Bella's Script

Bella's Script
Bujukan Bella



“Wiihh cakep tuh…” ujar seorang remaja bernama Dimas, saat melihat Ibra tengah melihat-lihat akun media sosial seorang wanita.


“Amara prameswari, sesuai sama namanya. Cantik!” lanjut Dimas.


“Ck!! Apaan sih lo!” dengus Ibra. Dengan segera ia mematikan layar ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku.


Ia melanjutkan mengelap meja bar karena café akan segera tutup.


“Itu bukannya artis di FTV gitu ya?” rupanya Dimas masih memikirkan sosok wanita yang di stalking Ibra.


“Jadi penasaran gue.” Berganti Dimas yang bersandar pada meja lalu mengeluarkan ponselnya.


“Hah, ini kan yang tempo hari kemari. Lo kok gak ngomong? Gue kan bisa minta foto. Mana cakep banget lagi.” Cerocos Dimas yang keranjingan men-scroll lama media social Amara.


“Cakep doang, tapi gatel.” Timpal Ibra, terdengar sarkas.


“Bukan gatel, tapi emang tuntutan profesi dia tampil terbuka kayak gini.” Rupanya Dimas sedang melihat salah satu foto Amara saat sedang berbikini di Bali.


“Perasaan lo jutek amat waktu itu. Lo pernah kenal apa gimana? Atau lo fans yang diabaikan?”


Dimas jadi penasaran dengan sikap tidak bersahabat Ibra kala itu. Harusnya jika ia mengidolakan Amara, tentu ia akan bersikap baik agar bisa meminta foto untuk ia pamerkan.


“Kalau udah jadi artis, bukannya bakalan di kenal sama semua orang?” timpal Ibra.


“Iya sih, gue aja yang telat nyadar.” Dimas jadi menggaruk kepalanya sendiri yang sebenarnya tidak gatal.


Membiarkan Dimas keasyikan melihat laman sosial media Amara, Ibra lebih memilih membuka aplikasi messanger--nya. Ia membuka chat nya dengan Bella beberapa hari lalu.


“Uang kuliah udah gue transfer. Pilih jurusan yang gak cuma lo suka tapi juga bermanfaat di masa depan.” Baris pesan itu yang Ibra baca dalam hati.


“Otak lo kayaknya kalkulator banget sampe tiap gue chat masalah masa depan apalagi sekolah pasti lo kalkulasiin sama duit. Duit lo banyak banget ya? Enteng banget tuh jari transfer.” Balas Ibra dengan emoticon ekspresi malas di ujung kalimatnya.


“Gue cuma berusaha memahami kebutuhan lo. Hemat-hemat, jangan banyak jajan. Perjalanan lo masih jauh. “ balas Bella.


Bisa Ibra bayangkan bagaimana ekspresi sok dewasa Bella saat menulis pesan itu.


“Gue ngasih lo kabar bukan karena gue selalu butuh duit lo. Kebutuhan gue bukan cuma tentang duit.” Balas Ibra.


“Ya gue tau. Lo juga butuh istirahat, makan yang enak dan tempat tinggal yang nyaman. Sorry gue masih belum bisa menuhin itu semua.”


“Itu juga masih soal duit yang lo bahas kak Bell. Lo naif banget sih. Cowok-cowok pasti gampang banget manfaatin lo.”


Balasan pesan Ibra tidak lagi di balas Bella. Entah bagian mana yang membuat Bella kehabisan kata-kata hingga tidak menimpali. Ia cukup tahu kalau Bella seseorang yang tidak suka berdebat. Ia selalu ingin hidup dalam keadaan nyaman tapi sebenarnya ia tidak pernah benar-benar nyaman tanpa masalah.


Melihat Rangga datang bersama Amara, tiba-tiba saja ada rasa kesal di dada Ibra. Bagaimana bisa laki-laki yang di bela oleh Bella mati-matian malah bersedia di pegang tangannya oleh seorang wanita.


“Gak perlu mikir macem-macem, Amara temen gue juga temen Bella.” Itu yang dikatakan Rangga saat mereka bertemu di toilet laki-laki.


Saat itu Ibra memang sengaja bersikap menyebalkan di hadapan Rangga dan benar saja laki-laki itu terpancing hingga memberi Ibra penjelasan tanpa di minta.


“Lo harus selalu baik-baik aja kak Bell.” Gumam Ibra seraya memandangi foto profil Bella di kontaknya.


*****


“Lo udah balik.” Ujar Ozi saat melihat kedatangan Devan.


“Hem. Lo belum tidur?” ia menaruh jaketnya di sofa tempat tunggu dan mengambil air mineral yang ada di meja.


Ozi hanya menggeleng.


Devan melihat ke sekitar dan tidak terlihat keberadaan Bella di dalam ruangan itu. Setelah bertemu dengan Rangga tadi, Devan memang di minta pulang lebih dulu, sementara Bella berniat menyelesaikan kesalahpahamannya dengan Rangga.


“Please jangan persulit gue. Gue udah cukup lelah hari ini. Lo bisa ngerti kan?” pinta Bella kala itu.


Devan akhirnya setuju untuk pulang lebih dulu dan tidak mengatakan pada Ozi kalau ia bertemu dengan Rangga.


Mungkin ini yang terbaik, membiarkan Bella menyelesaikan masalahnya sekaligus tidak menambah beban pikiran Ozi.


Setelah itu ia mengantar Saras dan baru kembali ke rumah sakit sekarang.


“Bella udah nelpon gue, katanya bentar lagi dia pulang.” Entah apa yang di baca Ozi dari gerak gerik Devan yang celingukan seperti mencari seseorang.


“Hem,” sahut Devan.


“Lo butuh sesuatu?” ia berusaha mengalihkan.


“Hem. Bantu gue duduk. Punggung gue pegel banget tidur telentang terus.” Pinta Ozi.


Sejak tiba di rumah sakit dan sadarkan diri, ia memang di minta untuk bedrest, tapi jujur badannya malah terasa pegal karena tidak bisa bebas bergerak. Kepalanya masih terasa pusing dan sesekali nyeri tajam.


Devan segera menaikkan tempat tidur Ozi ke posisi semi fowler. Mungkin dengan setengah duduk ia akan merasa lebih nyaman.


“Udah, cukup bro. Makasih.” Ozi menepuk kursi di sampingnya sebagai isyarat agar Devan duduk di sampingnya.


Devan menurut saja, ia duduk di samping Ozi.


“Lo liat kan, ade gue itu keras kepala. Tapi sebenernya, itu cuma cara dia buat ngelindungin dirinya.” Tiba-tiba saja Ozi membahas Bella.


“Ya setiap orang perlu keras mempertahankan prinsipnya.” Timpal Devan, santai.


“Hem, lo bener. Tapi, semakin dia keras kepala, gue semakin takut kalau gue gak punya cukup waktu buat nyadarin dia sama kondisi yang dia hadapi.” Pandangan ozi menerawang jauh ke depan sana. Entah titik mana yang di lihatnya.


“Bella, orang kedua yang harus sangat gue lindungi setelah nyokap. Tapi, cara gue selalu salah. Dia selalu yakin kalau pilihannya udah bener.” Ada kesedihan yang Ozi simpan di pelupuk matanya.


“Kalau gue pergi, lo bisa kan penuhin permintaan gue buat jagain Bella?” kali ini Ozi menatap Devan dengan sungguh. Ada banyak harapan di matanya yang ia gantungkan pada Devan.


“Lo ngomong apa sih. Lo belum ngelakuin apa-apa udah bilang mau pergi aja. Inget, lo masih bisa di obati Zi. Lagian, separah apapun lo sakit, gak jaminan lo yang bakal pergi duluan. Mungkin aja gue yang di panggil tuhan lebih dulu.” Sanggah Devan berusaha menepis pikiran buruk Ozi.


Ozi tersenyum kecil, di helanya nafas dalam-dalam sebelum ia hembuskan dengan berat.


“Gue cuma ngerasa, kalau waktu gue gak lama lagi bro. Tapi gue gak bisa pergi dengan tenang sebelum liat Bella ada di tangan orang yang tepat.” Dari hembusan nafasnya yang kasar, terlihat sekali kalau Ozi menyimpan kecemasan yang besar untuk sang adik.


“Siapa yang jagain dia kalau dia terpuruk setelah gue pergi? Gue gak mau ngeliat dia hancur lagi, sama kayak waktu bokap pergi. Dan saat ini, gue cuma punya lo.” tandasnya. Ia masih mengingat bagaimana Bella terpukul saat ayah mereka pergi untuk selamanya.


Beberapa hari Bella tidak keluar kamar. Sorot matanya yang kosong hingga ia harus di rawat di rumah sakit karena demam tinggi selama beberapa hari. Ozi tidak mau hal itu terulang kembali. Ia tidak mau menjadi alasan Bella sakit dan terpuruk.


“Pikiran lo kejauhan. Lagian, gak ada yang bisa jagain Bella sebaik lo. Kalau lo mau memastikan Bella ada di tangan yang tepat, ya lo harus bertahan. Bertahan buat pastiin dia denger lo dan milih orang yang tepat."


Ozi kembali tersenyum. Ia menaikan selimutnya hingga ke batas dada.


“Gue emang abang yang terbaik.” Akunya dengan jumawa.


Devan hanya tersenyum mendengar ucapan sahabatnya. Lantas keduanya saling terdiam. Tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


Sampai kemudian Devan berujar, “Bisa gue minta nomor Bella?”


Entah mengapa hatinya jadi tak tenang memikirkan Bella yang belum kembali.


Tanpa ekspresi berarti, Ozi segera menyebutkan nomor Bella dengan jelas.


“0811628 xx xx” nomor itu melekat dengan sempurna di pikiran Ozi dan akan selalu ia ingat sebagai nomor orang yang sangat ia sayangi.


******


Pagi yang baru bagi Bella hari ini. Ia menggeliat dengan nyaman walau harus tidur di sofa.


“Alhamdulillahiladzi….” Ozi mengawali do’a bangun tidur untuk sang adik dan refleks Bella meneruskannya hingga selesai.


Matanya masih memincing menahan kantuk sementara ia harus bangun pagi karena harus menyelesaikan beberapa pekerjaan.


“Lo udah bangun?” tanya Bella. Ia beranjak menghampiri Ozi yang sudah terduduk di tempat tidurnya sambil memandangi Bella dengan segaris senyum. Disentuhnya dahi Ozi dengan punggung tangannya.


“Gue gak demam dek. Emang semua penyakit harus selalu cek suhu?” ledek Ozi saat melihat wajah khawatir adiknya tepat di depan mata.


“Isshh di perhatiin malah ngeledek.” Decik Bella kesal.


“Hehehehe… Pagi-pagi udah ngambekan aja. Bangunin Devan gih, abang mau minta dia bantuin abang sholat.” Dengan sudut matanya Ozi menunjuk Devan.


Saat di toleh, rupanya Devan tidur terduduk di kursi dan satu kursi lainnya menopang kedua kakinya. Kedua tangannya bersidekap memeluk tubuhnya sendiri.


Kasihan juga melihatnya, Bella jadi merasa bersalah banyak merepotkan laki-laki ini.


Akhirnya Bella menghampiri Devan. Ia mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah Devan namun laki-laki itu tidak merespon.


“Van, Devan..… Banguuuunnn…” panggil Bella perlahan. Ia tidak mau mengagetkan laki-laki ini.


Perlahan mata Devan mengerjap. Lantas membulat saat melihat wajah Bella di hadapannya. Seperti tidak percaya kalau Bella persis di depannya.


“Kenapa lo? Kaget banget kayaknya gue bangunin.” Protes Bella yang langsung menegakkan tubuhnya setelah tadi membungkuk.


“Em, nggak kok.” Kilah Devan. Ia segera menurunkan kakinya dan menggelengkan kepala untuk mengumpulkan kesadarannya.


“Kumpulin dulu kesadaran lo, gue ke kamar mandi duluan.” Tutur Bella seraya berlalu pergi.


Hanya gosok gigi dan berwudhu yang Bella lakukan di kamar mandi. Ia segera keluar dan mengenakan mukenanya.


Tidak lama, Devan yang bergantian ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat keluar ia sudah terlihat segar.


“Bantuin gue juga Van.” Pinta Ozi.


“Iya.” Dengan cekatan ia membantu Ozi tayamum.


Setelah semuanya siap, mereka solat berjamaah dengan Devan sebagai imamnya. Ternyata suara Devan sangat nyaman di telinga saat membacakan ayat-ayat qur’an. Baru kali ini Bella melihat sosok hangat dari seorang Devan yang dingin dan acuh.


Selesai solat, Bella menghampiri Ozi dan mencium tangannya. Ozi mengusap dengan lembut pucuk kepala Bella lantas mengecupnya.


Untuk beberapa saat Bella menatap wajah sang kakak dengan lembut. Diusapnya pipi Ozi dengan sayang.


“Gue mau lo sembuh bang.” Lirihnya penuh harap. Sungguh ia sangat takut kehilangan Ozi.


Ozi tersenyum kecil, lantas di peluknya Bella dengan erat.


“Lo gak usah takut, gue akan selalu ada di samping lo, selama yang gue bisa.” Timpal Ozi. Diusapnya punggung Bella dengan lembut.


Akhir-akhir ini, mereka sangat sering bertengkar. Siapa sangka, sakitnya Ozi justru telah mendekatkan kembali kakak beradik ini.


Melepas pelukannya, Bella menatap Ozi dengan laman.


“Gue boleh minta sesuatu?” lirih Bella. Ozi terangguk pelan. Hal apa yang tidak ia berikan pada sang adik.


“Lo mau kan, ikuti saran dokter buat op?” pinta Bella dengan hati-hati.


Raut wajahnya berubah, Ozi melepas genggaman tangannya dari Bella. Ia menarik tubuhnya untuk menjauh.


“Nggak untuk yang satu itu dek.” Sahutnya dengan yakin.


“Tapi bang, lo bilang lo akan bertahan selama mungkin buat gue. Lo juga udah janji kan sama papah kalau lo bakal selalu jagain gue. Kenapa sekarang lo nyerah?” cerocos Bella dengan tangis tertahan.


“Tapi gue gak bisa dek. Gue takut. Gue belum siap kalau,”


“Lo gak bakal kenapa-napa. Dokter bilang masih ada kesempatan buat lo sembuh.” Dengan cepat Bella mematahkan kalimat pesimis Ozi.


“Dokter akan melakukan semuanya dengan hati-hati dengan sebaik mungkin. Lo cukup memejamkan mata dan gue akan nunggu lo di pintu keluar ruang operasi. Lo akan sembuh seperti sebelumnya. Kita akan jalan-jalan lagi ke Disney land, umroh bareng mamah seperti mimpi kita terus kita juga,”


“Gimana kalau gue keluar sebagai mayat?!” seru Ozi yang sontak membuat Bella diam.


“Gimana kalau gue juga keluar dari ruang operasi dalam keadaan lumpuh?"


"Lo pikir gue akan baik-baik aja saat gue cuma jadi beban buat lo dan mamah?”


“Nggak bell, gue gak bisa!!!” seru Ozi dengan suara lantang. Tangannya sampai gemetar menahan emosinya.


“Bang, gue,..”


“Denger gue,” Ozi langsung menangkup kedua sisi wajah Bella dan menatapnya dengan lekat.


“Gue akan bertahan selama mungkin buat lo sama mamah. Tapi, jangan suruh gue masuk ke ruang operasi. Please Bell,… Gue gak tau apa gue masih bisa ngeliat lo sama mamah atau gue cuma akan bikin lo sama mamah nangis dan terpuruk. Prosentase keberhasilnya cuma sekian persen. Please Bell, jangan paksa gue lagi. Gue gak bisa… ” pinta Ozi dengan penuh kesungguhan.


Tidak terdengar lagi sahutan Bella seperti sebelumnya. Gadis itu hanya terdiam dengan air mata yang menetes dari kedua pipinya. Ternyata sangat sulit untuk tampil tegar di hadapan Ozi.


Lantas, kalau ia pun harus kehilangan Ozi, apa ia bisa?


******