Bella's Script

Bella's Script
Kangeenn Ayang 2



Di kediaman Bella terlihat beberapa orang masih beraktivitas malam ini. Ada keluarga dari Saras yang ikut membantu persiapan pernikahan walau hanya akad. Paling tidak mereka harus memasak, menyiapkan makanan untuk hidangan besok.


“Calon mantumu yang mana dek? Aku belum liat loh.” Tanya Mela, kakak ipar Saras.


“Ada di rumahnya. Dia memang aku larang ke sini. Masa calon manten terus-terusan bareng-bareng.” Terang Saras.


“Oaaalaaahh, mbak penasaran loh. Selama mereka pacaran, mbak belum pernah ketemu sama sekali, cuma pernah denger dari mas Rahmat kalau Bella udah punya pacar. Padahal pacarannya lama kan ya…”


“Em nggak kok mba, mereka cuma deket kurang lebih ada kali ya 3 atau 4 bulan. Alhamdulillah langsung memutuskan menikah.”


“Waahh secepat itu?”


“Aduh aduh anak-anak zaman sekarang, beda yaa sama zaman kita dulu. Buat mbak, dulu waktu 3 atau 4 bulan sih masa persiapan nikah, bukan masa pendekatan terus langsung nikah. Kamu udah yakin kan sama bibit dan bebet calon mantumu? Hehehe…” Dengan enteng Mella terkekeh di ujung kalimatnya.


“Insha allah saya yakin mba.” Sahut Saras yang tersenyum tipis, ia enggan untuk menimpali lagi ujaran kakak iparnya. Baginya, ia percaya pada pilihan putrinya dan ia sudah melihat sendiri bagaimana cara Devan memperlakukan Bella hingga saat ini.


Lantas, untuk apa lagi ia ragu?


"Ya syukurlah kalau kamu udah yakin. Mba sama mas mu cuma bisa ngebantu do'a, semoga Bella bahagia sama suaminya nanti."


"Aamiin..." Sahut Saras dengan tulus.


Di ruang keluarga ada Bella yang tengah duduk sendirian hanya ditemani ponselnya. Berulang kali ia memutar kembali voice note yang beberapa saat lalu di kirim Devan.


“Udah makan dong yang.. Gak usah khawatir, gue pasti jaga kesehatan. Kan besok kita mau nikah.” Balasan suara Devan membuat Bella senyum-senyum sendiri. Antara mendebarkan dan Ngeri-ngeri sedap membayangkan kalau besok ia akan menjadi istri dari Devan. Seperti apa kehidupan setelah pernikahan bahkan tidak terbayang oleh Bella.


"Pernikahan itu gak ada sekolahnya. Yang ada kita sama-sama belajar menerima apapun kelebihan dan kekurangan pasangan kita." Itu kalimat yang diucapkan Saras semalam, saat menyelesaikan pemasangan manik di kebaya yang akan di kenakan Bella.


Ya Saras benar, semuanya adalah sebuah proses seperti masa yang ia alami saat ini. Masa untuk menunjukkan perasaannya pada Devan.


“Kangen gak sama gue?” Kali ini Bella berbisik di voice notenya. Suara tawa renyahnya bahkan terrekam. Ia sengaja bersuara lirih karena malu kalau sampai ada yang dengar.


“Kangen… Gue ada di bawah.” Balas Devan dengan cepat.


“Hah, di bawah dimana?” Bella belingsatan sendiri. Ia segera turun dari sofa, memakai sandal rumahnya lalu berlari menuju balkon.


“Yang, lo di bawah di mana?” Bella mencari keberadaan Devan di sekitaran rumahnya.


Tidak lama, sebuah mobil sedan tampak melintas di depan balkon. Mobil itu berhenti persis di depan pagar rumah Bella.


“Astaga, lo beneran ke sini?” Pekik Bella kegirangan dalam voice note-nya.


Tidak sadar kalau ia sampai berjingkrak kecil karena girang sambil melambaikan tangannya pada laki-laki yang tengah menurunkan kaca jendelanya.


Wajah Devan terlihat jelas di jendela mobilnya. Ia membalas lambaian tangan Bella.


“Udah gue bilang, gue kangen.” Timpal Devan dengan senyum tersungging.


Lebih menyenangkan karena bisa melihat Bella secara langsung.


“Astaga, lo ya Devan.. Emang gak kira-kira.” Batin Bella seraya berbalik membelakangi Bella. Ia merapikan penampilannya untuk beberapa saat.


“Cepet balik lagi, nanti ketauan mamah kena omel lagi.” Bella kembali mengirim voice notenya.


Entah mengapa ini menjadi media komunikasi yang menyenangkan karena ia bisa memutarnya berulang.


“Iyaaa,, 5 menit lagi yaa… Masih pengen ngeliatin calon istri gue yang cantik.” Ujar Devan dengan sesungguhnya.


Hidung Bella sampai kempis kembung mendengar rayuan Devan. Ia senyum-senyum sendiri di balkon rumahnya.


“Dek, adek di atas?” Suara Saras memanggilnya dari dapur.


“I-Iya mah… Sebentar.” Jantung Bella seperti mau copot karena suara tiba-tiba Saras.


“Yang, lo pulang dulu gih. Ada mamah nyariin. Tar  ketauan lagi.” Satu voice note kembali di kirim Bella pada Devan.


“Uummm… Manis banget sih lo….” Lirih Bella seraya melambaikan tangannya pada Devan. Ia melakukan kecupan jarak jauh yang ia tiupkan pada Devan. Devan membalasnya tidak kalah antusias.


“Dekk… Ke bawah bentar nak. Di cariin abang sama om Rahmat.” Lagi Saras memanggil.


“Iya mah, adek turun sekarang.” Bella sempatkan untuk melambaikan tangan pada Devan yang ada di bawah sana sebelum kemudian berlari menghampiri Ozi dan Om Rahmat.


Rasanya menyenangkan bisa bertemu Devan walaupun hanya sebentar. Entah mengapa baru berpisah sekitar 4 jam saja ia sudah sangat rindu pada laki-laki itu.


“Dari mana lo?”


Bella langsung tersentak saat mendengar suara sang kakak. Ozi tiba-tiba muncul di dekat tangga dan mengagetkannya. Wajahnya yang semula merona kini berubah pucat.


“Lo apaan sih! Ngagetin aja.” Refleks ia memukul bahu Ozi.


“Ya lagian di cariin dari tadi, di panggil-panggil sama mamah diem aja.” Protes Ozi seraya menyentil dahi sang adik.


Sebenarnya tidak dari tadi juga ia mencari Bella. Ia hanya sedang iseng saja menggoda sang adik, yang mulai besok akan sulit ia goda dan ganggu setelah resmi menjadi istri Devan.


“Gak denger gue, lagi nonton drakor.” Bella beralasan.


"Udah mau nikah, masih aja ngehaluin cowok korea."


"Dih siapa yang ngehalu. Gue nyari referensi buat nulis. Ya kebetulan aja cowoknya cakep-cakep." Bella beralasan.


"Pinter yaa lo ngedebat gue?" Ozi mengusap wajah sang adik dengan telapak tangannya yang besar.


“Issshh, kebiasaan lo! Ada apa sih lo nyariin gue? Bukannya tadi lo lagi sama om Rahmat?” Bella balik bertanya.


“Noh, om Rahmat lagi introgasi Ibra. Inka juga ikut di tanya-tanya, untung langsung di culik tante Mella di ajak ngerangkai bunga.”


“Wah, ada bestie gue juga?” Bella langsung terlonjak. Ia sangat antusias ingin menemui sahabatnya.


“Eeehhh ntar dulu.. Biarin dulu mereka ngobrol.” Dengan cepat Ozi menarik tangan Bella. Mereka mengintip dari arah tangga, Ibra memang sedang di ajak berbincang oleh Rahmat. Mungkin lebih tepatnya di introgasi.


“Kasian tuh bocah pasti kikuk banget. Abang udah jelasin kan sama om Rahmat, siapa Ibra sebenarnya?” Bella bertanya pada sang kakak yang ada di sampingnya.


“Udah, udah gue certain. Dan sekarang Om Rahmat ngelarang mamah ngehubungin saudara-saudaranya papah. Katanya toh papah udah meninggal dan anak tunggal. Kakek nenek juga udah gak ada, ngapain di kabarin segala."


"Mamah sih mikirnya itu alasan om Rahmat biar gak emosi kalau keluarga papah tau soal Ibra. Takut ada omongan buruk. Pikiran orang tua kadang emang rumit. Padahal kita aja udah nerima Ibra, kenapa mereka masih repot.” Terang Ozi yang tidak mengalihkan perhatiannya dari Ibra.


Bella bisa melihat kalau sang kakak sedang mencemaskan adik bungsunya.


“Padahal gue berarap, keluarga kita bisa berbagi kebahagiaan di hari bahagia gue. Tapi nyatanya, malah kikuk gini kondisinya.” Bella tertunduk lesu di hadapan sang kakak.


Ozi mengusap kepala Bella dengan lembut.


“Sabar yaaa, gak usah sedih, kita masih ada kesempatan buat ngumpulin keluarga kita di lain waktu. Tapi kayaknya, gue harus ngasih tau dulu siapa Ibra sebelum keluarga kita ngumpul. Gue juga gak mau anak itu ngerasa jadi pangkal masalah di keluarga kita. Gimanapun, sekarang dia bagian dari keluarga kita.”


Bella terangguk pelan mendengar ujaran sang kakak. Ia jadi ikut memandangi Ibra yang tampak pucat dengan kedua tangan saling mencengkram gugup.


Di sudut lain, ia melihat Inka yang asyik merangkai bunga bersama tante Mella.


“Dia juga kayaknya udah cocok jadi bagian keluarga kita.” Bella menyenggol lengan sang kakak dengan sengaja. Matanya tertuju pada Inka yang asyik berbincang sesekali tertawa bersama Mella.


Ozi tidak menanggapi, ia hanya tersenyum kecil.


Tertegun beberapa saat sambil berpikir, apa usianya akan sampai hingga bisa membawa Inka ke rumah ini?


Hah, membawa Inka ke rumah ini? Siapa? Ozi?


*****


Hayoloohhh bang Ozi kepikiran Inka kaaann…. Hahaha…