Bella's Script

Bella's Script
Terpuruk bukan pilihan



Ruangan yang semula ditemani suara musik instrumental itu kini mendadak sepi, sunyi dan senyap. Hanya suara detakan jam yang menemani Rangga yang tengah terduduk di lantai seraya bersandar pada kaki sofa.


Ia masih memandangi hasil USG yang dulu pernah ia dapatkan dari Amara.


Entah harus kecewa atau bahagia, saat ia mengingat apa yang terjadi di unit apartemen Amara tadi.


"Ara, apa maksud kamu? Siapa ayah dari anak itu?" Tanya Rangga dari pintu unit apartemen Amara.


"Ga,..." Amara segera beranjak dari tempatnya. Ia tidak menyangka kalau Rangga mendengar pembicaraannya dengan Keith.


Menutupi tubuhnya yang polos dengan kain syal serta kedua tangan yang tersilang, Amara berusaha mendekat pada Rangga yang menatapnya penuh tanda tanya.


"Em, Ga, aku,..." Amara sadar ia terjebak. Antara mengakui ini adalah anak Keith sesuai hati nuraninya atau mengatakan ini anak Rangga sesuai egonya.


"JAWAB AKU!! INI ANAK SIAPA?!!" Bentak Rangga, menunjuk perut buncit Amara.


Matanya menyalak merah penuh kemarahan. Tangannya menggenggam erat keresek makanan yang ia bawa untuk Amara.


Sampai beberapa saat lalu ia masih merasa bersalah pada kekasihnya, memikirkan Amara yang seharian ini tampak murung dan bersedih serta memikirkan bayi dalam kandungannya yang mungkin ikut merasakan kesedihan ibunya.


Namun yang ada saat ini ia di buat murka oleh wanita itu. Masih tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Amara dibelakangnya.


Amara sampai terhenyak, hanya bulir air mata yang kemudian menetes tanpa bisa ia tahan.


"Kamu benar-benar berhubungan dengan laki-laki itu, Ra?" Suara Rangga melemah, penuh kesakitan dan kekecewaan menyadari bahwa mungkin bayi yang di kandung Amara bukanlah benihnya. Dengan jelas tadi ia mendengar ucapan Amara bahwasanya, Keith lah ayah dari bayi yang di kandungnya. Laki-laki berkebangsaan Eropa yang sempat membuat ia cemburu.


“Aku gak ada hubungan apa-apa sama Keith, Ga. Kami Cuma berteman. Kamu kan tau sendiri kalau dia pacarnya temen aku. Masa kamu gak percaya?” Ucap Amara kala itu. Tepat di saat Rangga melihat wajah Amara yang bahagia karena karena mendapatkan banyak bucket bunga kiriman dari Keith.


"Maafin aku Ga. Aku gak berniat buat nyakitin kamu. Sama sekali gak bermaksud," Air mata Amara benar-benar tumpah. Ia bahkan tidak bisa meneruskan kalimatnya


Ia meraih tangan Rangga untuk ia genggam namun Rangga mengibaskannya dan memalingkan wajahnya dari Amara.


Satu kalimat itu sudah jelas menjawab rasa penasaran Rangga. Kenyataan bahwa anak yang di kandung Amara bukanlah benihnya, telah membuka mata Rangga lebar-lebar. Siapa sebenarnya wanita yang kini ada di hadapannya?


“Sial!” Dengus Rangga saat tersadar dari lamunannya. Diremasnya kertas licin berwarna hitam putih itu di tangannya. Ia mengguyar rambutnya kasar, sedikit menariknya untuk menghilangkan rasa pusing di kepalanya. Sayangnya, ia tidak merasakan perubahan apapun.


Tidak habis pikir, selama ini, Ia benar-benar di bodohi oleh Amara. Ia di tipu dan di buat merasa bersalah karena Amara mengandung di waktu yang tidak tepat.


Ya, sangat tidak tepat karena harusnya saat ini ia dan Amara sedang berusaha meraih puncak popularitas tertinggi.


Tapi apa yang terjadi saat ini, ia merasa tidak percaya pada dirinya sendiri. Sudah dua kali ia melakukan kesalahan karena tidak meyakini pilihannya terdahulu.


Satu, saat ia memutuskan untuk meninggalkan Bella dan kedua saat ia dibodohi oleh kehamilan Amara.


Lagi-lagi ia salah melangkah. Lagi-lagi kepercayaannya hilang pada Amara. Dan lagi-lagi ia kehilangan kepercayaannya pada dirinya sendiri.


Apa yang salah dengan dirinya. Ia sudah melakukan banyak hal. Rela meninggalkan Bella demi Amara, membuat gadis itu terluka hingga nyaris mengakhiri hidupnya. Ia bahkan tidak berkedip saat melihat Bella yang berdiri di tepi jembatan sementara ia hanya mematung di kejauhan bersama Amara.


“Cuma aku pilihan yang tepat buat kamu. Bukan wanita lemah seperti Bella yang pantas mendampingi kamu.” Ucap Amara tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Dan diamnya Rangga, seperti mengiyakan ucapan Amara. Padahal harusnya saat itu ia berlari, menghampiri Bella agar tidak melakukan hal bodoh itu. Bella terjatuh tepat di depan kedua matanya dan Rangga hanya termangu.


Tanpa terasa, air mata menetes di pipi Rangga. Hingga hari ini, ia baru menyesali apa yang ia lakukan terhadap Bella. Apakah ini karmanya?


“Bell,...” Lirihnya yang tertunduk lesu.


Harusnya ia tidak sebodoh itu. Meninggalkan Bella untuk seorang Amara yang bahkan tidak memikirkan perasaannya. Bisa-bisanya ia tidur dengan laki-laki lain di saat Rangga merencanakan banyak hal untuk kehidupan mereka di masa depan.


Ia sudah merencanakan sebuah pernikahan yang mewah, tinggal bersama di rumah yang megah, memiliki banyak anak agar tidak kesepian saat menjelang tua nanti dan tentu saja, membayangkan kalau mereka akan saling mencintai sampai maut memisahkan.


Tapi, yang terjadi sekarang,...


Akh, Rangga rasanya ingin berteriak sekerasnya. Namun entah mengapa ia bahkan tidak memiliki tenaga sama sekali. Laki-laki yang menghamili Amara pun ia biarkan pergi begitu saja, melewatinya dengan kalimat penolakan untuk menerima bayi itu dalam hidupnya.


Tubuhnya lunglai, bahkan hanya untuk sekedar menghantamkan pukul keras ke wajah laki-laki itu.


Dan saat melihat Amara terduduk tanpa busana, hatinya hancur. Bukan karena melihat kondisi Amara, namun karena kepercayaannya pada Amara telah dihancurkan begitu saja.


Bukankah seharusnya dulu ia tidak meninggalkan Bella?


****


Di tempat berbeda, Amara tidak kalah terpuruk. Ia memunguti baju yang tadi disobek oleh Keith. Beberapa kain tercabik, dengan jahitan terlepas, persis seperti hatinya saat ini.


Ia menggenggam erat dress itu di dadanya, memeluknya sambil memandangi pantulan dirinya di cermin tinggi seukuran tubuhnya.


“Are you kidding me?”


“I’m not the only one you sleep with. Do you think i’ll believe it?” pertanyaan penuh kesanksian Keith itu kembali berdengung di kepala Amara.


Jantung Amara sampai gemetar mendengar kalimat itu. Langit serasa runtuh menimpanya terlebih saat ia melihat wajah Rangga yang begitu kecewa hingga tidak mengatakan apapun. Laki-laki itu menjejalkan tali keresek makanan yang ia beli di tangannya, lalu meninggalkan Amara begitu saja.


Makanan itu bahkan masih Amara pandangi tanpa berani mendekatinya.


“Hu hu hu...” Tangis Amara kembali pecah saat ia mengingat Rangga dan Keith di waktu yang bersamaan.


Mungkin di mata kedua laki-laki itu, ia hanya seorang pel*cur murahan yang tidur dengan laki-laki mana saja hingga Keith tidak mau menerima anak yang kini ada dalam kandungannya.


Dan Rangga, sudah pasti ia sangat kecewa pada Amara. Melihat ia yang nyaris telanjang di hadapan laki-laki lain, masih bisakah Rangga menerimanya alasannya? Terlebih ia tahu bahwa anak yang ada di dalam rahimnya bukan anaknya. Masih samakah mimpi-mimpi Rangga yang ia katakan saat di dalam mobil tadi?


Amara mencengkram baju itu kuat-kuat. Ia sadar, kejadian ini tentu menghapuskan harapannya. Namun bisakah ia meraih Rangga kembali? Laki-laki yang ia harapkan akan menjadi sandaran hidupnya di masa depan.


Tentu saja, ia tidak bisa terpuruk seperti ini. Amara segera memakai bajunya meski beberapa bagian sobek. Ia mengikat rambutnya tinggi-tinggi, menunjukkan lehernya yang jenjang dipenuhi bekas kecupan kasar Keith. Ia menghapus air matanya dengan kasar. Ini bukan waktunya untuk menangis. Seperti sebelumnya, ia bisa merebut Rangga dari Bella, maka kali ini pun ia yakin bisa.


“Rangga, maaf. Tapi aku gak akan pernah ngelepasin kamu. Aku akan berusaha untuk mendapatkan hati kamu lagi, sekalipun aku harus mengakhiri hidup bayi ini.” Tutur Amara berbicara pada bayangannya sendiri.


Ia tersenyum sinis seraya menatap perutnya yang membuncit. Keputusannya sudah sangat bulat. Ya, ia siap untuk merebut hari Rangga lagi.


****