Bella's Script

Bella's Script
Tipu muslihat



Malam yang sepi dan dingin membuat Rangga memilih keluar apartemen untuk sekedar berjalan-jalan ditaman. Ia terduduk di salah satu bangku seraya memandangi langit malam yang di penuhi gemerlap bintang.


Ini menyenangkan, setelah cukup lama akhirnya hari ini ia bisa menyelesaikan dua lagu untuk dijadikan soundtrack filmnya*.* Sebagian beban seperti terlepas dari pundak.


Ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Menyatukan jemarinya untuk membuat bentuk bintang. Sebelah matanya memincing hendak mengukurkan bintang di langit yang di teropong melalui segitiga jarinya.


“Benda-benda di langit itu sebenarnya bentuknya berbeda-beda. Hanya saja saat terlihat oleh mata telanjang, mereka menjadi titik-titik cahaya yang cantik. Aku tidak pernah tau sepenuhnya, seperti apa bentuk bintang yang itu. Tapi aku sangat mengagumi kemilaunya. Seperti hidup kita, orang tidak perlu tahu jalan terjal dan berliku yang kita hadapi, mereka cukup melihat senyum bahagia kita saja.”


Ujaran Bella beberapa tahun silam seolah kembali terngiang di telinga Rangga.


Rangga jadi tersenyum sendiri, seraya menoleh sisi kirinya yang kosong. Entah menapa ia begitu jelas mendengar suara Bella hingga hembusan nafasnya yang menerpa lehernya, sesaat sebelum gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu Rangga.


Rangga menoleh bahunya yang kosong, tempat dimana Bella sangat suka bersandar sambil tersenyum sendiri. Ia akan mengatakan, “Aku bahagia Ga. Sangat bahagia karena punya bintang di hati aku, yaitu kamu.” Lirih gadis itu dengan senyum terkembang.


Ia masih mengingat persis bagaimana binar mata Bella yang bersinar saat menatapnya. Tapi sekarang, ia tidak lagi mendapatkannya. Bella bahkan mengabaikan pesan yang ia kirim satu jam lalu.


Rangga kembali mengecek ponselnya yang ia taruh di dalam saku. Menyalakan layar, berharap ada notifikasi pesan balasan dari Bella.


“Bell,..” Nyatanya sapaannya pada itu pun tidak di baca Bella.


Padahal di pesan keduanya, ia mengirimkan pesan suara saat ia menyanyikan lagu untuk soundtrack, dengan diiringi petikan gitar. Dulu, Bella selalu menjadi orang pertama yang mendengar lagu ciptaannya dan menjadi fans pertama yang mengidolakan lagu-lagunya. Tapi kali ini, Bella bahkan tidak peduli.


Rangga meletakkan ponselnya di samping dengan layar menghadap ke langit. Ia masih berharap Bella akan membalas pesannya, cukup dengan satu kata pujian saja.


Namun hingga beberapa waktu berlalu, harapan Rangga itu tidak pernah terjadi. Rangga menghembuskan nafasnya kasar saat ia sadar itu hanya harapan kosong.


“Makasih kamu gak blockir nomor aku, Bell.” Ucap Rangga suatu waktu.


“Anda rekan kerja saya. mana mungkin saya memblokir nomor anda.” Cetus Bella tanpa tendensi berarti. Seolah keberadaannya tidak lagi berpengaruh pada hal apapun. Namun entah mengapa keinginannya untuk kembali mendekat pada Bella malah semakin kuat. Bella seperti menyadarkannya kalau sebuah kehilangan itu menyakitkan.


Jujur, ia sedikit senang dengan gossip yang beredar saat ini. Kabar ia bersama Bella seolah menghidupkan salah satu harapannya. Walau ia tahu, ini menyulitkan bagi Bella. Sekali saja ia ingin egois, merasakan kembali perasaan membuncah hanya karena Bella meliriknya walau tidak berkata-kata. Paling tidak, Bella melihatnya tersenyum.


Sebuah sorotan lampu dari mobil yang masuk ke halaman apartemen, membuat Rangga memincingkan matanya. Ia segera tersadar saat ia mengenali mobil Mini cooper berwarna jingga itu melintas di hadapannya. Ia tahu persis siapa pemiliknya.


“Ara..” Lirih Rangga yang segera beranjak dari tempatnya.


Benar saja, tidak lama Amara keluar dari mobil dengan penampilannya yang lusuh. Amara menekan salah satu tombol di kuncinya untuk menyalakan alarm lantas berjalan menuju lift. Langkahnya terlihat pelan seperti sudah kehilangan tenaga. Rangga memilih mengikutinya dari belakang. Entah dari mana gadis ini seharian hingga tidak bisa di hubungi oleh siapapun.


Amara menekan tombol lift dan tidak lama berselang pintu lift pun terbuka. Sesaat setelah ia menekan tombol lantai yang akan di tuju tiba-tiba saja seseorang ikut masuk dan membuat Amara terhenyak. Ia kaget bukan kepalang karena kini ia berada dalam satu lift yang sama dengan Rangga.


Saat pintu lift tertutup, dari pantulan pintu lift, Amara bisa melihat wajahnya yang berubah pucat sedang di pandangi oleh Rangga. Ia bahkan tidak berani menoleh dan mengatakan apapun. Tangannya mencengkram tas di tangannya dengan erat.


“Tenanglah, untuk saat ini aku gak akan nanya apapun. Kamu punya waktu untuk membuat alasan sampai sebelum kita tiba di apartemen kamu.” Ujar Rangga dengan dingin.


Amara hanya tertunduk. Ia bahkan tidak berani membalas tatapan Rangga dari pantulan dinding lift, membuat suasana di dalam lift sangat hening.


Laju lift menuju lantai 9 terasa begitu cepat.


“Ding!” Pintu lift langsung terbuka saat mereka tiba di lantai 9.


Amara keluar lift lebih dulu dan diikuti Rangga kemudian. Amara berjalan dengan cepat dan Rangga berusaha mengimbanginya di belakang.


Sesekali Amara melirik ke belakang, ia melihat derap langkah kaki Rangga yang konstan seirama langkah kakinya. Akh ini menakutkan. Rangga terdiam seperti ini malah menakutkan untuknya. Cepat-cepat ia menuju pintu agar bisa segera masuk.


Di depan pintu, Amara segera menekan passcode apartemennya, Rangga ikut memandangi kunci otomatis itu dan benar saja, Amara sudah mengganti passcode-nya lagi. Sepertinya Amara menyembunyikan banyak hal di dalam apartemennya. Dan tidak ingin di ketahui Rangga.


“Tit!” Kunci terbuka dan Amara memutuskan segera masuk. Ia membiarkan saja saat Rangga menyusulnya. Mungkin ia memang sudah tidak bisa menghindar lagi.


Amara segera pergi ke dapur untuk mengambil air minum sementara Rangga menunggunya di sofa. Ia melempar baju Amara yang terserak di atas sofa dan menghalanginya untuk duduk. Ia semakin yakin kalau Amara tidak berada di rumah ini seharian. Lihat saja sisa makanan di atas meja yang seperti sudah basi.


“Darimana kamu seharian ini? Kenapa gak datang ke lokasi?” Tanya Rangga yang sudah tidak sabar ingin segera menyelesaikan masalah ini.


“Aku ada urusan.” Sahut Amara ketus. Ia menaruh gelas bekas minumnya dengan kasar.


“Apa urusan itu jauh lebih penting di banding pekerjaan? Siapa yang kamu temui? Laki-laki bule itu?” Sindir Rangga yang menatap tajam Amara dari kejauhan.


Amara sempat terhenyak saat Rangga membahas Keith. Bagaimana bisa Rangga mengira ia menemui Keith. Ya, hari ini ia memang mencari Keith namun ia tidak bisa menemukannya.


“Heh, jawab pertanyaanku!” Rangga mulai naik pitam. Panggilannya pun mulai kasar.


Amara menatap Rangga tidak percaya. Dua tahun lebih berstatus sebagai pasangan kekasih, baru kali ini Rangga memanggilnya dengan kasar. Ia bahkan tidak pernah mendengar pangiilan HEH itu dilakukan Rangga pada Bella.


“Aku capek! Mau tidur!” Ia masih menghindar. Ia tidak siap untuk berdebat lebih panjang dengan Rangga, tenaganya sudah habis terkuras.


“TAPI AKU BELUM SELESAI!!!” Tiba-tiba saja Rangga meninggikan suaranya. Jantung Amara sampai hampir copot mendengar suara keras Rangga, hingga membuatnya mematung di tempat.


Laki-laki itu berjalan mendekat tanpa melepaskan pandangannya dari Amara.


“Kamu tahu, seharian ini crew nunggu kamu? Tapi kamu malah berkeliaran gak jelas dan nemuin laki-laki itu. Kamu pikir aku gak tau kalau kamu pergi mencari laki-laki lain RA?!” Bentak Rangga hingga membuat Amara gemetaran.


“Kamu juga kan yang nyebarin video di belakang layar yang sekarang beredar?” Rangga kini menuduhkan hal itu pada Amara.


Menurutnya, siapa lagi yang ingin menjatuhkan Bella kalau bukan Amara.


“HEH!!! JAWAB AKU!!!” Rangga sampai mengguncang tubuh Amara dengan kasar.


“AARRGGGHHHH!!!!” Siapa sangka Amara malah berteriak.


Ia memang melakukan apa yang Rangga katakan pada tuduhan pertama, yaitu mencari Keith. Namun ia tidak merasa kalau ia yang menyebarkan video itu.


"HWAAAA!!!" Alih-alih menjawab, Amara malah menangis sejadinya di hadapan Rangga.


“Aku benci sama kamu Ga, aku benci!” Ia memukul-mukul dada Rangga dengan kepalan tangannya.


“Kamu lebih mencemaskan mantan kamu di banding aku. Kamu gak tau kan kalau aku melewati hal sulit hari ini. Kamu bahkan gak nanya gimana kabar aku. Apa aku udah makan atau belum dan gimana perasaan aku sekarang.” Amara berbicara sambil berurai air mata. Suaranya sampai tidak jelas.


“Ara! Kendalikan diri kamu!!” Rangga mengambil tangan Amara yang memukulinya namun Amara segera mengibaskannya.


“HWAAAA!!!” Tangis Amara malah semakin keras. Ia menangkup wajahnya sendiri di hadapan Rangga.


Melihat Amara yang seperti ini rasanya Rangga tidak tega. Wanita ini masih saja menangis dan seperti tidak ada niatan untuk berhenti.


Akhirnya Rangga mengalah. Ia meraih tubuh Amara untuk kemudian ia peluk. Ia membiarkan Amara menangis di pelukannya. Mungkin untuk beberapa hal Amara benar. Ia seolah tidak peduli dengan keadaan gadis ini dan hanya mempermasalahkan syuting.


*****


Setengah jam berlalu, Amara mulai tenang. Ia duduk berhadapan dengan Rangga di meja makan. Rangga masih memperhatikan Amara yang tampak gelisah dengan wajahnya yang pucat.


“Kamu udah makan?” Tanya Rangga yang mulai luluh.


Ia tidak tahu seberapa besar masalah Amara, yang jelas gadis ini terlihat sangat kacau.


Amara hanya menggeleng. Ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan menaruhnya di atas meja.


“Apa ini?” Rangga penasaran dengan sebuah kertas yang bergambar abu-abu dan putih dengan nama Amara yang tercantum di atasnya.


“Aku, hamil Ga.” Lirih Amara tanpa berani mengangkat wajahnya. Ia membiarkan helaian rambutnya yang berantak menutupi wajah cantiknya.


“Hah? Hamil?” Seperti mendengar petir di siang bolong, Rangga masih begitu kaget dengan apa yang di dengarnya.


Amara hanya mengangguk lantas menatap Rangga dengan matanya yang basah dan merah.


“Ra, tapi aku…” Dengan tergagap, ia masih tidak percaya dengan yang di dengarnya. Rangga berusaha meraih hasil USG yang ada di hadapannya. Melihat gambar putih abu itu walau ia tidak begitu mengerti.


“Ini, anak kita?” Suara Rangga terdengar parau.


Amara kembali menangguk dengan yakin.


“Aku gak pergi berkeliaran Ga. Aku nemuin dokter dan memeriksakan keadaan aku yang sering sakit dan lemes. Aku pergi untuk memeriksakan anak kita Ga.” Sahut Amara dengan penuh keyakinan. Ia meraih tangan Rangga untuk ia genggam, namun Rangga mengibaskannya perlahan.


Rasanya seperti di tampar berkali-kali hingga membuat Rangga lemas tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi dengan nafas berat tertahan.


Amara ikut terdiam, ia memandangi tangannya yang di kibaskan Rangga. Entah mengapa rasanya sangat menyakitkan.


“Kenapa? Kamu gak percaya?” Tanya Amara yang menatap tajam Rangga.


Rangga mengusap dadanya yang terasa sesak.


“Ra, aku belum siap.” Lirihnya dengan lemah.


“Kamu pikir aku siap?! Aku juga gak siap GA!” Teriak Amara yang kembali meradang. Emosinya benar-benar tidak stabil.


Rangga hanya bisa tertunduk lesu sambil memegangi hasil USG dengan tangannya yang gemetar.


“Aku, udah minta dokter mengugurkan kandungan aku. Tapi dia bilang, janin sialan ini sudah besar. Bisa beresiko kematian buat aku sama dia. Tapi, harusnya tadi aku memilih mati saja kalau ternyata kamu gak bisa terima aku sama bayi ini? Hiks…” Terang Amara dengan terbata-bata.


Ia bahkan meremas perutnya dan memukulnya beberapa kali.


“Raa,,,” Rangga segera menghampiri Amara lalu menggenggam tangan Amara agar tidak terus memukuli perutnya. Bagaimana pun ia sadar, janin di perut Amara tidak berdosa. Bukankah dia hadir karena hasil perbuatan mereka.


Rangga memeluk Amara dari samping, ia harus berpikir jernih.


“Aku minta maaf Ra. Gak seharusnya aku ngomong gitu.” Akhirnya Rangga menyerah. Ia menyadari benar kekeliruannya. Bukankah mereka melakukannya atas dasar suka sama suka?


Amara terangguk pelan.


“Ini anak kita Ga, buah cinta kita. Aku cinta sama kamu.” Amara berbisik di telinga Rangga, membuat laki-laki itu memejamkan matanya, ketir mendengar kenyataan yang diucapkan Amara.


“Iya, aku tau.” Timpal Rangga seraya mengusap kepala Amara. Untuk kali ini, ia tidak bisa lari lagi.


Di balik pelukannya, Amara tersenyum lega. Ia mengusap kasar air matanya. Baginya, tidak ada yang perlu di takutkan lagi tentang status anak ini. Rangga dengan mudah mau menerimanya.


Rangga yang selalu menjadi ambisinya, kini bisa ia ikat dengan erat. Baru kali ini ia merasa kalau janin di dalam tubuhnya cukup berguna.


*****


Lanjut gak? Hahahaha...


Barangkali ada yang mau ngasih tau Rangga, Bella lagi ngapain atau ngasih tau Rangga apa yang Amara lakuin? Wkwwkwkwk


Jangan lupa like, komen dan votenya yaaa...


Terima kasih, sarangheyoo