
Keesokan harinya, Bella kembali datang ke rumah sakit. Sesuai permintaannya, ada dua polisi yang berjaga untuk menjaga Amara dari kemungkinan adanya penyerangan berulang. Jujur, niat awalnya hanya untuk memastikan itu.
Seperti biasa, Bella hanya melihat sebentar saja keadaan Amara dari celah pintu kamarnya dan sisanya ia lebih tertarik untuk melihat bayi yang sedang menangis di ruangan perinatology. Tangisnya semakin keras dan gerakannya pun semakin lincah. Sepertinya, tidak hanya Amara, bayi ini juga berjuang keras untuk bertahan hidup.
“Sssttt….” Bella mendesis pelan, berusaha menenangkan bayi mungil yang sedang menangis keras. Walau suaranya tidak terdengar oleh bayi itu, entah mengapa ia refleks saja.
Bella bahkan tersenyum kecil saat perlahan bayi itu tenang dengan sendirinya.
“Good boy…” Ucap Bella dari balik kaca besar.
“Jadi, lo yang lapor ke polisi?” suara yang sangat familiar tiba-tiba saja terdengar di belakang Bella.
Tidak terlalu terkejut sebenarnya dengan suara khas milik Amara itu.
Amara sudah bisa turun dari tempat tidurnya dan duduk di kursi roda yang di dorong oleh seorang perawat yang membantunya berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Dengan isyarat tangannya ia meminta perawat itu memberi ruang untuknya dan Bella.
“Gak perlu berterima kasih. Gue ngelakuin ini bukan semata-mata buat lo.” Sahut Bella yang bersidekap, melipat tangannya di depan dada.
Amara tersenyum sinis, Bella memang selalu pandai mengemas sikapnya saat sedang kecewa dengan berpura-pura tidak peduli.
“Mau lo apa sih Bell? Lo mau gue bersujud meminta maaf di kaki lo dan berterima kasih atas semua yang lo lakuin buat gue, gitu?”
Pertanyaan Amara terdengar kasar dan mengecilkan usaha Bella. Untungnya, Bella sudah sangat terbiasa dengan sikap Amara yang satu ini.
“Oo tidak perlu. Permintaan maaf itu udah gak berlaku buat sekarang. Gue udah kenyang dengan semua permintaan maaf lo dulu.” Timpal Bella tanpa rasa ragu.
"Oh ya? Apa lo yakin lo gak membutuhkan permintaan maaf dari gue? Bukannya lo ke sini karena mengharapkan itu?" Timpal Amara dengan tatapannya yang lekat pada Bella.
“Nggak Ra. Sejak dulu lo selalu bilang maaf sama gue, karena lo selalu merasa jadi teman yang ngerepotin dan nyusahin gue. Lo bilang kalau lo merasa yang gue lakuin buat lo terlalu banyak dan gak bisa lo balas.”
“Sepertinya ucapan lo saat itu memang terbukti bener.” Ucap Bella dengan yakin.
“Lo juga selalu bilang kalau lo gak bisa jadi temen yang baik buat gue, dan itupun bener. Sampai hari ini, lo membuktikan semua ucapan lo.”
Ingatan Bella berputar pada semua ucapan Amara dulu.
“Harusnya sejak dulu gue sadar, kalau lo udah gagal jadi temen gue, Ra. Lo gak pernah bisa berada di posisi itu karena lo gak pernah tau artinya sebuah pertemanan.”
“Tapi gue harap, kali ini lo gak gagal saat jadi seorang ibu.” Tegas Bella seraya menatap mata bulat Amara yang masih kemerahan di sudut kanannya karena bekas pukulan.
“Terima kasih karena lo pernah ada di sisi gue saat gue terpuruk karena kehilangan bokap gue. Itu satu-satunya kebaikan terbesar yang bisa gue ingat yang lo lakuin buat gue dulu. Gue pikir gue gak akan bisa membalasnya. Tapi sekarang, gue ngerasa kalau gue cukup impas ngebales kebaikan lo saat itu.”
“Setelah ini, kalau pun kemudian kita benar-benar menjadi dua orang yang asing untuk satu sama lain, gue udah gak akan mempermasalahkan itu. Lo bisa tetap jadi diri lo dan gue, akan tetap jadi diri gue.” Tegas Bella dengan tatapan yang mengunci pada Amara.
Baginya, ini kalimat terpanjang yang pernah ia ucapkan di depan Amara. Dan setelah ini, ia merasa ia tidak perlu bertegur sapa dan berbasa - basi lagi dengan Amara. Mereka akan hidup di dunia mereka masing-masing.
Amara tidak menimpali. Hanya beberapa saat ia membalas tatap Bella sebelum kemudian memalingkan wajahnya dan memilih menatap putranya yang berada di dalam incubator. Entah mengapa ucapan Bella seperti tamparan keras yang begitu menyakitkan.
Ia sadar, banyak hal baik yang kemudian hilang karena permusuhan yang entah dimulai oleh alasan apa.
Merasa sudah tidak ada lagi yang perlu Bella bicarakan dengan Amara, gadis itu memilih pergi. Anggap saja ini pertemuan terakhir Bella dengan sahabatnya dan setelah ini, mereka hanya dua orang asing yang yang dulu pernah memiliki cerita yang sama. Amara telah dikeluarkan dari dalam script Bella.
“Selamat tinggal.” Batin Bella dengan langkahnya yang mantap meninggalkan Amara dan bayinya.
Sepeninggal Bella, Amara kini termenung sendirian. Ia menatap bayi kecil yang sedang terlelap di dalam incubator. Ukurannya cukup kecil, mungkin satu tangan saja sudah cukup untuk mengangkatnya.
“Heyy.. Baby…” Lirih Amara dengan pelan.
Ia tersenyum pada bayi mungil itu, mengusap permukaan kaca, membayangkan kalau ia bisa menyentuh bayi itu. Dan kemudian, air matanya pecah.
Ia menangis sesegukan di hadapan kaca jendela besar yang menjadi batas ia dengan sang anak. Sakitnya bekas luka operasi mendadak hilang berganti rasa nelangsa yang mengisi hatinya.
Ia bahagia karena pada akhirnya ia bisa melahirkan bayi yang selama ini ia pertahankan seorang diri. Seorang bayi yang tidak pernah meninggalkannya dalam kondisi apapun. Namun di waktu yang bersamaan, ia telah melepaskan tangan seorang sahabat yang telah bersamanya untuk waktu yang lama.
Seorang sahabat yang membantu ia melewati masa transisi yang sulit. Seorang sahabat yang memberinya banyak kesempatan untuk berbuat baik. Seorang sahabat yang membantunya menemukan jati dirinya. Seorang sahabat yang memilih berpisah dengannya setelah melakukan hal baik walau ia sudah menyakitinya. Seorang sahabat yang memberinya kesempatan untuk menjadi seorang ibu. Dan tentu saja, seorang sahabat yang kerap membuatnya tidak percaya diri.
Bella adalah bayang-bayang bagi Amara. Bayang-bayang kebaikan yang tidak pernah ada dihidupnya. Bayang-bayang yang selalu menjadi ambisinya dan tidak pernah bisa ia capai.
“Bella la Bella… Sahabat Ara… Bella la Bella… kesayangan Araa…” Amara masih mengingat persis begitu bahagianya ia saat menyanyikan lagu itu sambil memeluk Bella. Bella tertawa senang mendengar lagu yang dibuatkan Amara dengan spontan.
“Bella la Bella, manisnya Rangga….. Bella la Bella… cintanya Rangga….” Namun kemudian suara bass Rangga menimpali. Suara yang kerap membuat Amara merasa tersisih karena binar mata Bella akan jauh lebih bercahaya saat laki-laki itu datang dan mengusap kepalanya.
Laki-laki yang ia sukai bahkan sejak Bella belum mengenalnya. Bukankah harusnya ia juga mendengar lagu yang spesial dari Rangga?
Mungkin, sejak saat itulah hati Amara mulai goyah dalam pertahanannya sebagai seorang sahabat.
Saat ini, Amara hanya bisa menangis sesegukan di hadapan kaca besar itu. Seorang perawat hendak mendekat khawatir Amara kesakitan. Tapi Amara meminta perawat itu untuk menjauh. Ia sedang butuh waktu untuk merutuki kebodohannya sendiri.
****
“Apa kabar Neng Bella…” Sapa seorang security saat melihat kedatangan Bella.
“Baik pak. Bapak apa kabar?” Timpal Bella.
“Alhamdulillah luar biasa.” Sahutnya sambil mengacung jempolnya.
Bella tersenyum senang mendengar jawaban laki-laki yang selalu penuh semangat itu.
Masuk ke dalam PH dan beberapa orang masih menyambutnya dengan ramah, mereka menyapa Bella dan Bella mengangguk takjim serta menebar senyum pada mereka. PH ini kembali terasa seperti rumah bagi Bella.
“Bell, Bell, Bell…” Panggil Roni saat melihat Bella melintas di depan ruangannya.
“Hay Bang, ada apa?” Bella melihat Roni begitu tergesa-gesa.
“Lo udah buka platform PH kita belum?" Tanyanya penasaran.
"Belum. Emang kenapa?"
"Liat dah, jumlah view mini seri sama film buatan lo pada naik lagi. Kayaknya gara-gara follower lo nambah banyak deh. Mereka jadi tau karya lo.” Roni menunjukkan layar tabletnya pada Bella.
“Oh ya?” Bella ikut penasaran. Ia melihat tayangan mini serinya di platform media sosial milik PH dan benar saja, view nya melonjak drastis.
“Ya ampun… Ini beneran ya?” Bella sampai menutup mulutnya karena tidak percaya. Matanya membulat sempurna melihat view yang naik begitu cepat dalam hitungan detik dengan beragam komentar yang membanjiri.
“Coba lo cek medsos lo Bell, pasti follower lo juga naik.” Hasut Roni dengan semangat.
“Okey, bentar gue cek.” Cepat-cepat Bella menyalakan ponselnya dan log in pada aplikasi media sosialnya. Sudah lama ia keluar dari aplikasi ini agar tidak mengganggu karena banyaknya notifikasi yang masuk.
Benar saja, saat memuat halaman beranda, Bella langsung melihat banyaknya notifikasi yang masuk. Entah apa saja isi notifikasi itu. Yang jelas Bella melihat pengikutnya semakin banyak dan karya-karyanya di banjiri komentar oleh netizen. Komentar negatif yang dulu ia terima, seperti tenggelam begitu saja.
“Tuh kan, follower lo jadi banyak banget!” Seru Roni yang ikut membolakan matanya.
“Iya bang. Gue sampe gemeter, padahal dulu susah banget nyari follower buat orang-orang di belakang layar kayak kita.”
“Iyaaa…. Sekarang mereka malah datang dengan sendirinya.”
"Syukurlah, semoga ini membawa manfaat baik." Ungkap Bella.
Dulu, ia selalu bersedih karena script-nya tidak terlalu banyak menarik minat para penonton. Ia sempat berpikir kalau usahanya sia-sia. Bangun malam-malam untuk menulis itu tidak ada artinya. Dan ia pernah ada di fase dimana ia hampir menyerah.
Beruntungnya, ia memiliki support system yang baik.
Eko pernah bilang, "Kalau karya kamu gak bagus, saya gak akan memakai script kamu Bell. Masalah banyak atau tidaknya penonton, itu juga tergantung selera. Jadi kamu gak usah mencemaskan apapun. Tulisan kamu tidak membuat perusahaan ini rupi tapi justru saya berterima kasih karena kamu masih mau memberikan ide-ide yang cemerlang dalam setiap script yang kamu buat."
"Ingat, setiap orang akan bertemu dengan masanya dan setiap masa ada orangnya. Mungkin saat ini bukan masanya bagi script kamu untuk menarik minat banyak penonton tapi akan ada masanya dimana orang-orang berbondong-bodong bahkan berebut tiket untuk menonton film dari script yang kamu buat."
"Saat ini, saya ingin kamu terus meng-improve kemampuan kamu agar semakin baik lagi dan jangan menyerah." Hibur Eko kala ini.
Dan saat ini, harus Bella akui kalau ucapan Eko benar adanya. Dan ia bersyukur karena ternyata perlahan karyanya semakin di kenal banyak orang.
“Ya udah, gue mau ketemu Devan dulu. Lo liat gak?” Bella langsung celingukan mencari keberadaan suaminya. Ia ingin segera menemui laki-laki itu.
“Dia di ruang rapat, lagi ngobrol-ngobrol sama crew lainnya.”
“Okey, kalo gitu gue permisi dulu.” Pamit Bella.
“Ehh.. Tunggu Bell..” Roni menahan tangan Bella agar tidak lekas pergi.
“Apa?” Bella tidak sabar melihat Roni menarik tangannya.
“Gue mau nanya. Lo beneran ada hubungan ya sama Devan?” Akh, Abangnya yang satu ini masih saja bertanya..
Bella tersenyum kecil melihat ekspresi Roni. Kasian juga karena Roni belum tahu apapun.
Untuk menjawab pertanyaan Roni, Bella menunjukkan punggung tangan kanannya, dimana cincin pernikahannya tersemat.
“Suami istri.” Aku bella dengan penuh kebanggan.
“HAH? APA?!” Seru Roni tidak percaya. Bella hanya mengendikkan bahunya acuh.
“Hahahaha… Nanti dulu yaa cerita-ceritanya. Gue mau ketemu Devan dulu. Bye…..” Bella berjalan cepat meninggalkan Roni yang mematung kebingungan.
“I-Iyaa Bell…” Roni sampai tergagap mendengar jawaban mantan bosnya.
*****