
Ini adalah obat anti depresan yang harus Bella minum untuk ke empat kalinya. Tablet putih yang di tempatkan oleh perawat di atas sebuah mangkuk kecil bersama satu botol air mineral. Ia hanya terdiam saat perawat memintanya meminum obat itu.
Ia masih berpikir, apa ia akan melanjutkan meminum obat ini atau membuangnya?
Entah seperti apa cara kerja obat ini yang jelas ia merasa tidak terlalu sedih saat ini. Rasa sakit di dadanya perlahan hilang walau tidak ia belum merasakan sebuah kelegaan.
“Obat ini tidak dapat menyembuhkan depresi. Obat ini hanya membantu mengendalikan atau meredakan gejala depresi, atau menurunkan tingkat keparahannya.” Itu penjelasan yang sempat Bella dengar dari dokter yang merawatnya.
“Saya akan merekomendasikan pasien untuk bertemu psikolog, agar kondisi mentalnya bisa tertangani lebih baik.” Imbuh laki-laki jangkung yang kemudian di angguki setuju oleh Bella.
Dan tadi pagi, seorang wanita bernama Ratih memperkenalkan dirinya sebagai psikolog Bella. Ia bertanya banyak hal namun Bella masih memilih bungkam. Ia masih belum menemukan cara bagaimana mengungkapkan perasaannya saat ini. Lebih tepatnya, belum merasa percaya untuk bercerita.
Perasaannya saat ini seperti di tekan dan membuat bayangan-bayangan menyedihkan itu hilang berubah menjadi kertas kosong yang bertumpuk mengisi pikirannya.
Bukan ini yang ia mau sepenuhnya.
Bella berusaha menggerakkan tubuhnya namun lagi, strait jacket yang membungkus tubuhnya membuat ia hanya bisa terbaring di tempat tidur. Seorang yang terbiasa bebas bergerak seperti Bella merasa kali ini semua hal untuknya begitu di batasi. Hanya jemarinya yang bebas bergerak walau tetap hanya bisa meraih bel dan menekannya jika membutuhkan bantuan perawat.
“Krieeettt,,,” suara pintu ruangan terbuka dan Bella melihat seseorang datang.
Laki-laki bertubuh jangkung dengan rambut gondrong yang terikat, siapa lagi kalau bukan Devan.
Usaha Bella untuk bangun akhirnya ia akhiri dan memilih kembali membaringkan tubuhnya dengan tenang. Bukan, ia hanya berusaha tenang agar Devan tidak memanggil kembali perawat atau dokter.
Entah mengapa setiap kali Bella melakukan pergerakan berlebih, orang-orang selalu berpikir kalau Bella mungkin akan kembali berusaha mengakhiri hidupnya. Bukan, bukan seperti itu.
Devan menaruh sebuah kotak berwarna hitam polos di meja samping Bella, berdekatan dengan mangkuk obat. Ia pun menaruh tas laptop di sofa dan jacket yang membungkus tubuhnya. Kalau sudah begini, bisa di pastikan Devan lah yang giliran menjaga Bella sore dan malam ini.
“Lo mau coklat?” laki-laki gondrong yang masih mengenakan kemeja kerjanya itu duduk di samping ranjang Bella. Ia hanya menggulung lengan bajunya dan memperlihatkan otot lengannya yang kokoh.
Bella hanya memalingkan wajahnya, tenaganya terasa selalu habis. Mulutnya bahkan sangat kering, mana mau ia menelan coklat yang di bawa Devan.
“Kalau lo gak mau minum obat, lo bisa makan coklat ini. Efeknya kurang lebih sama, bikin perasaan lo lebih baik karena rasanya manis.” Masih saja laki-laki ini berusaha membujuk Bella dengan caranya.
Terdengar hembusan nafas kasar dari mulut Bella, membuat laki-laki itu menatap lekat wajah Bella yang masih pucat pasi.
“Temen-temen lo pengen ke sini, cowok yang pake tato, cowok yang kalau ngomong rokoknya masih tetap ada di mulut sama mantan temen satu departemen lo, Inka. Mereka bilang mau nyari cahaya matahari yang biasanya nerangin kantor mereka.”
“Gue baru tau, kalau ternyata lo punya temen-temen yang sangat baik.” Sambil berbicara Devan membuka bungkus coklat dan mengarahkannya ke mulut Bella.
“Mau coba?” tanyanya.
Bella hanya menggeleng. Tanpa ambil pusing, Devan lah yang akhirnya memakan coklat itu.
“Lo mau ketemu mereka?” tawarnya lagi dengan mulut penuh coklat, membuat Bella menolehnya.
Bella menatap lekat wajah Devan yang selalu tenang.
“Lo perlu sesuatu?” tanya laki-laki itu lagi. Wajah tenangnya terlihat terkejut karena berhasil menarik perhatian Bella.
Bella mengangguk kecil. “Lo bisa lepas baju di badan gue ini? Gue ngerasa sesek.” Pinta Bella dengan suara serak.
Beberapa hari tidak bersuara, ternyata suaranya berubah parau.
“Gue panggil perawat dulu.” Devan segera beranjak.
“Jangan…” tahan Bella, membuat Devan menghentikan langkahnya.
“Gue lagi gak mau denger orang lain ngoceh lagi. Lo aja yang lepas.” Bella melirik belt yang terpasang erat pada sisi tempat tidur.
Devan tidak lagi berbicara. Ia kembali duduk lantas membuka satu per satu belt yang diikatkan pada beberapa bagian tempat tidur.
Bella menghela nafas lega, saat ia bisa menggerakkan badan yang semula hanya tiduran telentang.
“Feel better?” tanya Devan seraya memperhatikan perubahan ekspresi Bella.
Wanita itu mengangguk.
Saat Bella berusaha bangun dan dengan sigap Devan membantunya. Bella jadi memperhatikan wajah Devan yang berada di atasnya dan sangat dekat. Ia bahkan bisa mencium wangi parfum Devan yang lembut dan maskulin.
“Badan lo entengan, lo kurang makan.” Cetus Devan dengan sebenarnya.
Memang benar adanya, sejak kejadian ia melihat Bella terduduk di trotoar sampai saat ini, bobot tubuh Bella jauh berkurang. Lihat saja matanya yang celong dan pipinya yang mulai tirus.
“Lo bisa bawa gue pergi?” pinta Bella tiba-tiba.
“Kemana?” tidak berusaha menolak permintaan Bella. Ia hanya memandangi Bella untuk meyakinkan apakah akan baik-baik saja kalau ia membawa Bella pergi.
“Kemanapun yang lo bisa. Gue cuma gak mau di sini.” Terang Bella penuh harap.
Lagi Devan tidak menjawab. Ia melepas strait jacket di tubuh Bella dan hanya menyisakan baju pasien berwarna putih dengan motif bintang. Tangannya yang cekatan mengambil jacket miliknya dan memakaikannya pada Bella.
Setelah semuanya siap, Devan kembali duduk di depan Bella. Ia menatap Bella dengan lekat seraya memegangi kedua sisi bahu Bella.
“Gue bisa bawa lo kemanapun. Tapi satu yang gue minta. Jangan lagi berusaha untuk mati di hadapan gue.” Tuturnya dengan tegas.
Bella hanya tercenung, menatap netra pekat yang terasa hangat menghipnotisnya.
“Bisa?” tanya Devan.
“Hem,” hanya itu sahutan Bella dengan rasa haru tertahan. Saat ini seperti tidak ada yang cukup memahaminya selain Devan.
“Okey.”
Devan memakaikan hoodie untuk menutup kepala Bella. Menarik tangan Bella untuk ia lingkarkan di lehernya dan kembali membopong tubuh Bella. Ia tahu, kaki Bella pasti lemas karena selalu berada di atas tempat tidur.
Lantas diam-diam ia membawa Bella keluar dari ruangan perawatan dan berjalan cepat menuju tempat parkir.
*****
Laju mobil yang pelan ikut berbaur dengan kendaraan lain yang melaju cepat di lajur kanan. Devan sengaja melajukan mobilnya tidak terlalu cepat, sambil sesekali memperhatikan Bella yang duduk di sampingnya.
Wanita itu tampak asyik melihat ke luar jendela yang terbuka setengahnya. Hembusan angin menerbangkan anak rambutnya yang ikal juga membelai wajahnya yang pucat.
Tanpa tujuan, ya perjalanan mereka memang tanpa tujuan. Berkendara saja, sesekali bertemu dengan lampu merah, pengamen jalanan, penjual makanan atau sesekali terjebak dalam kemacetan yang hanya bisa membuat mereka bersabar.
Perjalanan jauh dan lama itu tanpa sadar membawa mereka berdua keluar dari Jakarta. Beberapa kali berhenti dan bertemu kemacetan tidak mengusik Bella yang asyik dengan pikirannya. Hingga akhirnya mereka berhenti di depan sebuah tempat wisata yang sudah sepi.
“Sudah tutup mas,” ujar seorang security yang menghampiri Devan.
Devan melihat jam yang melingkar di tangannya, sudah lebih dari jam 9 malam.
“Kalau mas nya mau ke tempat lain yang masih buka, bisa naik ke atas sana dikit. Ada dataran tinggi buat nongkrong.” Tawar security yang memperhatikan ada seorang gadis berwajah sedih di dalam mobil.
“Terima kasih pak.” Hanya itu sahutan Devan sebelum akhirnya memutar stir menuju tempat yang di tunjukkan security tadi.
Hanya sekitar 10 menit perjalanan, Devan dan Bella sampai di sebuah dataran tinggi yang sepi dan kosong. Hanya ada beberapa pedagang yang masih berjualan menjajakan makanan dan minuman hangat.
“Lo mau turun?” tawar Devan pada Bella.
Bella hanya menggeleng.
“Jangan kemana-mana, tunggu sebentar.” Imbuhnya sebelum turun.
Meninggalkan Bella sendiri di mobil, membuat Devan tidak leluasa pergi. Karena ia harus ke toilet, ia menitipkan Bella pada seorang wanita pemilik warung. Wanita paruh baya itu menurut saja saat diminta bantuan untuk memperhatikan Bella.
Beberapa menit berlalu, Devan kembali dengan dua minuman hangat di tangannya. Diikuti seorang wanita yang membawa sepiring makanan. Ia kembali masuk ke mobil dan menempatkan minuman di sisi kanan pintunya.
Di raihnya tangan Bella untuk ia berikan minuman hangat.
“Minum, biar lo gak masuk angin.” Ujarnya seraya menepuk tangan Bella yang di genggamnya.
Bella hanya terdiam, sambil memandangi minuman hangat yang masih mengepulkan asapnya. Wangi rempah terasa menghangatkan rongga hidungnya. Sementara Devan mulai menikmati minuman di tangannya.
Tangan Bella masih gemetar namun gadis itu berusaha untuk menikmati minumannya. Menyeruputnya sedikit, membuat tenggorokannya yang kering terasa hangat. Devan bisa tersenyum lega, melihat Bella yang tidak hanya mematung saja.
Dari dalam mobil, mereka menikmati pemandangan kota di bawah sana. Juga pemandangan tempat yang tadi sudah tutup dan ternyata sebuah taman bermain.
“Lo gak perlu terus menahan perasaan lo. Di tempat ini, lo bebas mau melakukan apapun. Jika perlu berteriak, berteriak lah sampe perasaan lo terasa lebih baik.” Ujar Devan yang kembali menyesap minuman hangat di tangannya sambil melihat ke depan sana.
Terdengar tarikan nafas dalam dari mulut Bella. Mata wanita itu terlihat berkaca-kaca di bawah cahaya yang tidak terlalu terang. Beberapa kali menghela nafas lalu menghembuskannya, ternyata tidak lantas membuat perasaannya lebih baik.
“Perjalanan kita udah sangat jauh tapi sampai saat ini gue belum bisa meninggalkan pikiran gue di Jakarta.” Ujar Bella tiba-tiba. Ia menatap gamang minuman di tangannya sambil mencengkramnya dengan erat.
“Setiap titik jalan yang tadi kita lewati, gue pernah melewatinya bersama Rangga.” Air mata lolos menetes di pipi Bella. Kali ini, gadis ini terisak pelan, lirih dan kesakitan.
Ia berusaha menekan sudut matanya, namun tangisnya tetap tidak terbendung.
“Gak ada yang ngelarang lo buat nangis.” Timpal Devan seraya memperhatikan Bella.
“Huhuhuuuuuuuuuu….” Akhirnya tangis Bella benar-benar pecah. Suaranya menggaung di dalam mobil.
Devan sengaja menyalakan musik agar suara Bella tidak terdengar dari luar.
Selama kurang lebih setengah jam hal itu terjadi. Bella bebas menangis mulai dari tersedu sampai meraung marah dan berteriak kasar. Semua di biarkan Devan, ia tetap terduduk di samping Bella dan memejamkan matanya. Bisa ia bayangkan bagaimana sakitnya Bella selama ini.
Tangis Bella mulai terhenti. Devan memberikan lembaran tissue untuk Bella menyeka air matanya. Ia pun mengecilkan suara musik yang semula bergema.
“8 tahun itu gak sebentar. Banyak hal yang gue lewati sama Rangga.” Sambil tersedu-sedu Bella memulai kembali kalimatnya.
“Rangga yang baik, perhatian, selalu mendukung gue walau terkadang dia sibuk dengan pekerjaannya tanpa bisa di ganggu.”
“Dia pandai bersikap manis sama gue, meluluhkan hati gue dan membuat gue yakin kalau dia yang akan nemenin gue sampe tua nanti.”
“Tapi,”
“Beberapa hari lalu gue cuma bisa terduduk seperti orang bodoh, ngeliat dia bermesraan sama Amara tanpa bisa gue larang.” Bella tersenyum pilu.
“Professional itu bulshit! Gue cuma pura-pura tidak peduli, pura-pura terlihat kuat sambil berusaha menekan kenangan gue sama Rangga.”
“Semua yang dia lakukan di hadapan gue seperti cermin yang memantulkan ingatan gue di masa lalu. Bagaimana hangatnya tatapan Rangga, bagaimana lembutnya usapan tangan Rangga saat menyentuh tangan Gue. Bagaimana kuatnya debaran jantung gue hanya karena dia menatap gue dengan lekat. Semua itu harusnya milik gue tapi gue malah kehilangan itu semua.” Bella tertunduk lesu sambil terisak. Dalam, ya sangat dalam.
“Gue seperti gak mengenali Rangga saat itu. Sementara bayangan Rangga di pikiran gue masih selalu hidup. Gue di paksa sama keadaan untuk melupakan dia, untuk sadar sama realita yang ada tapi hati gue menolaknya. Gue sakit Van, gue gak bisa ngelupain semuanya begitu aja.” Bella berbalik menghadap Devan yang kini menatapnya cemas.
“Kenangan gue sama Rangga terlalu banyak. Rasanya tidak ada ingatan lain yang lebih kuat di banding kenangan gue sama dia. Gimana cara gue ngelupainnya hah? Bahkan dengan gue melompat ke dalam air tidak membuat otak gue berhenti berpikir dan tidak mengulang semua kenangan itu Van. Gue pengen tidur dengan normal. Tanpa memikirkan Rangga, tanpa bermimpi kalau semua yang gue lewati ini sangat buruk. Gimana harus gimana Van?!” Bella mencengkram tangan Devan dengan erat, sangat erat dan Devan membiarkannya saja.
Melihat mata Bella yang putus asa, ia membiarkan Bella menangis di hadapannya, tanpa ada perasaan yang ia coba tutupi atapun ingkari seperti selama ini.
“Ngelupain itu semua mustahil Bell. Tapi lo gak perlu harus mati hanya karena semua ingatan itu terlalu melekat di pikiran lo.” timpal Devan.
"Mana yang sebenernya bikin lo lebih sakit? Hati lo yang sakit karena di duakan atau ego lo yang terluka karena merasa selama ini lo berjuang banyak buat dia?"
Ia memegangi kedua bahu Bella yang terkulai lemas dan mencoba menegakkan tubuhnya yang condong ke arahnya.
Wanita itu hanya menatap Devan dengan matanya yang sendu dan bibirnya yang bergetar menahan tangis.
“Denger gue sekali lagi Bell, lo mustahil melupakan semua itu.” tegas Devan dengan tatapan tajam.
“Lo terima itu sebagai bagian dari hidup lo yang sekarang hanya bisa lo kenang. Lo bisa ngelanjuti hidup lo meski ada mereka. Mereka itu satu hal di antara banyak hal yang mengisi hidup lo. Mereka udah bukan siapa-siapa lagi dan gak bisa mempengaruhi hidup lo. Okey?!” tegas Devan dengan mata menyalak, mencoba meyakinkan.
“Gue gak bisa Van, gue gak bisaaa…” tubuh Bella terkulai lemah. Kembali tersedu di hadapan Devan.
Di tariknya tubuh Bella untuk Devan peluk.
“Lo bisa Bell!"
"Lo udah melewati banyak hal yang lebih sulit dari ini dan melewatinya semuanya dengan baik. Lo selalu bisa melakukan apapun termasuk nerima kalau mereka pernah ada di hidup lo.” erat, ya pelukan Devan sangat erat.
Bella hanya menangis meraung di pelukan Devan seraya mengcengkram sebagain kemeja di punggung Devan. Sementara Devan dengan sabar mengusap kepala Bella dan menenangkannya.
Tanpa sadar, ia mengecup kepala Bella, menyesap wangi asam di rambutnya. Entah mengapa, merasakan Bella ada dalam pelukannya menjadi ketenangan tersendiri untuknya.
*******