
Bella dan Devan, kini terduduk di kursi sebuah ruangan yang di peruntukkan bagi keluarga Pasien yang tengah di rawat di ICU. Kosongnya ruangan ini membuat mereka leluasa melakukan aktivitas yang mereka perlukan.
Bella masih mengobati luka-luka suaminya. Dimulai dari membersihkannya dengan cairan NaCl, lalu mengoleskan obat antibiotics salep.
Jarak mereka yang sangat dekat, membuat Devan bisa melihat bagaimana mata Bella yang masih sembab dan merah itu menatapnya. Sangat penuh dengan khawatiran. Ia tahu, Bella sangat membutuhkan penjelasannya saat ini tapi wanita ini lebih memilih mengobati terlebih dahulu luka-luka di wajahnya alih-alih mencerca Devan dengan banyak pertanyaan yang ada di benaknya. Kekhawatirannya jauh lebih besar di banding rasa marahnya.
Dan lagi, Devan merasa begitu bersalah atas apa yang sudah ia lakukan pada Bella. Ozi benar, jika ia tidak bisa mengajak Bella menemui sang ayah, harusnya ia bisa memberi penjelasan pada Bella. Bella mungkin bisa dengan sangat mudah mengerti keadaan Devan tapi karena kepanikannya, ia sampai melupakan segalanya.
“Mas kenapa gak mau di obatin sama perawat di sini?” Tanya Bella seraya menutup satu luka Devan yang ada di dahinya. Luka yang mirip pukulan benda tajam dan entah dengan menggunakan alat apa. Devan berada di rumah sakit tapi luka-lukanya seperti sengaja tidak di obati.
“Aku tidak terbiasa ada orang lain ada di dekatku.” Sahut Devan dengan sejujurnya.
Mereka sempat bertemu pandang selama beberapa detik saat Bella beralih mengobati sudut bibirnya yang merah berdarah tapi kemudian Bella kembali memperhatikan luka yang harus di obatinya.
“Apa keberadaan aku masih terasa seperti ancaman buat Mas?” Lanjut Bella tanpa mengalihkan pandangannya dari luka Devan.
Devan tidak lantas menjawab. Ia lebih memilih menarik tangan Bella untuk kemudian ia genggam.
“Sudah cukup, aku sudah sembuh.” Ujarnya dengan perlahan.
Bella tidak menimpali. Ia memilih melepaskan genggaman tangan Devan, lalu memasukkan obat-obatan itu ke dalam keresek yang tadi di bawanya. Bella sibuk sendiri dengan urusan mengatur posisi obat di dalam plastik dan mengumpulkan bahan habis pakai seperti tisue dan kapas sambil memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada Devan.
Tiba-tiba saja, Devan turun ke bawah. Ia bersimpuh di hadapan Bella sambil menunduk.
“Aku, minta maaf Bell,...” Suaranya terdengar parau. Seperti ada banyak benda tajam yang menghalangi jalan suaranya.
“Aku tahu, harusnya aku tidak bersikap seperti itu sama kamu.” Ia memberanikan menatap Bella yang bersidekap di hadapannya sementara matanya memilih menoleh ke arah lain.
Devan bisa melihat mata Bella yang berkaca-kaca dan nyaris menitikkan air mata. Ia meraih tangan Bella yang ragu untuk terulur lalu menenggamnya dengan erat. Beberapa kali ia mengatur nafasnya, merasakan bahwa perasaannya jauh lebih baik dengan menggenggam tangan Bella.
“Aku selalu bodoh, setiap kali ada hal yang mengancam orang-orang yang aku sayang. Aku selalu ingin melindungi semua orang yang aku cintai tapi aku selalu gagal. Dan aku selalu takut kehilangan mereka tapi bodohnya aku malah memberi mereka alasan untuk pergi.”
“Jika kamu belum memahaminya, aku tidak masalah. Tapi izinkan aku untuk mengatakan, kalau aku sangat menyesal meninggalkan kamu seperti semalam, Bell.” Ia menatap Bella dengan lekat. Seperti tengah meminta pengampunan.
Tatapan Bella pun kini beralih pada Devan. Terdengar helaan nafas berat saat ia membalas tatapan Devan.
“Bagaimana bisa mas tahu aku paham atau tidak sementara Mas sendiri gak menjelaskan apapun sama aku?” Tanya Bella dengan sesak tertahan.
Baru kali ini ia balas menatap wajah suaminya yang sendu.
Devan tersenyum kelu, menertawakan kebodohannya sendiri. Bella benar, bagaimana bisa ia membuat Bella paham dengan semuanya sementara ia hanya bisa lari seperti pengecut?
Mungkin memang seharusnya ia menceritakan apa yang menjadi alasan ia pergi.
****
Beberapa jam lalu
Kepanikan mencari keberadaan Amri semakin bertambah saat Devan menerima sebuah pesan dari sahabatnya, Diego.
“Help!” Tulis Diego sebagai caption dari sebuah foto dan lokasi yang ia kirim pada Devan.
Deg!
Jantung Devan serasa melorot saat ia melihat Amri yang tergolek tidak berdaya di tanah beraspal. Ia melihat lokasi yang di kirim Diego dan ternyata itu adalah lokasi pemakaman dari mendiang ibunya.
“Shit!” Dengus Devan dengan kemarahan yang tiba-tiba memuncak. Ia begitu panik hingga tidak bisa berpikir apapun dan hanya berjalan mondar-mandir di kamarnya.
Setiap kalimat yang keluar dari mulut istrinya seperti sebuah tekanan yang membuat pikiran Devan semakin buntu dan kalut.
“Aku harus pergi!” Hanya sebaris kalimat itu yang kemudian mengisi pikiran dan perasaannya. Ia membereskan semua barang-barangnya karena ia harus bergegas menemui sang ayah yang harus segera ia selamatkan.
Dengan pikiran yang kalut, membuat Devan dan Bella akhirnya bersi tegang. Tanpa sadar ia membentak Bella hingga membuat Bella menitikkan air matanya. Devan semakin kalut dan ia terpaksa harus berdebat sengit dengan Bella. Sesuatu yang tidak pernah ia inginkan selama hidupnya.
Semakin lama ia berdebat dengan Bella, semakin besar kemungkinan sang ayah terluka lebih parah.
Baginya, ia tidak bisa menjelaskan semuanya sekarang. Ia juga tidak bisa membawa Bella ikut serta karena kemungkinan keselamatan Bella lah yang berikutnya akan terancam.
Tanpa berpikir panjang apalagi menunggu persetujuan Bella, Devan pergi meninggalkan Bella di apartemen sendirian.
Sepanjang perjalanan pikiran Devan terus berdebat. Pikiran tentang Amri yang terancam karena ia bersi keras untuk menemui sang istri yang begitu di cintainya. Devan bisa memahami itu tapi menurutnya tidak untuk sekarang. Tapi Amri sudah membuat keputusan sendiri dengan pergi ke Singapore tanpa mengajak Devan. Ia sepertu tengah menyetorkan nyawanya pada sang adik ipar yaitu Alwi.
Pikiran yang kalut membuat Devan beberapa kali nyaris menabrak kendaraan lain karena cara mengemudinya yang ugal-ugalan dan terburu-buru. Segala peluang ia ambil demi agar segera sampai ke bandara.
Tiba di bandara, Devan segera membeli tiket penerbangan ke Singapore. Ia pun berdebat hebat dengan petugas bandara saat mendapatkan kabar kalau tiket sudah habis dan pesawat akan segera berangkat.
“NYAWA SESEORANG SEDANG TERANCAM DAN SAYA HARUS MENYELAMATKANNYA. SAYA BISA MENUNTUT KALIAN JIKA SESUATU YANG BURUK SAMPAI TERJADI PADA ORANG TERSEBUT!” Devan sampai berteriak mengancam petugas Bandara dengan amarah yang meledak-ledak.
Petugas Bandara hanya bisa diam melihat kemarahan Devan, ia tidak bisa memberi solusi lebih selalin meminta Devan menunggu jadwal penerbangan berikutnya.
Mendengar keributan itu, seorang penumpang akhirnya bersedia memberikan tiketnya pada Devan. tidak masalah jika kemudian Devan harus membayar berkali lipat untuk sebuah tiket keberangkatan tersebut.
Perjalanan selama kurang lebih dua jam itu terasa begitu lama bagi Devan. Ia duduk dengan gelisah melihat keluar jendela pesawat yang hanya menunjukkan pemandangan malam yang gelap. Ingin menghubungi Diego dan menanyakan kondisi sang ayah, namun sayangnya ia tidak bisa menggunakan ponselnya. Devan hanya bisa menunggu dan menunggu lagi sambil berharap kalau sang ayah baik-baik saja.
Pendaratan di Bandara berjalan mulus. Setelah turun dari pesawat, Devan langsung pergi ke rumah sakit tempat Amri di rawat. Beruntung ada Diego yang mengetahui kejadian itu sehingga masih ada orang yang menolong ayahnya.
“BAK!!!! BAK!!! BAK!!!!” Berulang kali Devan memukul dinding ruangan ICU dengan keras saat ia melihat sang ayah terbaring tidak berdaya di ruang ICU. Peralatan medis menempel di tubuhnya untuk membantu laki-laki itu bertahan hidup.
Ia mengeram kesal seraya mencengkram kepalanya dengan erat. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa Alwi begitu tega, mengerahkan orang-orangnya untuk menghajar Amri, hingga laki-laki itu mengalami cedera kepala akibat benturan dan pukulan.
Seperti inilah kemurkaan Alwi atas kebenciannya tidak pernah berakhir pada Amri meski sudah menebus kesalahannya selama belasan tahun. Ayahnya bahkan tidak menyewa jasa pengacara untuk membelanya. Ia mengikuti saja semua tuntutan pengacara Alwi dan membiarkan dirinya di hukum selama belasan tahun tanpa ada yang membela.
Hati Devan meringis, hancur berkeping-keping saat melihat nafas Amri yang terengah-engah di bantu masker oksigen rebreathing. Katanya, dokter masih memonitor ketat pendarahan di kepala Amri dan mengantisipasi kemungkinan terjadinya kematian batang otak karena cedera kepala yang cukup berat. Sebengis inilah yang dilakukan Alwi pada orang yang ia benci sekalipun dia adalah adik iparnya sendiri.
Akh, Devan hanya bisa bersandar dengan lemah pada dinding rumah sakit. Tubuhnya seperti tanpa tulang yang menyokong tubuhnya dan ambruk begitu saja di lantai. Ia menangis sesegukan seraya tertunduk memegangi kepalanya yang ia sembunyikan di antara kedua lutut yang ia tekuk.
Kalau saja ia tidak ingat ini adalah rumah sakit, rasanya ia sangat ingin berteriak.
Seseorang berjalan menghampiri Devan.
“Hey Buddy!” Diego menyentuh bahu Devan dan membuat sahabatnya mengangkat kepala lalu menatapnya dengan entah. Matanya merah dan basah dengan banyak keresahan yang terpancar dari sorot matanya.
Alwi adalah salah satu orang besar di negara ini. Ia bisa melakukan banyak hal termasuk menghilangkan nyawa seseorang. Melihat Devan yang terpuruk dan tidak bisa berbuat apapun,Diego memeluk sahabatnya dengan erat. Ia berharap bisa sedikit membantu menenangkan perasaan Devan yang bergejolak.
Devan masih dengan air matanya yang menetes di bahu Diego saat membayangkan kalau baru beberapa saat ia bisa berkumpul dengan sang ayah dan rasanya tidak rela jika kemudian mereka harus kembali berpisah. Belasan tahun ia hidup layaknya seorang yatim piatu dan dipisahkan tidak hanya dari sang ayah melainkan dari keluarga besar Amri.
Ancaman demi ancaman yang diberikan Alwi membuat mental Devan benar-benar dijatuhkan hingga saat mendengar nama pamannya saja, seperti ia harus bersiap kalau hal buruk akan terjadi pada hidupnya.
“****!!! DAMN IT!!”
Beberapa kali Devan memukul kepalanya sendiri saat mengingat betapa keras kepalanya ia karena bersikukuh menemui Amri telah membuat Alwi benar-benar memenuhi janjinya untuk menghancurkan ia dan sang ayah.
Harusnya ia menurut saja dan membiarkan Alwi hidup sendiri agar ia tetap aman.
Tidak, tidak seperti yang harusnya terjadi.
Mata Devan yang semula berair mata, kini membulat tajam saat ia sadar kalau Alwi tidak berhak mengatur hidupnya dengan sang ayah. Laki-laki itu tidak berhak merusak keluarganya dan memisahkan kembali Devan dengan sang ayah dengan cara sekeji ini.
Berbekal tenaga yang tersisa, Devan mendorong Diego yang ada di hadapannya, agar menjauh. Ia bangkit dari duduknya dan rasanya ia harus melakukan sesuatu.
“DEVAN!! Where are going?!” Panggil Diego yang terkejut karena Devan tiba-tiba bangkit dan pergi.
“It’s not your bisnis!” Sahut Devan yang tetap melanjutkan langkahnya pergi dari hadapan Diego.
“Hey Bro! Just stay here!” Diego segera menyusul Devan dan menghadang langkahnya.
Namun Devan dengan tekadnya untuk pergi. Ia ingin membuat perhitungan dengan laki-laki yang membuat keluarganya semakin hancur.
*****