Bella's Script

Bella's Script
Di depan mata,...



Kali ini Bella menemani Amri di ruangannya. Ia membantu Amri makan juga menemaninya berbincang. Sebisa mungkin ia menghibur Amri hingga membuat laki-laki itu sesekali tertawa mendengar celoteh Bella yang lucu dan ceria.


Sekitar hampir dua jam Bella di dalam ruang perawatan Amri sementara Devan sedang mengurus banyak hal bersama Diego.


Keluar dari pintu ruangan, Bella di sambut oleh seorang laki-laki yang menatapnya dari atas hingga ke bawah. Sorot matanya yang tajam, seolah mengingatkan Bella pada sepasang mata elang milik sang suami. Siapa lagi laki-laki ini kalau bukan Om Alwi yang meresahkan itu.


“Jadi kamu, istrinya Devan?” Bari beberapa saat Bella tersadar, tanya laki-laki itu sudah menjedanya dengan pertanyaan yang bernada sarkas. Ia memandangi Bella dengan seksama tanpa ada yang terlewat.


“Iya om.” Sahut Bella dengan yakin, tanpa ada rasa takut sedikitpun.


Dengan tangan yang masih menempel di gagang pintu, Bella menutup rapat ruang perawatan Amri, agar Alwi tidak masuk. Ia belum siap kalau sesuatu yang buruk terjadi di depan matanya.


Bella mengulurkan tangannya untuk menyalimi Alwi tapi laki-laki itu seperti tdak tertarik pada sikap santun Bella.


“Apa yang Devan lihat dari perempuan seperti kamu? Seorang perempuan depresi.” Sinis Alwi yang terasa seperti tamparan bagi Bella.


Bella menelan bulat-bulat ucapan Alwi. Ia berusaha menenangkan dirinya agar tidak terpancing oleh ucapan laki-laki tua yang tetap gagah ini.


“Kita bicara sambil duduk ya Om.” Ajak Bella seraya menunjuk bangku tunggu dengan telapak tangannya yang terbuka.


“Kamu berani memerintah saya? Kamu tidak tahu siapa saya? Kamu bahkan sangat lancang!” Ucapnya tidak terima.


Bella berusaha tersenyum ramah pada laki-laki yang bibirnya selalu berkedut ini. Mungkin itu yang membuat ia begitu mudah mengucapkan kata-kata sarkas dari mulutnya.


“Mohon maaf om, saya tidak bermaksud seperti itu. Saya merasa tidak sopan berbicara dengan orang tua suami saya dalam kondisi berdiri seperti ini.” Timpal Bella yang tetap berusaha tenang.


Alwi tersenyum miring. Entah Bella tidak tahu masalah yang saat ini terjadi atau gadis ini tengah berpura-pura bersikap manis padanya. Tapi ia bisa melihat kalau tatapan Bella terlalu polos dan naif.


“Mari Om,” ajak Bella yang kembali menunjukkan arah.


Laki-laki itu menurut untuk beranjak dan duduk di kursi tunggu walau tatapannya tetap waspada pada Bella yang menyunggingkan senyum untuknya.


“Om apa kabar? Ini pertama kali saya ketemu sama Om.” Bella berusaha berbasa-basi pada Alwi.


Alwi tampak menjaga jaraknya seraya menghela nafasnya dalam. Sepertinya laki-laki ini tidak menyangka dengan sikap yang ditunjukkan Bella.


“Kenapa kamu mau menikah dengan Devan? Kamu tau kan, kalau dia tidak punya apa-apa?” Tanya Alwi dengan sinis, seolah semua wanita itu hanya mementingkan material.


“Karena saya mencintai mas Devan.” Jawab Bella singkat. Ia tetap berusaha tersenyum walau hatinya ketar-ketir.


“Basi! Kamu tau alasan kamu itu basi?” Alwi berdecik sebal.


Bella hanya tersenyum, tidak menimpali ucapan Alwi yang tidak perlu itu. Bukankah Alwi tidak butuh pembuktian seberapa besar perasaannya untuk Devan?


“Kamu tau latar belakang keluarganya? Ayahnya seorang pembunuh. Kamu catat itu.” Tangan Alwi sampai mengepal saat mengatakan kalimat itu. Devan benar, kalau kebencian Alwi masih sangat besar pada Amri dan itu semua sangat terlihat dari tatapan matanya. Seperti ia ingin menupas dan menjauhkan setiap orang yang ada di dekat Amri.


“Iya Om, saya tau. Tidak ada hal yang Mas Devan tutupi dari saya. Termasuk cerita mas Devan kalau dia memiliki Om yang sangat hebat dan begitu menyayangi Mas Devan. Seorang Om yang memberikan perhatian penuh untuk menjaga mas Devan dan membentuk dia menjadi laki-laki yang berprinsip dan kuat.” Sahut Bella dengan tenang, seperti tidak ada tendensi apapun.


“Lalu, kamu dan keluargamu tidak mempermasalahkan status laki-laki itu? Dia seorang napi kasus pembunuhan. Tidakkah kamu merasa kalau hidup kamu dan keluargamu mungkin terancam?” Bella menangkap kalau Alwi sedang berusaha menggiring opini untuk bersikap negative pada Amri.


“Kepulangan papah Amri ke rumah, menambah kehangatan dan kebahagiaan di keluarga kami om. Saya bisa melihat kekosongan di hidup suami saya mulai berangsur membaik. Ia mendapatkan kembali sosok ayah dalam hidupnya. Terkadang saya iri, karena saya sudah tidak memiliki seorang ayah di hidup saya. Beliau pergi untuk selamanya di saat saya begitu membutuhkan figure seorang ayah yang melindungi saya.”


"Beruntungnya ibu saya bisa berperan dengan baik sebagai seorang ibu dan ayah di waktu yang bersamaan. Walau saya akui, hal itu tidak mampu menggangi posisi seorang ayah di hidup saya. Om benar, saya pernah depresi karena kehilangan ayah saya. Saya menyalahkan diri saya untuk sekian lama karena merasa menjadi penyebab kematian ayah saya. Tapiitu tidak lantas membuat saya lebih baik, ayah saya tetap tidak bisa kembali."


“Datangnya papah Amri, memberi ketenangan dalam kehidupan saya secara pribadi. Beliau telah melewati masa sulitnya dan menebus semua kesalahannya di masa lalu. Beliau memenuhi tugasnya sebagai seorang ayah yang bertanggung jawab. Tidak ada yang kami takutkan, karena kami tau papah Amri sudah berusaha memperbaiki semuanya. Dan beliau melakukannya dengan sangat baik.” Terang Bella dengan penuh ketenangan.


Entah apa yang di tangkap pikiran Alwi saat ini yang jelas laki-laki itu tertegun dan menatap Bella dengan lekat.


“Saya mohon maaf om, karena setelah tiba di negara ini, saya belum menemui om secara langsung. Saya malah membuat om yang datang untuk menemui kami. Terima kasih om sudah bersedia menemuin saya dan mau berbicara dengan saya.” Ucap Bella dengan penuh kesungguhan.


Alwi tidak lagi berkata-kata. Ia bungkam dan hanya bibirnya saja yang berkedut seperti biasa. Seperti ada banyak kalimat yang ingin ia ucapkan tapi terhalangi oleh banyak hal.


“Apa boleh kalau nanti Bella berkunjung ke rumah om?” Merasa bisa mengendalikan suasana, sekarang Bella berusaha memegang kendali atas persepsi Alwi.


Laki-laki ini menatap Bella dengan heran. Mungkin ia berpikir kalau Bella benar-benar tidak tahu apa-apa atau justru wanita ini terlalu bernyali.


“Saya tidak pernah membiarkan sembarangan orang datang ke rumah saya.” Ucap Alwi dengan angkuh. Ia masih memasang benteng pertahanannya.


“Saya mohon maaf kalau permintaan saya terlalu lancang om.” Bella mengangguk takzim. Ia tidak henti memberikan senyum tipis yang ia padu dengan raut wajahnya yang tenang.


Alwi tidak lagi menimpali. Ia beranjak dari tempatnya dan mengintip sedikit Amri dari celah pintu. Ia menghembuskan nafasnya kasar saat melihat laki-laki itu tertidur. Padahal setelah kematian sang adik, mana bisa Alwi tidur dengan nyenyak seperti itu.


“Om mau bertemu papah?” Tawar Bella tiba-tiba membuat laki-laki itu menoleh dan menatap Bella tidak mengerti. Tidak takutkah ia dirinya melakukan sesuatu yang berbahaya pada Amri?


Namun di sisi lain, Bella berusaha memberikan kesempatan pada laki-laki ini untuk menunjukkan siapa dirinya. Bella yakin, sedikit banyak ucapannya masuk ke pikiran Alwi.


“Tidak perlu. Saya ada urusan lain.” Ucapnya sinis. Merasa di tantang seperti ini ia malah jadi enggan untuk mendekat pada Amri. Ia tidak bisa menduga apa yang ada di benak Bella saat ini.


“Baik. Terima kasih karena om sudah berkenan datang.” Bella membungkuk hendak menyalami laki-laki itu. Awalnya Alwi terlihat ragu tapi kemudian laki-laki itu mengulurkan tangannya pada Bella.


Tanpa ragu, Bella meraih tangan itu dan mengecupnya.


Alwi seperti hendak menarik tangannya karena kaget, tapi kemudian laki-laki itu membiarkan saja tangannya di salimi Bella hingga Bella kembali menegakkan tubuhnya.


“Om hati-hati di jalan dan sehat selalu.” Ucap Bella dengan sungguh.


Laki-laki itu tidak menimpali, ia memilih pergi dari hadapan Bella dengan perasaan yang entah.


Di tempatnya, Bella masih memandangi sosok Alwi yang berjalan menjauh darinya. Baru sekarang ia merasakan kalau tubuhnya hampir ambrug setelah tadi bertahan di hadapan Alwi.


Melihat sikap Alwi, Bella tahu, kalau laki-laki itu teramat kehilangan dan kesepian, seperti yang ia rasakan dulu. Hingga ia merasa kalau semua yang ada di sekitarnya adalah ancaman hingga ia harus memasang tembok yang tinggi agar tidak ada yang menyakitinya. Sama persis dengan yang pernah ia lakukan pada Ibra dulu.


Beruntung ia sadar lebih cepat dan bisa membuka pikirannya.


****