Bella's Script

Bella's Script
Kotak Pandora milik Amara



“Hello dear, don’t you miss me?” Bisik Keith yang sengaja mendekat dan berbisik di sisi kiri wajah Amara.


Amara memejamkan matanya, menahan gejolak perasaan yang tiba-tiba muncul di rongga dadanya. Antara kesal, marah, kecewa namun masih masih terselip harapan pada laki-laki ini.


Dalam gemuruh perasaannya, seketika ia tersadar, pada ucapan Rangga saat di mobil tadi. Daripada Keith, ia memilih untuk mempertahankan Rangga.


Amara memilih untuk tidak menanggapi ucapan Keith. Ia sengaja pergi dari hadapan Keith tanpa berkata apapun.


“Heeyy... Where are you going?!” dengan cepat Keith menahan tangan Amara. Ia tidak percaya Amara mengabaikannya.


“DON'T TOUCH ME!!” Dengus Amara seraya mengibaskan tangan Keith. Matanya menyalak penuh kemarahan.


“Hey, hey... What’s problem Beib?” Cepat-cepat Keith mendekat. Ia menangkup satu sisi wajah Amara dan menatapnya dengan lekat.


“Something happen to you?” Ia bertanya penuh kecemasan melihat wajah Amara yang sendu dan seperti tidak bertenaga.


Amara hanya bisa menahan emosinya hingga terengah-engah. Matanya sudah berkaca-kaca dan merah menahan tangis.


“I hate you, Keith..” Aku Amara dengan terbata-bata bersamaan dengan hatinya yang patah.


“No, no please don’t say you hate me. I miss you, i really miss you.” Keith bersikukuh hingga meraih tangan Amara untuk ia genggam.


“Do you wanna hear that i love you? Never!!!" Amara memukul dada Keith dengan cukup keras. Susah payah agar ia tidak menangis di hadapan laki-laki ini.


"You’re liar Keith. You will gonna be married and still say that you miss me. Are you kidding me?” Amara menatap Keith dengan tidak percaya. Sangat menyakitkan menyadari Keith hanya memandangnya sebagai jala*g.


“No! Even if I get married, trust me, i’m yours. Nothing has changed.” Keith berujar dengan penuh kesungguhan.


“Hahahaha... You’re so funny Keith.” Amara mencubit pipi Keith dengan gemas. Ia sadar, sesuatu yang terlihat penuh kesungguhan bisa jadi hanya candaan yang memabukkan.


“You marry her, but you come to me just only when you need my body. And then, you said that you’re mine? Hahahaha....”


“BULSHIT!!!” Gertak Amara dengan melotot pada Keith. Ia mengibaskan tangannya yang di genggam Keith. Mudah sekali Keith merendahkannya, sangat menjijikan.


“No, Amara, just listen to me...” Keith berusaha kembali menarik tangan Amara namun Amara segera menghindar.


Ia berlari kecil menuju pintu, menekan passcodenya dengan tergesa-gesa.


“Amara, please!” Keith kembali memegangi lengan Amara.


“JUST LEAVE ME ALONE!!!” Gertak Amara dengan kasar.


Keith terhenyak mendengar gertakan Amara. Ia tidak menyangka kalau wanita ini bisa sekasar itu saat sedang marah.


Melihat Keith yang terdiam, Amara segera masuk ke unit apartemennya. Ia tidak menghiraukan keberadaan Keith. Namun saat ia hendak menutup pintu, tiba-tiba saja tangan kekar Keith menahannya.


Ia berusaha menerobos masuk ke unit apartemen Amara untuk menghampiri gadis itu.


Bukannya menjawab, Keith malah menarik tangan Amara dengan kasar. Ia memaksa mencium bibir Amara dengan rakus, tidak memberi Amara kesempatan sama sekali untuk meraup oksigen apalagi menolak serangan Keith. Tubuh Keith yang tinggi tegap, dengan mudah mengendalikan tubuh Amara yang lemah.


Tidak sampai di situ, tangan Keith mulai menelusur garis punggung Amara. Meremas otot sintal di bokong Amara membuat gadis itu melenguh tanpa sadar.


Beberapa saat ia melepaskan pagutannya dan mencengkram kedua sisi wajah Amara. Mengecup dengan dalam pipi Amara dan menelusur rahang Amara dengan hidungnya yang bangir penuh gairah. Ia begitu menyukai wangi ini dan ia yakin Amara sangat menyukai saat rambut halus di wajahnya mengusap kasar pipi mulus Amara.


Lagi ia mengulang apa yang tadi terjeda. Hanya beberapa saat saja Amara menghela oksigen untuk mengisi rongga paru-parunya sebelum kemudian Keith meluma,t bibirnya dengan lebih kasar.


Satu tarikan kasar dari Keith berhasil merobek minidress yang di kenakan Amara. Baju itu tertanggalkan dan Keith semakin gila membelai tubuh molek Amara yang semakin berisi.


Merasa di lecehkan, Amara berusaha melawan. Air mata sudah bercucuran dan dengan sekuat tenaga ia mengigit bibir Keith lantas menanduknya.


“Awh!” Keith terhuyung, mundur beberapa langkah saat hidung bangirnya tertanduk Amara dengan keras. Ia merasakan cairan merah keluar dari lubang hidungnya.


“WHAT THE FCK BI^CH?!!!*” Sentak Keith tidak terima.


Amara hanya bisa menangis ketakutan seraya memungut bajunya yang terserak, ia berusaha menutupi tubuhnya yang telanjang. Namun Keith menarik kembali baju itu dan membuangnya jauh-jauh hingga tubuh polos Amara hanya tertutupi pakaian dalamnya saja.


Pada detik itu, Keith bisa melihat tubuh mulus Amara yang semakin berisi dengan perutnya yang membuncit.


“Amara? Whats problem with you.” Keith tampak kaget dengan postur Amara.


Perut ramping itu kini terlihat berisi.


Amara tidak lantas menjawab, dengan langkahnya yang gemetar ia pergi ke kamarnya untuk mencari perlindungan. Ia terlalu malu terlihat seperti ini di hadapan Keith.


“HEY AMARA! Answer my question. What’s wrong with you?!” gertak Keith, tidak terima di abaikan.


“I’m pregnant, okey. I’M PREGNANT!!” Seru Amara penuh kemarahan. Kemudian terkulai lemah di lantai dengan tubuhnya yang gemetar ketakutan. Ia menangis sejadinya, tidak mampu melanjutkan langkahnya. Tubuhnya yang nyaris telanjang ambruk tanpa usaha untuk berpegangan.


“Are you serius? Whose it’s father?” Keith kembali mendekat. Melepas jas yang ia kenakan. Ia hendak menutupi tubuh polos Amara.


“Are you sure you ask me that question?” Sahut Amara dengan lirih. Ia menatap Keith penuh kebencian.


“What do you mean?” Keith menghentikan langkahnya. Jas di tangannya jatuh begitu saja.


“It’s mine?” Lirihnya lagi.


Amara tidak menjawab, ia hanya bisa menangis sesegukan tanpa bisa mengeluarkan suaranya sedikitpun.


Sama halnya dengan laki-laki yang kini mematung di pintu, dengan sekeresek makanan di tangannya, Rangga.


*****