungnya dan di bawa menemui tim ligthing.


“Udah gue aja, lo tunggu di sini.”


“Gak usah, sekalian gue mau ngejelasin ini sama mereka. Biar cepet di ubah juga tata panggungnya, waktu kita udah mepet. Lo terusin aja kerjaan lo.”


“Ya udah, kalo butuh bantuan gue, lo telpon aja.”


“Iyaa...”


Inka bergegas menuju tim lighting di belakang panggung.


“Bang Edi mana?” Tanya Inka pada salah satu crew tim Lighting.


“Lagi di gudang depan, ngecek barang yang baru dateng. “


Tanpa menunggu lama, Inka segera ke  Gudang depan, tempat penyimpanan pertama kali saat barang pesanan datang.


Dari kejauhan ia sudah melihat sebuah mobil barang yang mengangkut barang pesanan dan sedang berangsur di turunkan.


“Bang!” Panggil Inka pada laki-laki yang hanya menggunakan kaos singlet dengan celana Jeans itu. Topinya ia arahkan kebelakang, memberi kesan manly pada penampilannya.


“Wih ibu trachea, ada apa nyari gue?” sambut Edi yang segera mematikan sebatang rokok yang sedang di hisapnya. Ia tahu persis kalau Inka sangat tidak suka mencium asap nikotin di sekitarnya.


“Bantu gue ubah tata lampu dikit dong..” Inka mendekat pada ketua tim lighting.


“Mau di bikin kayak gimana? Bukannya anak-anak lagi ngerjain panggungnya?”


“Iyaaa, tapi ada sedikit yang gak cocok menurut gue. Kurang pas tampilannya.”


Inka menunjukkan desain panggung yang tadi sudah ia corat coret.


“Bagian sini nih, kurang grande kesannya. Yang mau manggung kan penyanyi legendaris, Diva. Nah gue mau kesan grande-nya bisa dapet. Ini masukan dari Bella.” Inka menunjukkan satu gambar lainnya hasil bertanya pada Bella.


Edi memperhatikan kedua gambar itu beberapa saat. Dahinya tampak berkerut, seraya berpikir.


“Oh iya, gue paham. Nanti gue minta anak-anak ngubah posisi lampu sorotnya. Atau lo mau pake lampu sorot dari sudut belakang juga? Ini bisa di nyalain pas salah satu bintang tamu turun dari atas. Kayak pake ayunan gitu. Kebetulan ada barang baru pesenan gue yang udah dateng.“ tawar Edi.


“Terus nanti tampilannya kayak gimana? Coba lo gambarin, nanti gue kasih liat juga ke Bella.”


“Okey, kayak gini.” Edi mengambil ballpoint yang di sodorkan Inka lalu membuat beberapa sketsa gambar tata panggung dengan lampu sorot baru.


“Posisinya ada disini nih. Nanti pas guest star itu turun dari atas, lampu utama lain kita matiin, cuma lampu-lampu kecil aja yang nyala. Ada efek smoke-nya juga, buat ngasih efek pas lampu belakang ini di nyalain. Jadi depan simetris, belakangnya siluete. Gimana?” terang Edi, menunggu persetujuan Inka.


Inka tampak berpikir beberapa saat sebelum memutuskan.


“Iya dah boleh. Tapi gue juga mau share dulu ini ke Bella yaa, gue masih butuh masukan dia. Gimana pun gue gak mau konser musik ini gagal.”


“Iyaaakkk. Penting juga nanya Bella, dia jagonya penataan yang beginian.” Edi ikut mengiyakan.


“Kalau udah setuju, lo tinggal telepon gue, nanti gue arahin anak-anak ke sana.”


“Okey bang, makasih yaa. Gue telpon Bella dulu.”


“Sip!” Edi mengacungkan ibu jarinya sebagai tanda setuju.


Sambil berjalan menuju studio tempat ia menata panggung, Inka berusaha menghubungi Bella.


“Lo udah sampe mana Bell?” Tanyanya dengan tergesa-gesa.


“Gue makan siang dulu sama Devan. bentar yaaa…” sahut Bella dari sebrang sana.


“Oh sorry gue ganggu. Gue cuma ngasih tau, hasil konsul gue sama bang Edi. Nanti gue text sama kirim fotonya ya…”


“Iyaaa, santai aja. Lo mau nitip beli makan gak? Gue lagi makan soto nih.” Tawar Bella. Ia yakin sahabatnya pasti belum makan, padahal waktu makan siang sudah hampir lewat.


“Soto mulu makanan lo. Gak usah, nanti gue ke kantin aja sama bang Roni. Lo terusin aja dulu.”


“Okey… Jangan ketelatan makan lo… Nanti lo sakit lagi.”


“Iyaaa bawell… Gue tutup yaaa…”


“Hem…”


Panggilanpun berakhir. Inka masih tersenyum memandangi ponselnya saat melihat wajah Bella di foto profil kontaknya. Ia seperti melihat kembali Bella yang dulu. Bella yang ceria dan sangat baik. Tidak ada lagi Bella yang sering terdiam sendirian saat dimintai pendapat atau Bella yang sering melamun karena memikirkan hal berat. Rupanya wanita itu sudah benar-benar menemukan kebahagiaannya seperti yang selalu ia katakan.


Kembali ke studio, para penata lampu masih belum datang. Inka jadi memandangi bentuk panggung yang ada di hadapannya dan membandingkannya dengan gambar yang ada di tangannya.


“Rupanya kerjaan lo masih kayak ini.” Ujar sebuah suara yang membuat Inka terhenyak. Ia mengenal benar suara besar dan selalu sinis itu.


Saat Inka menoleh, benar saja seorang laki-laki berbadan tegap bangkit dari tempat duduknya. Ia menghampiri Inka dari kegelapan dan tidak lama wajahnya terlihat jelas terkena bias cahaya dari lampu panggung.


Benar adanya kalau laki-laki yang kini menghampirinya adalah Andra, kakak pertamanya.


"Jadi bawahan, emang lebih cocok buat lo!" Kalimat sinis kembali dilontarkan Andra.


Ia menghampiri Inka, mengambil kertas di tangan Inka, memperhatikannya beberapa saat lantas tersenyum sinis. Inka hanya bisa mematung melihat kedatangan sang kakak yang bahkan tidak pernah ia duga.


“Bagaimana liburannya kemarin di rumah gue? Apa aja yang lo berhasil dapat dari papah?” Andra memulai pertanyaannya dengan sarkas. Ia menatap tajam Inka yang sudah ketakutan sejak pertama kali mendengar suara Andra.


Ya, Inka memang selalu ketakutan pada laki-laki ini. Kakak tertua yang dulu sangat menyayanginya, melindunginya tapi kini sangat membencinya.


“Maksud kakak apa, aku gak ngerti.” Inka menggeleng. Tangannya sudah gemetar karena takut dan ia coba redam dengan mentautkan jari-jarinya di belakang tubuh kurusnya dan saling menggenggam satu sama lain.


“Gak usah sok begok!” Andra mentoyor kepala Inka hingga wajah wanita itu berpaling. Helaian rambut menutupi wajahnya yang pucat karena ketakutan.


Inka hanya bisa bertunduk. Takut-takut menatap sang kakak yang berdiri di hadapannya.


“Hebat!! Beberapa hari lo di rumah gue, lo udah berhasil ngerayu papah sampe ngasih sebagian hartanya buat lo. Lo mirip banget yaa sama nyokap lo yang pelac*r dan suka merayu itu. CIH!!!” Andra meludah tepat di hadapan Inka.


Gadis itu hanya bisa menutup matanya yang mulai merah dan berkaca-kaca. Nafasnya tertahan dan terengah.


Tidak puas sampai di sana, Andra kembali mendekat pada Inka membuat jarak mereka hanya beberapa senti saja.


“Lihat gue. LIHAT GUE!!!” Gertak Andra yang berteriak tepat di hadapan Inka.


Inka sampai terhenyak dan gemetaran mendengar suara sang kakak yang menggaung mengisi studio yang kosong.


Hanya ada deretan kursi yang mendominasi dan tidak mungkin ambil suara untuk membela Inka.


“Berapa yang papah kasih buat lo, BERAPA?!” Lagi Andra bertanya dengan emosi yang menggebu-gebu.


Di tengah kekalutannya, Inka mencoba memahami maksud Andra. Mungkin yang ia maksud adalah surat pembelian saham yang Wibisono buat atas nama Inka.


“Kak, aku gak pernah minta apapun sama papah. Aku,”


“DIAM LO!” tunjuk Andra tepat ke wajah Inka.


“Lo pikir gue bakal percaya kalau lo gak minta apa-apa sama papah?” Andra menatap Inka dengan sanksi.


“Lo anak dari seorang perayu dan perebut, saat lo bilang gak minta apa-apa dari papah, lo pikir gue bakal percaya? Nggak, bodoh!!” Lagi Andra mentoyor kepala Inka.


“Gue udah liat semua buktinya. 80% PH ini bahkan sudah menjadi punya lo, lo gak perlu pura-pura gak dapet apa-apa dan masih sok-sokan ngerjain pekerjaan gak berguna gini. Kecuali kalau mental lo memang mental kacung.” Andra kembali merebut kertas dari tangan Inka dan membuang nya.


Tarikan tangannya yang tiba-tiba merebut kertas di tangan Inka, membuat jari Inka tergores ujung kertas yang tajam.


“Awh!” Inka mengaduh bersamaan dengan luka yang membuka di ujung jemarinya. Satu dua tetes darah menetes di atas lantai keramik berwarna cream.


“Ck!” Andra berdecik sebal.


“Lo selalu belaga lemah depan gue, padahal otak lo penuh siasat brengsek!” Ini toyoran ketiga, keempat, kelima bahkan keenam yang di lakukan Andra berulang pada gadis itu.


“Denger gue baik-baik,” Andra mencondongkan tubuhnya pada Inka, mendekat pada telinganya.


Tangan kirinya menyisir rambut Inka lalu mencengkram dan menariknya tiba-tiba.


“Awh!” Inka hanya bisa mengaduh kesakitan saat rambutnya di tarik paksa namun itu tidak lantas membuat Andra merasa iba.


“Sekali lagi gue denger atau liat lo datang ke rumah gue, gue pastiin kaki lo gak akan bisa melangkah lagi kemanapun. Lo paham?” tanya Andra penuh intimidasi.


“Jangan kak, jangan larang aku ketemu papah. Aku mohon…” Baru kali ini Inka mengeluarkan suaranya yang terbata-bata dan gemetar.


Inka sampai menyatukan kedua tangannya di depan Andra, memohon belas kasihan sang kakak. Andra tersenyum miring, menyenangkan melihat Inka memohon seperti ini. Seolah mengobati hatinya yang sakit karena ibu Inka pergi begitu saja tanpa memohon maaf sedikitpun pada mendiang ibunya.


“Cuma papah satu-satunya yang aku punya, aku gak mungkin gak ketemu papah. Aku,”


“DIAM!!!!” Seru Andra sambil mengangkat tangannya hendak memukul Inka.


Inka sudah memejamkan tangannya, namun tangan kokoh Andra tidak juga mendarat di pipinya.


Takut-takut ia membuka mata dan seketika ia melihat tangan Andra yang gemetar hendak memukul Inka ditahan sebuah tangan kokoh lainnya memegangi tangan Andra hingga sulit bergerak.


“Mas Bima,…” Lirih Inka bersamaan dengan bulir air mata yang menetes. Jantungnya kembali berdetak setelah tadi seperti terhenti beberapa detik saja.


Ya, Ozi lah yang menahan tangan Andra agar tidak memukul Inka. Walaupun ia datang terlambat dan membuat Andra berhasil melakukan hal yang menyakiti gadis ini, kali ini Ozi tidak akan membiarkan laki-laki ini melanjutkan semuanya. Sekuat tenaga ia memegangi tangan Andra.


“Apa harga diri anda serendah ini hingga anda bisa mencaci bahkan memukul seorang wanita dengan begitu mudahnya?” Tanya Ozi dengan penuh penekanan.


Mendengar pertanyaan Ozi, Andra hanya bisa mengepalkan tangannya dan menggeretakkan giginya dengan kesal.


“LEPAS!!!” serunya seraya mengibaskan tangan Ozi, namun Ozi tidak melepaskannya.


“Saya tidak keberatan untuk melepaskan tangan ini dari sendinya jika anda masih berani memukul wanita ini.” Tegas Ozi tanpa niatan untuk melepaskan cengkramannya. Entah dari mana asal kekuatan yang kini mengisi tubuhnya. Sekilas ia melirik Inka yang masih ketakutan dan menatapnya penuh harap dan haru.


“BRENGSEK! LEPAS! Saya tidak akan memukulnya!” Andra benar-benar tidak berkutik. Ia hanya bisa mengatakan hal itu agar Ozi melepaskan genggaman tangannya.


Dengan sekali kibasan Ozi melepaskan genggaman tangannya.


Laki-laki itu menatap Ozi dengan penuh kemarahan, menggeretakkan giginya hingga pipinya seolah berdenyut menahan kesal. Namun ia tidak bisa melakukan apapun. Ia sadar, Ozi bukan seseorang yang mudah untuk ia hadapi.


“Kali ini lo selamat.” Dengus Andra seraya berlalu meninggalkan Inka setelah sengaja menubrukkan lengannya ke bahu Inka dan menatap sinis pada Ozi. Ia mengacungkan jari tengahnya pada Ozi yang diacuhkan begitu saja oleh laki-laki bertopi itu.


“Bruk!” tiba-tiba saja tubuh Inka ambruk. Seperti tulang kakinya melunak karena lemas.


*****