
“Jadi, apa itu cerita badak api?” Tanya Devan saat mereka sudah melanjutkan perjalanan pulang.
Bella terkekeh geli mendengar pertanyaan suaminya yang terlihat sangat penasaran.
“Hey, aku serius loh pengen tau.” Devan meraih tangan Bella yang kemudian ia gigit dengan gemas.
Devan merasa kalau ia sudah membaca hampir semua tulisan yang Bella ikutkan dalam berbagai lomba tapi bagaimana bisa masih ada yang terlewat?
“Yaa, okey-okeeyy... Nanti aku cerita.” Kalau sudah di gigit begini, ya lebih baik Bella mengalah.
“Sekarang aja.” Pinta Devan.
“Dih, Mas kan lagi nyetir, nanti malah ngantuk lagi. Ini tuh dongeng pengantar tidur anak loh.”
“Emm... Dongeng pengantar tidur anak ya? Okey kalo gitu.” Devan tiba-tiba saja membanting stir ke kiri lalu mencari-cari, sepanjang jalan tempat mana yang bisa ia gunakan untuk berhenti.
“Mas nyari apaan sih?” Bella jadi memperhatikan Devan yang celingukan.
“Nyari taman buat mojok.” Sahutnya enteng.
“Astaga Mas... 20 menit lagi juga kita nyampe rumah loh. Masa mau mojok di sini?” Bella geli sendiri dengan ide absurb suaminya.
“Papah lagi ada di rumah kamu, lagi berkunjung. Kata Ozi ngobrolnya lagi asyik sama Ozi dan mamah. Jadi gak apa-apa kita pulang telat dikit. Mumpung mereka udah bisa membuka obrolan, jadi kita gak usah nimbrung.” Terang Devan yang tetap mencari tempat untuk ia menepi.
“Itu sih alesan Mas aja. Bilang aja mau berduaan sama aku.” Cetus Bella.
“Iyaa sekalian modusin istri kan gak apa-apa.” Timpal Devan santai.
Bella hanya mengulum senyum mendengar timpalan jujur suaminya.
Setelah beberapa lama mencari tempat parkir, akhirnya mereka menemukannya. Tepatnya di sebuah taman yang sepi karena mulai malam.
Di dalam mobil, Devan membaringkan tubuhnya dengan kedua paha Bella sebagai bantalan. Ia sudah bersiap menyimak.
“Aku nunggu ceritanya loh.” Ucap Devan seraya bersidekap merasakan hawa dingin ac mobil.
“Iya... Iyaa... Aku mulai dongeng yaa...” Bella merubah posisi duduknya agar lebih nyaman. Satu tangannya ia taruh di atas kepala Devan lalu perlahan mengusap rambut suaminya dengan lembut.
"Cerita ini tentang seekor badak yang tidak bisa mengendalikan emosinya. Aku menulisnya di sebuah harian ibukota edisi spesial hari anak sedunia sekitar empat atau lima tahun lalu, sebagai bentuk campaign, mengenalkan kembali anak-anak ke cerita-cerita sesuai usia mereka."
"Okey, go ahead, i cann't wait." Devan antusias menunggu cerita istrinya.
“Suatu hari, seekor badak kecil yang di kenal sebagai badak api, datang ke hutan. Dia mau mencari teman untuk bermain. Dia melihat ke sekitaran hutan, tapi tidak ada satu binatangpun yang terlihat.”
“Kalian kemana? Bagaimana bisa hutan seluas ini begitu sepi? Kata Badak api yang kebingungan. Ia duduk di tepi danau yang di huni oleh banyak ikan.” Ekspresi Bella berubah sendu membuat Devan menggenggam satu tangan sang istri dengan erat.
“Ada badak api, ada badak api!!! Seru ikan-ikan di danau.” Mata Bella ikut membulat seolah ia kaget. Devan tersenyum melihat ekspresi Bella yang begitu menjiwai.
“Tiba-tiba saja, seekor badak air muncul kepermukaan. Badak yang sedang berendam itu kaget mendengar kericuhan para ikan."
"Ada apa ini? Kenapa kalian terdengar begitu panik? Tanya Badak air.”
Bella melanjutkan ceritanya dengan imajinasi terikat kuat pada cerita yang dibuatnya. Suaranya berubah-ubah sesuai peran yang diceritakannya.
“Begini badak air, ada badak api di dekat danau. Kami takut dia akan mengganggu kita. Saat marah dia bisa menghanguskan siapa saja. Ucap para ikan.”
“Mendengar itu, badak air tidak tinggal diam. Ia menunjukkan dirinya di permukaan danau."
"Badak api, apa yang sedang kamu lakukan? Kamu mau mengganggu kami? Tanya badak air.”
“Tidak badak air, aku tidak ingin mengganggu kalian. Aku hanya mencari teman bermain. Kata badak api.”
“Iya, tapi para ikan dan binatang lainnya takut melihatmu. Mereka takut tiba-tiba kamu menyerang mereka tanpa alasan. Kata badak air.”
“Tidak badak api, aku janji tidak akan mengganggu kalian. Aku minta maaf kalau selama ini aku selalu mengganggu kalian dan membuat kalian takut. Tapi kali ini, aku berjanji, aku akan merubah sikapku. Aku akan lebih baik lagi mengendalikan emosiku agar tidak merugikan kalian. Aku mohon, bermainlah denganku. Aku sangat kesepian.”
“Badak api itu sampai merengek sedih. Mereka melihat kesungguhan badak api saat berjanji.”
“Bagaimana kalau kita beri kesempatan dulu sama badak api, aku rasa dia bersungguh-sungguh? Tawar badak air pada teman-temannya.”
“Tapi bagaimana kalau badak api mengacau? Tanya ikan kecil.”
“Aku berjanji akan melindungi kalian. Lagi pula kita ada di dalam air, kita akan aman. Janji badak air.”
“Baiklah. Ayo kita bermain. Para ikanpun setuju untuk bermain.”
“Baiklah badak api, kami mau bermain denganmu. Tapi ingat, kalau sekali lagi kamu jahat, kamu tidak akan punya teman untuk selamanya. Ucap badak air.”
“Baiklah, aku berjanji. Kata badak api.”
"Mereka tampak begitu asyik saling mencipratkan air satu sama lain, lalu sama-sama menyelam ke dalam air. Hari itu berlalu dengan indah karena badak api tidak lagi mengacau."
"Jadi kalau mau bermain sama-sama, kita harus bisa mengendalikan diri kita masing-masing. Jangan melakukan hal buruk yang teman kita tidak sukai karena itu akan membuat mereka sulit menerima kita. The end.” Tandas Bella mengakhiri ceritanya.
“Gimana?” Bella menoleh suaminya yang berada di pangkuannya.
“Seru, aku suka.” Jawab Devan dengan sesungguhnya. Ia tersenyum penuh kekaguman pada Bella seraya mengecup tangan istrinya.
“Nanti, kamu mau kan dongegin ini ke anak-anak kita?”
“Eemmm... Mau... Tapi gantian lah sama papahnya. Mereka juga harus tau dongeng versi papahnya. Lagian, sesekali aku juga pengen dengerin mas dongengin aku. Hayoohh, kapan kira-kira?” Bella mengusap pipi Devan yang di tumbuhi rambut halus.
“Nanti yaa, aku dongengin. Aku bikin ceritanya dulu.”
“Hahahaha iiyaaa... Nanti aku tagih janji mas loh ya...”
“Iyaaa...”
Devan membalik tubuhnya menyamping, menghadap perut Bella.
“Mereka akan tumbuh dengan baik di sini. Di beri kasih sayang yang melimpah oleh ibunya yang hebat ini. Aku pasti akan menjadi seorang ayah dan suami yang saaaangat beruntung.” Ungkap Devan seraya mengusap perut Bella.
Bella tersenyum lega mendengar ucapan suaminya. Terlebih saat Devan mengecup perut Bella dengan sayang. Tapi sedetik kemudian,
“Awh!!! Hahahahaha... Mas geli tau.” Bella tertawa terbahak-bahak saat ternyata Devan malah menggingit perutnya dengan gemas.
Devan malah terkekeh melihat istrinya yang tertawa dengan renyah. Ia mengusap kepala Bella lalu menarik sedikit tengkuk Bella agar merunduk dan sedikit mengangkat tubuhnya mendekati Bella. Di kecupnya bibir Bella dengan hangat. Tidak hanya satu kecupan, tapi dua, tiga dan empat hingga akhirnya berubah menjadi ******* untuk beberapa lama.
Papah Devan memang modus.
*****
Sudah cukup malam saat Devan dan Bella tiba di rumah. Dari luar mereka sudah mendengar suara tawa Armi yang bersahutan dengan Saras dan Ozi. Hanya mereka bertiga karena Inka siang tadi memutuskan untuk pulang dulu ke apartemen.
Mereka masuk dan menyalimi kedua orang tua mereka lantas bergabung.
“Wah, kalian bawa apa nih?” Tanya Amri saat melihat Devan menaruh sebuah keresek di atas meja.
“Aku beli martabak tadi di jalan.” Sahut Devan.
“Aku ambil piring dulu ya bentar.” Pamit Bella yang segera berlari ke dapur. Ia mengambil beberapa piring dan sebuah teko berisi minuman untuk mengisi ulang gelas mereka nantinya.
Di tempatkan di atas piring, martabak itu menjadi menu kudapan mereka menemani obrolan yang sudah ngalor ngidul.
“Papah denger, hari ini promo film kalian trending ya? Banyak yang menunggu filmnya di putar di bioskop katanya.” Amri mengutip sebagian obrolan Ozi tadi.
“Iya pah. Alhamdulillah, promosi awal kami berjalan lancar. Rencananya, hari sabtu besok, kami akan melakukan promosi di lebih banyak medsos, untuk menarik animo masyarakat soal penayangan film ini.” Terang Devan.
“Wah, papah seneng dengernya. Berarti ini project pertama Bella dan Devan sebagai pasangan suami istri ya? Hahahaha...” Amri tertawa bangga.
“Iya pah, alhamdulillah jadi kado pernikahan kita ya Mas.” Sahut Bella.
“Iyaa...” Devan balas tersenyum pada istrinya.
“Mamah udah gak sabar nonton filmnya. Nanti mamah minta duduk paling depan yaa...” Pinta Saras dengan antusias.
“Mah, kalau mamah minta paling depan, nanti mamah ngedongak, gak nyaman nontonnya."
"Idealnya adalah posisi 1/3 dari belakang. Itu letak kursi bioskop paling nyaman dan cukup strategis sebab jarak pandang pada layar bioskop berada di bawah 35 derajat. Kalau lebih, dimensi ruangan akan terlihat lebih lebar sehingga fokus mamah terpecah dan melihat hal lain di sekitar layar.” Terang ozi dengan panjang lebar.
“Waahh beda yaa kalau penjelasan seorang fotographer. Detail sekali.” Puji Amri seraya menepuk bahu Ozi dengan bangga. Sepertinya mereka benar-benar akrab.
“Hehehe iya Om. Nonton kan selain filmnya harus bagus, posisinya juga harus nyaman.” Timpal Ozi.
“Iyaa kalau gitu, mamah pesen posisi yang abang bilang tadi ya Van.” Pesan Saras pada Devan.
“Siap Mah!” sahut Devan seraya melakuakan hormat singkat.
*****
Ada yang mau nonton film Bella dan Devan juga?
Jangan lupa like dan komennya yaa... Gift juga boleh. Hehehehe...
Terima kasih