Bella's Script

Bella's Script
Dia yang sakit



“Van, bentar aja, yang kuat. Kita ke atas bentar.” Susah payah Bella menarik tangan Devan agar melingkar di bahunya. Sementara satu tangan lainnya memegangi tubuh Devan agar tidak jatuh.


Bella terus berusaha berjalan, menuju anak tangga. Menapakinya satu per satu dengan langkah gemetar karena berat menopang tubuh Devan yang lebih besar darinya.


“Bertahan ya Van, bentar lagi nyampe.” Bella sampai terengah-engah nyaris kehabisan nafas demi menuju anak tangga berikutnya.


“Satu lagi Van, satu anak tangga lagi.” Gumamnya menyemangati dirinya sendiri dan Devan.


“Huh!” Bella menghembuskan nafasnya kasar saat sudah bisa melewati satu anak tangga terakhir.


Pelan-pelan ia membaringkan tubuh Devan di atas tempat tidur sementara ia terduduk di tepian.


“Astaga, keringet lo banyak banget.” Bella melap keringat di dahi Devan dengan punggung tangannya.


Laki-laki itu sudah tergolek lemas, tidak bersuara sedikitpun.


Melihat Devan yang seperti ini Bella jadi khawatir sendiri. Ia juga menyesal karena mengacuhkan Devan hingga tidak tahu kalau laki-laki ini sakit. Padahal saat Bella terpuruk, hanya Devan yang selalu ada di sisinya. Jika saja tadi ia masih berkeras hati tidak mau menuruti Saras untuk pergi ke rumah Devan, lantas apa yang akan terjadi kemudian?


Tidak, tidak. Bella bahkan tidak berani membayangkan semua itu. Kini ia berlalu lalang di kamar Devan mencari cara untuk menyembuhkan Devan. Ya, ia harus menolong laki-laki ini.


Bella berkeliling kamar, membuka satu per satu laci yang ada hingga pintu lemari untuk mencari obat atau sejenisnya. Tapi sepertinya Devan tidak menyediakan benda seperti itu di rumahnya.


“Gue harus gimana iniihh?” Bella bingung sendiri melihat kondisi Devan. Ia mengigiti jemarinya seraya berpikir.


“Mamah, ya telpon mamah.” Cepat-cepat Bella menyalakan ponselnya dan mencari nomor Saras.


Satu deringan belum di jawab Saras dan rasanya sangat lama. Bella mondar mandir dengan tidak tenang.


“Assalamu ‘alaikum dek...” Suara Saras seperti Oase di tengah gurun yang kering. Ada harapan, pikirnya.


“Mah, Devan demam. Panas banget badannya. Kayaknya sampe pingsan. Ini adek harus gimana?” Tanya Bella beruntun. Ia sudah panik lebih dulu sampai lupa menjawab salam ibunya.


“Wa’alaikum salam...” Akhirnya Saras sendiri yang menjawab salamnya.


“Iya wa’alaikum salam.” Dan Bella mengikuti.


“Adek tenang dulu. Sekarang coba ukur dulu suhunya.” Saras berusaha menenangkan. Ia tahu persis bagaimana putrinya kalau sedang panik.


“Gak ada apa-apa di sini mah. Obat-obatan juga gak ada.” Lagi-lagi Bella membuka satu persatu laci di lemari Devan dan tetap tidak menemukan apapun.


“Ya udah, nanti mamah kirimin obat sama termometer. Adek coba kompres dulu Devan nya. Pastikan pakaiannya tidak terlalu tebal dan jangan di selimutin.”


“Iya mah, jangan lama-lama ya mah. Soalnya Devan nya panas banget. Dia juga gak bangun-bangun. Adek takut Devan kenapa-napa.” Suara Bella mulai terbata-bata dan air matanya menetes begitu saja.


“Iya sayang. Mamah suruh ojek langganan mamah supaya cepet-cepet nganterin obatnya ya.”


“Iya mah. Makasih mah.” Tandas Bella.


Setelah mengakhiri panggilannya, Bella segera melakukan apa yang Saras instruksikan tadi. Ia mengambil handuk kecil dari dalam lemari Devan lalu berlari menuruni anak tangga. Ia mengambil air dalam sebuah wadah cukup besar, mengisinya dengan air panas.


“Cepet dong, cepeett..” Keran pun kena omel karena terlalu lama mengisi wadah.


Setelah mengisi setengah wadah, Bella berlari kembali menuju kamar Devan. Menaruh wadah berisi air di samping tempat tidur Devan sementara ia duduk di samping Devan.


“Sorry ya Van, gue buka dulu bajunya. Biar gak ketebelan.” Izin Bella pada laki-laki tidak berdaya itu.


Di mulai dari melepas sweater Devan, ini saja butuh usaha yang besar. Bella memiringkan tubuh Devan yang tingggi besar, lalu mengambil bagian belakang dari sweater yang tertindih tubuh Devan. Setelah berhasil lepas, ia menelentangkan kembali Devan. Hawa panas tubuh Devan pun langsung terasa menyeruak.


Dilanjutkan dengan melepas satu per satu kancing kemejanya dengan tetap memperhatikan wajah Devan yang tertidur. Titik-titik keringat memenuhi wajahnya meski Bella sudah melapnya.


“Sorry ya Van, gue gak maksud apa-apa. Sorry banget.” Gumam Bella selama melepas satu per satu kancing kemeja Devan.


Kali ini hanya tersisa kaos singlet yang sudah basah dengan keringat dan melekat pada tubuhnya. Terlihat jelas tubuh Devan yang atletis.


“Sorry, gue gak liat kok.” Kali ini Bella mengalihkan pandangannya dan memejamkan matanya.


Ia pun terengah-engah membuang nafasnya karena gugup dan panik. Hawa panas itu tidak hanya di badan Devan tapi wajahnya pun ikut menghangat dan memerah.


Bella tidak membuka apapun lagi. Ia membiarkan Devan dengan celana panjang dan kaos singletnya tergeletak di atas Kasur.


Ia mengambil handuk kecil yang tadi ia rendam dalam air. Memerasnya sebentar lalu mengkompreskannya di atas dahi Devan. Ia sengaja tidak menyelimuti Devan, suhu AC pun ia turunkan agar ruangan lebih dingin.


Dipandanginya wajah Devan yang kini sedang terlelap. Ada rasa tidak tega bercampur khawatir saat melihat wajah sangar itu berubah sayu.


“Lo nawarin gue minyak angin tapi malah lo yang sakit.” Gumam Bella dengan sedih saat mengingat pesan Devan semalam.


Ia jadi ingat, tadi pagi Devan ia acuhkan dan malah terkesan ia hindari. Padahal ia tahu, kejadian malam itu bukan murni kesalahan Devan.


“Gue minta maaf ya Van. Gue malah nyalahin lo atas keisengan gue yang berakhir kejadian memalukan itu. Aduuhh, ya Allah….” Bella menangkup wajahnya sendiri.


Tapi Devan tdak bergeming, ia tetap terlelap dan sesekali tampak menggigil.


“Van, lo kenapa?” Bella kembali panik saat terlihat Devan yang menggigil dan menggeretakkan giginya. Tangannya bahkan mengepal seperti menahan rasa sakit.


“Lo kedinginan?” Tanya Bella yang tentu saja tidak di jawab Devan.


Bella menyentuh kompresannya, ternyata cepat sekali kering. Ia segera menggantinya dan memasang kompres yang baru. Keringat Devan semakin bercucuran dan kaos singletnya sudah basah karena keringat.


“Apa ini yaa yang bikin Devan menggigil?” Bella menyentuh ujung kaos singlet Devan yang bahkan sudah basah dengan keringat.


“Gue lepas aja kali ya. Tapi, aduuhh… Harusnya gue minta abang ke sini dan dia yang ngerawat Devan. Tapi, abang juga sakit. Gue gak tega liat abang ngerawat Devan. Mereka sama-sama lagi sakit.” Bella berbicara pada dirinya sendiri.


Sudah ia pertimbangkan tapi pada akhirnya ia memutuskan ia akan melepas kaos singlet Devan.


“Van, kali ini gue beneran minta maaf. Maaf banget…” Lagi Bella meminta maaf seraya melepas kaos singlet Devan pelan-pelan.


Ia berusaha untuk tidak melihat tubuh Devan yang telanjang dada. Cepat-cepat ia menarik kaos Devan ke atas dan melepasnya. Saat sekilas melihat dada Devan yang terekspose, ia segera menarik selimut dan segera menutupinya.


Dulu saat ia bekerja di departemen artistic, rasanya sudah tidak aneh melihat para pria yang sedang casting memamerkan bagian dada yang menjadi kebanggan kaum adam ini. Tapi saat melihatnya langsung, matanya langsung merasa ternoda hingga ia menutup matanya dengan kedua tangan dan memastikan tubuh Devan tidak terlalu terbuka.


Aah ada-ada saja.


Tidak lama terdengar suara bel. Bella segera turun, ia yakin itu ojek suruhan mamahnya.


“Malem neng Bella…” Sapa pengemudi ojek langganan Saras saat Bella membuka pintu.


“Malem pak. Bapak bawa obatnya?”


“Iya ini neng.” Sebuah goodie bag ia serahkan pada Bella.


“Makasih ya pak.” Bella segera mengambil goodie bag dari tangan pengemudi ojek itu dengan tergesa-gesa lalu bergegas menghampiri Devan.


Ia sampai lupa untuk pamit dan menutup pintu. Beruntung bapak itu pengertian, sebelum pergi dan mengucap salam, ia menutup pintu rapat-rapat.


Bella membongkar isi goodie bag. Sudah ada thermometer di sana beserta obat-obatan. Bella segera mengukur suhu badan Devan dengan menempatkan thermometer di ketiaknya. Sambil menunggu ia menyiapkan obat.


“Dia gimana minum obatnya ya?” Bella berpikir sejenak.


“Oh iya, di gerus aja.” ide itu muncul begitu saja.


Ia segera turun ke dapur, mengambil sendok dan mulai menggerus obat antipiretik. Setelah selesai, ia bawa kembali ke kamar Devan. Ia mendengar thermometer sudah berbunyi.


“Astaga, 40,2. Van,.. Minum obat dulu ya…” Bisik Bella di telinga Devan.


Ia membantu Devan untuk bangun, lantas menyandarkan tubuh Devan di bahunya.


“Okey, tahan sebentar ya Van, agak pait dikit.” Bella sedikit membuka mulut Devan lantas menyuapkan sendok berisi obat ke mulutnya.


Terlihat usaha Devan untuk membuka matanya walau sangat sulit. Matanya mengerjap berat dan kembali terutup rapat setelah menelan obat di mulutnya.


“Telen yaa telen… Biar lo cepet sembuh.” Tanpa sadar Bella mengusap-usap dada Devan untuk membantunya menelan obat.


Devan kembali tergolek lemas. Ia bersandar di bahu Bella dan Bella membiarkannya sampai ia yakin obat itu masuk ke perut Devan. Ia memandangi pantulan bayangannya dan Devan dari cermin besar yang ada di hadapannya. Devan yang menyandarkan kepala di bahunya dan ia yang duduk tegak dengan wajah bingung bercampur cemas. Rasanya ia tidak bisa melihat Devan berlama-lama sakit seperti ini. Lebih baik ia melihat Devan yang menyebalkan, aneh, kaku dan dingin daripada melihat Devan yang lemah seperti ini.


“Mah, mamah…” Lirih Devan dengan suara yang menyedihkan. Seperti laki-laki ini tengah menahan tangisnya.


Bella bahkan bisa merasakan air mata yang menetes dari sudut mata Devan.


“Van,,, Ini gue, Bella.” Bella refleks meraih tangan Devan lalu menggenggam tangan panas itu dengan erat.


“Walau gak ada nyokap lo, tapi lo gak sendirian. Gue akan jagain lo.” Satu tangan lainnya mengusap pipi Devan dengan lembut.


Ia bisa membayangkan bagaimana sulitnya Devan melewati hari-harinya tanpa kedua orang tuanya terutama, tanpa seorang ibu. Bagaimana ia saat sakit, apa selama ini ia hanya sendirian?


Bella terus berbicara dengan pikirannya seraya memandangi wajah Devan di pantulan cermin.


Dan semalaman itu, ia menjaga Devan. Mengganti kompresnya tiap beberapa menit dan mengukur suhunya tiap satu jam sekali.


Menjelang dini hari, suhu tubuh Devan berangsur turun. Bella dengan mata yang sudah lelah akhirnya bisa menghela nafas lega. Ia menaikkan selimut Devan agar tidak kedinginan.


Ia membiarkan Devan tertidur di ranjangnya sementara ia duduk di kursi kerja Devan seraya menelungkupkan wajahnya di atas permukaan Kasur persis di samping Devan.


Satu tangannya tetap berada di atas kepala Devan, demi memastikan kalau-kalau mungkin kompresnya kering dan ia harus segera menggantinya.


Seperti itu Bella dan Devan melewati malam ini bersama-sama. Malam yang terasa panjang dan membuatnya kelelahan hingga tertidur.


*****